Bab 4 Paman Mantan yang Sangat Tampan
Beberapa hari berlalu sejak Emma resmi bercerai dengan mantan suaminya. Sekarang, ia hampir sepenuhnya pulih dan tangannya dapat digerakkan dengan leluasa.
Hal-hal yang terjadi padanya merupakan pengalaman buruk yang ia ingin kubur bersama dengan kisahnya dengan Matias.
Saat ini, ia berada di kamarnya, membaca majalah ketika Elaine, kakaknya, masuk, “Bagaimana kalau kita pergi belanja?” Elaine menawarinya.
“Belanja?” tanya Emma balik.
“Yap.”
“Rasanya aku sedang tidak ingin berbelanja saat ini sih.”
“Aku tidak peduli kau ingin atau tidak. Aku mau kau ikut beli gaun untuk pesta besok. Selain itu kau juga bisa ikut beli gaun baru juga. Kau ‘kan tuan rumahnya, ini pestamu loh.”
“Aku tahu, tapi–”
“Tidak ada tapi tapi. Kamu ikut aku, ayo!” Paksa Elaine, menyeretnya keluar dari kamar.
Keduanya menuruni tangga sementara Emma bersikeras bahwa ia tidak ingin ikut berbelanja. Tapi Elaine tetap bersikeras bahwa Emma harus ikut bersamanya.
“Elaine, aduuh aku benar-benar tidak ingin pergi,” ucap Emma, mengeluh, sementara mereka berjalan menuju pintu keluar.
“Diamlah dan ayo kita berangkat!” Elaine tidak menerima penolakan, dia menyeret tangan saudarinya.
“Kalian berdua kenapa?” Cristian, saudara laki-laki mereka, yang baru saja datang. Ia pun menanyai mereka karena heran melihat Elaine menarik paksa Emma.
“Aku hanya ingin mengajak dia pergi berbelanja pakaian untuk pesta besok, tapi dia malah tidak mau keluar.”
“Emma, kurasa kau seharusnya ikut bersama Elaine untuk membeli gaun pesta deh.”
“Tapi aku sedang tidak ingin berbelanja.”
“Kupikir kau seharusnya membeli gaun yang bagus, seperti saran Elaine. Ingat, mantanmu akan hadir di pesta besok. Kamu ingat kan salah satu tujuan kita adalah membuatnya menyesal karena memerlakukanmu dengan buruk?”
“Oke, aku tidak dapat melawan kalian berdua deh. Ayo, kita pergi sekarang sebelum aku menyesal,” ucap Emma kepada saudarinya. Mereka berdua pun pergi meninggalkan mansion mereka ke mal elit di mana merk-merk ternama dijual.
Ketika mereka sampai, langsung saja mereka berkeliling mal. Elaine terlihat antusias, melihat barang-barang dan membeli apapun yang ia suka. Sementara itu, Emma hanya melihat-lihat tanpa membeli apapun. Akhirnya, di salah satu toko, ia melihat sebuah gaun biru yang ia sukai.
“Sepertinya aku menemukan apa yang aku sukai.”
“Mana? Aku juga ingin lihat,” balas saudarinya.
Mereka meraih gaun tersebut, tapi ketika Emma menyentuhnya, seorang wanita lain juga menyentuhnya!
“Permisi! Gaun ini punyaku!” Kata Emma, ketus. Emma berpaling untuk melihat sosok wanita yang memilih gaun yang sama dengannya.
“Apa?” Bentak Silvia, memelototi Emma.
Emma terkejut saat melihat siapa yang rebutan gaun dengannya. Dia wanita yang saat ini bersama dengan mantannya.
“Tidak! Gaun ini milikku, kamu dengar kan?” teriak Silvia.
Emma bersikeras tidak ingin menyerahkan gaun tersebut kepada Silvia.
“Jika aku tidak mendengarmu, bagaimana bisa aku tidak mendengar suara sumbangmu itu huh?” Balas Emma mencemooh.
“Kamu mengejekku ya?” Silvia menggenggam erat gaun tersebut, tapi Emma tidak ingin menyerah begitu saja.
“Apa yang akan kau lakukan jika aku memang mengejekmu?” Tantang Emma.
“Dasar p*****r!” Bentak Silvia.
“Maksudnya? Bukannya kau yang p*****r tuh! Seenak jidat merebut suami orang,” balas Emma, menyebabkan keributan dan menarik perhatian pengunjung.
“Dia selingkuh denganku karena kamu tidak cukup baik untuknya,” ejek Silvia, menarik gaunnya lagi. Emma sengaja melepas gaunnya, membuat Silvia hampir terjerembab ke lantai. Namun, ibu Matias yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menangkapnya.
“Emma, kau gila ya?” Ibu Matias berteriak marah.
“Hei!! Kalian berdua tidak tahu dengan siapa kalian berurusan?” Elaine berkacak pinggang sementara Emma menenangkannya memohon agar saudarinya tidak membuka jati diri mereka yang sebenarnya.
“Kalau kau mau gaun itu, ambil saja. Lagipula gaun tersebut cocok digunakan oleh perempuan murahan sepertimu,” kata Emma.
“Kamu...!” Silvia hendak menampar Emma, tetapi sebuah tangan kekar menahan lengannya.
“Ada apa ini?” Tanya pria tersebut, semua orang menatapnya terkejut. Ibu Matias dan Emma terkejut ketika melihatnya.
“Lepaskan aku!” Berontak Silvia.
“Aaron, tak kusangka kita akan bertemu di sini,” ucap ibu Matias gugup.
“Begitu juga denganku Sofia. Tak kusangka aku akan bertemu denganmu seperti ini di tempat umum,” balas Aaron, menekankan kata seperti ini.
“I-Ini bukan seperti yang kau pikirkan,” balas Sofia gugup. Emma kaget melihat mantan ibu mertuanya gemetar ketakutan di hadapan Aaron, yang sepertinya memiliki kuasa atasnya.
“Eeh... kita suudah terlambat, kita harus segera pergi. Ayo Silvia,” kata Sofia, menggamit tangan Silvia. Mereka pun pergi.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Aaron kepada Emma, pandangannya fokus kepadanya. Emma yang terpukau hanya memandangi mata abu-abunya yang indah dan ingat ketika ia menolongnya setelah kecelakaan yang ia alami.
“Aku tidak apa-apa, terima kasih,” sahut Emma, sedikit linglung.
“Senang kau baik-baik saja,” ucap Aaron, matanya fokus pada bekas luka di tangan Emma.
“Kupikir kita takkan bertemu lagi,” Aaron tersenyum.
“Aku juga, tapi hidup adalah teka-teki kan?”
“Aku setuju.”
“Emma, dia siapa sih?” tanya Elaine penasaran pada pria tampan di depan mereka.
“Ah, maaf, aku belum memperkenalkan kalian berdua. Ini saudariku, Elaine dan dia…” Emma tercekat saat baru menyadari tidak tahu siapa namanya.
“Aaron,” selanya.
“Ia yang menolongku waktu aku terluka.”
“Senang bertemu denganmu,” kata Elaine.
“Kembali padamu,” sahut Aaron seketika. Untuk sementara, ada sedikit keheningan hingga Elaine memutuskan untuk memecahnya.
“Emma, kita masih harus mencari gaun untukmu.”
“Kita harus bertemu lagi kapan-kapan ya,” kata Aaron, mengabaikan Elaine.
“Oh, sini!” Aaron memanggil seseorang ke arahnya.
“Ada yang bisa saya bantu Tuan Winata?” Pria tersebut bertanya sembari mendekat.
“Beri ia kartu namaku,” balas Aaron. Pria tersebut memberi Emma sebuah kartu.
“Terima kasih,” kata Emma, memasukkan kartu tersebut ke dalam tas.
“Sampai jumpa,” Aaron pun pergi meninggalkan Emma dan Elaine berdua.
“Ia sangat tampan dan memukau,” komentar Elaine dengan air liur menetes.
“Memang.”
“Sepertinya ia orang berpengaruh. Buktinya mantan ibu mertuamu saja sangat ketakutan padanya.”
Emma memandang saudarinya, memikirkan kejadian barusan. Ia tak pernah melihat Sofia merasa lebih rendah diri dari seseorang, kecuali ketika Matias menyebut-nyebut pamannya yang tinggal di luar negeri. Emma memikirkan hal ini sembari mereka berjalan-jalan.
Emma tiba-tiba berhenti, ia mengeluarkan kartu yang diberi oleh asisten Aaron padanya.
“Aaron Winata,” gumamnya, dan pada saat itu, ia tak percaya apa yang terjadi, "aaggh..."
“Ada apa?” Tanya Elaine yang menyadari keterkejutannya.
“Aku benar-benar tidak menyangka.”
“Kenapa?”
“Pria tampan itu adalah pamannya mantan suamiku.”
“Beneran? Padahal kelihatannya dia masih sangat muda.”
“Memang, selisih umur mereka hanya beberapa tahun.”
“Pasti dia punya pasangan yang cantik.”
“Setahuku, ia masih lajang.”
“Beneran? Sis, kalaupun dia paman manutanmu dan masih bujang, coba dekati dia deh. Bayangkan! Kamu akan jadi tantenya mantan suamimu! Hahaha,” Elaine menertawakan idenya.
“Tidak buruk, aku suka idemu,” balas Emma.
Kemudian mereka masuk ke salah satu toko, melanjutkan pencarian mereka atas gaun yang sempurna untuk pesta besok.