#R – Hari Pernikahan

1048 Words
“Besok kamu jadi suami Alina, rasanya gak rela banget, kenapa semuanya jadi begini ya” gumam Delinna, ketika mereka sedang mengobrol melalui panggilan telepon. “Aku gak bisa bayangin gimana jadinya hari besok, karena melam ini aja saat aku sadar adalah malam terakhir kamu berstatus lajang rasanya sesek banget, berat gitu” lanjutnya, berhasil membuat Alger yang sebelumnya sedang berbaring langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Setelah percakapan dalam panggilan, Alger langsung bergegas menuju apartemen Delinna, dia tahu pasti perempuan itu sedang memikirkan banyak hal tentang pernikahan dia dan Alina yang akan dilaksanakan besok. Ketika Alger tiba diapartemen Delinna, keadaannya cukup sepi, ketika dia membuka pintu kamar, saat itulah dia mendengar suara isak tangis dengan keadaan kamar yang gelap gulita. Alger melangkahkan kakinya untuk menyalakan lampu kamar terlebih dahulu, setelah itu dia menghampiri Delinna yang sedang berbaring diatas ranjang sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Tanpa mengucapkan apapun, dia langsung membuka selimutnya, dan saat itulah Alger mendapati Delinna yang sedang menangis. Melihat kemunculan Alger yang tiba – tiba ada dihadapannya semakin membuat tangis Delinna kencang. “Jangan nangis, kenapa kamu nangis, aku di sini ko, aku gak akan kemana – mana” ujar Alger, sambil menghapus lelehan air mata yang membasahi pipi Delinna. “Tapi, besok kamu gak akan ada di sini, kamu jadi suami Alina” ujarnya, dengan tetesan air mata yang semakin mengalir deras. “Kata siapa, aku janji besok aku ke sini temenin kamu, udah gak usah nangis, lagi pula aku udah bilangkan kalau aku itu pacar kamu dan akan selalu menjadi milik kamu, aku gak mau dimiliki siapapun kecuali sama kamu” ujar Alger, sambil tersenyum hangat. Setelah itu, Alger membaringkan tubuhnya disamping Delinna, dia membawa tubuh perempuan itu ke dalam dekapannya hingga berhasil membuat isak tangis Delinna perlahan mereda dan membuat dia menjadi lebih tenang hingga akhirnya dalam beberapa menit dia bisa tertidur lelap. Alger, terdiam memperhatikan wajah Delina yang sedang terlelap dengan tenang, matanya terlihat bengkak karena dia baru saja menangis. Ada rasa bersalah yang terbersit dalam hatinya ketika dia mengingat kenyataan jika besok adalah hari dia dan Alina akan menikah, dan meninggalkan Delinna sendiri untuk sementara. “Delinna, kamu itu wanita ku, sampai kapanpun akan selalu seperti itu, dengan siapapun aku menikah besok, tapi pernikahan sesungguhnya hanya akan aku lakukan ketika aku bersama kamu” ujar Alger, sambil mendaratkan satu buah kecupan hangat didahi Delinna. Kemudian, laki – laki itu membaringkan tubuhnya kembali sambil membawa Delinna ke dalam dekapannya. Malam itu, Alger memang berencana menginap diapartemen Delinna, bahkan besok dia juga berencana akan berangkat dari apartemen perempuan itu. Tindakan yang Alger lakukan tidak tahu kejam kepada Alina atau Delinna. Karena ketika menjadi pacar Delinna laki – laki itu akhirnya memutuskan menikah dengan Alina demi ibunya, tapi dimalam yang sebelum keesokan harinya dia resmi menikah dengan Alina, dia justru menginap bahkan tidur sambil berpelukan dengan Delina. Keesokan paginya, sekitar pukul enam Alger sudah bersiap untuk pergi ke acara pernikahannya, ketika laki – laki itu keluar dari kamar mandi, dia sudah menemukan pakaian pengantinnya sudah siap, padahal sebelumnya masih terlipat rapih ditempat yang diberikan oleh gallery wedding. “Meskipun hari