03: Di Balik Penutup Wajah

3074 Words
03: Di Balik Penutup Wajah Empat penari dengan hanfu yang terbuka di bagian dadanya itu meliuk-liukkan tubuhnya di atas panggung yang terletak di tengah ruang utama. Pengunjung bersorak gembira, mereka terlihat begitu terhibur dengan pertunjukkan para penari yang sangat cantik itu. Xin Baozhai memperhatikan bagaimana keindahan yang terpampang nyata di depannya saat ini, sementara itu pelayan-pelayan berlalu lalang menuangkan anggur persik pada setiap pengunjung, anggur yang katanya nikmat itu, tapi Xin Baozhai sendiri tak begitu tertarik ingin minum saat ini. Ia sedang menunggu, menunggu pertunjukkan tarian itu berakhir. Menunggu kemunculan Li Hua. Setelah merasa terjebak oleh keinginannya sendiri, setidaknya dia harus keluar dari tempat ini dengan hasil. Agar dia tidak lagi terganggu jika ada orang-orang yang membicarakan si pemilik Rumah Bunga yang begitu misterius karena diselubungi oleh banyak rumor itu, selain itu dia juga ingin tahu sebenarnya bagaimana rupa pelanggannya ini. "Kapan Bibi Hua yang terkenal itu muncul??" tanya Xin Baozhai pada Da Feng yang sangat menikmati tarian gadis-gadis di lantai bawah. Pemuda itu tersenyum-senyum dengan sendirinya setiap kali matanya terfokus pada tarian indah di bawah itu. "Bibi Hua akan tampil setelah gadis-gadis rumah bunga selesai." sahut seorang pria tambun dibelakang Xin Baozhai. Ia menoleh dan mendapati pria itu tengah mabuk di belakangnya, hal itu terlihat jelas karena pipinya memerah. Ini masih awal pertunjukkan dan orang itu sudah mabuk berat, apakah pria itu akan bertahan sampai Bibi Hua muncul? Batin Xin Boazhai Dia terlalu mabuk, fikir Xin Baozhai sembari menggelengkan kepalanya. Namun ada yang aneh jika diperhatikan lagi, pria tambun itu membawa pedang, pria di depannya juga sama. Kemudian ia melihat kembali ke lantai bawah. Banyak pria bersenjata dilantai bawah. Banyak pendekar yang diundang, cukup menarik sekali Rumah Bunga ini. Ia tidak hanya terkenal di kalangan elit pemerintah, tapi juga para pendekar dari dunia persilatan. Pertunjukkan selanjutnya, seorang gadis dengan hanfu berwarna biru muda dengan selendang yang begitu panjang mulai naik ke atas panggung, dua tangannya membawa kipas, ia mulai menari saat musik dimainkan. Gadis itu memang cantik, apalagi dengan tubuh yang indah. Pantas jika di akhir pertunjukkannya, banyak pria menawarnya dengan harga yang cukup tinggi. Hingga akhirnya, seorang pendekar dengan luka di alisnya mendapatkan malam indah dengan gadis itu. "Mungkin aku akan mati bosan sebelum melihat wanita itu," gumamnya karena Xin Baozhai hampir kehilangan kesabarannya untuk menunggu lebih lama lagi. Mengapa hanya ingin melihat satu wanita saja dia harus menunggu begitu lama, apakah wajahnya memang semahal itu sampai membuat semua orang di sini menunggu? "Bersabarlah sebentar lagi, Tuan Muda." Da Feng memberikan semangat pada Xin Baozhai agar tidak berpikir untuk pergi dari tempat ini. Xin Baozhai heran, mengapa Da Feng betah sekali disini. Kecuali alunan musik, Xin Baozhai tak menyukai yang lain. Dia sendiri terlatih untuk memainkan Guqin dan Dizi, dan permainan musik di rumah Bunga cukup menghiburnya. "Aku akan menawar 100 tael perak!!" seru seseorang yang membuat Xin Baozhai terheran, ia akhirnya kembali melongok kebawah. Dia sudah melewatkan beberapa pertunjukkan gadis Bunga. Di bawah sana, ada seorang gadis dengan hanfu merah yang mencolok karena kain hanfunya yang tipis itu cukup transparan hingga semua orang bisa melihat pada lapisan terdalam gadis itu. Rambutnya panjang tergerai, ia memiliki bibir yang tipis dengan pewarna merah, membuatnya tampak berapi-api. "Dia mahal sekali." decak Xin Baozhai "Itu adalah Xiao Mey, dia hanya melayani elit pemerintahan." sahut Pria tambun yang sudah mabuk berat itu. "Lalu berapa harga Bibi Hua?" timpal Xin Baozhai. "Ahh itu dia!!!" pekik seseorang sembari menunjuk ke arah pintu masuk. Spontan Xin Baozhai melihat ke bawah lagi. Dia melihat seorang gadis yang jauh lebih mudah dari perkiraannya dengan hanfu putihnya berjalan melewati tengah-tengah pelanggan yang mana para pengunjung undangan tersebut menjadi terdiam seketika dan terpana akan sosok yang sedang berjalan di antara mereka. Sayangnya, Xin Baozhai hanya bisa melihat rambut hitam panjang yang tergerai mungkin di bawah lutut. Gadis itu berjalan dengan membawa Guqin di gendongannya, ia pun tak sendiri. Seorang pemuda mengikutinya dari belakang. Pemuda yang tidak asing bagi Xin Baozhai. Xin Baozha mencoba mengingat-ingat di mana tepatnya dia pernah berjumpa dengan pria itu, ingatannya pun kembali membawanya pada saat dia berada di pasar dan berebut tusuk rambut di sebuah toko siang tadi. "Pemuda itu.." gumannya. "Jadi dia si Tusuk rambut,” ujarnya sembari memfokuskan pandangannya hanya pada Li Hua. Tiap detiknya Xin Baozhai tak melewatkannya, ia dengan sabar menantikannya. Gadis itu berjalan ke panggung. Saat gadis itu membalikan tubuhnya ketika itu juga dunia Xin Baozhai seolah berjalan dengan sangat-sangat-sangat lamban. Ia bisa melihat bagaimana rambut gadis itu terkibas, saat tangan rapuhnya menata Guqin diatas panggung dan tak meminta bantuan dari pengawalnya, ketika dia mulai duduk. Xin Baozhai butuh lebih dekat lagi meski dari tempatnya duduk dengan jelas dia bisa melihat betapa cantiknya gadis itu, matanya yang lebar dan berbentuk seperti almond, lembut tapi sangat fokus, Kulitnya yang putih, hampir seputih pakaiannya, bibirnya yang tipis sewarna bunga persik. Wajah kecilnya pun tampak begitu sempurna. Dia seperti seorang dewi yang baru saja turun dari langit. "Dia sangat cantik sekali, aku bahkan rela jika harus menjual diriku asalkan bisa bersamanya." kata seorang pria mabuk di belakang Da Feng, yang mengusik pendengaran Xin Baozhai. "Gadis secantik itu kenapa di panggil Bibi??" timpal pria lainnya. "Aku rela meninggalkan segalanya demi mendapatkannya." "Jangan bermimpi kau, haha, kau tidak akan bisa membayarnya!" "Kudengar dia tidak pernah melayani siapapun." "Benarkah? Jadi dia belum dipetik" Belum dipetik? Batin Xin Baozhai yang bingung dengan perdebatan semua pria di lantai dua yang riuh ini. Sebenarnya selain kecantikan yang seolah tiada tanding itu apa yang membuat Li Hua istimewa? Dia hanya pemilik rumah hiburan saja! Xin Baozhai kembali fokus pada gadis yang sangat rupawan dibawah sana. Memang jika dibandingkan dengan gadis bunga yang lain, gadis itu jauh lebih cantik sangat cantik malah, ia tak menggunakan terlalu banyak riasan. Hanfunya tertutup dan tidak transparan, ia bahkan memiliki pengawal pribadi dari keluarga kerajaan, yang berarti gadis ini memiliki perlindungan dari kerajaan, dan entah apa hubungannya ia dengan kerajaan, hal ini membuat gadis yang menyandang nama Bibi Hua ini menjadi lebih menarik. Jemari lentik Bibi Hua mulai ia jentikkan ke senar Guqin, semua pengunjung hening. Xin Baozhai pun terdiam, ia terfokus pada Bibi Hua. Menikmati alunan Guqin yang terdengar memilukan dan sedih. Melodi Guqin itu berhasil membuat Xin Baozhai menitikkan air matanya tanpa sadar. "Tuan muda…"Da Feng memanggilnya ketika gemuruh tepuk tangan memenuhi seluruh ruangan saat permainan Guqin Bibi Hua telah usai. "Ada apa?" "Kau menangis???" tanya Da Feng yang menahan tawanya. "Tidak, mataku kelilipan sesuatu sepertinya!!" dalih Xin Baozhai lalu mengucek matanya. Tidak ingin mempermalukan majikannya, Da Feng menerima alasan itu dengan mengangguk. "Ayo Zhei Yan, berapa harga yang dipatok untuk mendapatkan Bibi Hua?" Mata Xin Baozhai fokus pada pria dengan pakaian berwarna hitam dengan aksen merah yang mengucapkan kata-kata tidak sopan seperti itu. Laki-laki yang bermana Zhei Yan itu mendekati Bibi Hua. Ia berbisik sesuatu pada gadis itu. Mengangguk-angguk kemudian berdiri di hadapan semua pelanggan. "Malam ini adalah pertama kalinya Bibi Hua tampil di tengah kita semua, dan ini juga akan menjadi terakhir kalinya." Zhei Yan mengungumkan yang membuat semua pengunjung kecewa. "Dan, karena malam ini adalah malam ulang tahun Bibi Hua yang ke 18, dia sudah memutuskan bahwa, siapapun yang memberikan hadiah terbaik untuknya, maka Bibi Hua akan bersama dengannya." Sangat menarik, gadis ini. Batin Xin Baozhai. Sayang sekali dia tidak membawa apapun untuk diberikan pada gadis itu. "Sangat adil!!" Semua pengunjung berlomba memberikan Hadiah terbaiknya. Ada seseorang yang memberikan satu peti uang koin, ada yang memberinya guci keramik, lalu ada yang memberikannya 2 tael emas, beragam barang yang lainnya. Semua hadiah-hadiah itu di bawa oleh pelayan rumah bunga yang berdiri berjajar di hadapan Bibi Hua. Ini semakin menarik karena gadis itu sendiri yang akan memilih hadiah terbaiknya. Ia berjalan satu persatu melihat berbagai macam hadiah itu. Namun sepertinya tidak satupun hadiah itu menarik minatnya. "Jadi apa yang dia suka sebenarnya?" gerutu Xin Baozhai yang tidak sabar siapa yang akan dipilih oleh sang gadis. "Bibi Hua!!" seru seorang gadis yang berlari kearah Bibi Hua. Perhatian semua orang pun teralihkan, gadis itu membawa sepasang sepatu, berwarna putih dengan jahitan Bunga persik di sisinya. "Seseorang memberikan ini." katanya saat sudah berhadapan dengan Li Hua. "Ini adalah hadiah terbaik malam ini!" Seru Li Hua dengan senyuman yang lebar, ia terlihat sangat cantik saat bibirnya terteraik dan membuat sebuah lengkungan dan matanya menyipit penuh kebahagiaan. "Memangnya apa yang istimewa dari sepatu itu?" tanya Xin Baozhai tak percaya. Itu hanya sebuah sepatu yang sangat sederhana, tidak ada yang mencolok, tidak berwarna-warni juga. Hanya sebuah sepatu putih sederhana. Bukan hanya dirinya saja hampir semua orang yang ada di dalam ruangan itu pun merasa heran. Sepatu itu terlihat sangat sederhana, warnanya putih hanya dengan jahitan bunga persik saja di sisi sepatunya. Tidak terlihat mahal. Selera Li Hua sangat aneh sekali. Pikir orang-orang yang melihatnya. "Jadi siapa yang telah memberikan Bibi Hua sepatu ini??" Tanya Zhei Yan. Semua orang di buat penasaran, begitu juga dengan Xin Baozhai. Hingga seseorang berjalan masuk kedalam ruangan, membuat mereka semua berdiri dan memberi hormat pada pemuda tampan, dengan alis tegas dan roman wajah yang menyenangkan menggunakan Hanfu merah dengan jahitan lambang kerajaan dikedua sisi bahunya. "Kenapa Pangeran Yuan Shen ada di sini?" Tanya pria bertubuh tambun di belakang Xin Baozhai. Semua orang pun tahu, jika pemuda tampan, bertubuh tegap dengan alis yang tegas itu adalah Pangeran Yuan Shen, yeng merupakan seorang Pangeran ketiga dari Dinasti Mengyue. Tapi kenapa seorang pangeran datang ke rumah hiburan? "Kau sudah menerima hadiahku??" Tanya Pangeran Yuan Shen sembari tersenyum pada Li Hua, sangat mengejutkan karena pangeran Yuan Shen terkenal tidak mudah tersenyum, dan wajahnya selalu nampak garang. Tapi dihadapan Li Hua bibirnya melengkung sempurna membentuk senyuman yang membuat wajahnya semakin terlihat tampan. Kejutan yang membuat semua orang terdiam namun pada akhirnya mereka akan menggosip dibalik punggung Li Hua dan Pangeran. Li Hua mengangguk antusias dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya yang sangat elok itu. Kau sangat menarik, Bibi Hua. Batin Xin Baozhai. "Pertunjukkan yang luar biasa!!" Seru Xin Baozhai kemudian ia berdiri hendak pergi. "Kau mau kemana, Tuan Muda?" Tanya Da Feng. "Pulang, tentu saja! Sudah cukup pertunjukkan yang ku saksikan malam ini.” balas Xin Baozhai lalu ia beranjak pergi. Rasa penasarannya sudah terobati, dia tidak lagi merasa ingin tahu bagaimana wujud asli dari pemilik Rumah Bunga yang menjadi sorotan semua kalangan itu. Namun, ada satu hal lain yang membuat Xin Baozhai bertanya-tanya dalam benaknya. Siapa gadis itu sebenarnya? Apakah benar rumor yang beredar tentangnya jika gadis itu adalah simpanan Pangeran Yuan Shen? Itu bukan urusanku! Xin Baozhai mengingatkan dirinya. Menghapus rasa penasarannya, tapi ternyata itu sulit sekali. "Dasar Tuan Muda, tidak bisa bersenang-senang sedikit saja!" gerutu Da Feng yang masih tinggal di Rumah Bunga untuk menikmati sisa festival malam ini. *** Di Teras paviliun milik Li Hua, Pangeran Yuan Shen duduk mengawasi Li Hua yang sedang menunjukkan sepatu barunya, gadis itu berjalan dengan berjinjit sembari memainkan kakinya membuat sang Pangeran tersenyum sepanjang waktu. Apalagi melihat gadis yang ada di hadapannya tampak bahagia, membuat hatinya begitu lega. "Li Hua, sampai kapan kau akan berjalan seperti itu, kemarilah!" pinta Yuan Shen sembari melambaikan tangannya. "Sebentar lagi!!" serunya. "Astaga anak i-huk uhuk." Yuan Shen terbatuk dengan keras sehingga Li Hua pun langsung berlari kearahnya. Wajah cantiknya terlihat begitu khawatir, ia mengusap punggung Pangeran untuk membantunya lebih tenang. "Kenapa kau kemari dengan pakaian setipis ini, lihatlah, kau kedinginan!!" omel Li Hua. Keningnya berkerut dalam, ia sangat khawatir dengan keadaan Yuan Shen. "Lihatlah, lihatlah siapa yang marah sekarang??" Yuan Shen tersenyum kaku, sambil mencubit pipi Li Hua, gadis itu tak bisa lagi cemberut, ia tersenyum meski pun itu di paksakan. "Jangan membuatku khawatir, Shen ge." keluhnya. "Kemarilah!" Pangeran meraih pinggang ramping Li Hua, kemudian ia memangku gadis itu. "Selamat Ulang Tahun, kau gadis nakal!" ucap Pangeran. "Aku suka sepatu ini, aku akan memakainya terus." ujar gadis itu dengan manja. "Bahkan saat tidur??" goda pangeran. "Bahkan saat tidur, aku tidak mau bermimpi tanpa menggunakan alas kaki!!" Lagi, ia tersenyum. Begitu menawan dan indah sekali senyumanya. Yuan Shen pun tergelak mendengarnya, kehidupannya sangat berwarna semenjak Li Hua muncul hadir dalam hidupnya. Yuan Shen bertemu dengan Li Hua saat usia gadis itu masih 5 tahun. Waktu itu tiga belas tahun yang lalu, Yuan Shen masih sangat ingat dengan jelas di saat salju sedang turun dengan lebatnya Ayahnya, Kaisar Yuan Long, membawa seorang anak kecil kembali ke Istana. Semua orang gempar, dan keadaan Istana membuat gadis itu takut. Gadis itu bersembunyi di paviliun para pangeran. Saat Yuan Shen menemukannya, ia masih menangis dan gemetar. Namun, Yuan Shen tidak berhenti mencoba untuk membuat gadis itu berhenti menangis. Ia pun berhasil, akhirnya berhasil membujuk gadis itu untuk pergi ke ruangannya. Sejak hari itu, hidup Yuan Shen hanya berporos pada Li Hua. Sangat menyayangi gadis itu lebih dari apapun yang ada di dunia ini. "Siapa namamu??" Tanya Yuan Shen kecil waktu itu, tapi gadis dengan mata bulat itu hanya menggeleng. "Kau tidak punya nama??" gadis itu hanya terdiam. "Dengar, Namaku adalah Yuan Shen, tapi semua orang memanggilku Kakak, bagaimana kalau aku memberimu nama Li Hua?" "Li Hua?" Ulang gadis itu, dan Yuan Shen pun tersenyum, senyum untuk pertama kalinya sejak, kematian Ibunya beberapa tahun yang lalu. Li Hua benar-benar seperti sebuah lampu yang berpendar begitu terang dalam hidupnya yang begitu gelap di usianya yang masih belia itu. "Aku tidak suka orang-orang memanggilmu Bibi Hua, kau terdengar sangat tua." protes Yuan Shen pada Li Hua. "Ayah akan menertawakanmu jika dia mendengarnya." "Biarkan Kaisar tertawa sepuasnya, dia memang butuh tertawa, Gege." Ucapnya sambil tertawa, dan Yuan Shen pun lagi-lagi ikut tertawa dengannya. "Kau suka tinggal disini??" tanya Pangeran tiba-tiba, tawa Li Hua pun terhenti seketika. Ia memandangi seluruh halaman yang dihiasi dengan pohon bunga persik, dan menyadari satu hal. Semua ini adalah pengaturan dari Yuan Shen, ia membuat Paviliun ini seperti tempat tinggalnya di Istana, selain itu hanya Yuan Shen yang memikirkan dirinya sedalam ini. Bagi Li Hua, pria yang saat ini sedang memangku dirinya itu sudah seperti kakak kandungnya sendiri. Pria yang selalu ada untuknya kapan pun, pria yang tak pernah meninggalkan sisinya dalam keadaan apapun. "Disini jauh lebih tenang daripada di Istana, Kau pasti tau betapa menyeramkannya Harem?" "Bagaimana memangnya?" Yuan Shen menuntut penjelasan dari Li Hua yang masih berada di pangkuannya. "Mereka berfikir aku adalah ancaman dan mengira bahwa Kaisar akan menjadikanku selirnya, konyol sekali." ujar Li Hua sambil mengingat-ingat lagi percakapan beberapa selir di Istana yang tak sengaja dia dengar tempo hari. Mereka sungguh berpikir karena statusnya hanya anak angkat Kaisar, mengira bahwa Kaisar akan menjadikannya seorang selir karena kasih sayang Kaisar yang berlimpah untuknya. "Kau tau itu tidak benar, Ayah sudah menganggapmu sebagai puteri kandungnya sendiri," Sahut Pangeran, dan itulah kenyataannya. Kaisar Jingtai hanya memiliki satu Puteri dari Selir Kehormatan Zhu Weilan, dan Puteri tersebut pun telah menikah dengan pangeran dari negara tetangga. Itulah sebabnya, Kaisar Jingtai pun melimpahkan kasih sayangnya pada Li Hua sebagai puteri angkatnya. Hanya saja, karena tidak ada ritual resmi, maka para wanita di Harem menganggapnya sebagai ancaman. "Hanya Kaisar dan Kau yang beranggapan seperti itu," Balas Li Hua "Apa malam ini kau akan tinggal, Shen ge?" Tanya Li Hua penuh harap. Ia merindukan kakaknya ini, selain itu ia khawatir dengan kesehatan kakaknya jika terus melakukan perjalanan jauh. "Ya aku akan tinggal, tentu saja" ujarnya, senyum pun merekah di wajah Li Hua, membuatnya semakin cantik. "Akan aku buatkan teh bunga krisan untukmu." Li Hua sudah beranjak dari pangkuan Yuan Shen, sebelum sempat mencegahnya, Li Hua sudah melenggang pergi ke dapurnya. Selalu seperti biasanya, tak pernah meminta orang lain untuk membuatkan sesuatu untuknya. Li Hua selalu senang jika melakukan semuanya sendiri. Tak menyukai kemewahan, tak menyukai perhatian banyak orang. Gadis yang polos. Yuan Shen masih duduk sembari menikmati pemandangan pohon bunga persik di halaman paviliun ini. Memang disini lebih damai daripada istana, ia mengerti mengapa Li Hua memutuskan untuk tinggal di tempat ia merintis usahanya sejak 3 tahun yang lalu. Rumah hiburan ini berkembang dengan pesat, dan semua ini pun atas usaha Yuan Shen yang secara diam-diam membantu Li Hua. Meski tidak suka pada ide Li Hua mendirikan usaha rumah hiburan ini, karena tentu saja reputasi gadis itu pasti akan buruk, dan lagi, saat tadi ia mendengar sendiri bagaimana seorang pejabat pemerintahan mempertanyakan harga Li Hua membuat Pangeran ingin menyumpal mulut pejabat itu. Apa para pejabat itu tidak mengetahui jika Li Hua adalah Putri angkat Kaisar mereka? Namun, Yuan Shen tak bisa mengungkap identitas Li Hua yang sebenarnya pada para pria-pria yang tak bertanggung jawab itu. Meski Kaisar sendiri secara diam-diam pun telah mengetahui apa yang dilakukan oleh Li Hua ini. Yuan Shen masih harus menjaga reputasi keluarga kerajaan. "Yang Mulia…” Suara Cheng Hao menyadarkan Yuan Shen dari lamunannya. "Lebih baik anda masuk kedalam, sudah mulai gerimis." kata Cheng Hao. "Tinggal dengan Li Hua tidak membuat gaya bicaramu berubah ya, Kau tetap saja kaku." ledek Pangeran. "Itu tidak bisa dirubah." "Kau ini, aku masih ingin di sini,” balas Yuan Shen, setidaknya pohon bunga persik ini bisa menenangkan dirinya. "Baiklah, Pangeran." ujar Cheng Hao yang kemudian ia berjalan pergi meninggalkan Yuan Shen. Tidak ada gunanya memaksa Yuan Shen. Pria itu cukup teguh dalam pendiriannya. Satu-satunya orang yang bisa membuat hati pangeran yang biasanya sekeras batu itu menjadi luluh hanya Li Hua seorang. Seolah-olah telinga Yuan Shen hanya bisa mendengar ucapan yang keluar dari mulut Li Hua. Tak lama kemudian, Li Hua datang dengan membawa nampan yang terdapat teko dan cangkir diatasnya. Dia meletakkan nampan itu di atas meja bundar, kemudian menyeduhkannya untuk Yuan Shen. "Kudengar kau menyepakati pembelian teh di Toko keluarga Xin?" tanya Yuan Shen. "Ya, Zhei Yan menyarankannya, dan tehnya memang sangat nikmat" Balas Li Hua sembari menyodorkan cangkir itu pada Pangeran. "Benarkah?" "Coba saja." Li Hua menyodorkan secangkir teh yang asapnya masih mengepul tipis di atasnya itu. Pangeran kemudian menyicipi teh yang masih mengepul asap diatas cangkirnya itu. Ia nenyeruput sedikit teh itu, kemudian merasakannya. Aroma tehnya sangat wangi, khas bunga krisan, saat diminum pun manis dan menyegarkan tidak ada rasa pahit atau semacamnya.. "Sangat nikmat memang, seperti rumornya,” ujar Pangeran. "Itu bukan rumor lagi, Gege!" Li Hua tertawa kecil, dia menuangkan sendiri teh untuknya. "Jadi kau juga bertemu dengan pemiliknya? Kudengar dia masih sangat muda" "Zhei Yan bilang, pemilik kedai teh itu sangat tidak peduli hal-hal semacam ini, yang penting baginya adalah bayarannya tepat waktu." Jelas Li Hua, kening Pangeran berkerut mendengarnya. Arogan sekali pria ini,pikir Yuan Shen. "Aku pun tidak peduli." Balas Li Hua sembari mengangkat bahunya. To be continued…..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD