"Menikahlah denganku, Jae." Kalimat itu bukan pertanyaan atau sebuah ajakan. Lebih tepatnya perintah yang harus dilaksanakan, pikir Jae. "Apa kau mabuk?" David menggelengkan kepalanya lalu menatap Jae penuh harap. "Aku sepenuhnya sadar. Aku benar-benar ingin menikahimu dan membesarkan anak kita bersama-sama." "Menikah tanpa cinta? Kau sudah gila, Tuan David!" "Berhenti memanggilku Tuan, Jae." David tidak suka Jae memanggilnya dengan embel-embel Tuan, seolah memberikan batasan diantara mereka. "Aku mohon tolong pertimbangkan, aku akan menunggu jawabanmu sampai kapanpun. Aku tidak akan meminta jawabanmu secepatnya... apa kau tidak memikirkan perasaan Joe?" Lagi-lagi David menggunakan nama Joe di akhir kalimatnya. Ia tahu kalau sudah menyangkut Putra mereka, Jae tidak akan cepat mengam

