02. Tusuk Rambut Giok
Pagi hari yang cerah itu Zhei Yan bersama dengan seorang gadis muda yang elok rupanya berjalan dengan cepat menuju paviliun di belakang Rumah Bunga. Berkali-kali ia mengingatkan pada gadis itu untuk bersikap dengan baik dihadapan si pemiliki Rumah Bunga ini. Gadis itu menggunakan Qipao sederhana berwarna kusam yang sepertinya tak pernah diganti. Namun tak menyembunyikan wajah cantiknya. Dengan hati-hati Zhei Yan mengetuk pintu, setelah beberapa kali kemudian seseorang membuka pintu untuknya. Cheng Hao pengawal yang selalu mengekor di belakang Li Hua yang berada di balik pintu, wajahnya muram melihat Zhei Yan pagi-pagi sudah datang ke paviliun.
"Apakah Bibi Hua sudah bangun?" tanya Zhei Yan was-was karena sepertinya Cheng Hao tidak dalam suasana hati yang baik. Wajahnya muram, bibirnya hanya segaris tipis dengan kerutan di antara kedua alisnya yang rasanya sulit sekali untuk diuraikan.
"Kau fikir dia pemalas?" sahut Cheng Hao dengan tajam. Zhei Yan menelan ludahnya, begitu juga dengan gadis yang dibawanya gemetar ketakutan di balik tubuh Zhei Yan. Mata Cheng Hao menilai gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, gadis itu terlihat polos. Tapi, Cheng Hao tak mudah percaya dengan siapapun. "Kenapa kau membawa orang asing kemari?" tanya Cheng Hao kasar.
"Ini Da Xiao, dia akan membantu Bibi Hua di paviliun," terang Zhei Yan, dia berharap Cheng Hao akan membiarkannya lewat. Karena Zhei Yan benar-benar tidak sanggup berhadapan dengan Cheng Hao yang galak lebih lama lagi.
"Kau berfikir kami membutuhkan orang lain di paviliun ini, pergi sana!" hardik Cheng Hao, membuat Zhei Yan dan Da Xiao tersentak.
"Hao ge..." Suara merdu nan lembut itu menarik perhatian mereka. Cheng Hao menoleh, dan mendapati seorang wanita dengan penutup wajah mendekatinya bersama Zhang Zhilin yang menggamit lengannya.
"Nona…" Cheng Hao memberi salam pada Li Hua.
"Kenapa pagi-pagi begini sudah ribut?" tanya Li Hua, pandangan matanya kemudian menangkap Zhei Yan dan gadis yang berdiri di sampingnya dengan wajah yang ketakutan itu. Sama halnya dengan Cheng Hao, dirinya merasa terusik. Kenapa ada orang lain yang dibawa ke paviliun ini. Namun melihat bagaimana gadis itu terlihat sangat takut, Li Hua tak punya pilihan lainnya.
"Orang ini membawa orang lain kemari, dia fikir bisa seenaknya saja disini?" ungkap Cheng Hao kesal.
"Maafkan aku, aku hanya membawa satu gadis pelayan untuk membantu pekerjaan disini, dia bisa dipercaya dan sangat baik dalam bekerja" jelas Zhei Yan membela dirinya.
"Siapa namanya??" Bibi Hua berjalan mendekat pada gadis yang ada di belakang Zhei Yan.
"Nama, nama saya Da Xiao, Nona.” Gemetarnya suara gadis itu membuat Li Hua tidak tega. Itu mengingatkannya pada dirinya sendiri yang sering ketakutan ketika berhadapan dengan orang baru dulu.
"Berapa umurmu??"
"Saya masih 14 tahun, Nona"
Li Hua mendesah, menghela nafasnya pelan-pena, gadis sebelia dia harus bekerja sebagai pelayan. Jika dia di tempatkan di Rumah Bunga, maka ia akan mendapatkan pekerjaan yang sangat berat. Di Paviliun setidaknya, pekerjaannya tidak akan seberat di Rumah Bunga. Bisa jadi gadis yang seharusnya masih menikmati masa remajanya itu malah jadi sasaran p****************g jika terus bekerja di dalam Rumah Bunga.
"Gadis secantik dirimu, kenapa bekerja sebagai pelayan di tempatku?" Li Hua mengulurkan tangannya yang seputih salju dan menyentuh tangan gadis itu sambil menggenggamnya dengan lembut. Da Xiao terhenyak, ia mendongak untuk menatap Li Hua, namun yang ia lihat hanyalah penutup wajah Li Hua. Ada perasaan takjub yang muncul di hati Da Xiao ketika tangannya bersentuhan dengan tangan majikannya yang bagaikan batu pualam
"Saya membantu kakak saya untuk mencari uang, ibu kami sakit-sakitan,"
"Begitu rupanya," Li Hua menjadi semakin prihatin. Hidupnya di Istana selama ini begitu mudah, semua serba ada, melihat gadis semuda Da Xiao membuat hatinya merasa tercubit.
"Zhilin…” panggil Li Hua pada Zhang Zhilin, gadis berhanfu biru itu mendekat. "Berikan kantong uangku." pintanya sambil menengadahkan telapak tangannya pada Zhang Zhilin.
Tanpa bertanya apapun, Zhang Zhilin memberikan kantong uang itu pada Li Hua. Kemudian, Li Hua meraih tangan gadis itu dan meletakkan kantong uangnya kepada Da Xiao. Mendapatkan sekantong uang itu, tangan Da Xiao gemetar kemudian ia menjatuhkannya. Merasa bersalah Da Xiao kemudian berlutut di hadapan Bibi Hua.
"Maafkan aku nona, maafkan aku, aku tidak bisa menerima uang ini tanpa bekerja." ucap Da Xiao sembari mengambil kantong uang di lantai kemudian mencoba memberikannya kembali kepada Bibi Hua.
Tiba-tiba tubuh Bibi Hua bergetar hebat, dan bersamaan dengan itu terdengar suara tertawa yang membuat semua orang heran.
"Siapa yang bilang kau akan mengambil uang itu tanpa bekerja??" tanyanya ketika tawanya telah berhenti. "Hari ini, ambil uang itu lalu kembalilah ke rumahmu dan bawa Ibumu ke tabib terbaik yang ada di Luoyang, dan datanglah ke paviliunku setiap hari Minggu, ingat setiap Minggu saja." imbuh Li Hua
"Tapi Nona??"
"Yan ge…” Li Hua memanggil Zhei Yan yang mematung di sampingnya. "Bawa Ibu gadis ini ke tabib yang terbaik, dan jelaskan padanya apa yang aku katakan tadi, hari ini aku mau jalan-jalan."
"Ah, Baiklah..." Zhei Yan kemudian merangkul bahu Da Xiao. Membawanya menjauh dari Li Hua.
"Ayo Zhilin, kita jalan-jalan." Kedua pengikutnya, Zhang Zhilin dan juga Cheng Hao mengikuti Li Hua yang sedang sangat baik suasana hatinya hari ini.
Mereka pergi ke pasar, Li Hua menggamit lengan Zhang Zhilin di sampingnya dan Cheng Hao berjalan beberapa langkah di belakangnya. Memasuki pasar wajah Bibi Hua langsung begitu cerah, meski tak ada siapapun yang menyadarinya. Ia sangat suka sekali ke pasar pada saat ada festival seperti ini. Alangkah lebih baiknya jika ia bisa pergi saat malam hari, karena hiasan lampu dan lampion yang menyala akan membuat pemandangan dalam pasar menjadi lebih indah lagi.
Melihat seseorang pria tambun menjual tanghulu* menarik minat Li Hua. Ia menarik lengan Zhang Zhilin untuk pergi ke penjual tanghulu itu. Salivanya memenuhi rongga mulutnya saat melihat tanghulu berwarna merah dan tengah dicelupkan ke dalam gulali cair, ia menelan ludahnya berkali-kali. Untung saja ia memakai penutup wajah, jika tidak semua orang akan mengejeknya.
"Paman Aku mau tanghulunya, umm…" Li Hua berfikir, " empat ya!" Serunya lagi.
"Hua jie…kenapa beli banyak sekali??" protes Zhang Zhilin
"Tentu saja, untukmu satu, Hao ge satu," Terang Li Hua sambil menunjuk pada Zhang Zhilin dan Cheng Hao bergantian.
"Dan kau dua??" goda Zhang Zhilin sambil tertawa kecil. Li Hua mengangguk saja.
Paman penjual tanghulu itu kemudian mengambil empat tusuk tanghulu berwarna merah, lalu mencelupkannya ke dalam gulali yang kecoklatan. Mata Li Hua tak beralih dari tiap gerakan paman penjual. Setelah usai, ia langsung menyambar permen itu, Dan meminta Zhang Zhilin membayarnya. Namun disisi lain, Cheng Hao hanya memandangi permen yang di suguhkan padanya. Ia melipat tangannya di d**a.
"Hao ge, ayo cepat ambil permennya, aku masih ingin ke tempat yang lain." Li Hua sebenarnya tahu bahwa Cheng Hao tidak menyukai permen, tapi ia suka menggoda pria galak itu.
Terpaksa, Cheng Hao menuruti apa kata Li Hua. Ia menyambar permen itu kemudian berjalan mengikuti dibelakang kedua gadis yang sedang asyik memakan permen sambil melihat-lihat ke penjual.
"Hua jie sepertinya kau butuh beli sepatu baru, sepatumu kan sudah usang." Zhang Zhilin menyarankan saat mereka melewati toko sepatu. Li Hua menunduk untuk melihat kebawah, sepatu putihnya yang terbuat dari bulu angsa masih terlihat baik-baik saja. Ia pun menggeleng, kemudian mereka melewati penjual sepatu.
Sesaat kemudian, Bibi Hua menangkap penjual kain sutra yang memajang berbagai macam kain terbaiknya di depan toko. Li Hua tertarik, ia melepaskan genggamanya di lengan Zhang Zhilin, kemudian mendekati penjual kain sutera itu.
"Bibi, apa kau punya kain sutera terbaik??" tanyanya pada Bibi penjual yang sudah separuh baya itu.
"Tentu saja, kain di tokoku ini adalah yang terbaik di pasar!!" serunya dengan bangga.
"Kalau begitu perlihatkan padaku" pinta Li Hua.
Menyadari keberadaan Li Hua yang cukup jauh, Zhang Zhilin segera menyusulnya dengan berlari kecil di temani oleh Cheng Hao.
"Untuk apa beli kain?" tanya Zhang Zhilin
"Aku ingin membuatkan pakaian untuk Shen gege." kata Li Hua sambil tersenyum hangat, pikirannya melayang membayangkan bagaimana kakaknya, Yuan Shen akan senang menerima pemberiannya nanti.
"Bibi aku mau sutera dengan warna giok" Li Hua memberitahu pemilik toko itu.
"Kan kau yang ulang tahun, kenapa malah memberikan Pangeran Muda hadiah, aneh sekali."
Li Hua hanya mengangkat bahunya. Dia tidak peduli dengan ulang tahunnya. Toh tidak akan ada bedanya. Setelah membeli kain, perjalanan mereka pun berlanjut. Hingga sebuah benda berkilau tertangkap oleh pandangan mata Li Hua. Setengah berlari dia mendekati pemilik toko perhiasan. Zhang Zhilin yang melihat tingkah Li Hua hanya bisa mengusap dadanya.
"Ada apa dengan berjalan pelan-pelan saja? Dia bisa saja menginjak hanfunya sendiri dan terjatuh nanti," Gerutu Zhang Zhilin.
"Sudahlah, dia lebih tahu daripada kau, Zhilin," balas Cheng Hao.
Tangan seputih salju milik Li Hua hendak meraih sebuah tusuk rambut giok dengan ukiran bunga persik diujungnya. Namun saat tangannya sudah menyentuh tusuk rambut, seseorang yang lain pun menyentuhnya. Hingga keduanya sama-sama menggenggam tusuk rambut giok itu.
"Tuan, Aku sudah mengambilnya lebih dulu," ujar Li Hua, ia terdengar sangat dongkol sambil menggenggam erat tusuk rambut itu, tak ingin melepaskannya.
"Maaf Nyonya, Akulah yang menyentuh tusuk rambut ini lebih dahulu, jadi ini akan menjadi milikku!" rupanya pria itu tak ingin mengalah.
"Tidak, jelas-jelas aku yang lebih dulu, lagipula untuk apa pria sepertimu menggunakan tusuk rambut wanita?" Li Hua mencoba menarik tusuk rambut itu, tapi sayangnya dia gagal. Pria itu memiliki genggaman tangan yang cukup kuat.
Tiba-tiba sebuah gagang pedang sudah menyilang di antara kedua orang yang tengah berebut tusuk rambut itu. Cheng Hao berdiri di depan Li Hua, dan memberikan tatapan tajam pada Pria yang mencoba mencari masalah dengan Li Hua.
"Astagaa Tuan Muda Baozhai, kenapa anda tidak mengalah saja pada Nona ini" ujar pemilik toko yang takut jika hanya karena sebuah tusuk rambut yang tidak berharga itu ada orang yang bertengkar.
"Aku tidak jadi membelinya!" Tiba-tiba Xin Baozhai dan Li Hua mengatakan hal yang sama secara bersamaan. Mereka berdua dengan kasar meletakkan kembali tusuk rambut giok itu di meja toko. Li Hua langsung berbalik dan berjalan pergi karena kesal.
"Ayo Hao ge, aku sudah lelah!" katanya kesal. ia berjalan menjauh dari pria menyebalkan yang tidak mau mengalah dengan tusuk rambut itu.
Siapa namanya tadi? Baozhai? Li Hua mencoba mengingatnya! Ah tidak. Ia akan melupakannya sepulang ke paviliunnya. Untuk apa mencoba mengingat seseorang yang merusak suasana hatinya.
••••
Melihat wanita berhanfu putih itu menjauh, ada sesuatu yang dirasakan oleh Xin Baozhai. Seperti perasaan bersalah. Ia kemudian melihat kembali tusuk rambut giok itu, ia ingin menghadiahkannya kepada adiknya yang masih berusia 10 tahun, Xin Ruolan. Tapi urung karena perselisihannya yang baru saja terjadi.
Lantas siapa wanita itu sebenarnya? Mengapa ia menggunakan penutup wajah di siang hari seperti ini. Mencoba mengingatnya kembali, Pria yang mencoba melindunginya tadi, seperti tidak asing bagi Xin Baozhai. Pedangnya!! Pedang semacam itu, dengan ukiran naga tembaga di pegangannya hanya dimiliki oleh prajurit khusus istana. Apakah wanita itu seorang puteri? Selir? Kenapa pula anggota kerajaan berjalan-jalan ditengah pasar yang ramai sesak seperti ini.
"Kau mengenal wanita itu, Bibi?" tanya Xin Baozhai pada pemilik toko.
"Bagaimana aku bisa mengenalinya, Tuan muda.. Dia menggunakan penutup," jawab Bibi pemilik toko dengan menggelengkan kepalanya. Benar juga jawabannya. Xin Baozhai merasa bodoh telah menanyakan pertanyaan bodoh semacam itu.
"Baiklah, aku akan beli giok ini, dan giok delima ini," Xin Baozhai mengambil tusuk rambut yang tadi ia ributkan dan satu lagi tusuk rambut giok dengan ukiran berwarna merah diujungnya.
Setelah membeli tusuk rambut itu, Xin Baozhai kembali berjalan menyusuri pasar. Beberapa anak kecil berlarian, salah satunya hampir menabrak dirinya. Xin Baozhai tertawa kecil, ia terhibur dengan keadaan pasar yang ramai. Beberapa langkah berjalan, perut Xin Baozhai berbunyi dengan keras. Dia kelaparan. Xin Baozhai menertawai dirinya sendiri, karena ini pertama kalinya ia melupakan makan pagi dan langsung berkeliling pasar. Untung saja di depannya, adalah kedai makanan. Tanpa fikir panjang, Xin Baozhai duduk di salah satu meja yang kosong.
"Bibi, dua mangkuk ya!!" teriaknya pada penjual mi.
Dengan perut keroncongan, sambil menunggu pesanannya datang Xin Baozhai terus memperhatikan sekitarnya. Tak jauh di depannya, ada penjual kue beras yang mengingatkannya pada Ibu Da Feng. Bagaimana kabar ibu Da Feng sekarang, membuat Xin Baozhai kefikiran.
Lalu, tak jauh dari penjual kue beras itu, ada penjual topeng yang beragam. Biasanya, penduduk merayakan festival Bunga dengan menggunakan topeng. Saat Festival Bunga, penduduk akan berkumpul di alun-alun kota, mereka menari bersama, sambil menyanyi dengan mengelilingi api unggun yang sangat besar. Sebagian besar penduduk utamanya anak-anak dan remaja akan menggunakan topeng. Setelah itu, mereka akan berpawai sepanjang jalan kota sambil menari dan menyanyi.
"Ini pesanan anda Tuan." kata penjual Mi. Di hadapannya tersedia mi kuah dengan irisan d**a ayam yang menggugah selera Xin Baozhai.
"Terimakasih banyak.” balas Xin Baozhai sambil tersenyum. Mengambil sumpit, ia kemudian memakannya dengan lahap seolah ia sudah tidak makan selama berhari-hari.
Setelah menghabiskan dua mangkuk mi itu, Xin Baozhai menghela nafasnya. Ia begitu kenyang hingga rasanya tak kuat untuk berdiri. Tapi ia cukup puas karena mi yang ia makan begitu nikmat rasanya.
"Apa kau dengar, bahwa pemilik Rumah Bunga akan menampakkan dirinya nanti malam?" sebuah suara menarik perhatian Xin Baozhai karena ia menyebutkan nama Rumah Bunga. Dia mendapati dua pria di depannya sedang bergosip tentang Rumah Bunga.
"Ya aku dengar itu, apa kau percaya pemiliknya masih muda, katanya akan ada perayaan ulang tahunnya yang ke 18."
"Apa benar pemilik Rumah Bunga semuda itu?? Mustahil, itu hanya rumor palsu!"
"Bagaimana kalau kita pergi saja kesana, mereka menyajikan anggur persik gratis untuk nanti malam, dan kita bisa melihat seperti apa pemilik Rumah Bunga itu."
Setelah cukup mendengarkan percakapan dua pria yang terobsesi dengan pemilik rumah bunga itu, Xin Baozhai beranjak setelah memberikan 2 keping koin di atas meja pemilik toko. Ia kemudian kembali ke kedai miliknya, yang rupanya baru dia sadari letaknya berada di ujung pasar, tepat dipersimpangan jalan. Sungguh hebat, Xin Baozhai melakukan perjalanan jauh.
Perjalanan Xin Baozhai terhenti hanya beberapa meter di depan kedainya. Karena Da Feng berjalan berlawanan arah padanya. Melihat bosnya, Da Feng pun berhenti. Namun, Xin Baozhai tampak tidak senang karena Da Feng tidak memanfaatkan hari liburnya dengan baik.
"Kenapa kau tidak libur, Da Feng??" Tanya Xin Baozhai dengan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
"Aku hanya memastikan bahwa pekerjaanku selesai sebelum aku berlibur Tuan Muda," Jawabnya jujur "Ah, dan aku mengambil sedikit bunga Chamomile untuk ibuku," lanjutnya lagi sembari menunjukkan kantong berwarna putih pada Xin Baozhai.
"Beralasan, sekarang berlarilah ke rumah Da Feng, atau aku akan memenjarakanmu kedaiku!!"
"Baik Tuan, ohya Tuan apa Tuan tidak pergi ke rumah bunga malam ini??" Pertanyaan Da Feng membuat Xin Baozhai kesal hingga menyatukan alisnya. Kenapa semua orang membicarakan Rumah Bunga di sekitarnya, apakah tidak ada hal lain yang bisa dibicarakan?
"Aku ingin sekali kesana, aku ingin berterimakasih pada Bibi Hua" Lanjut Da Feng.
"Bibi Hua? Siapa itu?" Alis Xin Baozhai terangkat.
"Pemilik Rumah Bunga, dan dia sudah memberikan adikku satu kantong uang untuk membantu pengobatan Ibukku."
"Jadi pemiliknya sudah cukup berumur?" gumam Xin Baozhai dan ia ingin sekali tertawa saat ini. Wanita pemilik Rumah Bunga itu pasti terobsesi menjadi gadis belia lagi, hanya dia yang merayakan ulang tahunnya yang ke 18 saat semua orang memanggilnya Bibi.
"Apa Tuan tidak ingin kesana??" Tanya Da Feng lagi.
"Entahlah, sudah sana kembali ke rumahmu" Ucap Xin Baozhai sembari mengibaskan tangannya. Setelah memastikan bahwa Da Feng benar-benar pergi, Xin Baozhai memasuki kedainya.
Kedai itu tak hanya kedai baginya, tapi juga merupakan sebuah rumah untuknya. Keluarganya yang lain tinggal di Wenzhu, sedangkan Xin Baozhai sangat menyukai kedai yang diwarisinya ini. Bukan karena ini sebuah warisan, tapi Xin Baozhai sangat brilian di bidang teh. Ia sudah mempelajari berbagai macam teh, sejak usianya masih dini. Sejak ayah angkatnya Xin Baoyu mengajarinya sejak dini.
Memasuki kedainya, Xin Baozhai langsung berjalan ke belakang kedainya dimana kediamannya berada. Halaman rumahnya terdapat begitu banyak nampan yang dijemur berbagai macam daun teh dan bunga. Sebagian sudah mengering, dan sebagian lagi masih segar. Xin Baozhai tersenyum, ini adalah pekerjaan Da Feng. Anak itu sangat rajin bekerja di banding pegawainya yang lain. Dia tidak suka jika pekerjaannya tertunda.
"Anak itu." decak Xin Baozhai, kemudian ia masuk kedalam rumahnya. Membuka hanfu biru mudanya dan menggantinya dengan Qipao sederhana berwarna cokelat. Ia mengikat rambutnya kebelakang, kemudian menggulung lengan bajunya hingga ke siku.
Xin Baozhai kembali ke kedainya, ke ruang pengolahan kedainya. Ia memilah-milah bunga kuning kecoklatan, bunga krisan. Setelah mengambil dalam jumlah yang cukup, Xin Baozhai pergi ke ruang penggilingan dan menggiling bunga krisan yang kering itu. Hingga beberapa jam kemudian Xin Baozhai terus saja menggiling bunga yang sudah kering. Melakukan pekerjaan tanpa henti merupakan tanda bahwa Xin Baozhai sedang memikirkan sesuatu secara mendalam.
Rumah Bunga.
Pemikirannya berakar dari tempat hiburan itu. Mulai dari pemesanan teh dalam jumlah besar, kemudian pemiliknya yang menjadi buah bibir penduduk sekitar, apalagi setelah membantu keluarga pekerjanya. Mungkin ini adalah hal yang sepele, tapi bagi pengusaha seperti Xin Baozhai sebenarnya sangat penting baginya untuk mengenal pelanggannya.
Setelah menyelesaikan gilingan terakhirnya, Xin Baozhai membersihkan dirinya kemudian menggunakan pakaian terbaiknya. Ia menggunakan Hanfu berwarna giok yang membuatnya terlihat lebih tampan dan tampak bercahaya. Lagi-lagi Xin Baozhai berjalan melewati pasar, sebentar lagi festival akan dimulai. Penduduk sudah keluar dari rumah mereka masing-masing, memenuhi jalanan, dan berjalan berlawanan arus dari Xin Baozhai. Namun, pria itu tetap menikmatinya dan berjalan dengan anggun sambil kedua tangannya tertaut di balik punggungnya. Ia tak berjalan terburu-buru karena cahaya dari lampion yang tergantung begitu indah jika harus dilewatkan. Selain itu, ia kelelahan karena mengalihkan fikirannya tentang prasangkanya tentang Rumah Bunga.
Hingga pada akhirnya, langkah Xin Baozhai tetap berakhir di depan gerbanh besar yang atapnya di pasangi lampion berwarna merah, di atas pintu tertulis dengan sangat besar menggunakan kaligrafi "Rumah Bunga", di sisi gerbang terdapat papan nama. Konon katanya, papan itu menunjukkan 5 terbaik ranking gadis penghibur di rumah Bunga setiap minggunya. Semakin tinggi rangkingnya, maka dia semakin mahal.
Papan paling atas tertulis nama, Xiao Mey, berurutan Yi Shenruo, Hwang Jin Yi, Li Qian, Dan terakhir Wei Lan. Nama-nama itu membuat kening Xin Baozhai berkerut dalam. Dia tidak menemukan satu nama pun dengan rangkaian kata 'Hua' diantara nama-nama itu. Hal ini semakin membuatnya yakin, bahwa Bibi Hua itu bukanlah seorang gadis yang berusia 18 tahun, tapi wanita paruh baya yang berharap dirinya masih muda. Xin Baozhai berdecak.
Namun, Xin Baozhai tetap melangkah masuk ke dalam rumah bunga bersama dengan pria dan wanita dari kalangan elit. Ketika ia sudah mencapai penjaga langkahnya di hentikan.
"Tuan, apakah tuan memiliki undangan resmi??" tanya penjaga itu.
"Tidak, apakah harus menggunakan undangan resmi?" tanya balik Xin Baozhai dengan bodohnya.
"Untuk memasuki ruang utama anda harus mrnggunakan undangan resmi dari Bibi Hua, jika tidak anda bisa naik ke lantai dua dan menikmati pertunjukan dari sana." Jelas penjaga itu sambil menunjukkan lantai dua yang penuh sesak dengan manusia.
"Ahh begitu ya, baiklah kalau begitu" Xin Baozhai kemudian berjalan ke arah samping, menaiki tangga dan ia langsung diarahkan pada lantai dua rumah bunga itu.
Rupanya, Lantai dua sudah di penuhi oleh banyak orang. Kebanyakan dari mereka adalah pria dan penasaran bagaimana rupa wujud Bibi Hua yang tersohor itu. Tidak sedikit pula yang datang karena ingin merasakan nikmatnya anggur persik yang terkenal di seluruh negeri.
Sangat sulit bagi Xin Baozhai mendapatkan tempat duduk. Semuanya telah digunakan. Akan tetapi, Ia tak menyerah dan tetap mencari tempat duduk yang masih kosong.
"Tuan muda!!" Seru sebuah suara. Xin Baozhai mencari sumber suara tersebut. Ia menoleh ke kanan, dan ke kiri. Kemudian mendapati seorang anak lelaki yang melambaikan tangan ke arahnya. Da Feng.
"Tentu saja dia ada disini." gumam Xin Baozhai. Terpaksa, dia berjalan mendekati Da Feng, wajah pemuda itu begitu sumringah melihat bosnya datang ke Rumah Bunga.
"Kenapa Tuan ada disini??" tanya Da Feng yang sangat antusias.
"Kenapa aku ada sini? haha" Xin Baozhai tertawa, Mentertawakan dirinya sendiri. "Aku sendiri tidak tahu mengapa aku ada disini," balasnya jujur. Dia sendiri hanya mengikuti kata hatinya, karena semua orang di sekitarnya terus saja mengoceh tentang pemilik Rumah Bunga, mungkin itu sebabnya kini ia duduk diantara keriuhan lantai dua Rumah Bunga yang diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak memiliki undangan dari si Pemilik Rumah Bunga.
Xin Baozhai mendesah. Dia merasa terjebak di tempat ini. Tidak! Dia telah menjebak dirinya sendiri untuk datang ke tempat ini.
to be continued.....