01. Rumah Bunga
Lampion-lampion dengan beragam warna menggantung di semua teras rumah penduduk Ibukota Dinasti Mengyu. Nyala lampunya berwarna-warni itu menghiasi jalanan kota yang ramai riuh oleh penduduk, festival bunga akan segera datang di pertengahan musim semi, festival yang selalu ditunggu-tunggu oleh penduduk sekitar. Festival jatuh pada esok hari, tapi semua penduduk sudah tak sabar untuk merayakannya. Mereka menggelar pasar malam yang dikunjungi banyak orang, memainkan pertunjukkan, tari-tarian, dan musik. Hampir semua orang tak tinggal dirumah, mereka pergi ke pasar untuk menikmati jajanan pasar, atau sekedar menikmati ramainya pasar menjelang festival. Sedangkan, beberapa orang yang lain, memilih untuk melihat pertunjukkan.
Sebagian di sisi yang lain kota, sibuk menghias Rumah Bunga. Lampion berwarna merah dengan bentuk seperti bakpao terpasang di tiap ruas atap bangunan besar itu. Setiap dindingnya di pasang dengan kain-kain yang kebanyakan berwarna merah muda dan putih. Meja-mejanya di bersihkan, aula utamanya di hias sedemikian rupa. Pelayan-pelayannya, memasang tangkai bunga persik di setiap sudut, menggantung kain di tiang-tiang. Kamar-Kamar para penghibur di hias dengan berbagai macam hiasan, dan di pasangi wewangian dari berbagai macam bunga.
Festival bunga, hanya festival bagi seluruh penduduk. Namun, juga hari spesial untuk pemilik Rumah Bunga, Festival itu tepat dengan perayaan hari ulang tahun pemilik Rumah Bunga yang sangat misterius. Sang pemilik sebenarnya tidak terlalu peduli dengan hari ulang tahunnya, tapi para pengikutnya sangat peduli. Mereka akan mengadakan banyak kegiatan di Rumah Bunga, dan puncaknya, Pemilik Rumah Bunga akan memainkan alat musik. Itulah keahliannya. Namun, sampai detik ini tidak pernah ada yang tahu bagaimana rupa sang pemilik Rumah Bunga itu.
Rumah Bunga adalah tempat yang mahsyur di hampir seluruh penjuru negeri yang dinaungi oleh Dinasti Mengyu ini, bahkan hingga ke negeri tetangga. Di sana adalah tempat hiburan kelas atas, orang-orang biasa datang kesana untuk sekedar bermain kartu, atau menikmati hiburan dari gadis-gadis penghibur yang terkenal sangat cantik dan anggun seperti bunga. Tarian mereka sangat terkenal, karena gerakannya yang indah dengan tubuh yang sangat molek mampu untuk menggoda tiap mata yang memandangnya.
Di samping semua itu, yang paling menarik adalah rumor tentang pemilik Rumah Bunga yang selalu menyembunyikan wujud aslinya, hanya muncul setiap perayaan Festival Bunga dengan penutup wajah saja. Karena sifatnya yang sangat misterius itu orang-orang menyebutnya dengan sebutan Bibi Hua.
Banyak yang mengira bahwa Li Hua adalah wanita separuh baya, yang menjalankan bisnis hiburan. Namun, banyak pula rumor sebenarnya yang berkembang dikalangan pelanggan Rumah Bunga adalah, pertama, Pemilik Rumah Bunga adalah seorang gadis yang sangat cantik bak seorang dewi yang usianya tidak lebih dari 18 tahun, gadis itu tak pernah melayani tamu atau menerima tamu, banyak ajuan dari pedagang kaya raya hingga pejabat pemerintahan yang ingin melihat wajah rupawannya dengan membayar mahal tapi dia sama sekali menolak. Rumor kedua yang beredar adalah dia itu gundik Pangeran Muda Yuan Shen, Pangeran terakhir dari Dinasti Mengyu.
Tapi tak seorangpun berhasil membuktikan rumor itu atau bertemu dengan pemiliknya secara langsung, hingga hari yang akan ditentukan saat Li Hua akan tampil di festival sekaligus pengumuman akan perayaan ulang tahunnya yang ke 18 dan membuat semua orang pun gempar. Mereka hampir tak bisa percaya jika rumor yang beredar itu ada benarnya, itu sebabnya festival ini sangat penting bagi yang penasaran dengan identitas asli pemilik Rumah Bunga yang tersohor.
"Apa kau yakin, dia masih berusia 18 tahun?" Tanya seorang gadis pelayan yang sedang membersihkan panggung kecil di tengah aula Rumah Bunga pada seorang gadis lainnya yang sedang mengelap tiang besar hingga mengilap itu.
"Ssshhh, jangan bicara sembarangan, meski aku sendiri juga ragu, kenapa semua orang memanggilnya Bibi jika dia masih sangat muda?" balasnya sembari mengarahkan telunjuknya ke bibir, mengisyaratkan agar mereka tidak bicara dengan keras.
"Mungkin sebenarnya dia memang sudah tua, bayangkan, siapa yang menjalankan bisnis sebesar ini di usia yang sangat muda?" Gadis pertama itu memang ada benarnya, bisnis sebesar ini, dijalankan oleh gadis muda? Sungguh mustahil, gadis itu haruslah sangat berpengalaman. Sementara rumor yang beredar, tidak sekali pun pemilik Rumah Bunga ini pernah melayani para tamu. Dia hanya bekerja di balik layar.
"Kalian ini, bukan bekerja tapi malah bergosip!!" hardik seorang pria yang membawa kipas di tangannya. "Siapa yang kalian gosipkan, hah??"
"Maafkan kami, Tuan Zhei Yan"
"Sudah sudah!" balasnya sembari mengibaskan tangannya acuh tak acuh, "Memangnya siapa yang kalian gosipkan hah?!" tanyanya lagi, sembari memandangi dua gadis itu bergantian. Matanya melotot menakutkan tapi juga terlihat lucu secara bersamaan.
"Bibi Hua." jawab Jujur gadis yang membersihkan panggung.
"Yi Rong!! kau ini!"
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Gu Mei" Balas Yi Rong dengan mengangkat bahunya lalu lanjut membersihkan aula dan panggung itu.
"Dia tidak tahu kapan harus diam kan?" gerutu Gu Mei sembari terus membersihkan tiang dan pergi ke tiang yang lainnya.
"Jadi ada apa dengan Bibi Hua??" Tanya Zhei Yan berpura-pura penasaran. Dia sendiri sudah sering mendengar gosip tentang Bibi Hua, tapi ia masih saja tertarik dengan gosip yang di bicarakan oleh orang-orang. Selama bekerja di sini sejak awal tempat ini dibangun, Zhei Yan sama sekali belum pernah juga melihat wujud asli ‘Si Bibi Hua’ ini, transaksi yang mereka lakukan, atau laporan-laporan yang harus Zhei Yan berikan selalu melalui surat menyurat dan kurir. Setiap kali Festival bunga pun, Zhei Yan tak pernah bisa melihat bagaimana sosok asli pemilik Rumah Bunga ini.
"Apa benar, Bibi Hua masih sangat muda??" Gu Mei tak bisa menahan rasa ingin tahunya. Bagaimana mungkin kau bekerja pada orang yang sangat misterius, bahkan bagaimana rupanya saja tidak tahu.
Tak! Zhei Yan memukulkan kipasnya ke kepala gadis yang menyapu lantai itu, Gu Mei. Berani-beraninya dia menanyakan usia Bibi Hua seperti itu. Dengan mengaduh, Gu Mei megusap-usap kepalanya yang terasa sakit akibat pukulan kipas Zhei Yan.
"Kan kami hanya penasaran," gumamnya.
"Nanti juga kalian akan tahu, sekarang bersihkan dan hias semua ruangan dengan indah, ingatlah untuk menaruh tangkai bunga persik di setiap vas karena Bibi Hua sangat mencintai bunga persik." Zhei Yan mengingatkan kembali.
Hanya sebatas itu pengetahuan Zhei Yan tentang pemilik tempat ini, dia sangat menyukai bunga persik, selain itu dia juga menyukai berbagai macam teh. Zhei Yan mengetahuinya, karena banyak sekali minuman yang tersedia di sini, selain arak tapi juga teh yang diminta oleh ‘Si Bibi Hua’ ini dipesan oleh Zhei Yan.
Zhei Yan berjalan ke setiap ruangan, memastikan bahwa semua pelayan melakukan tugasnya dengan baik. Setelah itu, ia mendapatkan kabar dari salah seorang pelayan lelakinya, Ia bergegas pergi ke sebuah jalan rahasia yang dibuat khusus di Rumah Bunga. Di ujung jalan, terdapat sebuah pintu dan Zhei Yan pun segera kesana. Seorang gadis dengan hanfu kuning sedang menunggunya di ujung jalan. Saat melihat Zhei Yan datang, wajahnya yang kecil dan cantik itu tersenyum lega melihat kedatangan Zhei Yan.
"Tuan Zhei Yan!" Sapanya. Sedangkan Zhei Yan tersenyum kaku, dia belum pernah mengenal gadis itu sebelumnya, bahkan belum pernah melihatnya. Rencananya dia akan bertemu dengan Si Bibi Hua di pintu rahasia ini. Tapi, jika melihat gadis di depannya ini, sangat mengecewakan jika pemilik Rumah Bunga tidak secantik rumornya. Bukan karena gadis yang ada di depannya ini tidak cantik, akan tetapi kecantikannya begitu umum dan sering dilihat oleh Zhei Yan.
"Namaku Zhang Zhilin, Aku datang bersama dengan Bibi Hua," katanya memperkenalkan diri. Diam-diam Zhei Yan menghela nafas lega. Selama ini dirinya pun belum pernah bertemu secara langsung dengan Bibi Hua. Saat pertama kali bertemu, ia bertemu di Paviliun milik Pangeran Muda Yuan Shen, itu pun pertemuan mereka dibatasi oleh tirai.
"Lalu dimana Bibi Hua?" Tanya Zhei Yan tak sabar.
"Ahh sebentar," kata Zhang Zhilin. Ia kemudian beranjak, mendekati sebuah tandu yang di angkat oleh empat orang dan dijaga oleh seorang pengawal. Kenapa Zhei Yan tak menyadarinya tadi?? Dia terlalu sibuk memerhatikan Zhang Zhilin. Menduga-duga jika gadis itu adalah pemilik Rumah Bunga.
Zhang Zhilin mengatakan sesuatu pada pengawal di samping tandu, Kemudian pengawal itu memberitahu seseorang di dalam tandu. Beberapa saat kemudian, Pengawal itu membuka penutup tandu. Zhang Zhilin mengulurkan tangannya untuk membantu siapapun yang hendak keluar dari tandu tersebut.
Harapannya, Zhei Yan akan bertemu dengan wanita yang memiliki rumor pesona kecantikan yang sangat melegenda itu. Saat sebuah tangan lentik, berwarna putih yang sangat terawat itu memegang tangan pengawal, jantung Zhei Yan berdegup dengan sangat kencang. Tiap menitnya ia menantikan kemunculan Bibi Hua dengan gelisah. Seseorang, dengan hanfu berwarna putih keluar dari tandu itu. Zhei Yan kecewa, sangat kecewa karena ia tak bisa melihat bagaimana rupa Bibi Hua yang terkenal itu. Di hadapannya, hanya seseorang dengan hanfu putih, menggunakan penutup kepala yang menutupi seluruh wajahnya. Mau mengintip pun Zhei Yan tidak berani karena pengawalnya menatap Zhei Yan dengan tatapan membunuh.
"Tuan Zhei Yan, ini Bibi Hua." Zhang Zhiling memperkenalkan pada Zhei Yan gadis yang sedang berdiri di sampingnya ini.
"Ah." Zhei Yan terkesiap seketika, dia mengerjapkan matanya untuk meraih kembali kesadarannya dan kembali pada kenyataan yang membuatnya harus kecewa untuk sekali lagi. "Selamat datang Bibi Hua, Mari saya tunjukkan jalannya ke ruangan anda." Zhei Yan memberitahu, dan seseorang dari balik penutup kepala itu hanya mengangguk.
Keheningan menemani mereka ketika sedang menyusuri jalan rahasia, tak ada suara apapun kecuali suara nafas dan derap langkah mereka melewati jalan rahasia tersebut yang remang itu. Zhei Yan sendiri tak tahu apa yang harus dia katakan pada Bibi Hua, karena pengawal yang bersamanya membuat Zhei Yan takut. Beberapa saat kemudian, mereka keluar dari jalan rahasia. Mereka berada di luar Rumah Bunga, tepat di belakang Rumah Bunga itu sendiri. Di depan sebuah paviliun yang cukup besar.
"Paviliun ini sudah dipersiapkan khusus untuk Anda, Bibi Hua." kata Zhei Yan lagi. "Saya juga menyiapkan sebuah kamar di dalam Rumah Bunga, jika anda menginginkannya."
"Terimakasih Zhei Yan ge." Suara Bibi Hua menggema di telinga Zhei Yan. Itu adalah suara terindah yang pernah ia dengar. Begitu merdu, lembut dan sangat indah. Seindah alunan Dizi di musim semi.
"Ge- gēge *??" Zhei Yan nampak terkejut dengan panggilan yang di dapatkannya dari Bibi Hua. Ini membuatnya merasa lebih dekat dengan pemilik Rumah Hiburan terbesar di seluruh Negeri ini.
"Kau juga bisa memanggilku mèimei*," Sahut Bibi Hua, "Jika kau tidak keberatan." lanjut Bibi Hua. Senyum merekah di wajah Zhei Yan, tentu saja ia sangat senang sekali. Tidak apa-apa bila tidak bisa melihat wajah Bibi Hua untuk saat ini. Asalkan dia bisa merasa dekat dengan pemiliknya ini.
"Tentu saja!!" serunya antusias. "Aku akan menyiapkan sajian untuk kalian." Dia benar-benar antusias, hingga saat ia kembali ke Rumah Besar ia mengibaskan kipasnya dengan senang.
Melihat tingkah Zhei Yan, Zhang Zhilin terkikik. Ini pertama kalinya ia melihat pria seperti Zhei Yan, yang bertingkah seperti anak kecil yang baru mendapatkan permen dan kegirangan.
"Ehm." Li Hua berdeham, dan Zhang Zhilin langsung terdiam, ia tersipu malu. Apalagi mendalat tatapan dari pengawal Li Hua
"Maafkan aku Hua jie*." Ujarnya tulus.
"Tidak apa-apa Zhilin, aku ingin masuk kedalam paviliun, ayo," Li Hua menarik pergelangan tangan Zhang Zhilin kemudian setengah berlari memasuki paviliun itu. Karakternya yang berwibawa tergantikan dengan pembawaannya yang seperti gadis pada umumnya.
"Ayo Hao ge!" Seru Bibi Hua yang terlihat begitu senang dengan paviliun barunya.
Pertama kali yang dia lihat saat membuka pintu bulat, ia melihat pemandangan yang sangat menakjubkan. Halamannya cukup luas, dan tanaman persik menghiasi halaman tersebut. Pohon persik itu sedang berbunga dan mekar. Tanah di bawahnya di penuhi dengan kelopak bunga persik yang berwarna merah muda.
"Bukankah ini sangat menakjubkan??!" suara Li Hua begitu antusias. "Aku tidak sabar, mengajak Kakak Shen , ia pasti akan senang melihat paviliun ini"
Ia melangkah dengan menyingsingkan hanfu putihnya. Ia tampak bahagia sekali, karena menari-nari ditengah halaman.
Cheng Hao dan Zhang Zhiling ikut bahagia melihat gadis di hadapan mereka tampak sangat bahagi dengan hanya melihat pohon persik di depannya. Gadis itu selalu membawa aura positif dimana pun ia menginjakkan kakinya. Dan semesta seolah mendukungnya.
•••••
Asap mengepul dari tungku perapian yang digunakan untuk memanggang dedaunan teh. Aroma berbagai macam daun teh dan bunga-bungaan tercium di seluruh ruangan. Semua pegawai melakukan pekerjaannya masing-masing, menjaga api agar nyalanya stabil, mengaduk daun yang dipanggang, dan seorang pemuda dengan qipao cokelat yang lengannya di gulung sampai ke siku memilah dedaunan yang akan dipanggang. Dia terlihat begitu menikmati perannya memilah dedaunan itu. Tangannya begitu luwes ketikan memilah dedaunan, sebentar saja dia sudah bisa memisahkan dedauanan the yang sudah siap untuk dipanggang.
Sedangkan disisinya seorang anak lelaki, tampak gelisah melihatnya memilah dedaunan yang masih hijau itu. "Ayolah Tuan Muda, Biar aku saja yang kerjakan, jika tidak Nyonya Han akan memarahiku," keluhnya, sebenarnya memilah daun adalah pekerjaan anak lelaki itu. Namun, pemuda yang memilah bunga itu tak peduli, ia juga sedang ingin melakukan pekerjaan ini.
"Nyonya Han bisa marah sepuasnya," balasnya sambil tersenyum. Dia meneruskan pekerjaannya, tapi anak lelaki itu pun masih berdiri di sampingnya, menunggu dengan gelisah. Merasakan kegelisahan anak lelaki itu, Sang Tuan Muda pun berhenti. Ia menoleh dan memperhatikan anak lelaki itu dengan seksama.
"Kapan terakhir kali kau libur dari pekerjaanmu, Da Feng??" tanya Xin Baozhai dengan serius.
"Apa?" Da Feng nampak terkejut, seperti ia tidak pernah ditanyai hal semacam itu seumur hidupnya, memang sebenarnya dia belum pernah mendapatkan pertanyaan semacam itu sebelumnya. Lagipula, kehidupannya susah. Usianya masih 17 Tahun, ibunya hanya berjualan kue beras dan sakit-sakitan, adik perempuannya pun bekerja di Dumah Bunga sebagai pelayan. Dia sama sekali tak memikirkan hari libur, selama ia bisa bekerja dan menghasilkan uang maka dia akan rela bekerja keras bagai kuda tanpa hari libur.
Disisi lain, Tuan Muda itu memperhatikan seluruh pegawainya satu persatu. Ini pertama kalinya, Tuan muda memperhatikan seluruh pegawainya seperti itu. Mereka terlihat menikmati pekerjaannya meski sebenarnya mereka pasti lelah. Karena mereka tak pernah libur sama sekali.
"Bukankah besok Festival Bunga?" tanya Tuan Muda. Da Feng mengangguk, ia semakin bingung dengan tingkah Tuan Mudanya yang aneh ini. Meski memang kebiasaan Tuan Mudanya ini selalu aneh. Sekali waktu jika sedang bosan maka dia akan turut melakukan semua pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh pegawainya. Namun, bisa jadi di waktu yang lain dia tiba-tiba tidak muncul di mana pun.
"Baiklah, mulai saat ini, detik ini juga, kalian boleh berlibur saat Festival, termasuk besok!!!" Dia mengungumkannya dengan lantang. Tidak ada pegawainya yang tidak terkejut mendengarnya. Tuan Muda meletakkan ember tempatnya memilah daun teh, lalu berdiri. "Jangan terkejut seperti itu, sudah kembali bekerja" Ujarnya lagi kemudian ia beranjak pergi dari ruang pengolahan teh itu.
Langkah Tuan Muda berakhir di teras lantai dua. Ia duduk di salah satu kursi yang terletak tepat di pinggir pembatas teras. Dari atas, ia bisa melihat pasar yang ada di bawahnya itu, pasar sedang sangat ramai karena festival, meski biasanya memang ramai, tapi ketika festival seperti ini jalanan menjadi sangat penuh dan padat. Lampion dimana-mana, anak-anak berlari-larian menerobos kerumunan di bawah sana. Alangkah senangnya jika pegawai kedainya bisa merasakan festival dengan keluarga mereka seperti penduduk yang lain.
"Tuan Muda Baozhai!" Suara perempuan lansia mengalihkan perhatian Tuan Muda Xin Baozhai, ia memperhatikan sosok wanita itu. Masih tampak anggun dibalik Hanfu ungunya yang ketat karena badannya yang melebar. Wajahnya penuh dengan riasan, lipstiknya tampak merah sekali, kontras dengan kulitnya yang putih.
"Ah, Nyonya Han. Kemarilah, duduk denganku!" Xin Baozhai tersenyum lebar pada Nyonya Han, sambil menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya.
Nyonya Han meletakkan b****g berlemaknya di kursi yang terletak tepat di depan Xin Baozhai. Ia menolak duduk di samping Xin Baozhai, entah apa alasannya. Wajah Nyonya Han tampak muram, akan tetapi wajahnya memang seperti itu tiap harinya. Xin Baozhai selalu membayangkan bagaimana kehidupan rumah tangga Nyonya Han, bagaimana suaminya sanggup menghadapi wanita yang galak seperti nyonya Han. Bahkan meski Xin Baozhai adalah pemilik kedai ini, dia tetap takut dengan Nyonya Han. Ia merasa Nyonya Han bisa meremukkan tubuhnya kapanpun jika wanita itu sedang marah.
"Aku dengar dari pegawai, bahwa anda memberi hari libur di setiap festival??" tanya Nyonya Han.
Xin Baozhai tampak asik menikmati keriuhan pasar di bawahnya, seolah-olah pertanyaan Nyonya Han itu masuk melalui telinga kirinya, kemudian lewat begitu saja dari telinga kanannya, "Lihat itu nyonya Han, bukankah menyenangkan bisa berjalan-jalan di pasar??" Xin Baozhai menunjuk pada pasar yang berada dibawah mereka.
"Tuan Muda!!!" Nyonya Han semakin tidak sabar dengan Xin Baozhai. Sudah seperti kebiasaan bagi Xin Baozhai untuk mengacuhkan siapapun, meski dia tidak memiliki niat seperti itu.
"Itu tidak seperti mereka akan kabur, mereka hanya butuh hari libur, Nyonya Han" Kali ini Xin Baozhai menjawab dengan serius, ia menatap mata gelap Nyonya Han. "Kau juga harus berlibur Nyonya Han... jangan sibukkan dirimu dikedaiku sepanjang hari," balas Xin Baozhai dengan suara lembutnya.
Melihat bagaimana Xin Baozhai serius, akhirnya Nyonya Han menyerah. Dia sudah bekerja di kedai Teh milik keluarga Xin hampir seumur hidupnya.
Kedai ini adalah warisan turun temurun keluarga Xin dari Wenzhu. Xin Baozhai adalah generasi ke lima yang sudah menjalankan kedai ini. Pendahulunya pun sangat baik, tapi tidak ada yang seaneh Xin Baozhai. Dia membuka dan menutup kedai seenaknya, membuat resep baru yang sebelumnya belum pernah di buat, setiap harinya ikut bekerja di ruang pengolahan daun teh, kadang-kadang jika Xin Baozhai benar-benar gila, ia akan berpura-pura menjadi pelayan dan melayani para tamunya, dan sekarang malah memberi libur seenaknya sendiri. Tapi mau apa lagi, Xin Baozhai adalah bosnya disini.
"Aku lupa memberitahu, jika kita mendapat pesanan tetap dari Rumah Bunga," ungkap Nyonya Han dengan hati-hati.
"Rumah Bunga?" Xin Baozhai tampak tertarik, namun keningnya berkerut. Nyonya Han mengangguk. "Rumah Bunga yang itu??" Tunjuknya menggunakan jari telunjuknya pada bangunan besar yang dalam proses dekorasi di balik bahu Nyonya Han.
"Iya Tuan Muda, Rumah Bunga yang itu." Nyonya Han menirukan ucapan Xin Baozhai.
"Hebat, mereka memesan teh apa?"
"Teh Bunga Krisan tiap 1 minggu sekali dengan jumlah 25 kotak tiap minggunya,"
Mata Xin Baozhai membelalak lebar. Dia terkejut dan tak percaya. Mengapa Rumah Bunga memesan tehnya, mengapa sekarang? Padahal dia sudah kembali membuka kedai ini sekitar dua atau tiga tahun yang lalu.
"Kudengar pemiliknya adalah seorang gadis yang masih muda dan cantik, mungkin anda bisa mengunjunginya kapan-kapan."
"Siapa yang peduli dengan pemiliknya, yang terpenting pastikan dia membayar tepat waktu, Nyonya Han." Jawab Xin Baozhai acuh tak acuh.
Inilah yang disukai Nyonya Han dari bosnya. Selain, dia adalah pemuda yang sangat energik, sangat tampan, dia juga pribadi yang tegas dan perhitungan dalam berbisnis. Itulah sebabnya, usaha kedai teh ini tidak pernah mengalami kesulitan dana. Reputasinya pun sudah terkenal hingga ke negara tetangga.
Meski semenjak kedai ini berpindah tangan ke Xin Baozhai pelanggannya bertambah dengan jumlah pelanggan wanitanya yang lebih banyak. Mereka para perempuan datang ke kedai ini, terkadang hanya untuk melihat seberapa cantiknya pemilik kedai. Mereka rela membeli berbagai macam teh, hanya untuk memastikan rumor yang beredar di masyarakat bahwa Xin Baozhai adalah pria yang sangat tampan, dan kedatangan mereka tak sia-sia. Karena Xin Baozhai memang sangat tampan, kulitnya putih kekuningan dan mulus, wajahnya memiliki fitur yang sangat menyenangkan, dengan alis tebal dan tegas, dagunya lancip dengan bibir yang penuh dan berwarna seperti buah plum. Bisa dikatakan, Xin Baozhai setampan Dewa!!