Setelah ditinggal Alger begitu saja, Alina memilih untuk tidak langsung pergi tapi memilih menghabiskan kopi yang sudah dia pesan sambil menunggu waktu siang. Dia juga sudah menghubungi Kakaknya untuk mampir makan siang jadi nanti akan punya teman. Bibir Alina menyunggingkan senyuman saat dia kembali teringat dengan sikap yang ditunjukan Alger kepadanya. Mulai dari bicara ketus, membentak, dan meninggalkannya sendirian.
“Mungkin, meskipun mereka Kakak beradik mereka memiliki perbedaan, dan perbedaan sikap tadi adalah salah satunya” gumam Alina, sambil kembali menyeruput kopinya.
Meskipun Alina sempat merasa kaget dengan sikap Alger yang tadi sempat bicara ketus bahkan sempat membentaknya, tapi Alina masih berusaha berprasangka baik dan berpikir jika Alger mungkin sedang memiliki beban pikiran, sehingga membuat suasana hati laki – laki itu menjadi kurang baik.
“Kamu mau lanjut meeting lagi atau balik ke kantor ?” tanya Alina, saat dia bertemu dengan Aide di sela waktu istirahat.
“Balik ke kantor, soalnya ada jadwal rapat internal” ujar Aiden, sambil menyeruput juicenya.
“Yaudah, kamu pergi duluan, aku mau liatin kamu pergi naik mobil sampai gak keliahatan” ujar Alina, dan saat itu Aiden menggelengkan kepalanya dengan posisi masih menyeruput juice.
“Enggak, kamu aja duluan aku yang mau liatin kamu” ujarnya, sambil meminta Alina pergi lebih dulu.
Alina, hanya mampu tersenyum ketika bayang – bayang kenangan tentang kebersamaan dia dan Aiden terkenang dipelupuk matanya. Sikapnya yang lembut, kalimatnya yang santun, perhatiannya yang tulus, selalu berhasil membuat Alina merasa besyukur memiliki laki – laki itu. Alger, memang laki – laki yang lembut kepada perempuan, tapi sisi lain dari laki – laki itu adalah dia tidak mampu mengontrol dirinya sendiri ketika dia sedang marah.
“Ngapain kamu senyum – senyum sendiri” perkataan itu, berhasil membuat Alina sadar dari lamunannya.
Hati perempuan itu langsung mengucapkan istigfar ketika dia sadar jika baru saja kembali mengingat kenangan lamanya. Padahal, Alina sudah berjanji pada dirinya sendiri jika dia akan mulai belajar untuk mencintai Alger. Namun, sampai detik itu, Alina sadar jika perasaan cintanya masih menjadi milik masa lalunya, bahkan hanya untuk membagi hatinya saja Alina masih kesusahan, apalagi jika sampai memberikan seluruh hatinya. Hanya saja, Alina akan tetap berusaha, karena dia tidak ingin pernikahannya benar – benar dibangun tanpa rasa cinta yang menjadi pondasi dalam pernikahan mereka.
“Percaya sama Kakak, biarin semuanya mengalir, jangan paksa perasaan kamu untuk melupakan Aiden dan mencintai Alger, karena semakin kamu paksa maka semua itu akan sulit terjadi” ujar Hasan, yang sudah mendudukan tubuhnya dikursi yang sebelumnya sudah diduduki oleh Alger. “Jalani pernikahan kamu bersama Alger semengalirnya, biarkan rasa cinta kamu untuk Aiden memudar secara alami kemudian diganti mencintai Alger, dengan begitu rasa cinta kamu pada Aiden akan hilang dan cinta kamu untuk Alger akan tumbuh dengan alami” lanjutnya, sambil tersenyum seakan saat itu dia bisa mengetahui apa yang adiknya itu pikirkan.
“Hemmm, iyaaa, ternyata memulai kembali hubungan sama orang baru meskipun mereka punya hubungan darah cukup sulit juga, aku harus banyak – banyak beradaptasi sama sikap dia lagi” ujar Alina, sambil menyeruput juicenya.
Mendengar jawaban Alina, Hasan hanya bisa mengelus kepala adik perempuannya itu dengan penuh kasih sayang. Hasan tidak lagi memberikan komentar apapun untuk hal itu, dia tahu jika adiknya sudah dewasa, dan Hasan percaya jika Alina pasti mengetahui apa yang terbaik untuk dirinya sendiri.
***
Setelah meninggalkan Alina begitu saja di kafe, Alger langsung bergegas menuju kantor tempat Delinna bekerja, laki – laki itu tidak bisa terus menerus berdiam diri saat Delinna tidak kunjung mau membalas semua pesannya ataupun mengangkat panggilan telepon darinya. Karena biasanya, semarah apapun dia tidak pernah sampai dua hari mendiami Alger.
“Apa hari ini Delinna masuk ?” tanya Alger, ketika laki – laki itu ditanya keperluannya.
“Ibu Delinna setahu saya mengambil cuti dari dua hari lalu” ujarnya, berhasil membuat Alger terdiam.
Mengetahui kabar jika Delinna sudah mengambil cuti sejak dua hari yang lalu, Alger mencoba mencerna apa yang saat itu hendak Delinna lakukan, karena sebelumnya dia tidak pernah bersikap seperti ini. Kemudian, Alger langsung bergegas menuju apartemen perempuan itu lagi, dia harus memastikan segalanya. Karena meskipun mengambil cuti, nomor ponsel Delinna masih aktif meskipun dia tidak mengangkat panggilannya.
Alger yang memang mengetahui password pintu apartemen Delinna langsung membuka pintunya tanpa mengucapkan apapun. Tepat saat dia buka, hal pertama yang dia dapati adalah Delinna yang sedang duduk di sofa dan sedang menatapnya yang saat itu baru saja masuk.
“Aku bilang, jangan cari aku” ujar Delinna dengan tatapannya yang terlihat dingin.
Alger yang sempat merasa kaget karena Delinna duduk sambil memelototi kedatannya sempat mengelus d**a. Meskipun saat itu secara tidak langsung Delinna mengusirnya atau mengisyaratkan jika dia sedang tidak ingin diganggu, tapi Alger memilih berjalan menghampirinya.
“Aku mohon, kamu jangan marah, jangan lama – lama marahnya ya” ujar Alger, sambil berjongkok dihadapan Delinna sambil menyentuh tangannya.
Namun, Delinna benar – benar sedang marah yang sulit untuk dibujuk, ketika Alger mencoba merayu dia langsung menarik tangannya dari genggaman Alger. “Ya kamu mikir aja, gimana kondisi kita kalau dibalik, gimana perasaan kamu kalau tahu orang yang kamu sayang, yang kamu cintai ternyata akan menikah dengan perempuan lain, dan pernikahan itu bahkan yang diinginkan oleh ibunya, sedangkan saat itu posisi kamu seperti manusia yang tidak terlihat dimata ibunya, gimana perasaan kamu ?” tanya Delinna, sambil memalingkan wajahnya tidak berani menatap Alger karena dia takut menangis.
“Delinna, aku janji sama kamu kalau aku akan selalu cinta sama kamu, aku gak akan beralih mencintai siapapun meskipun aku menikahi Alina dulu, aku janji akan segera memperbaiki semuanya, semua ini hanya demi Mamah” ujar Alger, sambil kembali membawa tangan Delinna ke dalam genggaman tangannya.
Tepat setelah mengucapkan kalimat tersebut, tiba – tiba ponsel Alger berbunyi, dan nama Alina adalah nama kontak yang tertulis dilayar panggilan. “Calon istri mu nelpon tuh” ujar Delinna, sambil bangkit dari posisi duduknya.
“Satu lagi, gak usah janji untuk gak berpaling dari aku, karena kamu bisa mengingkari janji kamu untuk gak nikah sama orang lain demi Mamah kamu, bukan hal yang gak mungkin kalau suatu hari nanti kamu juga akan berpaling dari aku karena terbiasa bersama dia dan memilih meninggalkan aku demi diri kamu sendiri” ujar Delinna, sambil berjalan dari sofa menuju kamarnya.
“Pergi, pikiran aku belum jernih, kamu jangan temui aku karena aku yang nanti akan menemui kamu untuk memastikan akan seperti apa akhirnya” ujar Delinna, sambil masuk ke dalam kamarnya.
Melihat respon Delinna yang masih terlihat marah, Alger benar – benar merasa kesal pada dirinya sendiri. Laki – laki itu benar – benar merasa jengkel dengan keadaan yang saat itu sedang dialaminya.