#R – Fitting Baju

1098 Words
Alina mungkin jahat karena sudah menyatakan dengan tegas kepada Delinna untuk mulai berlajar menjauh dari Alger karena perempuan itu merasa setelah pernikahannya Alger hanya laki – laki yang memiliki tanggung jawab penuh kepada dia sebagai istrinya. Dia tidak akan membiarkan haknya diambil oleh orang lain, itulah Alina. Setelah pembicaraan yang terjadi antara Alina dan Delinna, dia pikir Delinna akan mengerti dan mulai pelan – pelan menjauh dari Alger, tapi ternyata tidak tahu mereka memang semesra itu atau memang sengaja mereka melakukan hal itu dihadapan Alina, karena saat datang untuk fitting pakaian Alger justru datang bersama Delinna. “Gak papakan Delinna ikut ?” tanya Alger, sambil menatap kearah Alina yang saat itu tampak diam dengan senyuman yang perlahan memudar ketika dia menyambut Alger tapi baru menyadari ada Delinna juga. “Aku rasa, kita butuh pendapat Delinna untuk menentukan segalanya” lanjutnya, sambil bergegas masuk menuju gallery wedding sambil menggandeng tangan Delinna. “Aku minta tolong kepada kalian, kita ke sini untuk melakukan fitting pakaian pernikahan aku dan Alger, jadi jangan bersikap melebihi yang seharusnya bersikap” ujar Alina, sambil menatap kearah Delinna yang saat itu melingkarkan tangannya dilengan Alger. Menyadari jika apa yang Alina katakan adalah sindiran keras untuk dirinya, Delinna hendak langsung melepaskan tangannya yang sedang menggandeng lengan Alger, tapi laki – laki itu menahannya, dia seakan menegaskan kembali kepada Alina jika bergandengan atau tidaknya dia bersama Delinna itu adalah haknya, Alina tidak berhak melarang apapun. “Lakukan apapun yang menjadi bagian yang kamu harus lakukan hari ini, jangan fokus pada hal lain” ujar Alger, dengan suaranya yang terdengar tenang. Kemudian, seorang pekerja yang sebelumnya menemani Alger dan Alina memilih gaun yang akan digunakan ketika hari pernikahan mendatangi mereka kembali, dia langsung mengajak Alina bersama Alger menuju kamar pas. Pakaian pertama yang mereka coba yaitu pakaian untuk akad, ketika Alina mencobanya dia sungguh terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya berwarna putih, padahal saat itu dia belum melakukan make up seperti seorang pengantin, tapi aura yang terpancar dari wajahnya seakan terlihat sangat nyata. “Bagus gak aku pakai ini ?” Alina menoleh ketika mendengar Alger bertanya tentang penampilannya kepada Delinna, padahal seharusnya yang laki – laki itu tanya adalah dirinya sebagai calon istrinya, bukan Delinna. Setelah selelai mencoba pakaian pertama, beralih mencoba pakaian kedua. Namun, bukannya ikut mengganti pakaiannya, dia justru hanya diam sambil memperhatikan Delinna membantu Alger berganti pakaian. “Yang bener dong, ini kerahnya dibenerin dulu, jangan langsung dipakai jasnya” ujar Delinna, sambil membantu membetulkan letak kerah pakaian laki – laki itu. Alger hanya tersenyum mendengar komentar yang disampaikan oleh Delinna, dia membiarkan perempuan itu membetulkan letak kerah pakaian yang dia gunakan dan membantu memakaikan jasnya. Namun, tidak ada apapun yang bisa Alina lakukan selain diam, karena dia sadar jika dia tidak bisa bertindak apapun, terlalu terburu – buru jika Alina mengatakan kepada Delinna dia tidak berhak bersikap seperti itu. Karena, di sisi lain Delinna masih kekasih Alger, dan dialah yang merebut Alger dari Delinna. Proses fitting pakaian berlangsung hingga selesai, Alger mengajak Alina pergi makan siang yang tentunya akan diikuti oleh Delinna juga, tanpa menolak atau melakukan protes, Alina lebih memilih menurut dan mengikuti kemana laki – laki itu pergi. Karena Alina tidak mambawa mobil, akhirnya dia mengajak Alina ikut dengan mobilnya, saat akan membukan pintu mobil depan, Alger lebih dulu membukakan pintu, tidak lama disusul Delinna masuk ke dalamnya. “Kamu dibelakang dulu gak papakan ?” tanya Alger, sambil menatap Alina yang masih berdiri mematung ditempatnya, dan Alina hanya dapat menganggukan kepala untuk menanggapi apa yang Alger katakan. Setelah itu, karena Alger sudah masuk ke dalam mobil juga, Alina juga masuk ke dalam mobil kursi penumpang belakang. Sebelum berangkat Alger sempat bertanya kemana mereka akan pergi, ketika Alina dan Delinna merekomendasikan tempatnya masing – masing, Alger lebih memilih pergi ke tempat yang Delinna rekomendasikan. Tidak tahu kenapa, tapi Alina merasa jika Alger sengaja melakukan semua itu kepada dirinya, hanya saja Alina memilih untuk tidak banyak protes. Ketika mereka sudah tiba, mereka duduk di kursi yang saling bersisian, kemudian langsung memesan, sementara Alina yang duduk juga di meja yang sama tapi dalam posisi disebrang mereka juga melakukan hal sama. Ketika hidangan datang, Alina memilih langsung menyantap makannya, tapi tidak dengan Delinna. “Kamu ngapain pesen menu makanan sebanyak ini kalau akhirnya kamu sendiri yang bingung mau makan yang mana duluan” ujar Delinna, sambil terkekeh diikuti dengan suara kekehan Alger juga. Sebelum memakan menu yang dia pesan, Delinna menyiapkan dahulu makanan yang akan Alger makan, Alina memang memperhatikan setiap tindakan yang Delinna lakukan untuk Alger, tapi dia melakukannya dalam diam. “Gimana enakkan Alina makanan di sini ?” tanya Delinna, berhasil membuat Alina yang sebelumnya merasa seperti tidak terlihat akhirnya bisa disapa oleh dua sejoli yang sejak tadi asik dengan dunia masing – masing. Alina hanya mengangguk – anggukkan kepalanya sebagai jawaban untuk menanggapi pertanyaan Delinna. “Kita sering datang ke sini loh, ini itu restoran kesukaan Delinna, kalau aja tempat ini dijual aku kayaknya bakal jadi orang pertama yang datang buat beli deh, soalnya kalau tempat ini jadi milik aku kamu bebas nambah atau hapus menu yang sekiranya menurut kamu cocok ada direstoran ini” timpal Alger, berhasil membuat Delinna terkekeh mendengarnya. “Aku ke toilet dulu deh” ujar Alger, secara tiba – tiba. Setelah kepergian Alger, Delinna dan Alinna fokus dengan makanan mereka masing – masing. Hingga tiba – tiba Delina berdehem dan membuat Alina yang sedang duduk disebrangnya menoleh kearahnya. Saat itu, Delinna tampak memperlihatkan senyuman manisnya kepada Alina. “Kamu lihatkan, seberapa besar kenyamanan yang Alger rasakan ketika dia lagi sama aku, kamu bisa menilai seberapa besar dia memperhatikan setiap detail yang menjadi kesukaan aku, aku hanya meminta kamu untuk memberikan sedikit saja kebebasan kepada ku dan Alger agar kami masih tetap bersama” ujar Delinna, sambil menatap Alina dengan tatapan yang sulit didefinisikan. “Aku yakin kamu mengerti gimana sakitnya kehilangan orang yang kita cintai jika secara paksa harus pergi meninggalkan kita, dan apa kamu akan tega melihat Alger merasakan rasa sakit itu saat aku pergi meninggalkan hidupnya ?” tanya Delinna, masih sambil menatap perempuan itu. “Silahkan katakan apapun yang ingin kamu katakan sekarang, silahkan kamu lakukan apapun yang mau kamu lakukan sama Mas Alger sekarang, tapi nanti setelah kami menikah aku tidak akan memaksa dia tapi akan berusaha untuk memantaskan diri menjadi istrinya, mengisi setiap bagian dalam hidupnya hingga dia hanya ingat jika dia hanya punya satu istri yaitu aku” ujar Alina, dengan tenang tapi setiap kalimat yang dia sampaikan menyiratkan makna mendalam. “Jadi aku harap, kamu mulai menyadari hal itu” lanjut Alina, sambil tersenyum kemudian melanjutkan makannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD