#R – Permintaan yang Sulit Dikabulkan

847 Words
Aiden Graham Baihaqi, adalah laki – laki baik yang Alina temui ketika baru saja lulus kuliah S2, mereka tanpa sengaja bertemu setelah Alina baru selesai melaksanakan seleksi penerimaan dosen didekat kampus tempat Alina mengajar. “Alina ayo makan, Bunda, Ayah, sama Maryam juga udah nungguin kamu” ujar Hasan, sambil menatap adiknya yang masih terbaring diatas ranjang dan menutup sekujur tubuhnya menggunakan selimut. “Duluan aja, nanti kalau udah lapar aku makan” jawabnya, dari balik selimut. “Gak papa kalau kamu sedih, itu wajar apalagi saat kamu kehilangan orang yang penting dalam hidup kamu, rasanya pasti sakit banget” ujar Hasan, sambil menatap Alina yang memilih memalingkan wajahnya. “Tapi, jangan terlalu berlarut – larut dalam kesedihan kamu, ini hampir satu minggu, karena dari tempatnya Aiden juga pasti akan sedih kalau dia melihat kamu seperti ini” lanjut Hasan, dengan suaranya yang terdengar lembut dan menenangkan. Mendengar apa yang Hasan sampaikan, tangis Alina semakin mengalir dengan deras, Alina menyadari jika apa yang kakaknya sampaikan memang benar, tapi bagi Alina rasa sakit ketika dia mengetahui akan kehilangan Aiden untuk selamanya masih sangat terasa. “Kamu boleh nangis sekarang” ujar Hasan, sambil membantu Alina mengubah posisinya menjadi duduk. “Tapi, janji sama Kakak kalau ini tangis duka terakhir kamu buat Aiden, setelah ini kembalilah menjadi Alina yang selalu ceria dan menyukai semua aktifitasnya” lanjut Hasan, sambil menarik Alina ke dalam dekapannya. Mendengar apa yang Hasan katakan, tangis Alina benar – benar pecah. “Ayo kita buka lembaran baru, kehidupan kamu masih panjang, Kakak yakin Aiden juga pasti mau kamu bahagia” ujar Hasan, sambil menghapus lelehan air mata Alina. Alina hanya menjawab perkataan kakaknya dengan anggukan kepala, kemudian Hasan mengajak Alina turun untuk sarapan bersama. Namun, ketika Alina baru saja turun dari atas ranjang, ponselnya berbunyi, dan Alger adalah yang menghubunginya. “Kenapa Mas ?” tanya Alina, setelah salamnya mendapatkan jawaban dari Alger. “Hari ini boleh main ke rumah, Mamah terus tanyain dari beberapa hari lalu, kalau enggak sibuk tolong mampir ya, sebentar aja” ujar Alger, dari sebrang telepon. “Sorry ya jadi ngerepotin, sama sorry juga karena udah buat kamu semakin berat dengan keadaan ini karena Mamah, aku ngerti kamu pasti masih sedih dan berat menerima semuanya, tapi aku juga gak tahu gimana cara untuk mengatasi keadaan Mamah, karena semenjak ka Aiden meninggal dia jadi sering manggil aku pakai nama Kakak” lanjut Alger, dari sebrang telepon. “Iya, aku siap – siap dulu kalau gitu” ujar Alina, dan setelah itu panggilanpun selesai. Alina meminta kepada Hasan untuk turun dan sarapan lebih dulu, karena dia akan bersiap – siap. *** “Memangnya enggak bisa pernikahan kalian dipercepat aja, ko lama banget sih persiapannya” ujar Sarah, sambil menyentuh lengan Alina. “Sayang, kamu kenapa menangis, jangan sedih nanti Mamah bilang sama Aiden agar dia bisa segera mempercepat proses pernikahan kalian” ujar Sarah, sambil menggenggam tangan Alina dan menatap wajah Alina yang berurai air mata. “Mamah” panggil Alina, sambil menatap calon ibu mertuanya. “Tapi Mas Aiden sudah meninggal, kita harus ikhlas agar Mas Aiden bisa bahagia ditempatnya” ujar Alina, sambil mengeratkan genggaman tangannya. Mendengar apa yang Alina katakan, Sarah menggelengkan kepalanya, genggaman tangannya pada tangan Alina perlahan memudar. “Enggak !!” ujar Sarah, dengan nada suara yang terdengar meninggi. “Kenapa kamu bilang Aiden meninggal, jelas – jelas tadi dia mengantarkan kamu ke sini” ujarnya, berhasil membuat air mata Alina kembali mengalir. Sarah yang sebelumnya terlihat menunjukan aura penuh kehangatan dan kelembutan berubah menjadi sedikit emosional. “Lihat !!” ujarnya sambil menunjuk kearah pintu. “Kamu gak lihat, jelas – jelas itu Aiden, dan kamu bilang dia sudah meninggal” lanjutnya, dengan tangan yang masih menunjuk kearah Alger. “Mamah” panggil Alger, sambil berjalan menghampirinya. “Alina benar, Kak Aiden sudah meninggal, Mamah jangan begini, kasian Kak Aiden, kasian Alina dia juga pasti tersiksa atas kepergian Kak Aiden” ujar Alger, berusaha menyadarkan ibunya. Mendengar apa yang Alger katakan, Sarah menatap Alger dengan tatapan yang sulit didefinisikan. “Kamu bilang apa” ujarnya, dengan nada suaranya yang jauh lebih tenang. “Dari pada kamu bicara melantur, lebih baik kamu nikahi calon istri mu sebelum dia menikah lebih dulu dengan orang lain !” ujar Sarah, dengan sedikit nada penekanan diakhir kalimatnya. Alger menggelengkan kepalanya sambil menunduk, karena dia sudah tidak hampir pikir dengan apa yang terjadi pada ibunya, dia tidak mungkin menikahi Alina, karena mereka tidak saling mencintai dan dia juga sudah memiliki pasangan. “Alina itu calon istri Kak Aiden, Mah” ujar Alger, sambil mendengar kedua tangan ibunya. “Dan aku itu Alger, aku juga sudah punya seseorang yang ingin aku nikahi” ujar Alger, dengan sangat hati – hati. Sarah menggelengkan kepalanya. “Jadi kamu selama ini selingkuhi Alina ?” ujarnya, sambil menatap Alger dengan tatapan marah. “Pokoknya kamu itu harus menikah sama Alina” “Iya Mah, aku sama Mas Aiden akan segera membereskan persiapan pernikahan kami setelah itu kamu akan menikah, iyakan Mas ?” tanya Alina, sambil menatap Alger dan tangannya menyentuh lengan Alger.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD