“Terus bagaimana, Mas?” tanyanya lembut. Tuhan, di saat hati menggebu seperti ini, suaranya saja terdengar menggoda.
“Pakailah!” sentakku menutupi rasa ini.
Ia kembali mengenakan handuk kimononya. Matanya awas menatap wajahku yang pasti terlihat gusar.
“Mas, baik-baik aja?” tanyanya.
“Aku ingin menerkammu malam ini, sebagai pengantin baru.” Ais, tak mungkin aku katakan itu.
Aku bergeming. Bingung juga mau bicara apa. Wajah polosnya jika diperhatikan semakin menaikkan gairah.
“Udah tidur. Matikan lampunya!” seruku lagi, karena dia tak kunjung mau berbaring. Setidaknya kalau lampu mati, dia tak akan melihat junior nakal ini. Ia berjalan ke tepi dinding dekat pintu untuk menekan saklar
“Pakai baju ini?” tanyanya polos. Aku baru teringat jika handuknya basah. Bisa jamuran spraiku nanti.
“Minta baju Mama sana!” suruhku
“Ng-ngga berani. Mas saja kalau berani,” jawabnya yang membuat ubun-ubunku ingin meledak. Di suruh malah balik nyuruh.
Kalau aku minta Mama, pasti dia bakal ceramah tujuh hari tujuh malam. Sebab dialah yang merencanakan ini semua. Tetapi jika tidak ganti ... Bisa terjadi malam pertama hari ini.
Sebelumnya aku bahkan mengira bahwa aku memiliki kelainan jenis kelamin. Sebab tak pernah tertarik berpacaran atau sekedar berteman dengan wanita. Tetapi ternyata, baru melihat punggung Lara saja sudah berada di puncak gairah.
“Kok malah bengong, Mas.”
Aku tersentak dengan ucapannya. Lalu dengan terpaksa memberinya izin tidur dengan lingeri sialan itu.
“Iya, sudah. Lepas saja! Aku mau tidur,” jawabku datar.
Sejujurnya hatiku gelisah, tetapi tak mungkin aku mengakuinya.
Ia mulai melepas kembali handuk kimononya, dengan posisi masih sama, membelakangiku. Mataku, kuajak mengalih. Agar tak semakin menjadi hasrat ini. Tetapi sial, saat aku kembali berbaring bersamaan dengannya yang juga ikut berbaring di sebelahku, mata ini melihat sesuatu yang sangat aku takutkan.
Melihat sesuatu gundukan di sana, yang terlihat sangat padat dan berisi, sesaat sebelum lampu kumatikan. Sial! Apa yang kupikirkan? Susah payah aku menelan Saliva. Semoga ujian ini akan segera berakhir.
Ingin rasanya aku menyuruh dia tidur dilantai dengan alas tikar seadanya, tetapi aku tak Setega itu. Nanti jika Mama tahu, atau dia sampai masuk angin bisa berabe urusanku.
Kupaksa mata ini memejam, tetapi tak bisa juga. Bayangan akan sesuatu yang di miliki Lara membuat anganku melayang jauh. Adik kecil di bawah rasanya ingin keluar dari sarang, lalu menerkam mangsa yang sudah siap di seberang sana. Sial! Itu hanya khayalan.
“Mas, bisa minta tolong,” ujarnya sembari mengguncang bahuku yang membelakanginya.
“Hum,” jawabku dengan dehaman tanpa menoleh sedikit pun. Sebab aku takut imanku bocor.
“Bisa matikan lampu kelap-kelipnya. Kepala saya pusing lihat itu, Mas. Ndak bisa tidur,” ujarnya dengan logat Jawa. Dasar gadis desa, lampu saja bikin pusing.
“Saklarnya di luar. Kalau kamu mau, matikan saja sendiri,” jawabku ketus.
Ia terdiam. Tak berani pasti keluar dengan pakaian dinas itu. Beberapa saat lagi terasa pergerakan badan di ranjang ini. Aku yang sedang berusaha meredam gairah, seketika semakin kesulitan.
“Apa lagi, sih?” bentakku kesal, karena pergerakan tak kunjung berhenti.
“Lampunya hidup kan, saja, yo Mas? Saya benaran ndak bisa tidur, loh.” Ia merengek seperti anak bayi yang meminta s**u. Apa dia tak tahu, jika lampu kumatikan agar tak melihat sesuatu yang kuhindari? Jika lampu hidup, ujianku semakin berat.
“Terserah, lah.” Aku sudah tak ingin mengindahkan.
Gludakk! braakkk!
Tak lama dari aku berucap, kegaduhan yang di buat Lara membuatku seketika terbangun.
Mataku membulat, kala Lara menjatuhkan lampu meja di sebelahnya. Entah apa yang sudah dia lakukan. Aku hanya bisa menatap wajahnya dengan amarah yang membuncah. Sebab ia sudah membuatku gagal menahan malam ini.
“Maaf, Mas. Saya Ndak tahu cara menghidupkan ya. Soalnya saya lihat, Masnya tadi pas matikan di tarik, saya pikir hidupkanya di dorong. Eh malah jatuh,” jelasnya panjang lebar, yang membuat aku menarik nafas dalam. Menahan sesuatu perkataan kasar yang ingin sekali aku lontarkan. Gairah yang sudah berada di ubun-ubun seketika hilang. Berganti dengan rasa kesal atas kepolosan Lara yang menjerumus pada kebodohan. Tuhaaaan!
Aku malas berdebat. Hingga memutuskan berjalan menuju saklar dan menghidupkan lampu utama. Bodo amat lemah iman atau tidak. Toh, kalau pun aku lakukan sudah halal ini.
Tak!
Lampu kembali menyala terang. Wajah lugu itu seketika tersenyum manis. Beruntung selimut ia tarik hingga menutupi d**a sebelum lampu menyala terang. Hingga aku tak sempat melihat sesuatu yang sangat aku hindari ini.
Aku kembali ke ranjang. Sebenarnya ingin sekali melanjut tidur dan mimpi indah. Tetapi rasa gelisah seketika mendera hebat. Terbayang-bayang wajah polos Lara saat memegangi selimut ke dadanya.
“Lara!” panggilku pelan setelah duduk dari pembaringan.
“Iya, Mas.” Ia menjawab tanpa menoleh ke arahku. Posisinya masih berbaring memunggungiku.
“Begini. Saya ini laki-laki normal. Saya tidak bisa tidur satu ranjang dengan wanita seperti ini. Meski kita sudah resmi menjadi pasangan suami istri, tetapi aku tidak ingin melakukan hubungan padamu sebelum kita saling mencintai. Itu sebabnya, aku akan tidur di sofa, tapi tolong. Jangan katakan ini pada Mama, aku takut dia kecewa.” Akhirnya aku mengungkapkan apa yang ada di dalam hatiku. Semoga dia paham dan bisa di ajak kerja sama.
Mendengar penuturanku, ia segera bangkit dengan masih membawa selimut menutupi tubuhnya. Di wajahnya, tampak sekali kebingungan.
“Pertama, ini pertama kalinya Mas bicara panjang. Kedua, memangnya Masnya dulu ngga normal? Penyuka sesama jenis gitu? Sekarang baru normal?” cerocosnya. Aku kembali menarik nafas. Ini anak selain polos Lola juga.
“Terserah kamu bilang apa. Yang jelas aku mau tidur,” sentakku. Kutinggalkan ia yang masih ternganga dengan ucapanku. Aku melenggang pergi ke sofa dekat lemari pakaian. Rasanya di sini sangat nyaman. Sebelum tidur tak lupa aku mengambil selimut dari lemari besarku. Kulirik sekilas ia yang masih dalam posisi yang sama. Diam mematung dengan mulut terbuka seperti huruf O.
Mungkin masih bertanya dia, apa yang tadi aku katakan. Biarlah, kalau di jelaskan bisa panjang lebar.
Kubaringkan tubuh di atas sofa. Besok aku akan minta kunci cadangan, supaya bisa tidur di makar tamu, tidak seperti sekarang.
.
.
.
Suara kokokan ayam jantan menandakan bahwa matahari sudah siap memberi kehangatan pada alam semesta. Aku mencoba mengerjapkan mata yang sebenarnya masih sangat berat. Hal pertama yang kulihat adalah secangkir kopi panas yang bertengger di atas nakas. Aromanya menyeruak tajam ke indra penciuman.
Tanpa sadar aku menarik nafas dalam, menikmati aroma yang membuat pecintanya akan merasa nyaman.
“Diminum, Mas. Jangan Cuma di hirup saja aromanya.” Suara dari wanita yang membuat tidurku tak tenang semalam, membuat aku membuka mata sempurna.
Dia memang jagonya membuat orang marah-marah. Antara kocak, polos, atau terlalu bodoh? Entahlah!