Proses ijab qobul pernikahan Alina dan Alger benar – benar digelar dengan sangar tertutup, yang menyaksikan ijab qobul pernikahan mereka hanya pihak keluarga Alina, dua orang saksi dan Alger yang saat itu akan menikah. Beruntung keluarga Alina menyetujuinya, selain karena mereka adalah orang yang selalu ikut apa keputusan Alina, mereka juga memahami alasan Alger yang tidak bisa serta mengajak ibunya dalam proses ijab qobul tersebut.
Alina, tidak mampu membendung air matanya ketika dia mendengar Alger mengucapkan kalimat qobul dengan sangat lancar dan lantang, mendengar bagaimana Alger mengucapkan kalimat qobul tanpa ragu membuat hati Alina seperti bergetar. Ketika sadar jika dirinya sudah benar – benar menjadi seorang istri Alina tidak mampu membendung air matanya.
“Selamat ya, sekarang kamu sudah sah menjadi istri Alger” ujar Maryam, yang saat itu duduk dikamar menemani Alina, karena perempuan itu memang menunggu dikamar ketika Alger sedang melaksanakan proses ijab qobul.
Tidak lama, pintu kamarnya terbuka. Sosok ayah dan juga kakaknya muncul diambang pintu membuat Alina tersenyum tapi dia juga tidak mampu menahan air matanya. Saat dua laki – laki yang selama ini selalu memberikan banyak perhatian dan penjagaan untuknya datang mendekat Alina berusaha untuk tersenyum. Mereka, datang ke kamar Alina untuk menjemputnya, dan mengantar Alina kepada Alger sebagai sosok suami yang akan menjadi pengganti ayah dan kakak Alina yang selama ini selalu menjaganya.
Setelah itu, Hasan bersama ayahnya menyerahkan genggaman Alina ke tangan Alger yang saat itu baru saja resmi menjadi suaminya. Alina yang masih merasa terharu, masih belum mampu menatap wajah Alger, dia masik setia dalam tundukannya karena jika dia mendongak saat itulah air matanya akan semakin tumpah ruah.
“Alger, dia putri ku yang paling kecil, dimata kami dia selalu menjadi putri kecil kami, kebahagiaan dia adalah kebahagiaan kami, tolong jaga dia, tolong sayangi dan cintai dia” ujar ayah Alina, sambil menyentuh pundak Alger, dan dijawab dengan senyuman sambil menganggukkan kepala.
“Untuk ku, Alina itu kekuatan, aku sangat sayang dia, karena tanpa dia aku gak mungkin bisa sekuat sekarang, jadi aku mohon tolong jangan sakiti dia dengan cara apapun, karena kalau kamu melakukan itu yang kamu sakiti bukan hanya dia tapi aku dan kami keluarganya” ujar Hasan, sambil menatap Alger tepat dibagian matanya. “Tegur dia bila memang salah, ingatkan dia bila memang dia lalai, tapi jangan sakiti dia dengan cara apapun” lanjut Hasan, dan saat itu Alger hanya mengangguk sambil tersenyum menimpali perkataan Hasan.
Setelah menerima tangan Alina dalam genggaman tangannya, Alger sempat terdiam dan tanpa Alina sangka tiba – tiba laki – laki itu membacakan doa pengantin baru sambil menyentuh puncak kepalanya. Setelah doa tersebut selesai Alger bacakan, Alina mendongak menatap wajah Alger yang juga sedang menatapnya sambil tersenyum. Kemudian, Alina mencium tangan Alger untuk pertama kalinya sebagai tanda bakti dia sebagai seorang istri, dan tanpa disangka untuk yang kedua kalinya tiba – tiba Alger mencium dahi Alina dengan jeda cukup lama, Alina merasa jika memang Alger sedang berpura – pura maka laki – laki itu sudah memerankan perannya dengan sangat sempurna, siapapun yang melihat mereka tidak akan pernah ada yang menyangka jika kenyataannya mereka tidak saling mencintai.
***
Setelah menggelar acara akad pernikahan secara sederhana dan tertutup di rumah orang tua Alina, sekitar pukul dua acara resepsi pernikahan Alina dan Alger kembali dilanjutkan yang bertempat di salah satu hotel yang cukup besar. Acara dilakukan dengan sangat meriah dan mewah karena memang terdapat rekan bisnis dari ayah dan kakak Alina yang diundang, selain itu cukup banyak juga rekan bisnis Alger yang turut hadir datang.
Ketika acara resepsi, Alina dan Alger berdiri berdampingan, keduanya terlihat sangat serasi, terlebih aura Alina yang terlihat memacarkan kelembutan dan penuh kasih sayang seakan bisa melengkapi Alger yang tampak terlihat lebih tegas. Alina bersama kedua orang tuanya, serta Alger bersama ibunya yang berdiri satu baris bersama – sama menyambut tamu yang datang ke pernikahan Alina dan Alger.
Namun, ditengah – tangah banyaknya tamu undangan, mata Alina dan Alger seketika langsung terpaku pada sosok yang ada dalam antrian. Sejenak, Alina mendongak menatap Alger yang masih terpaku menatap sosok itu juga.
“Mbak Delinna datang, Mas ?” tanya Alina, tapi Alger justru masih tetap fokus menatap sosok yang sedang mengantri untuk salaman tapi tatapan matanya tertuju hanya pada Alger yang sedang menatap kearahnya juga.
Dari awal Alger melihat keberadaan Delinna dalam antrian hingga perempuan itu sudah berdiri dihadapan mereka untuk bersalaman tatapan mata Alger tidak beralih sedikitpun. “Kenapa kamu datang, aku bilangkan jangan” ujar Alger, kepada Delinna yang tidak akan terdengar jelas oleh orang lain karena suara music dan MC yang sedang memeriahkan acara.
“Langsung pulang aja ya” lanjut Alger, kepada Delinna yang datang dengan tampilannya yang terlihat menawan menggunakan gaun berwarna hitam.
Namun, Delinna menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Enggak, aku gak akan pulang sebelum kamu keluar, aku bakalan nunggu kamu” ujar Delinna, berhasil membuat Alger terdiam selama beberapa saat mencoba mencerna apa yang saat itu Delina maksud.
Kemudian, Delinna beralih pada Alina yang berdiri disamping Alger, sejenak perempuan itu terdiam memperhatikan Alina kemudian tersenyum sambil mengulurkan tangannya kearah perempuan itu.
“Selamat Alina, pernikahan kamu bersama dia sudah berhasil membuat aku merasakan satu titik rasa takut kehilangan, tapi membuat aku semakin bulat dan kuat untuk mempertahankan hubungan aku dan dia” lanjutnya, sambil tersenyum.
Setelah bersalaman dan mengatakan hal tersebut, dia langsung beralih salaman pada keluarga Alina yang lainnya. Mendengar apa yang Delinna sampaikan beberapa detik lalu, Alina merasa jika apa yang perempuan itu katakan seperti sebuah ancaman atau peringatan yang dia sampaikan dengan cara halus.
“Kamu kenapa ?” tanya Alger, menyadari Alina berdiri disampingnya bergerak tidak karuan seakan sedang gelisah.
“Enggak papa” jawab Alina, singkat.
Mendengar jawaban singkat Alina, Alger hanya menganggukan kepalanya, sesekali laki – laki itu memastikan keadaan ibunya, takut jika ibunya sudah kelelahan, tapi tidak menghilangkan fokusnya pada tamu undangan yang datang ke acara pernikahannya.
“Enggak Aiden, Mamah gak papa, kamu gak usah khawatir, kalau Mamah kenapa – napa nanti Mamah bilang” ujar Sarah, ketika dia sadar jika putra sulungnya terus saja melirik kearahnya seakan memastikan dirinya baik – baik saja.
Alger, tentu saja akan merasa khawatir jika terjadi sesuatu kepada ibunya, terlebih jika dia mengingat bagaimana keadaan mentalnya beberapa saat terakhir setelah kepergian kakaknya. Jadi, tidak heran jika dia mengkhawatirkan ibunya.