Alger sungguh tidak tahu bagaimana dia harus menghadapi kemarahan Delinna yang saat itu sudah hampir empat hari berlalu tidak kunjung datang menemuinya ataupun memberikan kabar kepada dirinya. Terakhir kali dia datang ke kantornya, dia sudah masuk kerja, tapi saat Alger ingin menemuinya dia masih menolak. Selain itu, pekerjaan Alger yang dulunya berpekerja dibagian desain pembangunan dan perencanaan, mendadak bertambah karena saat itu dia ditunjuk langsung mengganti posisi kakaknya menjadi CEO perusahaan keluarga mereka yang bergerak dibidang kontraktor.
“Delinna …” gumam Alger, sambil menegakan posisi duduknya ketika laki – laki itu melihat kemunculan Delinna di café yang Alger kunjungi setelah selesai meeting.
Bibir Alger langsung menyunggingkan senyuman ketika laki – laki itu melihat Delinna berjalan kearahnya. Pikirannya yang beberapa menit lalu terasa penat karena pekerjaan mendadak jadi sedikit fress melihat kekasihnya datang.
“Kamu udah maafin aku ?” tanya Alger, sambil bangkit dari posisi duduknya.
Namun, Delinna tidak memberikan tanggapan apapun, dia memilih langsung duduk disebrang kursi Alger sehingga membuat posisi mereka jadi saling berhadapan. “Apa kamu bisa menjamin kalau kamu gak akan jatuh cinta sama dia ?” tanyanya, langsung pada inti sambil menatap kearah Alger dengan wajah tanpa ekspresi.
“Bisa, aku bisa jamin kalau aku gak akan jatuh cinta sama dia, pertama karena dia bukan perempuan yang aku sukai, kedua dia bukan tipe aku, dan terakhir aku udah cinta sama kamu dan akan selamanya seperti itu” ujar Alger, sambil tersenyum hangat.
Delinna menghembuskan nafasnya dengan berat ketika mendengar apa yang baru saja Alger katakan. Kenyataannya, dia sangat tidak rela jika harus membiarkan Alger menikah dengan perempuan lain, dia datang kepada Alger untuk mempertahankan hubungan mereka, tapi jika semuanya berakhir dalam sebuah kegagalan Delinna harus rela membiarkannya.
“Sampai detik ini aku masih belum rela kalau harus membiarkan kamu menikah dengan Alina, kamu itu pacar ku, kamu hanya boleh menikah sama aku, aku gak rela membiarkan kamu hidup satu atap sama perempuan lain” ujar Delinna, dengan nada suaranya yang sudah putus asa.
“Jadi, bisa enggak kalau kita coba pulang ke rumah kamu, kita coba jelaskan pelan – pelan sama Mamah kamu kalau Kak Aiden itu udah meninggal, dan ini adalah kamu Alger dan aku pacar kamu Delinna, mungkin dengan begitu Mamah kamu akan sedikit tersadar” ujar Delinna, sambil mendongak menatap kearah Alger yang saat itu sedang menatapnya. “Kalau memang cara itu gak berhasil, okey kamu boleh menikah dengan Alina demi kebaikan Mamah” ujar Delinna, sambil menatap Alger tapet dibagian matanya.
“Tapi setelah menikah aku mohon tolong jangan bertindak terlalu jauh, aku tahu setelah sah menikah kalian bebas melakukan apapun, tapi aku mohon tolong ingat aku juga yang lagi nunggu kamu, karena biarin kamu tinggal satu atap sama perempuan lain aja udah buat aku takut, aku gak bisa bayangin apa yang akan terjadi jika kamu bersikap selayaknya suami Alger, karena pada akhirnya aku memilih bertahan meskipun harus terluka” ujar Delinna, sambil menundukan kepalanya.
“Setelah aku mencoba, aku gak bisa ternyata pergi dari kamu, jadi tolong selama aku ada menunggu kamu jangan biarkan aku terluka” lanjutnya, sambil mendongak menatap kearah Alger yang ternyata sedang menatapnya.
Mendengar apa yang Delinna sampaikan, Alger merasa sangat beruntung karena perkataan perempuan itu sudah jelas menyatakan jika dia memiliki cinta yang besar untuk dirinya, dan Alger merasa beruntung akan hal itu.
“Setelah ini ayo kita pulang, apapun yang terjadi kita coba bicarain baik – baik sama Mamah siapa tahu Mamah bisa sadar, tapi kalau memang tetap gak berhasil aku janji aku gak akan membuat kamu terluka ditengah penantian kamu menunggu aku” ujar Alger, sambil tersenyum dan menggenggam tangan Delinna.
Mendengar jawaban yang Alger sampaikan, Delinna tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Setidaknya meskipum saat itu merasa cukup gelisah, tapi disisi lain dia lega karena dia sadar Alger juga selalu ada dan berjuang bersamanya.
“Alger …” panggilan itu, berhasil membuat Alger dan Delinna yang sedang duduk disamping laki – laki itu menoleh bersamaan ketika mereka mendengar nama laki – laki itu dipanggil.
Alina, kebetulan datang ke café tempat Alger dan Delinna berada, setelah memanggil nama Alger awalnya dia hanya menatap wajah laki – laki itu dalam diam, hingga akhirnya mata perempuan itu beralih menatap tangan mereka yang sedang saling menggenggam satu sama lain.
“Kenapa kamu di sini ? nguntit pacar orang ?” pertanyaan itu berasal dari Delinna yang pertama kali memecah keheningan diantara mereka.
Mendengar apa yang Delinna katakan, Alina tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Aku enggak menguntit siapapun, kebetulan aja kita bertemu di sini, lagi pula orang yang kamu sebut pacar orang itu adalah calon suami ku sekarang” ujar Alina dengan penuh ketenangan.
“Denger ya, lo itu cuma cewe munafik yang gak tahu diri rebut laki – laki orang lain setelah kematian pacar lo, harusnya lo itu masih berduka karena laki lo meninggal, bukannya ngebet nikah terus ngejar – ngejar pacar orang, dasar gak ada harga dirinya” ujar Delinna, sambil menunjuk – nunjuk wajah Alina.
Alina merasa jika apa yang Delinna katakan tentang dirinya itu jahat, tapi disisi lain Alina sadar jika dia tidak bisa menahan mulut atau pikiran siapapun untuk berkata atau berpikiran jelek tentang dirinya.
“Aku gak maksa Alger, dia yang menyepakatinya sendiri, jadi sebagai calon istrinya aku ingin memberitahu kamu agar menjaga sikap kamu, seharusnya kamu lebih tahu bagaimana kamu harus bersikap di lingkungan umum ketika bersama calon suami orang lain” ujar Alina, cukup tegas.
“Cukup Alina, jangan mengklaim aku sebagai calon suami kamu, kita sudah bicarakan ini kalau sudah menikahpun kita bebas melakukan kegiatan dan kebiasaan kita masing – masing tanpa izi” ujar Alger, berusaha membela Delinna.
“Tapi, saat itu aku bilang kalau aku gak mau, aku akan tetap izin untuk apapun yang akan aku lakukan, kamu mungkin masih pacar dia, tapi kamu calon suami aku, jadi jangan larang aku untuk menyampaikan ketidaksukaan ku melihat bagaimana cara kalian bersikap, karena sebagai calon istri kamu aku juga punya hak” ujar Alina, dengan suaranya yang masih terdengar normal tapi apa yang dia katakan cukup menyiratkan ketegasan.
Saat itu Alger dan Delinna sama – sama bangkit dari posisi duduk mereka, tapi saat itu Delinna sudah melangkah lebih depan mendekat pada Alina, hanya saja Alger terlihat menahan perempuan itu.
“Alina …” ketika seseorang memanggil namanya, Alina menoleh.
“Kak, ternyata disini ada Alger, dia sedang meeting bersama rekan kerjanya, kita cari tempat lain aja yu buat makan siangnya, kasian takut keganggu mereka kalau kita di sini” ujar Alina, tiba – tiba kepada kakaknya yang saat itu baru saja tiba.
Mendengar apa yang Alina sampaikan, meskipun sempat bingung Hasan lebih memilih menurut dan langsung pergi setelah berpamitan kepada Alger dan Delinna, mereka mencari restoran lain untuk tempat makan siang mereka.