ini kamu nikah sama orang lain, tapi kamu harus tetap kelihatan ganteng, karena kamu itu pacar aku” ujar Delinna, sambil memperhatikan penampilan Alger yang sudah mengenakan pakaian pengantinnya. “Aku minta maaf ya” ujar Alger, sambil menarik Delinna ke dalam dekapannya. “Udah hari ini gak usah masuk kerja aja, gak usah kemana – mana” lanjut Alger, sambil merenggangkan pelukannya pada tubuh Delinna. “Aku pergi dulu” ujarnya lagi, sambil mendaratkan satu buah kecupan dipuncak kepala Delinna dan setelah itu dia pamit pergi. *** Alina menatap penampilannya didepan cermin ketika perias pengantin yang dipilihkan ibunya baru saja selesai membantu meriasnya. Wajahnya terlihat berubah menjadi semakin cantik dengan polesan make up, selain itu tubuh Alina yang dibalut kebaya putih dengan kerudung putih yang menutupi kepalanya, membuat siapapun yang melihat dia merasa sangat pangling. “Anak Bunda udah cantik banget” ujar Risa, yang saat itu masuk ke dalam kamar Alina bersama kakak iparnya yaitu Masryam. Dua perempuan yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Alina itu tersenyum sambil memperhatikan penampilannya. Bagi Alina, Risa adalah ibu yang sayang baik, penuh sabar, dan sangat ikhlas. Selama dia hidup bersama ibunya, Alina sangat belajar banyak, meskipun ibunya tidak pernah menjelaskan untuk mengajarkan bagaimana menjalankan keluarga atau menjadi seorang istri, tapi melalui ibu dan kakak iparnya, Alina bisa menyadari seperti apa dia harus bersikap suatu hari nanti kepada suaminya, karena dia sering melihat contohnya dari Ibu dan Kakak iparnya. “Anak Bunda sekarang udah mau nikah, kamu udah besar sayang, dalam beberapa menit lagi kamu akan sah menjadi seorang istri” ujar Risa, sambil membawa tangan Alina ke dalam genggaman tangannya. “Gak ada yang bisa Bunda kasih sama kamu, gak ada apapun yang bisa Bunda sampaikan sama kamu, Bunda senang akhirnya kamu bisa menikah sayang, dan Bunda berdoa semoga pernikahan kamu selalu dilimpahi kebahagiaan dan keberkahan, menjadi keluarga yang harmonis dan romantis, dan diberikan keturunan yang rumpayan serta soleh solehah, ya” ujar Risa, sambil menarik Alina ke dalam dekapannya. Bagi ibu, seorang anak akan tetap menjadi anaknya, sudah sebesar apapun, dia akan tetap menjadi anak kecil dimatanya yang harus terus dia berikan kasih sayang. Namun, saat itu Risa tidak menyangka jika gadis kecilnya yang dulu selalu dia bawa kemana – mana kini sudah akan menjadi seorang istri. “Jangan nangis” ujar Risa, sambil tersenyum hangat dan berusaha menahan air matanya ketika dia melihat mata Alina sudah mulai berkaca – kaca. “Jadilah istri yang baik, yang berbakti kepada suami, karena setelah kamu menikah surga kamu bukan lagi ada pada Bunda, tapi ada pada suami mu” ujar Risa, sambil menggenggam tangan Alina dan menatap mata Alina. “Jadilah penenang dalam kegudahan perasaan suami mu, jadilah peneduh untuk kemarahan suami mu, dan jadilah tempat pulang untuk suami mu” lanjutnya, dan mendengar semua wejengan yang disampaikan oleh ibunya, Alina tidak bisa mengatakan apapun, dia hanya mengangguk – anggukan kepalanya sebagai jawaban, karena jika saat itu dia bersuara untuk bicara kepada ibunya, Alina tidak akan mampu membendung air matanya. Setelah itu, Alina beralih menatap Maryam yang tidak lain adalah kakak iparnya atau istri dari Hasan. Hubungan mereka yang cukup dekat membuat keduanya sangat akrab, Maryam memeluk adik iparnya dan mengucapkan selamat atas pernikahan Alina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD