Detik, menit berganti jam hingga matahari berganti dengan bulan, Arkha sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya. Untung saja kawasan klinik Dokter Nessa cukup ramai, banyak orang berlalu-lalang kendaraan pun tak henti-hentinya lewat sehingga tidak membuat Amara takut. Suasana di sekelilingnya terang karena cahaya siang, kini berganti terang bercaya kuning dari lampu-lampu jalanan. Kaki Amara merasa kebas terus saja berdiri di sana. Bukan anggota tubuhnya yang berfungsi untuk jalan itu saja yang kebas, tapi juga leher Amara, sejak tadi ia terus saja menoleh ke kanan dan kiri untuk menunggu kedatangan suami yang begitu hangat di atas ranjang itu. Hingga ia benar-benar kesal, pesan pun tak mendapat jawaban, Amara berinisiatif untuk menelepon suaminya, atau mungkin kalau tidak diangk

