#R – Bentarakan yang Tidak Disengaja

1074 Words
Setelah makan malam yang berakhir dengan pertengkaran karena Delinna merasa kecewa dengan keputusan Alger yang tiba – tiba memutuskan menikah dengan Alina, Alger benar – benar tidak bisa lagi menghubungi perempuan itu, jika mereka sedang bertengkar biasanya Delinna selalu membutuhkan waktu beberapa jam atau hari untuk memikirkan semuanya, setelah itu dia yang akan datang sendiri. Namun, sudah dua hari berlalu tapi dia belum juga kembali, saat Alger datang ke apartemennya dia juga tidak ada. “Aiden” panggil ibunya, saat mereka sedang ada dimeja makan untuk sarapan bersama. “Kamu ko dari tadi Mamah panggil – panggil gak respon sih, kenapa ? kamu lagi mikirin apa ?” tanya Sarah, sambil menatap Alger yang pagi itu memang lebih banyak melamun, karena merasa khawatir pada Delinna yang tidak kunjung memberikan dia kabar. “Maaf Mah, kenapa ? tadi mikirin kerjaan, lagi banyak soalnya” ujar Alger, beralasan. “Pernikahan kamu sama Alina enggak mau dimajuin aja tanggalnya ? Mamah udah gak sabar loh nyambut kedatangan Alina dirumah ini, nanti Mamah juga pasti ada temen buat masak – masak, pergi belanja” ujar Sarah, berhasil membuat pergerakan tangan Alger yang sedang mengambil nasi kembali dia simpan lagi. Pagi itu, suasana hati Alger sedang sedikit tidak baik karena pertengkaran dirinya bersama Delinna. Sarah yang tiba – tiba membahas tentang pernikahan Aiden tapi harus diperankan oleh dirinya membuat perasaan Alger yang sudah berantakan jadi semakin berantakan. “Enggak Mah, sesuai jadwal aja soalnya persiapannya juga gak akan keburu, terus aku sama Alina juga sepakat kalau ijab qobul pernikahan kita cuma dihadiri orang tua dan Kakak Alina sama aku aja, jadi nanti Mamah datang pas aku sama Alina resepsi aja ya” ujar Alger, sambil menyentuh lengan ibunya berharap bisa mendapatkan simpati darinya. “Aku sama Alina sengaja merencanakan semua itu demi Mamah, kita mau buat Mamah terpesona aja sama kita gitu pas resepsi” ujar Alger, sambil tersenyum. Mendengar apa yang Alger katakan, Sarah tersenyum sambil menganggukan kepalanya. Melihat hal itu, Alger merasa sedikit lega, karena dia memang berencana melakukan proses ijab qobul secara tertutup, meskipun dia belum membicarakannya dengan Alina, setuju tidak setuju Alger ingin acara ijab qobul sesuai dengan keinginannya. “Aku langsung berangkat aja kalau gitu ya Mah, udah janjian sama Alina kasian dia nunggu lama kalau aku telat” ujar Alger, sambil tersenyum. “Oh iya, sore Mamah ada jadwal ketemu sama Dokter, kalau keburu nanti aku anter tapi kalau enggak nanti aku minta asisten pribadi aku yang anter Mamah ya” lanjutnya, masih sambil tersenyum. Sarah hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban, kemudian Alger langsung mencium punggung tangan dan dahi ibunya sebelum dia berangkat. Pagi itu, Alger memang memiliki janji bertemu dengan Alina, tapi dia yang memang tidak bersemangat semakin tidak semangat karena keadaan perasaannya yang sedang berantakan. Setelah melalui perjalanan hampir 20 menit, Alger akhirnya tiba ditempat dia dan Alina janjian. Ketika Alger masuk ternyata Alina sudah lebih dulu sampai, dia tampak melambaikan tangannya sambil tersenyum kearah Alger. “Udah liat – liat ? udah dapat belum ?” tanya Alger, ketika dia baru saja tiba ditempat duduk Alina. “Belum, aku nunggu kamu dulu, gak enak kalau aku pilih sendiri, takutnya kamu gak suka” ujar Alina, dengan suaranya yang terdengar lembut dan menenangkan. “Kenapa kamu gak pilih duluan aja sih, kan biar lebih cepet” ujar Alger, dengan suaranya yang terdengar sedikit dingin tapi nada bicaranya masih terdengar normal. Sadar jika saat itu Alger berbicara dingin kepadanya, Alina hanya melirik laki – laki itu tanpa mengucapkan apapun, begitupun dengan Alger yang baru menyadari jika dia berbicara sinis kepada Alina langsung terdiam juga. Hingga tidak lama, seorang pekerja di gallery wedding yang Alina dan Alger datangi datang membawa beberapa katalog, memperlihatkan beberapa model baju pernikahan untuk akad dan juga resepsi. “Sepertinya untuk gaun akad yang ini cocok untuk mbaknya” ujar pekerja tersebut, sambil menunjuk salah atu model gaun yang terlihat simple tapi masih terlihat elegan dan mewah. “Iya udah yang itu aja” ujar Alger, membuat Alina dan pekerja tersebut menoleh secara bersamaan, setelah itu akhirnya Alinapun menyetujuinya. Kemudian, pekerja tersebut juga menunjukan beberapa katalog berisi pakaian untuk resepsi, karena model yang terdapat dalam katalog cukup banyak Alina cukup kebingungan memilihnya, selain karena dia tidak terbiasa memilih – milih gaun seperti itu, dia juga merasa jika semua gaunnya terlihat cantik. “Lama banget, pilih aja salah satu” ujar Alger, dengan nada judesnya yang lagi – lagi berhasil membuat Alina dan pekerja tersebut menoleh kearah laki – laki itu. “Aku bingung Mas pilih yang mana” gumam Alina, sambil kembali fokus melihat – lihat gaun dikatalog tersebut. “Nih yang ini nih, sama ini aja” ujar Alger, dengan nadanya yang terdengar sangat ketus. “Gak bisa apa pilih sendiri !” lanjut Alger sambil sedikit membentak. Alina menoleh kearah pekerja yang saat itu sedang duduk disisinya, sambil tersenyum canggung Alina akhirnya menyetujui pilihan Alger yang memilih gaun warna maroon dan navy. Saat itu, pekerja tersebut mengatakan kepada Megumi dan Alger jika pakaian yang Alina dan Alger pilih sudah dibuat. Namun, karena mereka sudah melakukan pengukuran, ukuran pakaiannya akan disesuaikan lebih dulu, Alger dan Alinapun menyetujuinya. “Mbak maaf ya, mungkin calon suaminya sedang sedikit banyak pekerjaannya, jadi suasana perasaannya sedang tidak baik” ujar Alina, merasa tidak enak karena Alger sempat berbicara ketus dan sedikit membentak dihadapan pekerja tersebut. “Iya tidak papa” jawabnya, sambil tersenyum ramah. Setelah itu, Alina dan Alger pamit untuk pulang. Alger sengaja mengajak Alina mampir ke kafe yang tidak jauh dari lokasi gallery wedding yang baru saja mereka kunjungi, karena saat itu Alger ingin membicakan tentang proses ijab qobul pernikahan mereka. “Alina, aku ingin ijab qobul pernikahan kita dilakukan secara tertutup, hanya keluarga kamu saja yang boleh datang” ujar Alger, langsung pada intinya. “Aku sengaja tidak akan mengundang Mamah, karena akan menjadi masalah jika Mamah mendengar jika nama yang disebut dalam proses ijab qobul tersebut itu adalah nama ku bukan Kak Aiden” ujar Alger sambil menatap Alina. “Iya Mas, gak papa” jawab Alina, dengan tenang sambil tersenyum lembut. Melihat respon yang ditunjukan Alina. Alger sempat merasa kebingungan. Padahal, sejak tadi tampa sengaja Alina sudah terkena bentakannya, ketika mereka bicara tanpa sadar Alger berbicara dengan ketus, tapi Alina masih bisa bersikap tenang bahkan menjawabnya sambil tersenyum. Alger berpikir apakah mungkin Alina tidak sakit hati dengan tidaknnya. “Ya sudah aku pergi dulu kalau begitu” ujar Alger, sambil bangkit dan berlalu pergi meninggalkan Alina sendirian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD