Bab 5

1051 Words
Bab 5 Sudah Move On? Hari ini adalah pesta besar yang akan mereka gelar untuk menyambut kembalinya Emma. “Aku khawatir soal gaun yang kubeli,” Elaine gelisah, memikirkan pamannya Matias. Sementara Emma, tidak memerhatikan saudarinya. “Emma, Emma,” panggilnya. Namun Emma sama sekali tidak menanggapi. “Emma!” Seru Elaine kesal. “Apa sih? Jika kau butuh sesuatu tidak perlu berteriak seperti itu,” keluh Emma. “Aku tidak akan berteriak jika saja kau mendengarkanku padahal aku memanggilmu berkali-kali. Kau bahkan tidak memerhatikanku. Rasanya, sejak masalah dengan perempuan itu di mal, kau seperti linglung sih?” “Maaf, aku tidak bermaksud demikian.” “Apa yang kau pikirkan. Kau selalu saja seperti ini, aku jadi penasaran.” “Aku hanya memikirkan bagaimana Matias akan terkejut ketika melihatku nanti.” “Jelas, dia akan menyesal karena telah bertindak sangat bodoh,” tambah Elaine. Meskipun begitu, rasa penasarannya sebenarnya lebih mengarah kepada sosok paman Matias. Keduanya menghabiskan makan siang dan kembali ke mansion Tanuredjo. Emma mengunci dirinya sendiri di kamarnya untuk memikirkan arah hidupnya mulai sekarang. Sebelumnya, apapun yang ia lakukan, hanya berkutat di sekitar Matias. Ia bahkan harus mengesampingkan hidupnya sendiri untuk Matias. Sekarang ia tidak lagi menjadi istrinya, hidupnya perlu sebuah tujuan baru. Usahanya untuk mempertahankan pernikahannya sia-sia dan ia tidak bisa memenangkan cinta Matias seperti yang selalu ia inginkan. Yang ia dapatkan di akhir hanyalah luka. “Apa yang akan aku lakukan?” tanyanya pada diri sendiri sembari mengitari ruangan. “Mungkin aku harus bicara pada kakakku, siapa tahu ada perusahaan yang membutuhkan tenagaku. Betul sekali, mungkin itu yang terbaik untukku. Aku akan bicara padanya sekarang aah.” Emma keluar dari kamarnya dan memutuskan untuk pergi ke perusahaan dan bicara dengan saudaranya. Hal terakhir yang ia ingin lakukan adalah membusuk di rumah karena tak melakukan apa-apa. Emma meminta pak supir untuk mengantarnya ke perusahaan. Perusahaan keluarganya adalah perusahaan multinasional yang bekerjasama dengan perusahaan lain dan berbagai sponsor bisnis. Keluarganya memiliki salah satu perusahaan terbesar di negaranya dan juga salah satu keluarga terkaya di seantero negeri. Emma sampai di perusahaan dan langsung naik menuju lantai tempat saudaranya, Cristian, berada. “Halo,” sapanya terhadap sekretaris saudaranya. “Halo, ada yang bisa saya bantu?” “Saya ingin bertemu Pak Christian Tanuredjo.” “Apakah Anda sudah memiliki janji temu sebelumnya?” “Tidak, tapi tolong katakan kalau saya ingin menemuinya. Saya yakin ia takkan menolak.” “Baiklah, bisa tolong beritahu nama Anda?” Sekretaris tersebut bertanya tak acuh, ia merasa bosnya tidak merasa Emma sepenting itu. “Nama saya Emma Tanuredjo,” sekretaris tersebut tertegun, ia menyadari marga perempuan tersebut dan ingat minggu ini, bosnya beberapa kali menyebut-nyebut nama Emma. “Apakah Anda saudarinya bos?” Tanya sekretaris tersebut gugup. “Ya, betul sekali.” “Baiklah, mari saya antar padanya. Ia sedang tidak berada di kantornya saat ini.” “Oke, ayo.” Mereka berdua pergi ke ruang rapat di mana Cristian sedang menemui beberapa investor dan pengusaha baru yang ingin bekerjasama dengan perusahaannya. “Akan kuberitahu kalau kau datang.” Sekretaris itu masuk sementara Emma menunggu di luar agar tidak mengganggu pertemuan. Setelah beberapa saat, sekretaris tersebut kembali menemui Emma. “Nyonya, Anda boleh masuk. Tuan sedang menunggu Anda.” “Oke.” Emma masuk ke dalam ruang rapat tempat kakaknya sedang menghadiri rapat dengan asistennya. “Halo adik kecil,” ucapnya sambil memeluknya. “Emma, apa yang kau lakukan di sini?” “Aku mau minta bantuanmu.” “Bantuan? Apa yang kau inginkan?” “Bukan sesuatu yang sulit kok.” “Beritahu aku, baru aku tahu apakah aku bisa menurutinya atau tidak.” “Aku ingin bekerja di perusahaan, aku tidak ingin menganggur di rumah.” “Baiklah, gampang itu. Sepertinya itu bisa diatur,” ucap Cristian tersenyum. “Aah benarkah? Terima kasih Cristian. Kau tidak tahu berapa berartinya itu bagiku,” Emma yang kegirangan memeluk erat sang kakak. Pada saat itu, entah takdir apa yang menyapa saat Matias masuk ke ruang rapat dan melihat Emma sedang memeluk erat Cristian. “Jadi kau berada di sini, rupanya,” ucapnya sarkastik. Emma yang mengenali suaranya, berbalik untuk melihatnya. “Matias, apa yang kau lakukan di sini?” “Aku akan berbisnis dengan pria yang sepertinya merupakan pasangan barumu,” Matias melihatnya dengan jijik. “Maksudnya?” “Lupakan saja, lanjutkan apa yang sedang kau lakukan. Aku hanya ingin mengambil berkas yang tertinggal.” Matias mengambil berkas-berkas dan pergi. “Kenapa ia ada di sini, sih?” Emma bertanya pada saudaranya, penasaran. “Ada proyek yang partner kita ingin tanam saham.” “Aku tak menyangka akan bertemu dengannya. Dari caranya bicara ia menyangka ada sesuatu di antara kita.” Kata Emma kesal. “Jangan terlalu dipikirkan. Kalian sudah bercerai dan kau akan memulai hidup baru kan.” “Kau benar.” “Bagaimana jika kau menunggu sementara aku mencari posisi apa yang cocok untukmu? Kalau aku sudah selesai bekerja, kita bisa pergi makan malam.” “Tapi aku capek banget. Aku ingin pulang dan beristirahat. Aku sudah keluar hampir seharian dan merasa pusing.” Kata Emma manja. “Baiklah jika seperti itu, pulanglah.” “Dah.” “Dah.” Emma meninggalkan ruang rapat, dan meski tidak ada petir yang menyambar, ia bertemu Matias yang masih ada di perusahaan. Emma berjalan ke arah elevator, mengabaikan kehadiran Matias. Matias mengikutinya, dan sebelum Emma sempat menutup pintu elevator, Matias menerobos masuk ke dalam. Emma merasa kesal berdekatan dengan Matias. “Sepertinya kau berhasil,” kata pria itu tiba-tiba. “Ya, kau benar.” Jawab Emma, tak acuh. Matias menyeringai, “Kau selalu berlagak seperti gadis lugu, tapi sebenarnya, kau hanya mencari seorang penawar tertinggi,” Matias memaksa Emma untuk menatapnya. “Heh, itu hanya di pikiranmu saja.” “Terus apa lagi? Baru saja kita bercerai dan kau sudah mengencani pria lain yang lebih kaya dariku.” Matias menunjukkan kekesalannya karena Emma sudah bisa move on darinya. “Apakah itu mengganggumu kalau aku bersama orang lain? Atau kau merasa bersalah atas pernikahan kita?” “Apa maksudmu?” “Jangan pura-pura dungu, kau paham maksudku.” “Dasar tak tahu malu.” “Bercerminlah, dasar orang yang menghamili wanita lain sementara kamu kan memiliki seorang istri. Jangan merasa seperti seorang korban, kau bukanlah apa-apa.” Pintu elevator terbuka dan Emma keluar meninggalkan Matias yang hanya termenung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD