#R – Tentang Hubungan Kita

1129 Words
Delanna Fatna Heliyana, adalah gadis berusia 27 tahun yang hari kelahirannya hanya terpaut beberapa bulan saja dengan Alger, dia adalah teman masa kecilnya yang kini sudah menjadi kekasihnya. Mereka sudah menjalin hubungan 4 tahun setelah kepulangan Delanna ke Indonesia karena sebelumnya mereka kehilangan kontak setelah Delanna dan keluarga memutuskan pergi ke Singapore karena pekerjaan ayahnya. “Kamu tahukan kalau itu cinta sama kamu, sayang banget sama kamu ?” tanya Alger, sambil menggenggam tangan Delanna ketika mereka sedang makan malam bersama. Mendengar apa yang Alger katakan Delanna tersenyum sambil menganggukan kepalanya, kemudian dia membalas genggaman tangan Alger sehingga membuat genggaman tangan tersebut terasa sangat hangat. “Apapun yang terjadi tolong jangan pernah berubah okey, karena buat aku kamu itu segalanya” ujar Alger, sambil mengeratkan genggaman tangannya. Lagi – lagi, Delinna menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Kehadiran perempuan itu sebagai kekasihnya adalah bagian terpenting bagi Alger, kerena setelah kehadirannya Alger merasa kehidupannya memiliki lebih banyak cerita dan warna, dia yang selalu ingin mencari suasana baru dengan cara berjalan – jalan membuat Alger merasa senang juga, sikapnya yang kadang manja membuat Alger sering kali merasa gemas. “Harusnya aku yang bilang gitu sama kamu tahu” ujarnya, sambil terkekeh. “Jangan berubah ya, tetap sayang dan cinta sama aku, tolong terima aku bersama masa lalu ku, dan temani aku untuk menyempurnakan kekurangan aku” lanjut Delinna, sambil tersenyum. Mendengar apa yang Delanna sampaikan, Alger langsung menarik tubuh dia ke dalam dekapannya. Alger, sangat menyayangi kekasihnya, jika saja dia boleh bersikap egois, dia tidak ingin menikah dengan Alina hanya karena ibunya. Namun, di sisi lain dia juga tidak bisa melakukan keegoisannya itu. “Tetap kaya gini ya sayang, sampai kita nikah, punya anak, jadi kakek nenek” ujar Delanna, dalam pelukan Alger hingga membuat laki – laki itu terkekeh tapi tidak urung dia tetap menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Setelah itu, Alger mengajak Delinna untuk menikmati makan malam yang sudah tersaji yang sebelumnya sudah mereka pesan. Selama makan bersama, keduanya sama – sama berbincang menceritakan kesibukan mereka tentang pekerjaannya masing – masing. “Gimana keadaan Mamah kamu sekarang ?” tanya Delinna tiba – tiba, berhasil membuat Alger yang sudah hendak menyuapkan makanan ke mulutnya tidak jadi. “Hmm gitu, dia kayanya masih shock karena kepergian Kak Alger yang mendadak, sampai sekarang Mamah masih panggil aku Aiden” ujar Alger, berhasil membuat Delanna seketika langsung menoleh. “Masih nyuruh kamu buat nikah sama cewe itu ?” tanya Delanna, dengan tatapan matanya yang sudah berubah menjadi serius, bahkan sendok dan garpuh yang sebelumnya dia gunakan untuk makan sudah dia simpan kembali seakan sengaja ingin membicarakan hal itu dengan serius. Mendapat pertanyaan itu dari Delanna, mendadak Alger terdiam. Kenyatannya hampir setiap hari ibunya selalu membahas hal itu hingga akhirnya Alger menyerah dan memutuskan untuk menerima ajakan Alina menikah bahkan sebelum diskusi dengan Delinna. “Kalau kaya gini terus, gimana sama hubungan kita ?” tanya Delanna, dengan suaranya yang sudah terdengar putus asa. “Apa Mamah kamu gak inget kalau dia juga punya anak yang namanya Alger Graham Baihaqi, dan yang meninggal itu bukan Alger tapi Aiden” ujarnya, sambil menyandarkan punggungnya pada kursi yang sedang mereka duduki. “Terus, apa rencana kamu sekarang kalau keadaannya udah kaya gini, gak mungkinkan aku pura – pura jadi Alina biar Mamah kamu gak histeris kalau dikasih tahu kamu gak akan nikah sama dia” lanjutnya, sambil menatap kearah Alger. Diam, tidak ada satu kalimatpun yang keluar dari mulut Alger ketika dia mendengar apa yang Delinna katakan. Alger, tidak tahu bagaimana dia harus menjelaskan keadaan yang sebenarnya terjadi kepada Delanna, dia takut membuat perempuan itu marah besar kepadanya. “Aku minta maaf” ujar Alger, tiba – tiba. “Setelah kepergian Kak Aiden keadaan Mamah memang semakin gak terkendali, dia juga sering nanya udah sejauh mana persiapan pernikahan karena dia pikir aku itu ya Kak Aiden” ujar Alger, dan setelah itu dia bingung bagaimana cara dia lanjut menjelaskan semuanya kepada Delinna. “Setiap kali aku jelasin ke Mamah kalau pernikahan Kak Aiden sama Alina gak bisa dilanjut, dia selalu ngamuk, aku merasa aku gak punya cara lain untuk mengatasi semuanya, jadi …” “Sebentar …” potong Delinna, sambil menatap Alger dengan seksama. Alger mendadak diam setelah Delinna menghentikan perkataannya, saat itu dia memilih menunggu apa yang akan Delinna sampaikan. “Jangan bilang kamu akhirnya beneran nikah nurutin kemauan Mamah kamu ?” tanya Delinna, sambil menatap Alger. Alger, lagi – lagi tidak mampu berkata apapun, dia sungguh tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semuanya kepada Delinna. “Kamu udah janji sama aku waktu itu di rumah sakit, pas hari kematian Kak Aiden, Alger” ujarnya, dengan suara yang lebih terdengar seperti putus asa. “Kamu lupa ?” tanyanya, sambil menatap wajah laki – laki itu. “Setelah kematian calon suami dia, kamu berencanakan mengganti posisi dia ?” tanyanya, berhasil membuat ibu Alger menatapnya dengan tatapan tajam. Setelah itu, tanpa mengucapkan apapun, Alger langsung mengajak dia pergi, sementara Alina berusaha meminta agar Sarah kembali beristirahat, agar keadaan perempuan itu bisa lebih baik. “Mamah cuma lagi shock aja, enggak aku janji gak akan pernah nikah sama Alina, aku gak cinta sama dia, mana mungkin aku nikah sama orang yang gak aku cintai” ujar Alger, ketika mereka sudah berada diluar ruangan. “Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang pasti gak akan terjadi, gak ada siapapun yang akan aku nikahi kecuali kamu, aku janji” lanjut Alger, sambil menarik Dalinna ke dalam dekapannya. “Kamu yang janji Alger untuk enggak menikahi perempuan itu dihadapan aku, bahkan aku masih ingat bagaimana leganya perasaan aku saat kamu bilang begitu, tapi sekarang apa kamu sendiri yang hancurin perasaan lega itu” ujar Delinna, sambil menatap Alger dengan tatapan yang menyiratkan kekecewaan. Melihat hal itu, Alger langsung membawa tangan perempuan itu ke dalam genggaman tangannya. Kemudian, Alger menatap perempua itu tepat dibagian matanya, berusaha untuk mengambil kepercayaan dia yang sudah Alger rusak. “Aku menikah dengan Alina hanya karena Mamah, demi kebaikan Mamah, aku nikah sama dia bukan karena aku ingin menikahi dia, jadi jangan salah paham aku mohon sama kamu, tolong bantu aku, aku juga bingung dengan apa yang harus aku lakukan” ujar Alger, sambil menatap Delinna dengan memelas. Namun, tiba – tiba Delinna menarik tangannya dari genggaman tangan Alger. Dia yang sebelumnya memalingkan wajah dan tidak berani menatap Alger ketika laki – laki itu sedang bicara, akhirnya menoleh dan menatap Alger tepat dibagian matanya. “Cinta itu ada karena terbiasa, jika kamu sudah memutuskan nikah bersama dia maka pilihan aku hanya mundur atau terluka” ujar Delinna, sambil bangkit dari posisi duduknya. “Dan untuk memutuskan salah satu dari keduanya, aku butuh waktu, jadi jangan cari aku” lanjutnya, sambil berlalu pergi meninggalkan Alger yang saat itu benar – benar hanya diam dan tidak mampu melakukan apapun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD