bc

MR. ARROGANT Vs MRS. KAMPUNGAN

book_age18+
13
FOLLOW
1K
READ
arrogant
comedy
sweet
first love
like
intro-logo
Blurb

"Aku memang menyedihkan, Mas. Sama dengan namaku, Lara. Hidupku juga penuh dengan luka. Tapi aku punya hati dan perasaan, Mas. Meski hatiku anganggur, karena kalau di bikin rendang ngga enak," ujarnya lirih dengan derai air mata.

Aku yang tadinya ingin luluh dengan ucapannya, kini fix tetap dengan keputusanku.

"Masalahnya, saya ini ingin meeting. Bukan mau jalan-jalan!" jawabku tegas.

Iya, saat ini aku akan berangkat bekerja. Tetapi karena wanita dari desa ini tak berani tinggal di rumah sendiri, dia kekeh ingin ikut aku ke kantorku. Mama, orang yang paling menyanginya saat ini tengah sibuk membawa Papa ke dokter untuk check up kesehatan, hal itulah yang membuat aku harus menanggung semua derita.

Wanita yang menikah denganku dari perjodohan dari Mama. Wanita yang sangat polos atau bod*h?

chap-preview
Free preview
Malam Pertama Yang Kacau
"Aku memang menyedihkan, Mas. Sama dengan namaku, Lara. Hidupku juga penuh dengan luka. Tapi aku punya hati dan perasaan, Mas. Meski hatiku anganggur, karena kalau di bikin rendang ngga enak," ujarnya lirih dengan derai air mata. Aku yang tadinya ingin luluh dengan ucapannya, kini fix tetap dengan keputusanku. "Masalahnya, saya ini ingin meeting. Bukan mau jalan-jalan!" jawabku tegas. Iya, saat ini aku akan berangkat bekerja. Tetapi karena wanita dari desa ini tak berani tinggal di rumah sendiri, dia kekeh ingin ikut aku ke kantorku. Mama, orang yang paling menyanginya saat ini tengah sibuk membawa Papa ke dokter untuk check up kesehatan, hal itulah yang membuat aku harus menanggung semua derita. *** "Kenapa kamu berdiri di depan pintu seperti itu?" tanyaku datar, pada wanita yang mengenakan kebaya berwarna putih itu dengan riasan lengkap di wajahnya. Iya, wanita itu adalah istri yang baru saja ku nikahi siang tadi. "Habis, Masnya ngga nyuruh masuk." Ucapan yang membuat hatiku ingin meletup. "Kamu tidak denger, apa yang Mama tadi bilang. Ini rumahmu, dan ini kamarmu!" ujarku mempertegas kalimat terakhir. Ia bergeming, sembari menundukkan wajah. Membuat aku semakin geram saja. "Apa kalau di rumahmu sebelumnya, kamu tidak di suruh masuk ibumu, kamu tidak masuk?" tanyaku dengan nada yang kubuat sedatar mungkin menahan emosi. "Ngga," jawabnya datar yang membuat aku menarik nafas kasar. "Iya udah, masuk!" sentakku emosi. Menghadapi gadis dari kampung yang sangat-sangat polos. Ia berjalan pelan sekali, sembari terseyek-seyek karena high heel yang ia gunakan ketinggian. "Dilepas aja sendalnya, kalau susah!" ujarku membuat ia tersentak kaget. Ck! "Gimana ngelepasnya, Mas?" Aku malas menjawab. Tinggal di copot aja kok gimana? Aku bergegas masuk kekamar mandi untuk menyejukkan badan. Rasanya gerah sekali seharian berada diatas pelaminan, bersalaman dengan orang-orang, lalu mengembangkan senyuman palsu. Huh! Kunikmati air yang mengalir dari shower kamar mandi ini. Pernikahan yang sesungguhnya tak pernah ku inginkan, harus terjadi secepat ini. Lara, wanita belia yang masih berusia 19 tahun. Ia kunikahi karena Mama menabrak ibunya hingga kehilangan sebelah kaki, dan diminta merawat putrinya. Mama yang memang sangat mendambakan anak perempuan, dengan senang hati menerimanya. Siapa sangka, tiga bulan setelah kejadian itu, Ibu Lara meninggal dunia, akibat serangan jantung yang ia derita. Lara yang hidup sebatang kara, membuat Mama berusul untuk menikahkan dia dengan diri ini. "Usia kamu sudah hampir kepala tiga, apa kamu akan terus melajang?" bujuk Mama saat akan menikahi dengan gadis dari kampung itu. Apa salahnya melajang hingga usia 30 tahun? Aku, yang memang seumur hidup tak bisa menolak keinginan Mama, akhirnya menerima perjodohan ini juga. Karena memang selama ini aku tak pernah dekat, atau pun menjalin hubungan dengan wanita, membuat aku kikuk menghadapi Lara sebagai istriku. Lega sekali rasanya, setelah berguyur air hangat di bawah shower. Badanku seperti kembali menemukan kekuatan. Langkahku terhenti, kala sudah keluar kamar mandi. Lara tengah jongkok menghadapku, tanganya bergerak meraih sesuatu dari belakang punggungnya. Senyum kikuk ia lontarkan kala mataku tak sengaja menatapnya. "Kamu ngapain?" tanyaku datar. "Um, olahraga, Mas." Ia cengar cengir seperti kuda Nil. Mengerikan sekali, mengapa olahraga di malam hari? Tak kuindahkan dia yang sedang sibuk dengan urusannya. Aku bergegas berbaring di ranjang king size milikku dan meraih laptop untuk mengerjakan beberapa file yang belum sempat kusentyuh karena acara pernikahan yang dadakan. Entah sudah beberapa menit aku sibuk dengan laptop, hingga sampai saat mulut ini menguap tak sengaja ekor mata melihat gerakan Lara. Ia masih terus berusaha meraih sesuatu di punggungnya, dengan ekspresi wajah kesulitan. "Butuh bantuan?" tanyaku datar. "Hehe, iya, Mas. Ini, ngga bisa buka kancing kebanya, ada dibelakang. Ngga kayak kebayaku di rumah," jawabnya ragu. Sebenarnya hati ini tergelitik mendengar penuturan polosnya. Kebaya yang ia gunakan adalah kebaya modern, yang memiliki kancing di belakang punggung. Sebenarnya aku sudah tau dari tadi, tetapi sengaja tak ingin membantu jika dia tak meminta, konyolnya dia justru berusaha sendiri dan tak mau meminta tolong meski tahu ia tak mampu. Kaki mungilnya berjalan mendekat padaku, ada sesuatu yang tak bisa kujelaskan di dalam hati, kala mata cokelatnya bertemu dengan manik mataku. Perlahan ia berbalik memunggungi ku, lalu duduk di atas ranjang sebelahku. "Agak deketan! Aku tidak sampai!" perintahku, sebab jaraknya cukup jauh dari tempatku duduk saat ini. Tanganku bergerak perlahan membuka kancing baju kebaya yang ia kenakan. Semakin kancing itu turun, semakin menampakkan isi di dalamnya. Punggung Lara terlihat sangat mulus, dengan warna tubuh kuning langsat. Meski dari desa, tak memungkiri ia memang memiliki body tubuh yang memabukkan. Ck! Apa, sih yang kupikirkan? Susah payah aku menelan Saliva, kala kancing sudah semakin turun kebawah. Punggung mulus itu nampak jelas di depan mata. Aku ini pria normal, pastilah merasakan sesuatu yang mengeras di bawah sana, kala melihat pemandangan indah ini. "Tutup mata, Mas!" ujarnya membuatku tersentak. "Kalau tutup mata, gimana cara bukanya?" jawabku ketus. "Iya sudah, kalau sudah selesai lepaskan! Saya mau mandi," ucapnya lagi. Aku sama sekali tak sadar masih memegangi kancing bajunya. Aku tergagap sembari melepas tangan dari punggungnya. Sesuatu di bawah sana sudah mulai sesak. Ingin sekali aku menerkam tubuh mungil Lara, apabila telah kehilangan rasa malu. Lama ia berada di dalam kamar mandi, hingga aku telah selesai membuat file. Aku yang penasaran ingin beranjak dari pembaringan, berencana mengetuk pintu kamar mandi. Kalau-kalau dia ketiduran di dalam. Niatku urun, kala wanita yang baru saja kupikirkan keluar dari sana. Mengenakan baju handuk kimono pemberian Mama. Ia terlihat menunduk dengan rambut basah terurai yang menambah keayuan wajahnya. Ck! Otakku konslet. Aku membuang pandangan, kala matanya menatap ke arah mataku. Aku tak ingin dia tahu, bahwa aku sedang menahan sesuatu yang sejak tadi masih saja mengeras di bawah sana. Kaki mulusnya berjalan perlahan ke tepi ranjang, tepatnya di sebelahku. Ia masih saja menunduk dengan diam seribu bahasa. Ya Tuhan, dia manusia atau hantu? Perlahan tapi pasti, ia bergerak untuk membaringkan tubuh di sebelahku. “Tunggu!” seruku yang membuat ia terkejut hingga tak jadi duduk. Maksudnya langsung berdiri lagi. “A-ada, apa, Mas?” tanyanya gugup. “Kamu mau tidur dengan handuk basah?” tanyaku mengintimidasi. Ia terlihat menggaruk tengkuknya. “Habis, saya Cuma di kasih baju satu sama, Mama.” Ucapannya sangat lirih, membuat aku iba. “Iya, pakai saja dulu. Besok juga dibelikan,” jawabku. “Masalahnya .... “ “Sudah pakai saja, tak apa. Dari pada kasur ini basah sama kamu,” sahutku cepat memotong ucapannya. Ia bergeming. Menatapku sekilas dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ia lalu berbalik memunggungiku, melepas perlahan handuk kimono yang masih ia kenakan. Aku mencoba berpikir positif, mungkin dia sudah memakai baju pemberian Mama dari kamar mandi. Perlahan-lahan kimono itu turun. Dan ..... Ya Tuhan, aku ingin pingsan. Ternyata Mama hanya memberi satu pakaian untuk Lara. Lingeri berwarna merah terang dengan kain setipis tissu. Bahkan dalaman atas bawah yang di pakai Lara terlihat jelas. Aku tak membayangkan bagaimana jika ia berbalik menatapku. “Saya malu, Mas. Masa pakai baju kayak gini,” ujarnya. Kamu Cuma malu. Lah, aku. Nahan, Ra!

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook