Prolog
"Suara jeritan dan tangisan yang membuat malammu semakin mengerikan dan menegangkan"
.......
Seperti biasanya, sore hari ini aku tengah berbaring sambil membaca sebuah buku tanpa sampul. Ditemani oleh secangkir teh hangat yang kubiarkan tanpa penutup. Aku pun sama sekali tidak meraihnya bahkan meminumnya saja belum. Kubiarkan saja, asap mengepul dari teh tersebut. Jendela di dekatku serasa menjadi temanku karena sekarang benda itu bergerak-gerak dan menghantam dinding, sehingga menimbulkan suara-suara yang mengisi pendengaranku.
Lembar demi lembar buku tersebut tersingkap oleh tanganku sendiri. Mulutku bergumam pelan membaca setiap huruf yang tertulis di sana. Jangan mengira, mesin tik yang membuat tulisan itu. Tapi, buku itu memiliki huruf yang ditulis oleh tangan manusia. Kadang aku bingung. Apakah nenek bisa menulis sampai sekarang? Bayangkan saja, usia nenek sekarang lebih dari delapan puluh tahun. Dengan usia segitu, tentu pendengaran dan daya ingat nenek atau pun kakek menurun.
Yah, seperti perkiraan kalian. Buku ini pemberian dari nenek. Setiap kali aku bertanya siapa yang menulis. Dia selalu menjawab bahwa dialah yang menulisnya sendiri. Memang, saat aku memandang wajahnya. Tidak ada raut kebohongan di sana. Seakan nenek mengatakannya dengan jujur. Kalau itu benar, pasti koran-koran dan majalah dinding atau bahkan menceritakan kisah luar biasa dari nenekku.
Menakjubkan ... sulit dipercaya ... viral, seorang perempuan yang sudah berkaki tiga mampu menulis dengan rapi layaknya seorang sekretaris.
Mungkin aku sudah beranggapan lebih terhadap nenek. Yang namanya orang tua pasti suka berbohong dan lupa akan dirinya yang sudah beranjak tua.
Daripada memikirkan hal-hal yang tentu saja sulit dipercaya, aku lebih memilih melanjutkan membaca isi buku tanpa sampul tersebut. Aku mengerutkan dahi sambil menyipitkan mata ketika menemukan kata-kata yang sulit dipahami. Bukannya sulit, tapi nenek menuliskan dengan kata yang tidak biasa digunakan. Tanpa tanggung-tanggung, aku telah menganggap bahwa tulisan itu mengandung makna yang tersirat. Bahkan sebuah pesan yang mungkin menjadi petunjuk untuk orang yang membacanya. Terutama aku.
Sebagian yang aku tahu, latar tempat di cerita ini berada di desa nenek sendiri. Apakah mungkin nenek menceritakan setiap kejadian-kejadian yang merenggut rasa penasaran? Tapi, saat aku membacanya. Jelas-jelas suatu kejadian yang ditulis memang benar-benar terjadi di desa nenek. Kisah tragis meninggalnya pak Kasto. Kepala desa yang ramah dan suka menolong. Beliau meninggal dalam keadaan kepala terpenggal. Kedua tangan beliau memegang kepalanya sendiri dalam posisi duduk bersandar.
Aku melihat kondisi beliau saat meninggal dengan jelas. Waktu itu aku masih berumur tujuh tahun. Tiada rasa takut atau menangis ketika melihatnya. Malahan, aku ingin sekali meneliti kenapa pak Kasto meninggal secara tidak wajar. Dan ingin sekali menemukan siapa yang tega membunuh pak Kasto. Namun, kedua orang tuaku menahanku agar tidak berbuat lebih. Yah, alasannya aku tidak ada sangkut pautnya dengan masalah itu. Apalagi umurku juga masih kurang.
Semenjak kejadian tersebut kedua orang tuaku mengajak kami pulang. Bunda terlihat syok dan ketakutan setelah melihat kejadian yang menggenaskan itu. Namun, kak Bayu memohon pada Bunda agar tidak pulang terlebih dahulu. Dia masih asyik bersama sang nenek bersama kisah-kisah yang terjadi pada desanya sebelumnya. Hal ini menambah kemarahan sang Ibunda. Malam harinya, kami dikejutkan lagi oleh sosok hantu tanpa kepala. Semua warga yakin sosok itu adalah arwah pak Kasto yang bergentayangan.
Bunda tidak kuat lagi dengan semua ini. Walaupun dia belum pernah sosok hantu itu, Bunda takut jika kedua anaknya dalam bahaya. Makanya keesokan harinya kami pulang dari rumah nenek dengan berat hati. Kepulangan kami membawa sejuta makna. Sesampainya di rumah, kami mendapatkan kabar bahwa desa nenek kembali ditemukan jasad baru. Tanpa kedua tangan.
"Setiap warna kehitaman mulai menyelimuti langit. Kami segera memasuki rumah. Kuncilah dan tutuplah dengan rapat. Tidurlah dengan nyenyak sebelum menjelang malam tiba. Jika tidak ingin mendengar suara tangisan bayi yang begitu melengking. Dan suara teriakan seorang perempuan yang amat memilukan dan mengerikan."
Aku sungguh terkejut melihat kertas yang semula kosong, mulai membentuk huruf-huruf dan menjadi sebuah kalimat. Isinya pun mengandung makna yang sulit kupahami. Apa yang dimaksud tidur nyenyak sebelum malam tiba? Sebelum malam tiba adalah sore hari. Mana mungkin yang waktunya sore digunakan untuk tidur? Biasanya orang-orang masih bersantai dan mengobrol dengan keluarga. Karena hanya waktu itulah yang pas untuk berjumpa keluarga.
Suara tangisan bayi yang begitu melengking? Aku sempat ingin tertawa. Tidak hanya orang-orang di desa sana saja yang mendengar tangisan bayi. Aku pun hampir setiap hari mendengarnya. Tetangga sebelahku memiliki anak yang masih bayi, tangisannya pun membuat telingaku serasa ingin pecah.
Suara teriakan seorang perempuan yang amat memilukan? Mungkin yang dimaksud, di desa sana banyak perempuan-perempuan menderita karena hal-hal yang begituan. Bibirku terkatup rapat dan mataku terpejam sebentar. Mungkin saja.
Kupejamkan mata sebentar. Berusaha memahami dan meresapi setiap kata. Walaupun, aku telah menemukan jawabannya. Tapi, tidaklah mungkin kalimat-kalimat tersebut tertulis begitu saja tanpa ada makna yang lebih mendalam. Hal-hal seperti itu memang sudah terbiasa di kalangan masyarakat. Mungkin ada artian lain yang tidak terpikirkan olehku.
Oh ayolah, aku masih berumur delapan tahun. Dan kenapa nenek memberikan sebuah buku yang amat mengerikan ini?
Tak lama kemudian, kertas kosong selanjutnya kembali muncul sebuah tulisan-tulisan yang belum sempat kubaca. Aku pun kembali larut dalam buku tanpa sampul itu.
"Desa yang kutinggali ini sangatlah aneh. Hampir setiap hari aku melihat pusara-pusara di desa terbuka. Tanah merah tercampur oleh daging. Berserakan. Dan menurutku begitu mengerikan. Apakah desa sebentar lagi akan terkena kutukan? Kutukan yang didapat karena santet dan ilmu hitam lainnya. Pasti ada dalang di balik semua ini."
Kuremas dengan kuat buku itu. Aku tahu kalimat terakhir dan sebelumnya masih berhubungan. Dan itu memungkinkan pelakunya masih sama. Membuat para warga ketakutan dan membuatnya untuk tidak tidur sepanjang malam. Kenapa pula di saat aku pulang barulah beraksi pelaku-pelaku itu? Kini tubuhku merinding bahkan kakiku sama sekali tidak bisa digerakkan saking lemasnya. Buku pemberian nenek benar-benar membuat jantungku berdegub kencang. Entah apakah aku bisa melanjutkan membaca atau tidak.
Aku pun memilih untuk tidak melanjutkannya lagi. Toh, tidak ada tulisan yang tiba-tiba muncul lagi. Maka kukembalikan buku itu ke rak. Akhirnya, detak jantungku kembali normal dan saatnya menikmati teh yang sudah tidak hangat lagi. Aku pun baru sadar, langit sudah mendung. Membuat tubuhku menggigil karena dinginnya angin.
Aku beranjak dari kasur dan menuju pintu kamar. Namun, langkahku terhenti. Mataku memicing. Kenop yang kupegang bergetar karena tanganku tak bisa diam. Yah, bulukudukku berdiri ketika merasakan ada seseorang yang berada di belakangku. Namun, di saat aku menoleh ke belakang. Tidak ada siapa pun di sana. Huh, mungkin hanya perasaanku saja.
Bersambung ...