04. Seorang Pria Kasar
Asap tipis mengepul memenuhi ruang pengolahan teh di kedai milik Xin Baozhai. Pegawainya pagi-pagi sekali sudah datang ke kedai untuk mengerjakan tugas mereka. Namun ada yang janggal hari itu Saat Xin Baozhai berkeliling memeriksa setiap kerjaan. Di pos pemilahan bunga, terdapat satu tempat kosong. Kening Xin Baozhai berkerut, dimana pegawainya satu ini? Tidak biasanya, Da Feng terlambat bekerja atau tidak masuk tanpa pemberitahuan. Atau mungkin, Da Feng berada di tempat pemilahan pertama?
Kemudian, Xin Baozhai pun berjalan lagi, saat ia melangkah untuk memeriksa keberadaan Da Feng, tiba-tiba saja seseorang berteriak padanya lalu sesaat kemudian Xin Baozhai merasakan tubuhnya terhantam oleh sesuatu. Air mengguyur tubuhnya, membuatnya basah kuyup dari ujung kepala hingga kakinya.
"Sial!" gerutunya, ia mengusap wajahnya yang penuh dengan air lalu menatap lurus ke depan. Seorang pemuda seusia Da Feng berdiri gemetar ketakutan melihat perubahan ekspresi Xin Baozhai yang tampak marah. Siapa yang tidak marah jika tiba-tiba saja seseorang menyiramkan air pada kita?
"Ini masih pagi, Liu Long!!" geram Xin Baozhai yang berusaha mencoba mengontrol emosinya. Ia mengangkat tangannya ke depan dan mendapati air menetes dari lengan hanfunya.
"Ma-ma-maaf, Tuan Muda, tapi pakaian anda terbakar." Liu Long menunjuk pada ujung pakaian Xin Baozhai yang tampak kehitaman. Itulah sebabnya, Xin Baozhai tidak suka menggunakan hanfu saat bekerja. Lalu kenapa pagi ini dia menggunakan hanfunya? Dia berfikir setelah mengontrol seluruh produksi teh pagi ini, dia akan berkeliling ke pasar untuk membeli beberapa barang. Nyatanya, keputusannya salah, hanfu seolah membawa sial baginya saat berada di ruang pengolahan.
"Hebat sekali, yang terbakar di ujung sana, dan kau menyiram seluruh tubuhku?" ucap Xin Baozhai sambil mengusap wajahnya yang basah.
"Saya panik, Tuan Muda" Jawab Liu Long jujur.
Melihat pemuda itu takut padanya, Xin Baozhai menghela nafas. Dia yakin, wajahnya tak semenakutkan itu tapi reaksi bocah di hadapannya ini menunjukkan bahwa dia tak mudah menyimpan amarahnya.
"Sudahlah, terimakasih sudah menyiramku hari ini." balas Xin Baozhai. "Ngomong-ngomong, apa kau tau dimana Da Feng?" Tanya Xin Baozhai pada Liu Long.
"Ah, Da Feng, Ibunya mendadak sakit pagi ini, jadi dia membawanya ke Tabib."
"Di Tabib mana dia membawa ibunya??" tanya Xin Baozhai.
"Tabib Chu, apa Tuan muda ingin kesana?" Tanya Liu Long.
"Ya, kau lanjutkan pekerjaanmu!"
Setelah mengibaskan hanfunya, Xin Baozhai kembali ke kediamannya sendiri. Ia berganti pakaian, menggunakan Qipao sederhananya. Kemudian berjalan melewati ruang utama kedainya. Ia melihat banyak sekali pelanggan hari ini yang datang untuk menikmati teh pagi, pegawainya sibuk berlalu lalang mengantarkan pesanan.
"Tuan Muda Xin!!" Seru seseorang yang membuat langkah Xin Baozhai pun terhenti. Ia menoleh ke samping kiri dan melihat seorang pria paruh baya, berdiri dari tempat duduknya menghampiri Xin Baozhai. Dari pakaian yang di kenakan pria itu, hanfu biru tua dengan jahitan naga merah, pria itu merupakan pejabat pemerintah, dan dulunya jika Xin Baozhai ingat orang ini dekat dengan ayah angkatnya.
"Tuan..." Xin Baozhai tak ingat nama pria itu meski dia berusaha keras untuk mengingatnya.
"Tuan muda, beliau adalah perdana menteri Zhu Yi Zheng." Seorang pelayan yang melewati Xin Baozhai Berhenti untuk membisiki majikannya yang tampak bingung.
Seorang perdana menteri? Di kedaiku? Batin Xin Baozhai.
"Tuan Muda Xin, kau sudah menjadi pria dewasa sekarang!" Zhu Yi Zheng menepuk pundaknya. Entah mengapa Xin Baozhai merasa tidak nyaman, apalagi orang itu adalah seorang perdana menteri. Keberadaanya akan membuat pelanggan lain merasa tidak nyaman.
"Sudah lama sekali aku tidak kemari, terkahir saat Ayahmu masih hidup." Mendengarnya, Xin Baozhai mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.
"Terimakasih, anda sudah menyempatkan waktu untuk berkunjung ke kedai sederhanaku ini" Xin Baozhai berusaha untuk sesopan mungkin.
"Aku lihat usahamu ini berkembang sangat pesat." Puji Zhu Yi Zheng, hanya senyuman yang bisa diberikan oleh Xin Baozhai padanya.
"Kami menyediakan berbagai macam teh, anda bisa mencoba salah satu di antaranya," Xin Baozhai menawarkan, ia masih memasang senyum di wajahnya, meski bukan senyuman yang tulus. Dia sama sekali tidak mengerti mengapa seorang perdana menteri harus repot-repot mengunjungi kedainya.
"Kemarilah, minum teh denganku, aku ingin bicara banyak hal padamu."
Sial. Batin Xin Baozhai, dia tidak suka terjebak dengan seseorang seperti Perdana Menteri. Ia sangat menghindari pejabat pemerintahan, ia sama sekali tak ingin terlibat, apalagi saat ini ketika dirinya berada di Mengyu. Kenapa orang tua ini tidak menikmati saja sendiri tehnya, lalu pergi ke kediamannya yang nyaman? Hanya saja Xin Baozhai terkenal dengan keramahannya pada pelanggan, setidaknya dia tidak akan merusak reputasi yang sudah dia bangun hanya karena seorang perdana menteri.
"Ya, tentu saja, mari saya akan seduhkan salah satu jenis teh terbaik dari kedai ini" Tapi bagaimana pun, dia adalah pelanggan. Xin Baozhai mengingatkan dirinya sendiri. Dengan enggan ia pun menyediakan tempat duduk untuk si Perdana Menteri itu.
Ia mempersilahkan perdana menteri untuk pergi lantai dua, dimana tempat duduk disana jauh lebih nyaman dibanding di bawah, tidak banyak orang yang bersedia repot-repot untuk naik ke lantai dua hanya untuk minum teh. Kemudian, ia meminta seorang pekerjanya untuk membawakan teko dan racikan Teh Bunga Ceri.
Mereka duduk di teras yang memiliki pemandangan langsung ke pasar. Sepengamatan Xin Baozhai, Pria yang duduk dihadapannya tak begitu peduli dengan keadaan pasar di bawahnya. Padahal pemandangan di bawah sana selalu menarik perhatian Xin Baozhai, dia bisa mengamati kehidupan yang sedang berjalan di bawah sana.
"Ini adalah Teh Bunga Ceri, sangat bagus untuk menangkal racun dari luar tubuh, silahkan anda coba." Xin Baozhai menyodorkan satu cangkir kecil pada Zhu Yi Zheng.
Kening Zhu Yi Zheng berkerut untuk sesaat ketika lidahnya mulai menyentuh cairan berwarna kemerah mudaan itu. Namun, sesaat kemudian kerutan itu hilang digantikan dengan kepuasan yang terpancar jelas dari wajahnya. Dalam hatinya, Xin Baozhai merasa cukup
"Rasanya sedikit masam, tapi setelah beberapa saat kemudian manis dan nikmat, kau pandai membuat teh, sangat berbakat seperti ayahmu." Puji Zhu Yi Zheng.
"Anda terlalu memuji, Perdana Menteri."
"Bagaimana kabar Ibu dan Adikmu, mereka masih di Wenzhu??" Entah mengapa, Xin Baozhai merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Zhu Yi Zheng tentang keluarganya.
"Mereka baik-baik saja, terimakasih sudah mengkhawatirkan mereka."
"Ahh, rasanya aku akan terlambat ke pertemuan pagi ini." Zhu Yi Zheng berdiri, begitu juga dengan Xin Baozhai.
"Oh iya, Tuan Muda Xin, Kirimkan beberapa jenis teh terbaikmu ke rumahku setiap minggunya, Istriku pasti akan sangat menyukainya."
Xin Baozhai menunduk hormat sepeninggalan Zhu Yi Zheng. Ia kemudian teringat bahwa ia harus pergi ke tempat Ibu Da Feng dirawat. Sebelum pergi, Xin Baozhai membawa beberapa kotak teh.
Melewati pasar yang cukup ramai pagi ini, ia berjalan dengan cepat. Melewati jalan-jalan kecil, dan pemukiman yang penuh dengan pengemis di sisi jalanannya. Xin Baozhai memberikan satu keping koin pada masing-masing pengemis, hingga uang di kantongnya habis. Ia melihat kantongnya yang kosong, namun masih banyak pengemis yang duduk menanti orang lain untuk memberi mereka uang.
"Kenapa banyak sekali pengemis disini." gumannya.
"Bukan pengemisnya, tapi uang di kantongmu lah yang sedikit, Tuan." ujar sebuah suara yang semerdu tiupan Dizi. Ketika ia menoleh, Xin Baozhai mendapati seorang gadis dengan hanfu putih, yang begitu cantik berdiri di sampingnya, kemudian berjalan melewatinya bersama dengan dua pengikutnya yang lain. Xin Baozhai menyadarinya, Dia adalah si Gadis Bibi Hua, karena gadis itu tak menggunakan penutup wajah, dan harum tubuhnya yang khas seperti bunga persik, yang tak mungkin dilupakan oleh Xin Baozhai.
"Apa yang dilakukan oleh Pemilik Rumah Bunga di sini??" tanya Xin Baozhai.
Tapi tidak ada balasan dari gadis itu. Ia terus berjalan sembari memberikan uang pada pengemis yang dia lewati. Xin Baozhai berjalan di belakangnya. Mengamati Gadis itu memberikan uang kepada pengemis, tanpa merasa jijik atau pun takut. Cukup mengesankan, batin Xin Baozhai. Karena biasanya wanita dari kalangan istana tidak akan sudi untuk menyentuh kulit rakyat biasa apalagi pengemis.
Anehnya, rupanya mereka berjalan kearah yang sama dan si Gadis Bibi Hua itu pun berhenti ditempat yang sama dengan tujuan Xin Baozhai. Di depan sebuah klinik yang bertuliskan. "Rumah Sehat Chu"
Xin Baozhai berjalan mendekat ke pintu masuk, dimana Li Hua masih berdiri disana. Namun, tangan panjang Cheng Hao menghadangnya. Tentu saja Xin Baozhai merasa aneh, mengapa pengawal yang berwajah kaku itu menghadang langkahnya.
"Ada apa?" Tanya Xin Baozhai yang mulai terganggu dengan pengawal Li Hua itu.
"Kau mengikuti kami, apa yang kau inginkan?!" suara Cheng Hao terdengar mengancam
"Hah?!" Xin Baozhai tidak percaya "Konyol sekali! Untuk apa aku mengikutimu?!" Dia memang memiliki tujuan untuk datang ke tabib ini. tidak ada niatan untuk mengikuti si pemilik Rumah Bunga itu.
"Lalu apa yang kau lakukan jika kau tidak mengikuti kami?" Kali ini si gadis rupawan itu yang angkat suara, ia menoleh pada Xin Baozhai, dengan kening yang berkerut pada Xin Baozhai.
Sebagai lelaki normal ia tidak melewakan kesempatan ini tentunya. Ia menatap gadis itu dengan intens, memang gadis yang ada di hadapannya ini sangat cantik, matanya yang besar begitu bersinar. Ada keunikan lainnya pada wajah gadis itu, ia memiliki bintik hitam di bawah mata kanannya. Betapa cantiknya dia.
"Aku-" Xin Baozhai kehilangan kata-katanya, ia kemudian berdeham untuk membersihkan tenggorokannya. Merasa bodoh, karena salah tingkah di hadapan si gadis itu. seharusnya dia bisa membela dirinya, jika tidak dia akan dianggap sebagai penguntit. Sayangnya, kecantikan gadis itu mampu mengalihkan dunianya untuk seketika.
"Nona Li Hua.!"
"Tuan Muda Xin.!"
Seru Da Xiao dan Da Feng bersamaan ketika mereka berdua sedang berjalan keluar dari rumah tabib, dan melihat kedua majikan mereka menghalangi jalan keluar. Xin Baozhai dan Li Hua pun saling berpandangan. Kemudian pandangan mereka teralihkan pada kakak beradik di hadapan mereka.
"Aku-" Xin Baozhai dan Li Hua bicara secara bersamaan, lalu keduanya bertukar tatapan tajam.
"Tuan Muda?" Da Feng kemudian mengalihkan perhatian Tuan Muda Xin. Begitu juga dengan Da Xiao.
"Ada apa Tuan Muda kemari?" Tanya Da Feng.
"Aku ingin melihat kondisi Ibumu, dan ini…" Xin Baozhai mengangkat kotak teh yang ia bawa sejak tadi.
"Tuan tidak perlu kemari, perjalan kesini sangat tidak nyaman, dan terimakasih untuk teh ini," Hanya Da Feng yang berani bicara seperti ini pada Xin Baozhai. Ia kemudian mengambil kotak teh itu dari Xin Baozhai
"Ya cukup jauh, jika itu maksudmu." desah Xin Baozhai.
Da Feng hanya tersenyum, sambil memeluk kotak teh yang diberikan Xin Baozhai.
"Apa Anda ingin masuk?"
"Ya, tentu saja, jika kau tidak keberatan."
"Tentu saja tidak! Ibu saya akan sangat senang melihat anda disini, dia kan sangat menyukai anda" Goda Da Feng. Kemudian ia mengajak Xin Baozhai untuk masuk ke dalam klinik Tabib Chu, kebetulan juga Da Xiao mengajak Pemilik Rumah Bunga bersama dengannya.
Mereka pergi ke dalam, di sebuah ruangan yang disediakan khusus untuk pasien. Ibu Da Feng, berbaring lemah di atas dipan kayu dengan selimut tipis yang membungkus tubuhnya. Wanita separuh baya itu terlihat begitu lemah, wajahnya pucat, rambutnya yang mulai beruban itu tergerai begitu saja. Melihat Xin Baozhai dan Li Hua datang ia berusaha untuk duduk.
"Nyonya Wei, tidak perlu duduk." kata Xin Baozhai sembari membantunya untuk kembali berbaring. Tanpa disadari oleh Xin Baozhai, di belakangnya Li Hua memperhatikan pria tampan itu.
"Maafkan aku, Tuan Muda aku tidak bisa menyambutmu dengan layak dan membuatmu jauh-jauh kemari," ujar Ibu Da Feng dengan lemah.
"Jangan khawatirkan aku nyonya Wei, aku masih muda dan kuat." katanya sambil tersenyum. Lalu sesaat, pandangan Ibu Da Feng jatuh pada gadis yang memiliki paras bak dewi yang berdiri di belakang Xin Baozhai.
"Apa gadis cantik ini kekasihmu, Tuan Muda Xin?" Tanya Ibu Da Feng dengan wajah yang berbinar. Seolah kedatangan kedua orang itu membuatnya lebih sehat.
"Tidak!" Jawab Xin Baozhai dan Li Hua bersamaan. Keduanya kemudian bertatapan dengan tajam.
"Ibu, ini adalah nona Li Hua yang aku ceritakan tempo hari," Ujar Da Xiao memperkenalkan Li Hua pada ibunya. Seulas senyum pun merekah di wajah Ibu Da Feng.
"Dia sangat cantik sekali, aku merasa bahagia mendapati pria tampan dan gadis cantik menjengukku,"
"Lihatlah dia, dia lebih suka mengomentari orang lain daripada mengkhawatirkan dirinya sendiri." decak Xin Baozhai sambil menggelengkan kepalanya, membuat Ibu Da Feng tergelak. Sementara itu Li Hua terus memperhatikannya, Xin Baozhai terlihat akrab dengan Ibu dari pelayannya. Dia tidak seburuk yang difikirkannya.
"Aku berharap anda segera pulih." Akhirnya Li Hua bersuara, ia tersenyum pada Ibu Da Feng.
"Tidak banyak yang bisa diharapkan, aku sudah tua, tubuhku sudah lelah." keluhnya dengan sedih.
"Jangan bicara sembarangan!" sergah Xin Baozhai buru-buru, "Kau pasti akan segera pulih, Nyonya Wei. Percayalah padaku" Kata Xin Baozhai meyakinkan, meski dirinya sendiri juga tak yakin. Namun saat ini memberikan nasihat yang positif itu lebih penting. Xin Baozhai tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Nyonya Wei tidak bisa di selamatkan. Da Feng dan Da Xiao, kedua kakak beradik itu akan jatuh dalam lembah kemalangan yang tak memiliki akhir.
"Ya, tentu saja," balas Ibu Da Feng dengan tersenyun tipis.
Xin Baozhai meraih tangan Ibu Da Feng, mengenggamnya penuh kasih. Melihat ibu Da Feng, seolah ia melihat ibunya sendiri. Selama di Luoyang pun, ia sering merepotkan wanita paruh baya ini, Da Feng dan keluarganya sudah seperti keluarga kedua bagi Xin Baozhai.
"Kau pasti sembuh, sekarang beristirahtlah, aku akan bicara dengan tabib Chu."
Ibu Da Feng mengangguk pelan, lalu Xin Baozhai pun keluar dari ruangan itu diikuti oleh Da Feng. Setelah itu mereka menemui Tabib Chu. Pria tua yang sedang menumbuk tanaman herbal kering itu menghentikan aktifitasnya saat Xin Baozhai mendekat.
"Bagaimana keadaanya Tabib?" tanya Xin Baozhai.
"Dia akan segera pulih beberapa hari lagi, jangan khawatir," ujar Tabib Chu. Mendengarnya, Xin Baozhai pun bisa bernafas lega.
"Terimakasih, Tabib" Ujar Xin Baozhai "Kirim tagihannya kerumahku, ya?"
"Tuan muda, anda tidak perlu-" Da Feng ingin mencegah namun, Xin Baozhai menyela ucapannya.
"Dia sudah seperti ibuku sendiri Da Feng!" kata Xin Baozhai dengan tegas. Dia tidak suka jika kata-katanya di bantah, dan Da Feng pun hanya mengangguk. Xin Baozhai mengusap kepala pemuda itu.
***
Setelah berpamitan dengan Ibu Da Xiao, Li Hua beranjak untuk pergi. Dia harus kembali ke Rumah Bunga sebelum malam tiba. Ketika ia hendak keluar, ia mendengar percakapan pria yang ia ingat bernama Xin Baozhai, namanya tidak asing bagi Li Hua, tapi ia tak bisa mengingatnya. Li Hua berhenti sejenak, untuk mendengar percakapan itu, kemudian ia berjalan melangkah pergi setelah mendengarkannya.
"Tunggu, Nona Li Hua." Sebuah suara menahan Li Hua. Ia pun berbalik, dan mendapati pria tampan yang tinggi itu berdiri dihadapannya, menatapnya dengan iris gelapnya. "Maaf, aku tidak memanggilmu 'bibi', panggilan itu tidak cocok untukmu." Katanya lagi dengan jujur, tapi membuat Li Hua bingung. Pria itu menghentikannya hanya ingin mengatakan tentang panggilan apa yang cocok untuk dirinya? Konyol sekali.
"Sejak kau adalah pelangganku, kita belum pernah bertemu secara langsung." Ungkap pria itu dengan senyum yang menyeringai di wajahnya. Sesuatu yang tak pernah diduga oleh Li Hua. Rumornya Xin Baozhai tidak peduli dengan hal-hal formalitas semacam itu dan hanya mementingkan pembayaran, namun setelah melihat langsung seperti ini, rasanya rumor yang beredar itu tidak sepenuhnya benar. Meski begitu Li Hua masih tidak mengenal Xin Baozhai secara pribadi, dia tidak bisa menilai hanya dengan sekali pertemuan saja.
"Anda bisa bertemu dengan, Zhei Yan gege." balas Li Hua seadanya.
"Kau bisa mengajaknya juga, aku bisa membuat pengaturannya di kedaiku, jika tidak masalah." ujar Xin Baozhai yang tidak menerima penolakan. Li Hua mendesah, kesal. Mengapa ia harus berurusan dengan pria aneh seperti Xin Baozhai?
"Baiklah." Ia mengalah akhirnya, jika dia tidak mengalah mungkin saja Xin Baozhai akan mengusulkan untuk mendatangi Rumah Bunga.
"Bagus, bagaimana kalau hari kedua di minggu depan?" Xin Baozhai menawarkan, ia terlihat serius.
"Ya." Jawab Li Hua dengan singkat, kemudian ia berbalik untuk pergi. Namun, tak disangka oleh Li Hua, lengannya ditahan. Saat ia berbalik lagi, Xin Baozhai begitu dekat dengannya. Sehingga ia mampu menghirup aroma tubuh Xin Baozhai, unik, perpaduan teh dan bunga-bungaan yang segar.
"Lepaskan aku, sebelum aku berteriak pada Hao-ge!" Ancam Li Hua, spontan Xin Baozhai melepaskannya dan tertawa karena merasa lucu dengan wajah Li Hua yang penuh amarah.
"Maafkan aku!" Seru Xin Baozhai yang tak bisa menahan tawanya.
"Kau sangat tidak sopan." cetus Li Hua.
"Aku hanya ingin mengatakan, terimakasih," ujarnya saat tawanya telah selesai. Namun, Xin Baozhai sangat merasa terhibur dengan wajah marah Li Hua. Gadis kecil itu, saat keningnya berkerut dan matanya melotot marah terlihat lebih… cantik.
Li Hua yang kesal, kemudian ia berjalan pergi meninggalkan Xin Baozhai yang masih terhibur dengan ekspresinya. Li Hua berjalan keluar, menemui Cheng Hao dan Zhang Zhilin. Kemudian mereka kembali ke Rumah Bunga.
Sekembalinya, Li Hua ke Rumah Bunga. Ia langsung mengambil sisa pekerjaannya yang ia tinggalkan saat mendengar kabar dari ibu Da Xiao. Ia sedang menjahit kain sutera berwarna giok untuk diberikan kepada Yuan Shen.
Li Hua begitu hanyut dalam kegiatan menjahitnya, bahkan saat Zhilin berkeliaran disekitarnya, untuk sekedar membersihkan ruangan saja tidak di gubris oleh Li Hua.
"Hua jie, aku buatkan sup wonton untuk makan malam." Zhang Zhilin kembali masuk ke ruangan Li Hua, dengan nampan yang berisi satu mangkuk sup wonton.
"Akhirnyaaa." Li Hua menghela nafas lega, ia meletakkan alat jahitnya kemudian merengangkan tubuhnya. Barulah sekarang dia merasa lelah. Sudah berhari-hari ia menjahit pakaian untuk Pangeran Muda, akhirnya selesai sudah.
"Ini, makan dulu, jiejie," Zhang Zhilin menyodorkan sup wonton yang masih hangat itu pada Li Hua.
Li Hua berpindah dari ranjang, ke meja yang ada di tengah-tengah ruangannya. Melihat wonton yang terlihat gemuk dan menggugah selera.
"Terimakasih, Zhilin,” ujar Li Hua dengan tulus, kemudian ia memulai memakan sup wonton buatan Zhang zhilin. Pada suapan pertamanya, ia tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya dengan makanan ini. "Ini lezat sekali,"
"Kurasa semua makanan akan lezat jika kau yang memakannya," timpal Zhang Zhilin. Dia sangat mengenal, Li Hua, sejak dia ditugaskan untuk menjadi pengikut Li Hua di Istana ia tahu, gadis cantik itu selalu tergila-gila dengan makanan. Semuanya! Tanpa pandang bulu.
"Jadi, pria tadi adalah pemilik kedai teh ya?" tanya Zhang Zhilin memecah keheningan saat Li Hua sedang menyantap wontonnya. Gadis bermata lebar itu mengangguk saja, karena mulutnya penuh dengan wonton. "Dia sangat tampan, apa kau setuju?"
"Uhuk!!" Li Hua tersedak, wonton di mulutnya keluar begitu saja hingga mengotori hanfu putih dan mejanya. Zhang Zhilin yang terkejut, segera membantu Li Hua dengan menepuk-nepuk punggungnya.
"Berhati-hatilah, Hua jie," Zhang Zhilin mengingatkan, "makanlah dengan pelan-pelan, semua makanan itu tidak akan pergi kemana-mana," lanjutnya, kemudian menyodorkan segelas minuman pada Li Hua.
Namun bukan karena takut jika makanannya akan kabur, Li Hua tersedak setelah Zhang Zhilin mengatakan jika pria itu tampan. Seperti tidak ada pria tampan lainnya saja.
"Dia itu pria yang kasar, bagaimana kau menyebutnya tampan?"
"Tidak terlihat seperti itu, dia terlihat seperti seorang Dewa! Tampan dan dia memiliki hati yang baik." ujar Zhang Zhilin yang kembali duduk hadapan Li Hua. Sedangkan, Li Hua hanya bisa memutar bola matanya kesal, melihat Zhang Zhilin sepertinya sedang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan si Pria kedai teh itu.
"Sudahlah, Zhilin." sergah Li Hua, "Aku tak ingin membicarakan dia." desah Li Hua, memohon pada Zhang Zhilin. Dia merasa tidak nyaman untuk membicarakan seorang pria.
"Baiklah, baiklah, lagipula di matamu kan hanya ada Pangeran Muda."
Ucapan Zhang Zhilin berhasil membuat Wajah Li Hua memerah. Zhang Zhilin memang ada benarnya, selama hidupnya memang hanya Yuan Shen di hidup Li Hua. Dia belum pernah mengenal pria lainnya, kecual keluarga kerajaan seperti kakak pertama dan kedua, lalu Cheng Hao dan Kaisar. Selain itu, Li Hua sama sekali tidak berpengalaman tentang pria.
Nama yang ia sandang hari ini adalah pemberian pangeran. Pertama kali ia belajar membaca, pangeranlah gurunya. Saat ia terjatuh, karena kakinya tersangkut akar pohon di paviliun, juga pangeran yang menggendongnya lalu memberikannya salep. Dan ia sudah berjanji, tidak akan pernah meninggalkan sisi pangeran.
"Lihatlah, wajahmu memerah!" pekik Zhang Zhilin, memecah lamunan Li Hua. Wajah gadis itu semakin merah, ia tersenyum malu.
"Pangeran sudah seperti kakakku sendiri, Zhilin," guman Li Hua.
"Tidak secara teknis," Zhang Zhilin mengingatkan bahwa Li Hua dan pangeran tidak berbagi darah yang sama.
Mendengarnya, hati Li Hua terasa sakit. Mereka memang tidak satu darah. Tapi, hubungan mereka lebih dari itu. Ia menghormati pangeran seperti kakak kandungnya sendiri. Tidak berharap menjadi apapun di harem milik Yuan Shen.
Tidak berharap dan tidak bisa. Li Hua mengingatkan dirinya sendiri.
To Be Continued.....