Episode 1 : Dokter Nadia
Kita kilas balik dulu sejenak...
Wajah Rizal tampak tidak senang saat kehadiran Madan di acara resepsi pernikahannya dengan Nadia. Buka itu saja, Rizal semakin tidak terima saat dirinya mengetahui bahwa pemilik gedung tempat mereka mengadakan resepsi pernikahan itu adalah milik Madan sendiri.
Rizal memang pernah bertemu dengan Madan satu kali di Paradise, namun saat pertemuan itu, Rizal malah mencaci dan menyindir-nyindir Madan, bahkan sampai mengatakan bahwa Madan tidak pantas untuk berkerja di tempat sebagus Paradise itu.
Rasa malu terpaksa ditahan dan ditanggung sendiri oleh Rizal di sisa resepsi pernikahannya yang megah bersama Nadia.
Di sisi lain, Nadia sangat senang karena acara pernikahannya berlangsung lancar dan tanpa kendala apa pun lagi. Sebab, sebelum mereka melakukan resepsi di gedung itu, Nadia sempat mengeluh atas kekurangan dan kesulitan keuangan yang sedang dia dan Rizal alami.
Beruntung Dokter Toriq, atasannya, membantu semuanya dan pada akhirnya Nadia tahu siapa orang yang membantu semua acara resepsi pernikahan itu, tiada lain yaitu Madan, mantan kekasihnya di kampung.
Demi menjaga harga diri Rizal, sebagai suami Nadia, Madan berpesan agar Nadia tidak membahas soal biaya pernikahan mereka yang di tanggung oleh Madan, cukup Rizal tahu saja bahwa Madan hanya sebagai pemilik Paradise dan semua biaya itu urusan dirinya dan Anandita.
*****
Madan melepas kepergian Anandita tanpa bertemu dengan gadis cantik itu. Saat dia sampai di bandara, pesawat yang membawa Anandita ternyata sudah terbang dan tinggal landas.
Bruno yang saat itu menemani dan menyupiri Madan, memberi saran agar Madan menyusul Anandita ke Paris.
"Masuk Mall saja aku sering nyasar, di suruh ke Paris?" jawab Madan sambil geleng-geleng kepala.
Saat itu efek dan rasa sakit dari pertarungan dirinya dengan anak-anak buah Daniel, terlebih dengan Sombat, sudah mulai terasa.
Madan melenguh dan meringis menahan rasa sakit yang mendera di tubuhnya.
"Kau kenapa Bos?" tanya Bruno cemas.
"Sepertinya rasa sakit setelah pertarungan tadi baru aku rasakan sekarang" balas Madan sambil meringis menahan sakit.
"Ditambah sakit hati ditinggal pujaan hati juga?" ujar Bruno iseng.
"b******k kau!" maki Madan sambil tersenyum.
"Kau bisa antarkan aku ke rumah sakit kan?" pinta Madan.
"Tentu Bos! rumah sakit yang mana?" tanya Bruno.
"Rumah sakit tempat Dokter Toriq bertugas" pinta Madan lagi.
Bronu mengangguk paham, dia memapah Madan karena melihat Madan sudah benar-benar kepayahan untuk berjalan sendiri ketika itu.
*****
Dokter Nadia baru saja bergegas hendak pulang karena hari itu dia mendapat jatah dinas malam.
Namun baru saja dia hendak membereskan semua barang-barangnya, tiba-tiba saja seorang perawat wanita masuk ke dalam ruangannya.
"Maaf Dokter, saya harap Dokter tidak pulang terlebih dahulu, karena di depan ada seorang pasien yang baru saja masuk dan butuh perawatan" ujar Perawat itu memberitahu.
Dokter Nadia kembali menghempaskan tas dan barang bawaannya.
"Baiklah, jika sudah selesai masalah administrasinya, suruh pasien itu menunggu di ruang perawatan" perintah Dokter Nadia.
"Anu Dokter, pasiennya pasien khusus dan itu di minta langsung oleh Dokter Toriq, sekarang dia sudah berada di ruang perawatan" ucap Perawat itu lagi.
"Hmm...pasien khusus?" Nadia bergumam.
"Baiklah, suruh tunggu sebentar, aku mempersiapkan peralatan kerja yang sudah masuk dalam tas ku terlebih dahulu" lanjut Nadia.
"Baik Dokter" sahut Perawat itu sambil berlalu pergi.
Dokter Nadia masuk ke dalam ruang perawatan di mana pasiennya sudah menunggu sejak tadi.
Pasiennya seorang laki-laki dan di temani pula oleh seorang laki-laki berbadan tegap yang berdiri di samping tempat tidur itu.
Sekilas Nadia mendengar pembicaraan mereka yang tidak jelas itu.
Namun ketika sudah berada di dekat si pasien, keduanya malah sama-sama terkejut.
"Nadia!" seru pasien itu.
"Bang Rama!" Dokter Nadia juga berseru menyebut nama si pasien.
Plak..!!
Bruno menggeplak bahu Madan, Madan meringis kesakitan.
"Nama mu Madan, sejak kapan berganti keren menjadi Rama?" protes Bruno.
"Heh! apa yang kau lakukan? sudah tahu orang sakit, kau malah main pukul seperti itu?" protes Dokter Nadia sambil melotot ke arah Bruno.
"Syukurin" ejek Madan sambil melirik ke arah Bruno yang baru saja diomeli oleh Dokter Nadia.
"Bang Rama tidak apa-apa?" tanya Dokter Nadia lembut.
"Eh...ti- tidak, abang tidak apa-apa kok" sahut Madan sedikit salah tingkah.
"Bisa-bisanya dia mendadak seperti orang yang sudah sembuh" gerutu Bruno melihat sang Dokter memperlakukan Madan dengan lembut.
"Dokter! namanya Madan! bukan Rama!" kembali Bruno menegaskan.
"Madan atau pun Rama, ya tetap sama saja, sekarang dari pada Anda mengganggu, lebih baik Anda keluar sekarang!" usir Dokter Nadia.
"Galak betul!" protes Bruno.
Madan yang sedang kesakitan malah terkekeh melihat Bruno diperlakukan seperti itu oleh Nadia.
"Iya! iya! aku keluar" gerutu Bruno.
Bruno yang masih kesal melihat Madan tertawa, lantas berkata,
"Aku pulang dulu, kau mau pulang dengan siapa, itu terserah mu!" ancam Bruno sambil berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Heh! mana bisa begitu! bagaimana dengan ku nanti?" kali ini Madan yang dibuat kesal oleh Bruno.
"Ya, mana ku tahu!" jawab Bruno acuh sambil tersenyum karena merasa menang.
*****
Nadia tampak begitu berhati-hati memeriksa luka pada tubuh Madan.
Namun pada saat Nadia memegang kaki bagian bawah Madan, sontak ketika itu juga Madan menjerit sekencang-kencanganya.
Dari sudut matanya menetes air mata karena rasa sakit yang tidak terkira.
Nadia kembali memeriksa dan kali ini dia bertindak cukup hati hati.
Bagian tulang kering itu membengkak dan membiru.
"Sepertinya tulang kering abang ini mengalami keretakan dan beruntung tidak patah" ucap Nadia.
"Retak?" desis Madan dalam hati.
Dia teringat rasa sakit yang dia dapatkan adalah akibat dari beradu kaki dengan Sombat tadi malam.
Madan sama sekali tidak membayangkan betapa berbahayanya orang yang bernama Sombat itu, namun beruntung dia sudah mati dan Madan tidak perlu lagi bertarung dengan orang itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi, bang?" tanya Nadia penasaran.
"Eh, hanya kecelakaan biasa saja kok" jawab Madan berbohong sambil terus meringis kesakitan.
"Kalau hanya kecelakaan biasa, tidak mungkin separah dan sampai retak seperti ini tulangnya" selidik Nadia.
Madan tidak lagi menjawab karena dia tahu, semakin dia menjawab maka dia akan semakin berdusta kepada Nadia.
Nadia juga memutuskan untuk tidak bertanya apa-apa lagi kepada Madan.
Dia dengan tekun memeriksa dan mengobati setiap luka pada tubuh Madan.
Sampai pada akhirnya, rasa sakit dan rasa lelah yang mendera dirinya membuat Madan terlelap dan tertidur.
Setelah selesai merawat seluruh luka Madan, Nadia sempat tersenyum menatap pemuda yang sedang terlelap itu.
*****
Di rumahnya Rizal tampak uring-uringan ketika dia bangun tidur ternyata, Nadia, istrinya ternyata belum pulang juga.
"Tidak seperti biasanya, kemana dia!" gerutu Rizal sambil terus mondar-mandir di halaman rumahnya.
Terdengar suara klakson mobil dari luar pagar, pembantu rumah itu lantas bergegas membuka pintu pagar.
Dari luar sebuah mobil berjalan masuk.
"Akhirnya dia pulang juga!" seru Rizal dengan tidak sabaran langsung menghampiri Nadia.
Seperti biasa, sebagai istri yang baik, Nadia selalu mengucapkan salam dan mencium tangan suaminya ketika dia pulang maupun berangkat kerja. Namun kali ini respon Rizal tidak seperti biasanya, dia menarik tangannya ketika hendak di salami dan dicium oleh sang istri.
"Dari mana saja kau? jam segini baru pulang? biasanya kau pulang lebih cepat! apa yang kau lakukan di rumah sakit itu?" tanya Rizal dengan wajah kesal.
"Tadi ketika Nadia ingin pulang, ada pasien yang masuk, jadi Nadia harus mengurus pasien itu terlebih dahulu bang" jawab Nadia.
"Macam tidak ada Dokter yang lain saja di rumah sakit itu, kenapa harus kamu?" kembali Rizal bertanya.
"Karena Dokter jaga yang lain sudah pulang terlebih dahulu bang, abang tahu tidak siapa pasien yang Nadia rawat tadi?" tanya Nadia.
"Dia yang bekerja, dia pula yang bertanya, mana aku tahu siapa pasien yang kau urus di sana!" jawab Rizal ketus.
"Pasiennya bang Rama" ucap Nadia.
Seketika mata Rizal menjadi melotot besar saat Nadia menyebut nama itu.
"Oo...pantas saja kau pulang terlambat! rupanya kau sedang merawat mantan kekasih mu itu! sehingga kau tidak mempedulikan suami mu lagi yang berada di rumah!."
Sungguh respon yang tidak diharapkan oleh Nadia dari Rizal, suaminya.
"Abang ini kenapa? sejak tadi, Nadia lihat dan dengarkan, abang selalu saja marah-marah! apa salahnya Nadia sebagai Dokter merawat seorang pasien dan kebetulan saja pasien itu adalah bang Rama" ujar Nadia membela dirinya.
Nadia yang sudah terlalu lelah tidak peduli lagi dengan ocehan dari mulut Rizal. Dia terus berjalan menuju kamar dan mengunci pintu kamar dari dalam.
Rizal yang masih kesal dan belum selesai berbicara dengan istrinya itu terpaksa menahan rasa kesalnya dan dengan rasa kesal itu dia pergi berangkat bekerja.