#R – Penyampaian Kabar Pernikahan

1078 Words
Setelah pembicaraan yang Alina lakukan bersama Alger, mereka akhirnya sepakat akan melangsungkan pernikahan dengan konsep yang sebelumnya sudah disusun oleh Alina dan Aiden. Mereka juga sepakat akan melangsungkan pernikahan ditanggal yang sebelumnya sudah dipilih oleh Alina dan Aiden, karena menurut Alger akan terlalu memakan waktu jika mereka mengkonsep ulah tema pernikahan mereka apalagi jika harus kembali memilih tanggal baru, dan Alina lebih memilih untuk setuju – setuju saja. “Kamu ngapain malam – malam bengong di sini ?” tanya Hasan, yang tiba – tiba saja sudah duduk disamping Alina yang saat itu sedang duduk digazebo rumah kedua orang tua mereka. Melihat kemunculan kakaknya, Alina tersenyum sambil menggelengkan kepala. Karena, kenyataannya Alina merasa kebingungan bagaimana cara dia menyampaikan tujuan dia menikah bersama Alger, karena tentu saja kabar tiba – tiba tersebut sudah pasti akan membuat keluarganya kaget dan bertanya secara jelas. “Kak” panggil Alina, sambil menatap Hasan dan berhasil membuat dia menoleh kearahnya juga. Selama beberapa saat, Alina tediam mencoba untuk merangkai kata di dalam benaknya, untuk memastikan jika dia tidak akan salah bicara. Hasan yang saat itu masih dalam posisi menatap Alina bisa melihat ada keraguan yang terlihat dari tatapan matanya. “Kenapa ? kamu mau ngobrolin apa sebenarnya, bilang aja, gak papa” ujar Hasan, dengan lembut. Seperti itulah memang Hasan, dia selalu membuat Alina tidak merasa sungkan untuk menceritakan apapun kepada dirinya, karena pembawaan kakaknya itu sangat tenang. Selain itu, Hasan selalu memposisikan dirinya sebagai pendengar dan tidak pernah bersikap egois dengan memaksakan kehendaknya seakan dia mengetahui apa yang terbaik untuk Alina. “Tadi, aku ketemu sama Mas Alger, dan kita sepakat untuk menikah ditanggal seharusnya aku dan Mas Aiden menikah, dan melanjutkan persiapan pernikahan yang sebelumnya sudah aku siapkan bersama Mas Aiden” ujar Alina, sambil menundukan kepalanya tidak lagi berani menatap mata kakaknya yang saat itu masih menatap kearahnya. Selama beberapa detik, tidak ada tanggapan apapun yang Alina dengar, hanya ada keheningan yang melingkupi kebersamaan mereka yang saat itu sedang duduk bersama. Hingga akhirnya, Alina bisa mendengar suara deheman yang disampaikan oleh kakaknya, dan saat itulah Alina tahu kakaknya akan mulai bicara. “Alhamdulillah kalau pada akhirnya pernikahan kamu tetap digelar, Kakak seneng denger kabarnya, meskipun dihari tersebut kamu akhirnya menikah dengan orang yang berbeda dengan pilihan kamu” ujar Hasan, dengan suaranya yang terdengar tenang. “Tapi, apakah kamu benar – benar yakin akan menikah dengan Alger, kamu memutuskan pernikahan itu dalam waktu yang terhitung sangat singkat, bahkan kematian Aiden baru saja genap 10 hari, Kakak merasa kamu terlalu terburu – buru untuk mengambil keputusan ini, Alina” ujar Hasan, sambil menatap kearah adiknya yang dia tahu sedang menghindari tatapan matanya. Apa yang Hasan katakan, memang tidak ada salahnya, dalam renungannya sendiri, dia sering kali bertanya pada dirinya sendiri apakah dia siap menikah dengan laki – laki yang belum dia cintai, laki – laki yang bahkan memiliki seorang kekasih, dan apakah dia siap dengan semua resiko dalam pernikahan yang dia jalani jika dia menikah dengan laki – laki tersebut. Namun, kalimat yang Aiden sampaikan kepada dirinya sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya selalu membuat Alina percaya, jika seiiring berjalannya waktu pernikahan itu akan menemukan jalan untuk sampai pada kebahagiaan sebanyak apapun resiko yang harus Alina hadapi. “Aku, udah memutuskan dan mempertimbangkan tentang pernikahan ku dan Mas Alger sejak aku dirumah sakit dan melihat Mas Aiden meninggal, dan setelah membicarakannya dengan Mas Alger aku semakin yakin untuk benar - benar melanjutkan pernikahan ini sama dia” ujar Alina, sambil menatap kearah kakaknya. “Satu hal yang harus kamu ketahui, pernikahan itu hubungan sakral yang enggak bisa seenaknya kamu mutusin pisah sama kaya pacaran, jadi setelah kamu memutuskan menikah saat itulah kamu harus udah siap menerima baik atau buruknya, kurang atau lebihnya, satu pendapat atau tidak satu pendapatnya bersama orang tersebut” ujar Hasan, sambil mengalihkan tatapan matanya kearah langit malam. “Pernikahan itu dijalani seumur hidup, seharusnya kamu menikah dengan orang benar – benar sudah yakin kamu pilih untuk menjadi teman hidup kamu, jadi apa kamu sudah siap dengan semua liku dalam pernikahan dan menjalani pernikahan bersama Alger ?” tanya Hasan, sambil menatap kearah Alina. Sejenak Alina terdiam sambil balas menatap kakaknya, kemudian dia menganggukan kepalanya sebagai jawaban. “Iya, aku siap menjalani semuanya bersama Mas Alger, mereka kakak beradik, aku yakin sikap dan cara berpikir mereka tidak berbeda jauh, pasti tidak akan sulit buat aku melupakan Mas Aiden kemudian mencintai Mas Alger” ujar Alina, sambil menatap Hasan penuh keyakinan. “Aku akui jika perasaan cinta belum aku miliki buat dia, tapi aku yakin seiiring berjalannya waktu rasa cinta akan hadir karena sering terbiasa bersama” lanjut Alina, sambil tersenyum. Mendengar jawaban yang disampaikan Alina, Hasan menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Saat itu, Hasan merasa jika dia tidak punya hak untuk menentang keputusan Alina, lagi pula Hasan berpikir adiknya meminta izin untuk melaksanakan salah satu ibadah sunah rasul, akan menjadi tidak baik jika saat itu dia menghalangi – halangi niat baik adiknya meskipun sebagai seorang kakak dia merasa sedikit khawatir dengan keputusan terburu – buru yang dilakukan oleh adiknya itu. “Kakak gak akan melarang kamu, Alhamdulillah kalau memang kamu sudah yakin dengan Alger, satu aja pesan Kakak, apapun yang terjadi jangan pernah merasa sendiri, karena kamu punya kakak, kita akan bersama untuk saling menjaga” ujar Hasan, sambil membawa tangan Alina ke dalam genggaman tangannya. Mendengar jawaban Hasan, Alina tersenyum. Dia langsung bangkit dari posisi duduknya dan langsung memeluk kakaknya dengan erat. Karena sejak kecil kakaknya selalu menjadi tempat tempat ternyaman bagi Alina, sekalipun dia sudah berkeluarga tapi kasih sayangnya tidak pernah berubah. “Tapi Alina, Kakak tahu kalau Alger punya pacar, kalau dia nikah sama kamu gimana sama hubungan dia dan pacarnya ?” tanya Hasan, berhasil membuat Alina terdiam. “Sebelum kalian benar – benar memutuskan menikah, pastikan semuanya sudah aman, karena kalau tidak hubungan Alger dan pacarnya itu akan menjadi masalah dikemudian hari” lanjut Hasan, dan saat itu Alina langsung menganggukan kepalanya. Sebelum benar – benar pergi meninggalkan Alina masuk ke dalam rumah, Alina meminta tolong kepada kakaknya untuk memberitahu kedua orang tua mereka tentang rencana pernikahannya bersama Alger karena dia merasa malu untuk menyampaikannya sendiri. Saat itu, Hasan hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya. “Mas Alger dan pacarnya, aku gak tahu bagaimana nasib hubungan mereka jika pernikahan kami benar – benar terjadi, tapi sepertinya hubungan mereka akan menjadi penghias dalam pernikahan kami, dan hubungan mereka adalah salah satu resiko yang harus aku tanggung dalam pernikahan ini” gumam Alina, sambil mendudukan kembali tubuhnya dikursi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD