Pada akhirnya Delinna memilih menerima kenyataan jika Alger harus menikah dengan Alina untuk membahagiakan ibunya. Meskipun jauh didalam lubuh hati terdalam Delinna masih tidak ingin, tapi melihat bagaimana reaksi yang Sarah tunjukan. Delinna merasa jika memaksa menyadarkan Sarah bukanlah solusi, dia hanya bisa berdoa semoga terjadinya pernikahan Alger yang ibunya anggap sebagai Aiden bisa sedikit membantu proses penyembuhan Sarah.
“Mau pamit dulu sama Mamah ?” tanya Alger, ketika dia hendak mengantar Delinna pulang.
Namun, saat itu Delinna menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, karena dia memang masih belum berani menghampiri Sarah setelah melihat perempuan itu menangis histeris. Untungnya, Alger juga memahami keadaan Delinna sehingga dia pamit sendirian kepada ibunya.
“Kita pergi kemana dulu gitu sebelum ke apartemen kamu, mumpung libur, biasanyakan kamu sibuk parah, padahal yang CEO di sinikan aku” ujar Alger, sambil menyombongkan dirinya, berharap hal itu bisa membuat Delinna yang sejak tadi terlihat tegang bisa tersenyum.
Saat itu, Delinna hanya melirik Alger sekilas sambil tersenyum kecil kemudian mengalihkan kembali tatapan matanya kearah jalanan. Melihat respon yang ditunjukan Delinna, Alger menyadari jika perempuan itu masih kaget dengan kejadian dirumahnya.
“Kita ke taman aja yu, aku udah lama gak pergi ke sana bareng sama kamu” ujar Delinna, sambil menoleh kearah Alger.
Alger langsung menyetui ajakan Alina, dulu mereka memang sering pergi ke taman hanya untuk sekedar membeli ice cream dan memakannya sambil duduk – duduk layaknya anak kecil. Kadang, mereka mengisi kebersamaan itu untuk saling bercerita, menyampaikan perasaan mereka, mengeluskan isi hati mereka, atau hal apapun yang sekiranya bisa mengisi kebersamaan mereka.
Ketika tiba ditaman yang biasa mereka kunjungi, Delinna tidak meminta dibelikan apapun, dia hanya ingin duduk dikursi taman yang ada dibawah pohon, tidak ada kalimat apapun yang perempuan itu sampaikan, dia hanya diam sambil menyandarkan kepalanya dipundak Alger.
“Tuh liat itu” ujarnya, sambil menunjuk pasangan suami istri yang masih terlihat muda sambil mendorong troler bayi. “Kamu bayangin kalau mereka itu kamu sama Alina dan anak kalian, terus aku duduk disini liatin keharmonisan keluarga kalian, menyedihkan bukan ?” ujar Delinna, sambil mendongak menatap wajah Alger.
“Mana bisa aku punya anak sama Alina, aku nanti punya anaknya sama kamu” ujar Alger, sambil mengelus kepala Delinna dengan penuh kasih sayang. “Udah gak usah mikirin yang aneh – aneh, pokoknya apapun yang akan terjadi aku akan tetap nikah sama kamu, kita punya anak yang banyak” ujar Alger, sambil terkekeh diikuti Delinna yang ikut terkekeh mendengar apa yang Alger katakan.
“Kamu gak akan kehilangan sesuatu yang udah jelas jadi milik kamu, dan aku ini milik kamu, jadi gak usah khawatir” ujar Alger, sambil tersenyum menuduk sehingga membuat bola matanya bertatapan dengan Delinna yang sedang mendongak menatap wajahnya.
“Enggak tahu, meskipun kamu selalu yakinin aku, tapi rasanya takut aja kalau sadar sebentar lagi kamu akan beneran nikah dan hidup satu atap sama perempuan lain, rasanya aku gak bisa bayangin melewati gimana malam aku karena keinget kamu sama perempuan lain, padahal nantikan dia istri sah kamu” ujar Delinna, berhasil membuat Alger seketika langsung tertawa.
Seperti itulah salah satu sikap Delinna yang berhasil membuat dia merasa gemas, terkadang tindakan atau ucapannya selalu membuat Alger tidak bisa berjauhan darinya.
***
Setelah datang menemui Sarah dan melihat bagaimana reaksi perempuan itu ketika Alger mencoba memberitahu jika dia yang selama ini dianggap ibunya sebagai Aiden yang berakhir membuat perempuan itu histeris. Delinna pada akhirnya memutuskan untuk berdamai dengan situasi yang dihadapi hubungannya bersama Alger. Namun, keesokan harinya dia mengajak Alina bertemu untuk membicarakan suatu hal bersama perempuan itu.
“Alina …” panggil Delinna ketika mereka sudah duduk dikursi sebuah café tempat keduanya janjian bertemu. “Aku benar – benar tidak tahu apa sebenarnya yang menjadi alasan kenapa kamu tiba – tiba memberikan tawaran untuk menikah dengan Alger yang jelas sudah punya aku sebagai pacarnya” lanjut Delinna, sambil menundukan kepala.
“Aku gak tahu kamu melakukan itu karena kamu memang ingin cepat menikah dan karena Mas Aiden meninggal kemudian kamu memanfaatkan keadaan ibunya agar kamu bisa tetap menikah meskipun bersama adiknya yaitu Alger” ujar Delinna, sambil mendongak menatap wajah Alina. “Atau kamu memang perempuan yang suka merebut laki – laki orang lain, atau mungkin kamu memiliki alasan khusus lain, aku gak tahu” ujar Delinna, sambil menata Alina tepat dibagian matanya.
“Tapi, aku ingin meminta sedikit saja pengertian dari kamu, biar bagaimanapun kamu menikah dengan Alger dalam posisi aku dan dia masih pacaran, aku gak bisa bohong kalau aku sama dia itu sangat saling mencintai, jadi setelah kalian menikah tolong jangan berikan batasan kepada Alger untuk berhubungan dengan ku, karena aku dan dia saling membutuhkan satu sama lain” ujar Delinna, sambil menatap Alina penuh keseriusan.
Alina sangat mengerti apa yang saat itu Delinna maksud, Alina juga menyadari dialah mungkin tokoh jahat yang menjadi pemisah dalam hubungan Alger dan Delinna. Namun, Alina hanya melakukan apa yang Aiden sampaikan, dan karena saat itu Alger menyetujuinya, akhirnya pernikahan itu benar – benar terjadi.
“Aku ngerti, dan aku enggak akan memberikan batasan apapun kepada Mas Alger setelah kami menikah” ujar Alina, sambil menundukan kepala. “Aku juga tahu kehilangan orang yang kita cintai itu menyakitkan, dan di sini posisi ku adalah orang ke tiga yang hadir dalam hubungan kalian” lanjut Alina, masih sambil menundukan kepalanya.
“Tapi, aku juga gak bisa kalau harus selamanya membiarkan Mas Alger menjadi pacar Mbak Delinna, aku ingin kalian juga sama – sama belajar untuk mengerti jika keadaan sudah berubah, saat Mas Alger sudah menjadi suami ku kalian belajarlah untuk saling menjaga jarak, karena aku sudah memberikan kalian kebebasan jadi tolong kalian juga belajar untuk saling menjauh pelan – pelan, karena aku akan menghargai proses atau waktu yang kalian butuhkan untuk saling melepaskan” ujar Alina, sambil mendongak menatap kearah Delinna.
“Tolong, Mbak Delinna juga mengerti kalau aku gak bisa selamanya membiarkan suami ku menjadi kekasih orang lain, karena selama kami menikah aku akan belajar mencintai dia, berusaha membuat dia mencintai ku, dan Mbak Delinna tolong berusaha untuk tidak bergantung lagi padanya” lanjut Alina.
“Mungkin aku jahat Mbak, tapi kalau aku terus membiarkan kalian, maka itu sebuah kesalahan” ujar Alina, dan setelah itu dia pamit untuk pulang.
Delinna, hanya bisa menghela nafas berat ketika dia mendengar apa yang Alina katakan, dan sapa yang Alina katakan memang tidak ada salahnya, tapi Delinna juga ingin egois dengan bertahan bersama Alger, dan memimpikan kebersamaan dalam pernikahan bersama dia.