#R – Keputusan dan Kesepakatan

843 Words
“Alina …” panggil Aiden ketika melihat kemunculan Alina yang datang dengan keadaan sudah berurai air mata, tapi laki – laki itu justru menyambut kedatannya dengan senyuman. “Kepala dan kaki Mas rasanya sangat sakit, seluruh tubuh Mas rasanya nyeri, d**a Mas sesak” ujarnya, dengan suara yang terdengar sangat pelan. “Mungkin, sekarang Mas sudah sampai dipenghujung umur Mas, tapi sebelum Mas pergi Mas ingin kamu tahu kalau Mas sangat mencintai kamu” ujarnya, sambil tersenyum. Alina semakin tidak mampu melakukan apapun. “Udah, kamu gak usah bicara melantur Mas, kamu akan baik – baik aja, kita akan segera menikah, kamu gak boleh ninggalin aku karena Dokter akan nyembuhin kamu” ujar Alina, sambil menatap mata Aiden. Laki – laki itu menggelengkan kepalanya. “Enggak …” ujarnya dengan pelan. “Mas gak bisa bertahan, saat Mas sudah pergi tolong jaga Mamah dan Alger, menikahlah dengan Alger karena hanya dia orang yang Mas percaya, dan kamu adalah perempuan yang Mas yakin akan membuat dia sadar” ujarnya, dengan suara yang terdengar sangat pelan. “Enggak, aku gak mau nikah sama Alger, aku maunya nikah sama kamu, kamu calon suami ku, dan aku cuma cinta sama kamu, bukan Alger atau yang lainnya” ujar Alina, dengan tegas. “Kamu jangan banyak bicara biar cepet sembut” ujar Alina, sambil mengelus kepala Alger yang saat itu sudah terbalut perban. Mendengar jawaban Alina, Aiden tersenyum. “Makasih ya, aku bahagia denger kamu bilang begitu, setidaknya aku bisa lega pergi meskipun harus ninggalin kamu” ujar Aiden, sambil melebarkan senyumannya tapi bersamaan dengan matanya yang tertutup senyuman itu perlahan memudar bersamaan dengan bisikan syahadat yang terdengan sangat pelan keluar dari bibir Aiden. Tangis Alina kembali tumpah saat dia teringat pada percakapan terakhirnya bersama Aiden ketika baru saja tiba di rumah sakit. Disaat – saat terakhirnya dia meminta Alina menikah dengan Alger, dan tidak ada siapapun yang mengetahui hal itu, karena mereka hanya bicara berdua. “Apa sebenarnya yang kamu rencanakan Alina, kenapa kamu bilang begitu sama Mamah, kamu baru aja kehilangan calon suami kamu yang kamu sebut sangat kamu cintai” tanya Alger, dengan nada suaranya yang terdengar tenang. “Apa perasaan cinta mu untuk Kakak ku palsu ? dan sekarang kamu secara tiba – tiba berubah pikiran ingin menikah dengan ku karena Kakak ku sudah meninggal ?” lanjut Alger, sambil menatap Alina. Alina mendongak menatap laki – laki itu dengan tatapan tajam. “Jangan pernah bilang kalau aku mencintai Mas Aiden dalam kepalsuan” ujar Alina, sambil menghapus lelehan air matanya. “Iya, sekarang aku mengatakan aku ingin menikah dengan kamu, tolong perhitungkan dan pertimbangkan, setelah kita menikah aku akan belajar mencintai kamu, aku akan berusaha menjadi istri yang baik” ujar Alina, sambil menatap Alger. “Aku mungkin belum mencintai kamu, tapi suatu hari nanti aku yakin rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya” ujar Alina, tapi yang Alger lakukan adalah diam sambil menatap Alina dengan tatapan tidak percaya. “Alina” ujar Alger, sambil bangkit dari posisi duduknya. “Aku gak nyangka kalau kamu bisa bersikap seperti ini bahkan saat kematian Kakak ku masih terhitung jari” ujar Alger, masih sambil menatap Alina. “Tapi, aku merasa tawaran mu ini tidak berlaku untuk ku, aku tidak bisa menikah dengan kamu karena aku punya seseorang yang sangat aku cintai dan ingin aku nikahi” ujar Alger, sambil hendak berlalu pergi. “Kamu boleh pulang, untuk Mamah nanti biar aku sendiri yang menjelaskan apa yang kamu ketakan kepada dia” lanjutnya, dan setelah itu Alger benar – benar berlalu pergi. Setelah kepergian Alger, Alina hanya tinggal sendirian ditaman belakang rumah Aiden dan keluarganya. Saat itu, ada helaan nafas berat yang keluar dari mulutnya. Karena mengatakan apa yang baru saja dia katakan membuat d**a Alina terasa begitu menyesakan. “Kenapa duduk di sini, ayo pulang, Bunda, Ayah, dan Maryam udah nunggu di rumah” ujar Hasan, yang tiba – tiba sudah muncul dihadapan Alina, karena memang dia datang ke rumah itu diantar oleh Hasan. *** Tiga hari berlalu setelah kejadian Alina mengajak Alger menikah dirumahnya, setelah hari itu Alina memutuskan untuk kembali melakukan aktifitasnya seperti biasa. Namun, tiba – tiba siang itu, Alger menghubungi Alina dan mengatakan jika dia berada di café yang ada disebrang kampus tempat Alina mangajar. “Setelah aku pikirkan dan pertimbangkan ajakan kamu tempo hari, aku setuju menikah dengan kamu” ujar Alger, berhasil membuat Alina yang sedang meminum juice langsung menoleh. “Ayo kita menikah sesuai keinginan Mamah” ujar Alger, sambil memalingkan wajahnya. “Dan setelah menikah nanti kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau tanpa perlu seizin ku, dan akupun begitu” lanjut Alger, sambil menyeruput minumannya tanpa berani menatap wajah Alina. “Aku menikah karena Allah, untuk semua hal aku lakukan tentu butuh izin kamu sebagai suamiku, jadi untuk apapun itu aku akan tetap meminta izin sama kamu” jawab Alina, sambil menatap Alger. “Aku ingin pernikahan ini menjadi ibadah, dan aku ingin dari tempatnya Mas Aiden melihat kita dengan bahagia bukan kecewa” lanjut Alina lagi, berhasil membuat Alger benar – benar terdiam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD