05. Teh Bunga Persik
Peluh membanjiri muka dan tubuh Xin Baozhai. Sedari tadi ia mondar-mandir melakukan banyak pekerjaan. Mengambil bunga krisan, lalu memilahnya sendiri, memanggangnya sendiri, dan memasukkannya ke dalam kotak. Dia tampak begitu serius dan tak bisa diganggu. Hal itu membuat Da Feng, dan Nyonya Han cemas.
Memang Xin Baozhai terbiasa membantu pekerjaan pegawainya, akan tetapi tidak semua pekerjaan dilakukannya sendiri. Berkali-kali, Da Feng mengingatkan tuan mudanya, yang ada dia malah kena sembur. Begitu nyonya Han mencoba, Ia mendapatkan tusukan tajam dari mata Xin Baozhai.
"Ada apa sebenarnya dengan Tuan Muda?" tanya Nyonya Han yang berdiri sambil mengawasi pekerjaan di ruang pengolahan.
"Entahlah, semua pesanan dari Rumah Bunga dikerjakan olehnya dan tak satupun orang boleh menyentuhnya, meski itu hanya satu kelopak." terang Da Feng sembari memilah daun teh.
Nyonya Han merasa janggal dengan yang dia lihat ini. Xin Baozhai tampak ingin teh pesanan dari rumah Bunga menjadi sangat sempurna. Seolah ia ingin mengesankan seseorang.
Itu dia!!
Tuan Xin Baozhai ingin membuat pemilik Rumah Bunga terkesan oleh teh buatannya. Pasti begitu, batin Nyonya Han.
Imajinasi liarnya tentang Xin Baozhai yang mungkin saja sedang jatuh hati pada pemilik Rumah Bunga itu, membuat senyum mereka di wajah Nyonya Han. Membuat Da Feng mengerutkan keningnya heran, mengapa Nyonya Han tersenyum sendiri. Padahal tidak ada satu hal yang lucu di sekitarnya.
Da Feng menggeleng-gelengkan kepalanya. Hari ini semua orang bertingkah aneh, Majikannya jadi sangat rajin, lalu Nyonya Han yang sangat galak tersenyum sendiri.
"Liu Long!!!" Suara Xin Baozhai menggelegar. Ia berteriak memanggil Liu Long yang sedang menjaga api tungku pemanggangan.
"Liu Long??" Xin Baozhai masuk ke ruang pengolahan, lalu ia mendekat pada Liu Long.
"Antarkan pesanan yang sudah aku siapkan ke Rumah Bunga, ya?"
"Sekarang Tuan Muda? Aku harus menjaga Api." keluhnya. " Memangnya, Tuan Gao dimana?"
Tuan Gao adalah kurir yang biasanya mengantarkan pesanan untuk Kedai Teh. Jika tidak ada pesanan yang harus diantarkan, maka Dia akan bekerja sebagai penjaga pintu kedai teh.
Semalam, saat kedai sudah tutup semua orang sudah kembali dan Xin Baozhai baru saja selesai membersihkan kedai terdengar suara ketukan di pintu serta suara Tuan Gao. Langsung saja, Xin Baozhai membukakan pintu dan mendapati Tuan Gao terlihat begitu panik dan gelisah, tubuhnya pun berkeringat sangat banyak.
"Ada Apa Tuan Gao??" tanya Xin Baozhai.
"Tuan muda, istriku akan melahirkan jadi... Jadi..." Tuan Gao tampak bingung untuk melanjutkan kalimatnya.
"Sekarang? Dimana? Apa yang bisa kubantu?!"
"Di rumah, bolehkah aku meminjam salah satu kuda anda, untuk menjemput bidan??"
"Tentu saja, lalu jika kau menjemput bidan siapa yang menjaga istrimu??" Tanya Xin Baozhai.
"Tidak ada," Tuan Gao tampak sedih, itulah sebabnya dia gelisah. Dia pasti khawatir untuk meninggalkan istrinya yang sedang berjuang untuk melahirkan anaknya.
"Kau pulang saja temani istrimu, aku akan yang akan membawa bidan ke rumahmu." Tuan Gao tertegun sejenak, dia tak percaya tuan mudanya akan mengatakan hal itu. Ia menatap Xin Baozhai sesaat.
"Tunggu apa lagi? Ayo!"
Xin Baozhai mengambil kuda hitam pekat miliknya, lalu ia mengendarainya dengan kencang. Pergi ke rumah Bidan, kemudian membawa Bidan tersebut ke rumah Tuan Gao yang letaknya di ujung desa, di belakang Rumah Bunga yang megah.
Merasa gelisah karena teriakan demi teriakan ia dengar dari dalam rumah Tuan Gao membuat Xin Baozhai mondar mandir. Ia begitu gugup, seolah istrinya lah yang sedang melahirkan. Keringat mulai membasahi kening Xin Baozhai ketika istri Tuan Gao berteriak kembali, kali ini lebih keras, seolah ia berteriak sambil melepaskan nyawanya. Kekhawatiran Xin Baozhai tak lagi bisa dibendung.
Tak berapa lama kemudian terdengar suara tangisan bayi yang teramat keras. Tidak sabar, Xin Baozhai kemudian berjalan memasuki rumah Tuan Gao. Mendapati, Tuan Gao berada di sisi istrinya, menggenggam tangannya dengan erat, sedangkan di sisi lain bidan yang ia bawa sedang membasuh si bayi yang baru saja terlahir ke dunia ini.
"Selamat Tuan Gao!" seru Xin Baozhai saat ia masuk ke dalam rumah Tuan Gao.
"Terimakasih, Tuan Muda Xin," jawabnya sembari tersenyum, terlihat bekas air mata di sudut mata Tuan Gao. Pria itu pasti sangat bahagia sekali karena anaknya yang pertama baru lahir.
"Laki-laki atau perempuan??" Xin Baozhai tampak penasaran. Tuan Gao tersenyum penuh arti sembari menatap Istrinya yang wajahnya terlihat begitu lelah.
"Perempuan, sangat cantik." ujarnya, tersirat kebahagiaan yang besar dari nada suara Tuan Gao.
"Apa kau mau menggendongnya?" suara Bidan dari samping Xin Baozhai mengusiknya. Xin Baozhai pun menoleh, dan melihat bidan itu sedang menggendong bayi dalam buntalan kain berwarna biru tua. Penasaran, Xin Baozhai menjulurkan lehernya dan melihat wajah mungil bayi yang masih merah itu. Senyumnya merekah begitu lebar, ada perasaan yang membuncah di hati Xin Baozhai saat melihat bayi mungil itu, bahagia.
"Sangat cantik sekali, seperti Nyonya Gao." puji Xin Baozhai dengan sungguh-sungguh.
"Betapa beruntungnya aku, di kelilingi bidadari yang cantik-cantik." ucap Tuan Gao.
Bayi itu sudah berpindah tangan di gendongan Nyonya Gao yang kini sudah bersandar di kepala dipannya. Terlihat bayi itu begitu damai dalam gendongan sang ibu. Melihat bayi itu, Xin Baozhai seperti melihat sebuah keajaiban.
"Apa kau sudah memberinya nama?" tanya Xin Baozhai lagi.
"Belum, Kami masih memikirkannya." Balas Nyonya Gao.
"Apakah Tuan Muda, bersedia memberinya nama?" tanya Tuan Gao. Xin Baozhai sedikit terkejut, ia tak pernah memberi nama pada siapapun. Apalagi pada bayi. Tapi ia akan sangat senang hati jika bisa memberikan nama pada bayi yang akan nantinya akan tumbuh secantik ibunya itu.
"Tentu saja!" Xin Baozhai sangat antusias. "Bagaimana kalau Luoxi?"
"Luoxi..." Tuan Gao termenung memikirkannya, ia menatap istrinya dengan tersenyum, kemudian mengusap-usap pipi Bayinya, "Luoxi" ulangnya.
"Nama yang cantik." imbuh Nyonya Gao. "Terimakasih, Tuan Muda Xin," lanjutnya dengan senyum yang lemah.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengantarkan Bidan ini kembali ke rumahnya," ujar Xin Baozhai.
Tuan Gao terus menerus berterimakasih pada Xin Baozhai saat mengantarkannya keluar rumah. Lalu Xin Baozhai menaiki kudanya bersama bidan itu dan berjalan pergi.
Ketika melewati pagar tinggi, Xin Baozhai memelankan laju kudanya setelah ia mendengar suara alunan Guqin yang merdu. Laju kudanya begitu pelan karena Xin Baozhai ingin mendengarkan musik Guqin itu. Musik yang terdengar seperti angin di musim semi, sangat menenangkan. Membuat Xin Baozhai terlena dan tersihir dengan irama musik Guqin itu, dalam benaknya tergambar jelas wajah Li Hua yang begitu elok sedang memainkan Guqin.
"Tuan Muda Xin!!" Tubuh Xin Baozhai terguncang, ia terkesiap lalu mengedipkan matanya berkali-kali. Di hadapannya Liu Long sedang menatapnya bingung.
"Ah, ya, kenapa??"
"Jadi mana yang harus kuantarkan?" tanya Liu Long.
"Ah, sudah kusiapkan di meja depan, jumlahnya ada 25 kotak teh krisan, dan 1 kotak teh Bunga Persik."
"Baiklah." Liu Long kemudian beranjak pergi untuk mengantarkan pesanan itu ke rumah Bunga.
°°°
"Ah, aku kalah lagi!" Keluh Li Hua saat mengetahui kartunya tidak bisa menandingi kartu milik Zhang Zhilin. Ia mendesah kesal, lalu meletakkan kartunya.
"Ayolah, Hua jie! Kau tidak seburuk itu!"
Li Hua mendengus kesal kemudian meletakkan kepalanya di atas meja. Zhang Zhilin jelas berbohong padanya, karena permainan kartunya tidak membaik sama sekali. Tiap kali ia memainkannya yang ada dia kalah terus menerus.
Terdengar suara pintu utama paviliunnya terbuka. Li Hua seketika mengangkat kepalanya, dan memberikan isyarat pada Zhang Zhilin untuk mengintip siapa gerangan yang masuk ke paviliunnya tanpa izin. Gara-gara Cheng Hao kembali ke istana, ia menjadi semakin was-was. Niatnya pindah kemari untuk mendapat kedamaian, tapi rasanya ia masih jauh dari kata itu.
"Kenapa Zhilin lama sekali?" Gerutu Li Hua, kemudian ia meletakkan kembali kepalanya. Pandangan matanya tertuju pada Guqin yang terletak di bilik sampingnya. Hanya Guqin itu yang membuat hatinya damai. Tiap alunan yang keluar dari petikan senar Guqin mampu membawa kedamaian dihatinya.
Li Hua tak mengerti kenapa, akan tetapi semenjak kecil ia telah tertarik dengan Guqin. Pertama kali ia mendengarkan irama Guqin saat usianya 8 tahun, di kediaman Pangeran Yuan Shen. Ketika melihat pangeran muda begitu terlihat damai saat memainkan Guqin, sejak saat itu Li Hua ingin belajar memainkannya.
"Apa yang kau fikirkan, sampai kau melamun begitu adik kecil?" suara dalam yang sedikit serak itu mengejutkan Li Hua. Ia langsung mendongak, dan hampir saja kepalanya membentur kepala Yuan Shen. Beruntung, Pangeran Yuan Shen gesit sehingga bisa menghindar dengan cepat. Sementara di sisi lain Zhang Zhilin cekikikan dan Cheng Hao tampak menahan tawanya.
"Gege!!" pekik Li Hua mengabaikan Zhang Zhilin dan Cheng Hao, ia langsung berdiri, kemudian memeluk sang kakak tersebut. Wajahnya yang tadinya kusut seperti pakaian lusuh pun berubah ceria saat melihat wajah tampan Pangeran Yuan Shen "Kenapa tidak memberitahu ku jika mau kemari? Aku bisa bersiap-siap." ujarnya dengan cepat.
"Bersiap-siap??" Alis Pangeran Yuan Shen terangkat. Untuk apa Li Hua bersiap-siap?
"Ya, kau kan datang paling tidak aku harus membersihkan kamarku, menyisir rambutku, mengganti-"
"Omong kosong!" Sela Pangeran Yuan Shen dengan cepat. "Kau tidak perlu melakukan semua hal itu, kita sudah bersama sejak kecil, mana mungkin aku terkejut dengan kebiasaan burukmu?" kata Pangeran Yuan Shen, dan tertawalah Zhang Zhilin dengan keras, membuat wajah Li Hua memerah seperti tomat menahan rasa malunya.
Memang ada benarnya apa yang dikatakan oleh Pangeran Yuan Shen padanya. Mereka sudah bersama sejak kecil, dan Li Hua tidak seperti gadis di istana pada umumnya. Dia sama sekali tidak disiplin, selalu bangun lebih siang daripada seharusnya. Jika saja tidak ada Zhang Zhilin, seumur hidupnya ia pasti tidak akan pernah menyisir rambutnya yang begitu indah dan panjang itu.
Selain itu, Li Hua juga kesal tiap kali Nyonya Fang datang. Karena Li Hua harus belajar kedisplinan dan bagaimana menjadi seorang gadis istana seharusnya. Belajar tata cara peraturan di Istana, tatacara upacara resmi, belajar bagaimana cara berjalan yang baik dengan langkah kecil nan anggun, belajar tatacara makan yang benar. Nyonya Fang bahkan mengajarinya menjahit dan membordir. Li Hua cukup baik dalam menjahit, akan tetapi dia sangat buruk untuk membordir. Pernah sekali ia diminta membordir burung phoenix yang cantik, malah membordir burung dengan tubuh yang gendut dan kakinya panjang.
Nyonya Fang sempat hampir menyerah untuk mengajari Li Hua. Karena bertahun-tahun, Li Hua sama sekali tak menunjukkan kemajuan. Semua pelajaran yang ia terima pun seolah tak ada gunanya. Akan tetapi, saat usianya menginjak 16 tahun, ia mulai serius belajar. Kenakalannya pun berkurang, dia menjadi gadis yang lebih penurut. Tidak ada yang tahu apa alasannya, akan tetapi hal itu membuat seisi Istana merasa senang. Karena satu-satunya Putri kerajaan dari Dinasti Mengyu yang tersisa, akhirnya mau belajar dengan tekun.
"Zhilin, tolong panaskan air ya?" pinta Li Hua akhirnya untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Kenapa mengalihkan topik pembicaraan?" goda Yuan Shen.
"Siapa? Aku? Tentu saja tidak!!"
Pangeran Yuan Shen tertawa kecil melihat tingkah Li Hua. Ia cukup merindukan adik kecilnya itu, di Istana begitu membosankan tanpa kehadiran Li Hua.
"Lihat dirimu, baru saja beberapa-huk uhuk..." Pangeran Yuan Shen tiba-tiba terbatuk. Li Hua menjadi panik dan segera mendekati Pangeran Yuan Shen. Dengan perlahan Li Hua menepuk-nepuk pelan punggung Pangeran.
"Hao ge, apa kakakku tidak meminum obatnya dengan rutin?" tanya Li Hua pada Cheng Hao yang masih berdiri tanpa ekspresi di dekat pintu.
"Jangan memarahinya," sahut pangeran Yuan Shen. Ia kemudian menuntut Li Hua untuk duduk kembali di tempat duduknya tadi, dimana ia memainkan kartu bersama dengan Zhang Zhilin. Melihat mejanya tampak berantakan, Li Hua langsung membereskannya.
Pangeran Yuan Shen meraih tangan Li Hua, menghentikannya dari membersihkan meja, tidak penting bagi Yuan Shen apa yang dimainkan oleh Li Hua, selama gadis itu bahagia maka tidak masalah bagi Yuan Shen. Lalu tanpa mengatakan apapun, Pangeran Yuan Shen menyandarkan kepalanya pada bahu Li Hua. Melihat tuannya, Cheng Hao membalikkan badannya lalu beranjak pergi.
"Kau tidak ingin kembali ke Istana?" tanya Pangeran dengan suara yang serak.
Li Hua tahu, pangeran yang sangat keras kepala ini tidak meminum obatnya dengan rutin. Itulah sebabnya, suaranya terdengar parau dan sering terbatuk. Pangeran Yuan Shen sendiri memiliki penyakit sejak usianya 16 Tahun. bertepatan dengan hari penobatan Pangeran Yuan Shen sebagai putra mahkota, Ia tiba-tiba jatuh sakit dan tak sadarkan diri, Suhu tubuhnya begitu dingin. Tabib mengatakan bahwa Chi pangeran terkunci dengan aura dingin, tidak ada obat untuk penyakitnya. Saat pangeran tersadar, ia menjadi sangat lemah dan sakit-sakitan. Hal ini membuat Raja, mengganti putra mahkota dengan pangeran Pertama, kakak dari Pangeran Yuan Shen, yaitu Pangeran Yuan Qi yang merupakan putera seorang selir.
"Kenapa tidak meminum obatnya?? lihatlah, sekarang kau menjadi lemah."
"Aku meminumnya, hanya saja beberapa hari ini, Ayahanda sedang memiliki banyak pekerjaan jadi aku membantunya" jelas Pangeran Yuan Shen.
"Apa gunanya Putra Mahkota, jika kau terus saja membantu Yang Mulia Raja?" Li Hua agak kesal, dan sangat beralasan. Karena tugas seperti itu harusnya dikerjakan oleh Putra Mahkota. Sedangkan Pangeran Yuan Shen, hanya pangeran biasa.
"Ssshhh, aku ingin tidur sebentar saja," bisik Pangeran Yuan Shen.
Li Hua pun hanya menghela nafas, ia tak akan bisa berdebat dengan Pangeran Yuan Shen. Karena pria ini sangat keras kepala. Ia hanya bisa terdiam membiarkannya memejamkan mata di pundaknya. Tak lama, nafas Pangeran semakin melambat. Li Hua menoleh, dan Pangeran nampaknya sudah tertidur dengan pulasnya.
Hingga sesuatu yang tak terduga mengusik ketenangan.
"Maaf, Nona." Suara Cheng Hao yang besar dan berat menggema diseluruh ruangan. Meski tak sampai terbangun, tapi Pangeran terusik.
"Ada apa Hao ge?" Tanya Li Hua dengan suara sepelan mungkin. Sesaat kemudian, sesosok pria berjalan dari balik tubuh tegap Cheng Hao.
Itu adalah Zhei Yan, ia tersenyum kaku saat melihat Pangeran Cheng Hua bersandar di pundak Li Hua. Ia merasa bersalah mengganggu kedua insan itu.
"Oh, Yan ge!!" Pekik Li Hua yang lupa bahwa di pundaknya sedang bersandar kepala Pangeran Cheng Hua yang tengah pulas.
Mendengar pekikan Li Hua, Pangeran pun terbangun dengan malas. Ia menatap Zhei Yan yang sedang berdiri membawa sebuah kotak kecil di tangannya.
"Ada apa, Zhei Yan?" tanya Pangeran dengan malas.
"Maaf sudah membangunkanmu," bisik Li Hua.
"Saya mohon maaf telah menganggu anda, Yang Mulia Pangeran." kata Zhei Yan lagi. "Saya akan kembali lagi nanti." Imbuhnya sembari beringsut mundur.
"Apa yang membuatmu kemari, Zhei Yan?" pertanyaan Pangeran membuat langkah Zhei Yan terhenti. Waspada jika Pangeran marah padanya, karena selama ini rumornya Pangeran Yuan Shen, memiliki suasana hati yang berubah-ubah, dan juga cukup kejam.
"Saya akan kembali lain waktu, Pangeran," Zhei Yan masih mencoba bernegosiasi. Tapi dasar Pangeran Yuan Shen keras kepala, ia tidak membiarkan Zhei Yan pergi begitu saja.
"Kau sudah membuatku terbangun, dan sekarang kau ingin aku membiarkanmu pergi?" lagi-lagi ucapan Pangeran mampu membuat Zhei Yan membeku. Ia kemudian berlutut di hadapan Pangeran, menyembahnya seolah nyawanya berada diujung tanduk.
Melihat tingkah Zhei Yan, Pangeran dan Li Hua saling berpandangan lalu tergelak bersama. Mereka tak menyangka bahwa Zhei Yan yang tampak kuat dan tidak takut apapun dengan mudahnya berlutut dihadapan Pangeran Yuan Shen.
"Ampun, Yang Mulia, Saya tidak bermaksud-"
"Sudahlah, kenapa kau begitu serius, aku hanya bertanya."
"Tuan Zhei Yan, kenapa anda berlutut di sini?" Suara Zhang Zhilin yang baru saja kembali setelah memanaskan air.
"Sudah, berdirilah." Titah Pangeran, dan Zhei Yan pun berdiri dengan wajah yang memelas. "Jadi apa yang membawamu kemari?"
"Saya hanya ingin mengantarkan Teh untuk Nona Li Hua." Akhirnya Zhei Yan mengakui niatnya. Ia berjalan mendekat sembari menyodorkan kotak kecil yang ia bawa sedari tadi. Pangeran dan Li Hua bersama melihat kotak itu. Terdapat segel kertas berwarna putih dengan tulisan diatasnya.
Musim semi terasa lebih panjang
Bunga mekar bertebaran
Tapi satu bunga terlihat lebih menawan
Kening Pangeran berkerut dalam membaca puisi yang tertulis di atas segel kertas berwarna putih itu. Ia menoleh pada Li Hua, gadis itu tersenyum simpul. Tentu saja, Li Hua mengerti maksud puisi itu. Sebuah pujian untuknya, bahwa ia begitu cantik, lebih dari pada gadis yang lain. Pangeran tampak tak suka melihat senyum itu masih terukir di wajah Li Hua.
"Siapa yang mengirimkan ini?" Tanya Pangeran ketus.
"Oh, Kedai Teh Xin yang mengirimkan ini."
"Apa kau memesan ini?"
Zhei Yan hanya menggeleng. Ia memang memesan teh krisan sebanyak 25 kotak. Namun, yang tiba di rumah bunga, sejumlah 26 buah kotak, ia mendapat surat untuk memberikan kotak khusus ini kepada Li Hua.
"Ini teh bunga persik!!" seru Li Hua saat ia membuka kotak tersebut. Wajahnya berbinar begitu cerah, ia sangat menyukai apapun yang dihasilkan dari bunga persik maupun buahnya.
"Kau menyukainya?" Tanya Pangeran, dan Li Hua mengangguk pelan. Meski tak menyukai apapun dari kotak itu, Pangeran tetap menghargainya. Toh, Li Hua menyukai tehnya.
"Aku akan menyeduhnya, Shen ge, kau beristirahatlah!" kata Li Hua kemudian ia mengajak Zhang Zhilin pergi ke dapur.
Zhang Zhilin masih heran, mengapa kedai teh itu mengirimkan ekstra pesanan dari yang seharusnya, dan bukan teh yang sama dengan pesanan mereka. Ditambah lagi, dengan puisi yang tertulis di kertas yang terdapat pada kotak wadah teh itu.
"Jie, kenapa kedai itu mengirimkan teh ini secara khusus untukmu?" tanya Zhang Zhilin yang menuangkan air panas ke dalam teko sedang di atas meja.
"Mungkin karena dia penggemarku?" Celetuk Li Hua dengan sangat percaya diri.
"Maksudnya, pemilik kedai itu? Pria tampan itu?" Zhang Zhilin tidak akan melupakan wajah setampan itu, sepertinya hanya pemilik kedai itu yang mampu menandingi ketampanan Pangeran Yuan Shen.
"Aku tidak tahu siapa yang mengirim ini, sudahlah." balas Li Hua acuh tak acuh. Karena Li Hua tak ingin mempermasalahkan perkara sepele seperti ini. Li Hua tak ingin menerka apa yang dimaksud oleh pemilik kedai tersebut. Lagi pula, apa artinya hanya sebuah puisi? begitu fikirnya dalam balutan rona pipi yang bersemu kemerahan.
to be continued......