#R – Usaha untuk Menjaga Hubungan

1068 Words
Meskipun Alger dan Delinna masih sama – sama ragu menemui Sarah, tapi keduanya lebih memilih mencobanya dari pada tidak sama sekali. Alger sudah berjanji pada dirinya sendiri jika memang pertemuan mereka dengan Sarah membuahkan hasil sesuai harapan, laki – laki itu siap membatalkan pernikahan yang sebelumnya sudah dia sepakati dengan Alina. “Ayo, kita coba aja dulu gak papa, kita gak akan tahu hasilnya kalau kita gak nyobakan” ujar Alger, ketika mobil laki – laki itu baru memasuki pekarangan rumahnya dan Delinna terlihat sangat gerogi. Meskipun pada dasarnya Alger juga merasa takut dengan hasilnya, merasa khawatir dengan reaksi ibunya. Tapi sebisa mungkin dia berusaha untuk menutupi segalanya agar tidak membuat Delinna yang dia yakin lebih takut dan khawatir dibanding dirinya tidak semakin takut dan khawatir juga karena melihat dirinya. “Ayo, gak papa, aku sama kamu ko” ujar Alger, saat Delinna terlihat ragu untuk turun dari dalam mobil. Sejenak, Delinna terdiam memperhatikan uluran tangan Alger, kemudian perempuan itu langsung menerima uluran tangan itu. Nyatanya, Delinna memang yang memberikan saran tersebut, tapi dia tidak menyangka jika dia sendiri yang merasa ketakutan untuk mencoba melakukannya. Setelah itu, mereka berjalan beriringan menuju ke ruang keluarga, dan keluar menuju halaman belakang. Pagi – pagi Sarah memang lebih sering menghabiskan waktunya dihalaman belakang untuk memelihara bunga – bunga yang dia tanam. Sebelum benar – benar menghampiri Sarah, Alger terdiam memperhatikan ibunya, seakan sedang memprediksi bagaimana suasana perasaan ibunya pagi itu. Kemudian, dia menoleh kearah Delinna sambil tersenyum berusaha membuat perempuan itu tetap merasa tenang. “Mamah …” panggil Alger, membuat Sarah akhirnya menoleh dengan senyuman yang terlukis dari bibirnya. Namun, senyuman perempuan paruh baya itu terlihat memudar secara perlahan ketika dia melihat Alger yang dia anggap Aiden berjalan bergandengan tangan dengan Delinna, saat itu dia terlihat menunjukan ketidaksukaannya melihat Delinna yang datang bersama Alger, yang mana Alger masih dianggap sebagai Aiden. “Delinna bawain bunga jenis mawar nih, dia sengaja loh bawain buat Mamah” ujar Alger, berusaha mencairkan suasana yang terasa sangat beku diantara Sarah dan Delina. Delinna menyerahkan pot bunga mawar merah yang memang sengaja dia beli untuk Sarah, mulut perempuan itu sudah terbuka hendak menyampaikan sesuatu. “Gak usah, bunga mawar merah masih banyak ko, udah kebanyakan malahan” ujar Sarah, sambil acuh tidak acuh. Tangan Delinna yang saat itu sudah terulur untuk menyerahkan pot bunga mawar ke arah Sarah bahkan tidak digubris, dia memilih fokus untuk kembali menyemprot bunga – bunga yang sedang diperiksa. Melihat hal itu, Alger langsung mengambil alih bunga tersebut, dan menyimpannya didekat jajaran bunga mawar lain milik ibunya. “Mamah udah yu, masuk kita sarapan dulu” ajak Alger, sambil merengkuh pundak ibunya dengan lembut. Saat itu Sarah menurut, tanpa melakukan perlawanan dia ikut masuk bersama Alger diikuti Delinna yang berjalan disamping Alger. Namun, ketika masuk ada beberapa menu yang belum selesai. Karena hal itu Bibi yang bekerja dirumah mereka meminta maaf dan meminta menunggu beberapa menit lagi. Sambil menunggu menu sarapan selesai, Alger memanfaatkan waktu tersebut untuk mengajak ibunya berbicara. “Mamah, ini Delinna, Mamah masih ingatkan, dulu Mamah yang ngenalin aku sama Delinna pas masih kecil, empat tahun lalu aku juga sempat kenalin dia ke Mamah sebagai pacar aku, waktu itu …” “Mamah ingat ko, dulu kamu dan Alger sering main sama Delinna, beberapa tahun lalu Mamah ingat setelah Alger bilang pacaran sama Delinna kita sempat beberapa kali pergi bareng, tapi Delinna itu pacarnya Alger, mereka bilang akan menikah setelah kamu dan Alina menikah, jadi sebentar lagi kamu akan menyusul sama Algerkan ?” tanya Sarah, sambil menatap kearah Delinna. “Sabar aja ya, Alger masih banyak urusan mungkin di Malaysia, tapi kalau pulang dia pasti langsung temuin kamu ko” ujar Sarah, sambil menatap Delinna. “Aiden sebentar lagi akan menikah, Tante gak suka kalau kamu dekat terlalu berlebihan sama dia, apalagi sampai gandengan tangan kaya tadi, kamu gak bayangin gimana perasaan Alger kalau dia liat kamu sama Aiden gandengan, dia pasti sedih” ungkap Sarah, yang akhirnya menyampaikan alasan sikap ketusnya kepada Delinna ditaman belakang. Mendengar apa yang Sarah katakan, dapat dinyatakan jika Sarah saat itu menganggap jika Delinna datang bersama Aiden bukan Alger. Karena yang ada dalam pikiran Sarah anak yang ada dihadapannya itu adalah Aiden, sedangkan Alger masih ada di Malaysia untuk menyelesaikan urusannya. Menyadari hal itu, Alger dan Delinna saling menatap satu sama lain. “Mamah, coba Mamah lihat wajah aku baik – baik” ujar Alger, membuat ibunya menoleh dan menatap wajah laki – laki itu lekat – lekat. “Aku ini Alger Mah, aku udah pulang dari Malaysia, aku datang ke sini sama Delinna pacar ku, dia datang ke sini bukan sama Kak Aiden tapi sama aku, Alger” ujar Alger, sangat pelan – pelan. “Mamah ingetkan wajah anak Mamah yang paling kecil, aku Alger Mah” ujar Alger, sambil menatap ibunya yang saat itu masih menatap wajahnya lekat – lekat. Selama beberapa saat, masih terjadi keheningan, hingga tiba – tiba Sarah menjerit histeris seperti orang ketakutan, dia menolak bersentuhan dengan Alger ataupun Delinna. Melihat sikap yang Sarah tunjukan Delinna dan Alger sama – sama panik, mereka tidak tahu apa yang mereka harus lakukan. Sementara itu, jeritan yang Sarah lakukan terjadi saat Alger menyampaikan dirinya yang selama ini dianggap Aiden oleh ibunya menyampaikan bahwa dia bukan Aiden melainkan Alger. Bersamaan dengan itu, bayang – bayang luka dengan darah yang bercucuran tiba – tiba muncul dalam benak perempuan itu hingga membuat dia takut. “Aiden sayang, kamu harus tetap di sini kamu gak boleh kemana – mana, kamu gak boleh kemana - mana” ujar Sarah, setelah menjerit histeris tiba – tiba langsung menarik tubuh Alger ke dalam pelukannya dengan panik. “Kamu akan baik – baik aja sama Mamah sayang, adikmu juga pasti akan pulang, kita harus selalu sama – sama, gak boleh ada yang pergi meninggalkan satu sama lain” ujarnya, sambil memeluk Alger dengan erat. Namun, tidak beberapa lama, kesadaran perempuan itu menghilang. Melihat hal itu, Alger langsung membawa tubuh ibunya ke kamar kemudian langsung menghubungi Dokter. Setelah itu, dia langsung menghampiri Delinna yang masih duduk di ruang keluarga. “Maaf sayang, sepertinya Mamah belum siap menerima kenyataan kalau Kak Aiden sudah meninggal” ujar Alger, sambil duduk disamping Delinna. Tidak ada jalan yang mungkin bisa mereka tempuh, karena berusaha menyadarkan Sarah sudah mereka lakukan tapi berakhir dalam sebuah kegagalan. Meskipun hasilnya cukup mengecewakan, tapi Dalinna dan Alger setidaknya pernah mencoba berusaha melakukan usaha untuk menjaga hubungan mereka
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD