06. Siapa Kau Sebenarnya?

3137 Words
06. Siapa Kau Sebenarnya? Ditemani dengan lilin temaram, Pangeran Yuan Shen begitu konsentrasi pada beberapa perkamen yang ada dihadapannya. Sesekali keningnya berkerut dalam ketika mempelajari isi dari perkamen tersebut. Satu dokumen berisi tentang  bukti penggunaan tanah oleh salah satu menteri yang baru saja ia dapatkan informasinya. Pangeran belum ingin memberi tahu Kaisar tentang temuannya yang ia selidiki diam-diam atas perintah raja ini, karena ia ingin memastikan beberapa hal terlebih dahulu.   Angin bertiup membuat lilin bergoyang, namun angin itu bukan berasal dari udara di luar kamarnya, seseorang masuk ke dalam kamar pangeran dengan membuka jendela secara diam-diam.   "Kau bisa keluar, Gu Xia!" ujar Yuan Shen dengan suara yang pelan pada orang tersebut.   Seseorang keluar dari persembunyiannya dari balik banyangan gelap. Ia berpakaian serba hitam dengan menggunakan penutup wajah. Alis kanannya terbelah karena luka, dan ia memiliki sorot mata yang tajam. Gu Xia berlutut memberi hormat pada Pangeran Yuan Shen   "Apa kau sudah mendapatkan informasinya?" tanya Pangeran Yuan Shen.   "Sesuai dengan perintah anda, yang mulia pangeran!" jawab Gu Xia.   "Katakan padaku, siapa sebenarnya pemilik kedai teh itu?" Pangeran menutup dokumennya lalu ia memandang Gu Xia untuk mendengarkan informasi yang telah di dapatkan olehnya.   Gu Xia merupakan pengawal pribadi serta mata-mata yang dipekerjakan secara rahasia oleh Yuan Shen. Dia merupakan seorang wanita dengan kemampuan bela diri yang sangat hebat, bahkan Cheng Hao pun pernah dikalahkan olehnya.   "Pemiliknya saat ini adalah Xin Baozhai, pemuda yang berasal dari Wenzhu, dia menggantikan ayahnya 3 tahun yang lalu."   "Wenzhu..." Yuan Shen tampak berfikir keras, "Bukankah itu di daerah Kerajaan Nianjing yang dipimpin oleh Dinasti Liang?" Tanya Yuan Shen lagi.   "Ya, Pangeran"   "Apa hanya itu informasi yang kau dapatkan?"   "Ayahnya bernama Xin Baoyu anda pasti mengenalnya, dia juga memiliki seorang Ibu dan adik yang tinggal di Wenzhu saat ini, dan..."   Informasi tentang Xin Baozhai semakin menarik ketika Pangeran Yuan Shen mendengar nama ayahnya disebutkan.   "Dan apa?" Tuntut Pangeran Yuan Shen pada Gu Xia.   "Beberapa hari yang lalu, Perdana Menteri Zhu Yi Zheng datang ke kedainya."   Alis Pangeran tertaut. Satu pertanyaan memenuhi otaknya. Untuk apa perdana menteri mendatangi kedai minuman milik Xin Baozhai? Karena jika melihat dari kepribadian Zhu Yi Zheng sangat mustahil apabila dia mau berkunjung ke kedai sederhana seperti milik Xin Baozhai.   "Baiklah, kerjamu sangat bagus, Gu Xia."   "Terimakasih, Pangeran."   "Terus awasi si Baozhai ini, aku ingin tahu lebih tentang dia dan  apa hubungannya dia dengan perdana menteri." lanjut Pangeran Yuan Shen, "Kau boleh pergi sekarang."   Setelah memberi salam pada Pangeran Yuan Shen, Gu Xia pun menghilang bagaikan bayangan. Sementara pangeran mulai menerka-nerka dan menggali lebih dalam dari informasi yang dia dapatkan.   Tidak heran, jika selama ini ketika pertama kalo Zhei Yan mengajukan nama Kedai Xin itu untuk menyuplai minuman teh mereka, nama pemiliknya tidak begitu asing. Terutama nama keluarganya.   Keluarga Xin dari Wenzhu, adalah keluarga keturunan bangsawan jika Yuan Shen benar dalam mengingatnya. Ia mendapatkan pelajaran silsilah tiap keluarga kerajaan yang menjadi tetangga  Dinasti Mengyue secara detail saat dulu dia mendapatkan pelajaran dari gurunya.   Yuan Shen mencoba mengingatnya, namun ia butuh sedikit bantuan. Akhirnya, Yuan Shen berdiri sembari membawa Lilin lalu berjalan keluar ruangannya. Melihat pintu terbuka, Cheng Hao siaga, mendapati Pangeran berjalan seperti itu ia segera mendekati Pangeran.   "Kenapa Anda belum beristirahat, Pangeran?" Tanya Cheng Hao. Batinnya pun khawatir karena Pangeran Yuan Shen tampak sangat lemah dan pucat sekali.   "Aku ingin ke perpustakaan sekarang," balasnya.   "Maaf, Yang Mulia. Tapi ini sudah malam, seba-" ucapan Cheng Hao dipotong oleh pangeran Yuan Shen begitu saja.   "Ikut saja Hao, jangan banyak bicara!" ucap  Pangeran Yuan Shen malas. Ia berjalan mendahului Cheng Hao, dan mereka keluar kamar utama pergi ke perpustakaan   Suasana manor Pangeran Yuan Shen begitu sunyi. Selain karena ini sudah larut malam. Pada dasarnya, Pangeran Yuan Shen tidak menempatkan banyak pelayan di kediamannya. Dia menyukai ketenangan, dan tidak mudah percaya dengan orang lain.   Sesaat kemudian mereka sampai pada perpustakaan pribadi milik Pangeran. Beberapa rak tersusun dengan rapi, Pangeran menyusuri tiap baris rak, hingga ia berhenti pada rak dengan label "Silsilah keluarga kerajaan". Mencari lagi, Pangeran kemudian menemukan catatan tentang kerajaan Nianjing. Ia mengambilnya, kemudian berjalan ke tempat duduk dimana biasanya ia membaca di perpustakaan, sedangkan Cheng Hao disisinya mengawal dengan wajah kaku tanpa ekspresi.   "Kau tau, Hao?"   "Apa, Yang Mulia?"   "Kau itu lebih menakutkan daripada hantu!" Ledek Pangeran, kemudian ia kembali berkonsentrasi pada buku silsilah di hadapannya.   Dibukanya buku itu, lembaran demi lembaran. Hingga jemarinya pun berhenti pada salah satu halaman. Matanya menelusuri tiap kata dan garis yang terhubung. Pangeran Yuan Shen mencari nama Xin Baozhai pada silsilah ini.   Keluarga Xin merupakan keturunan Puteri Yun Xi Qian dari Dinasti Liang yang menikah dengan bangsawan Xin Nangji, kemudian keduanya tinggal di daerah Wenzhu. Mereka memiliki 2 Putera kembar dan 1 Puteri, Xin Tianfeng, Xin Bei Jie, Xin Yi Ruan.   Pangeran menemukan nama Xin Baoyu tepat di bawah Xin Bei Jie. Namun anehnya, ia tak menemukan nama Xin Baozhai, melainkan nama Xin Ruolan. Keningnya berkerut, mengapa nama Xin Ruolan dan Xin Feng Huö dan bukan Xin Baozhai.   "Cheng Hao...." Pangeran memanggil Cheng Hao, meski ia tak yakin apakah Cheng Hao mengetahui sesuatu yang mengganggi fikirannya.   "Ya, Yang Mulia?"   "Apa silsilah ini yang terbaru??" Tanyanya lagi.   "Anda bisa melihatnya, di halaman terakhir, biasanya tertera kapan silsilah ini di perbarui" rupanya Cheng Hao berguna juga dalam hal seperti ini. Tidak sia-sia Cheng Hao selalu ada disisinya.   Membalikkan buku tersebut, Pangeran mencari tahu kapan terakhir buku ini diperbarui. Keningnya semakin berkerut dalam karena buku ini diperbarui sekitar tujuh tahun yang lalu. Seharusnya, nama Xin Baozhai tertera dalam silsilah buku ini.   Ada sesuatu yang aneh disini, jelas tertulis bahwa Xin Baoyu hanya memiliki dua puteri, tapi tidak seorang putera. Lalu, siapa Xin Baozhai??   Pangeran Yuan Shen kemudian menutup buku silsilah tersebut. Keningnya masih berkerut. Ia memijat kepalanya yang terasa berdenyut. Cheng Hao yang melihat pangeran tampak tak sehat langsung mendekatinya.   "Apa Anda baik-baik saja, Yang Mulia?"   Pangeran Yuan Shen hanya mengangguk, ia kemudian menyandarkan bahunya ke kursi, menatap kosong pada buku silsilah tersebut.   Memang terasa sangat janggal jika pangeran meruntutkan semua kronologinya. pertama, 5 tahun yang lalu Xin Baoyu terbunuh dalam insiden pemberontakan. Pria itu diduga mencoba meracuni Pangeran Yuan Shen, tidak ada penyelidikan lebih lanjut, namun Pria itu terbunuh dalam insiden pemberontakan oleh salah satu pengikut Kaisar Dinasti Liang, Wang Tian. Lalu, 2 Tahun kemudian Dinasti Liang dan Dinasti Mengyu menyepakati perjanjian damai, dan setahun kemudian Pemilik kedai teh yang baru itu datang ke Luoyang.   Memang kedatangannya sangat tidak mencolok. Selama dua tahun terakhir,  kedai itu beroperasi seperti kedai pada umumnya. Meski begitu, kedai itu menjadi jauh lebih terkenal karena pemiliknya yang baru memberikan inovasi terhadap varian tehnya.   Hanya karena perdana menteri mengunjungi tempatnya, semuanya terasa janggal. Apakah, pemilik kedai itu bekerja sama dengan Perdana Menteri??   Banyak kasus yang diselimuti misteri hingga kini. Semakin memikirkannya, semakin Pangeran merasa pening. Ia pun kemudian berdiri, lalu kembali ke kamarnya. Memutuskan, untuk saat ini ia hanya akan mengawasi pemilik kedai itu.   °°°   Pagi buta terdengar suara gemerisik berasal dari gesekan sapu dan lantai, dedaunan kering tersapu menuju kesatu arah. Xin Baozhai membersihkan halaman kediamannya. Setelah selesai dengan rumahnya, ia berjalan ke arah kedainya, langsung ke tempat pelanggannya biasa menikmati teh dari kedainya. Mulai dengan menata meja-meja kecil, menyusunnya dengan rapi, membersihkannya dengan lap. Lalu membersihkan lantainya.   Hari ini ia ingin kedainya terlihat rapi dan bersih, karena pemilik Rumah Bunga akan berkunjung ke tempatnya. Jika dibandingkan dengan rumah bunga, tentu saja kedainya ini tidak ada apa-apanya. Hanya kedai dua lantai sederhana.   "Tuan Muda, Apa yang kau lakukan?" Suara Nyonya Han mengejutkan Xin Baozhai hingga ia melepaskan sapunya begitu saja. Rupanya ia terlalu asik membersihkan kedainya, sehingga tak menyadari bahwa Nyonya Han masuk.   "Aku hanya bersih-bersih, Nyonya Han." jawab Xin Baozhai sembari mengambil sapunya.   "Anak kecil juga tahu, kau sedang bersih-bersih." balas Nyonya Han, "Maksudku, kenapa kau melakukannya? Apa Yongning tidak bisa?"   "Yongning belum datang, lagi pula aku ingin membersihkan sendiri kedai ini."   "Itu karena Pemilik Rumah Bunga akan datang kemari..." sahut suara lain yang entah berasal dari mana. Sesaat kemudian, kepala Da Feng muncul dari balik pintu, bersama dengan Liu Long, Yongning si penerima tamu, dan Tuan Gao.   Wajah Xin Baozhai memerah karena godaan Da Feng. Ia kemudian menyerahkan sapu pada Yongning, supaya gadis itu bisa meneruskan pekerjaannya yang terhenti karena Nyonya Han.   "Apa hubungannya, Tuan Muda yang suka bersih-bersih dengan pemilik Rumah Bunga?" Tanya Liu Long.   "Karena pembhpbmphmp-" Xin Baozhai membekap mulut Da Feng, dan ia tersenyum kaku pada pekerjanya yang lain. Melihat tingkah majikannya, Mereka hanya bisa tersenyum penuh arti.   "Awas kalau kau bicara lagi!!" Ancam Xin Baozhai dengan berbisik tepat ditelinga Da Feng. "Nyonya Han, tolong urus sisanya, ohya tolong letakkan beberapa tangkai bunga persik di vas2 kecil itu ya!" pintanya pada Nyonya Han, lalu ia menyeret Da Feng pergi ke tempat pengolahan teh bersama Liu Long.   Setelah sampai di ruang pengolahan, Xin Baozhai melepaskan dekapannya. Da Feng merasa jengkel, namun ia tak bisa membalas perbuatan konyol majikannya.   "Sudah sana bekerja!" perintah Xin Baozhai.   "Baiklah.." Jawab Da Feng malas. Ia dan Liu Long pun pergi ke pos masing-masing dan mulai bekerja.   Sedangkan Xin Baozhai kembali ke kediamannya. Ia mengganti qipao lusuhnya dengan hanfu bersih berwarna biru kehijauan. Kemudian ia kembali ke kedainya, memeriksa segala proses pengolahan teh, lalu membantu Yongning melayani para pelanggan.   "Selamat datang, apa yang bisa kubantu?" tanya Xin Baozhai pada dua pria berumur yang baru saja duduk di salah satu meja.   "Ini adalah kali pertama aku kesini, kudengar kedai ini menyediakan banyak macam teh?" Tanya seorang pria yang berpakaian hijau gelap dengan lengan yang digulung sampai siku.   "Ya, benar sekali, kedai kami memiliki banyak sekali varian teh, dengan berbagai macam khasiat." jelas Xin Baozhai dengan bangga. Ia memasang senyum terbaiknya, supaya pelanggan merasa dihargai.   "Berikan saja kami, teh dengan khasiat terbaik." balas pria itu lagi.   "Apakah kau juga menyediakan Teh Bunga mawar liar?" tanya teman dari pria itu. Perhatian Xin Baozhai pun berpindah, ia memerhatikan pria tersebut. Pria yang cukup berumur, rambutnya pun dipotong pendek.   "Kami juga menyediakannya, sebentar akan segera saya antarkan pesanan tuan-tuan." Kata Xin Baozhai, kemudian ia pergi ke ruang penyeduhan teh.   Ada seorang pegawai yang memang bertugas untuk menyeduh tiap minuman yang di pesan oleh pelanggan. Xin Baozhai segera memberi tahunya untuk membuatkan Teh Mawar Liar dan Teh herbal Chamomile.   Setelah teh selesai di seduh, Xin Baozhai mengantarkan sendiri teh tersebut kepada pelanggannya yang sedang asik bercengkrama itu. Mereka terlihat serius dalam percakapan itu. Karena mengantarkan teh itu, tak sengaja pun Xin Baozhai mendengar percakapan mereka.   "Apa kau yakin??" Tanya pria berbaju hijau. "Kenapa mereka mengambil paksa tanah-tanah itu?" lanjutnya.   Pria berambut pendek tampak terlihat frustasi. Wajahnya begitu lelah dan sedih. "Entahlah, Gubernur Cao hanya mengambilnya begitu saja, jika kami melawan kami akan dipukuli oleh algojonya" jawabnya.   Berpura-pura tidak mendengar apapun, Xin Baozhai menginterupsi mereka dengan meletakkan nampan berisi dua gelas cangkir teh itu ke meja.   "Ini teh yang anda pesan tuan-tuan, silahkan di nikmati." kata Xin Baozhai sambil tersenyum, lalu ia berbalik untuk pergi. Padahal sebenarnya ia sengaja melambatkan langkahnya untuk menguping pembicaraan kedua orang ini.   "Bagaimana nasib keluargaku, semua orang bergantung pada lahan itu."   "Gubernur Cao sangat kejam, bagaimana mungkin dia menindas rakyat seperti itu."   "Tuan Muda..." Sebuah suara memaksa melewati gendang telinga Xin Baozhai. Ia terkesiap, menoleh mencari siapa gerangan yang memanggilnya.   Seorang pria bertubuh cukup tinggi, berpakaian rapi dan cukup berkilau terbuat dari kain sutera asli, namun warnanya cukup mencolok mata. Beruntung, wajahnya tidak jelek, jadi apapun yang digunakannya akan melekat pas.   Untuk sesaat Xin Baozhai tak mengenali pria dihadapannya ini. Otaknya bekerja dengan keras, hingga akhirnya ia menyadarinya.   "Tuan Zhei Yan!" seru Xin Baozhai, tentu saja ini bukan kali pertama Xin Baozhai bertemu dengan Zhei Yan. Mereka bertemu beberapa kali untuk membicarakan masalah pesanan teh.   "Tuan Muda Xin, Bagaimana kabar anda?" Tanya Zhei Yan dengan sopan.   "Ahh baik-baik saja," Xin Baozhai merasa janggal, kenapa Zhei Yan datang kemari sendirian. Padahal yang di undang adalah Li Hua, malah bawahannya yang datang.   "Ada apa, Tuan muda?" Tanya Zhei Yan saat ia menyadari bahwa mata Xin baozhai tengah mencari-cari sesuatu.   "Tidak... Tidak ada apa-" Ucapan Xin Baozhai terpotong, saat seseorang begitu berisik dari luar kedai.   "Lihatlah, bajunya jadi kotor seperti ini, jie!"   "Sudahlah, Zhilin ini bukan masalah bes-" Ucapan Li Hua terhenti seketika ia melihat Xin Baozhai dan Zhei Yan berdiri di depan pintu kedai untuk melihat dirinya yang sedang berusaha meyakinkan Zhang Zhilin jika pakaiannya masih baik-baik saja. Apalagi ia mengenakan hanfu putih, sekecil apapun kotorannya pasti akan terlihat. Sedangkan, saat ini bisa dikatakan hampir seluruh bajunya terkena lumpur, rambutnya berantakan dan terdapat noda darah di lengan kirinya.   "Haiyaaa, apa yang terjadi nona?"   Pandangan Li Hua beralih dari menatap Xin Baozhai kemudian menatap Zhei Yan yang terlihat begitu khawatir.   "Tuan Zhei Yan, Nona tadi terjatuh saat akan menolong anak kecil yang hampir tertabrak oleh kuda pasukan kerajaan." Jelas Zhang Zhilin.   "Pasukan kerajaan?" Xin Baozhai menyela, Zhang Zhilin hanya mengangguk.   "Sepertinya mereka baru kembali, entah apa yang membuat mereka terburu-buru," Lanjut Zhang Zhilin.   "Maafkan aku, Tuan Xin, Sepertinya aku tidak bisa masuk ke kedaimu dalam keadaan kotor begini, aku takut jika aku akan mengoto-" kata-Kata Li Hua menggantung begitu saja, ketika Xin Baozhai menarik lengan kanannya dan memasuki Kedai. Zhei Yan dan Zhang Zhilin bertukar pandang, namun keduanya hanya mengikuti mereka.   "Apa yang kau lakukan!!" Li Hua menghempaskan tangan Xin Baozhai ketika mereka sampai di kediaman Xin Baozhai.   "Kau bisa membersihkan dirimu di sini, tapi aku tidak punya baju yang cocok untukmu, mungkin kau bisa menggunakan pakaianku?"   Li Hua terkejut mendengarnya. Mengapa pria ini melakukan hal itu?   "Tidak perlu, aku akan membersihkan diriku nanti"   Xin Baozhai tersenyum, mendengar jawaban Li Hua, ia berasumsi bahwa Li Hua telah memutuskan untuk tinggal beberapa saat di sini.   "Nona!" Suara Zhei Yan dan Zhang Zhilin yang datang mendekat.   Keduanya sedikit terkejut dengan tempat tinggal Xin Baozhai. Halamannya cukup luas, beberapa bunga persik sedang mekar, dan juga beberapa daun teh yang sedang di jemur.   "Sebaiknya, kita masuk ke dalam." ujar Xin Baozhai. Ia meminta Li Hua untuk berjalan terlebih dahulu, namun gadis itu bergeming di tempatnya.   "Akan membawa kesialan jika aku membiarkan tamuku berdiri di sini." imbuhnya lagi, "Dan pekerjaku akan sering berlalu lalang kemari, kau tidak ingin menjadi bahan tontonan kan?"   Li Hua menggigit bibirnya. Dia cukup menyesal dengan datang kemari. Sungguh, pemilik kedai teh ini sangat menyebalkan. Untung saja ada Zhei Yan dan Zhang Zhilin yang menemaninya.   Xin Baozhai menuntun mereka ke halaman belakang rumahnya. Mereka menelusuri lorong, tempat tinggal Xin Baozhai cukup luas, halamannya pun tertata dengan rapi. Sesampainya di halaman belakang, mereka di suguhkan dengan pemandangan taman yang indah. Kolam ikan yang cukup besar dengan jembatan di tengahnya berada di tengah taman. Lalu, beberapa bunga prem merah yang langka pun tertanam di halaman belakang.   "Silahkan duduklah disini, aku akan menyiapkan minuman untuk kalian" Kata Xin Baozhai menarik perhatian ketiga tamunya.   "Ah Ya!" Jawab Li Hua spontan.   Mereka duduk diteras yang dibawahnya adalah kolam ikan. Begitu jernih, hingga mereka bisa melihat bebatuan dan ikan ikan sedang berenang.   "Rumahnya cukup bagus ya, Jie?" Zhang Zhilin takjub, karena seorang pemilik kedai teh memiliki rumah yang cukup mewah.   "Tidak kusangka, dia sungguh penuh kejutan"   Li Hua tak mengatakan apapun, namun ia setuju dengan kedua orangnya. Seorang pemilik kedai ini rupanya cukup kaya hingga bisa memiliki rumah seperti ini.   Sesaat kemudian, Xin Baozhai kembali. Ia tak sendiri, namun bersama seorang pemuda yang di ketahui Li Hua sebagai kakak Da Xiao. Anak itu membawa nampan berisi teko teh dan perlengkapan teh lainnya. Sedangkan Xin Baozhai membawa kotak yang entah apa isinya.   "Nona Li Hua, bagaimana kabar anda?" tanya Da Feng dengan sopan setelah ia meletakkan perlengkapan teh itu di meja.   "Baik, bagaimana kabar ibumu?" Li Hua pun berbalik tanya sembari memberikan senyuman termanisnya.   "Ibu saya sudah lebih baik, dia sudah berjualan kue seperti biasanya" Jawab Da Feng kemudian ia berpamitan undur diri.   "Apa dia saudaranya Da Xiao?" tanya Zhei Yan.   "Ya begitulah," balas Zhang Zhilin.   "Sungguh kebetulan yang aneh." gumam Zhei Yan.   Sementara itu, Xin Baozhai menyeduhkan teh pada masing-masing cangkir. Teh tersebut berwarna kemerah mudaan, asap tipis masih mengepul dari dalam cangkir.   "Ini adalah teh bunga persik, teh ini cukup lezat dan mampu menenangkan kegelisahan kita untuk sejenak." jelas Xin Baozhai.   "Anda memang hebat dalam hal ini, teh ini memang sangat enak. Aku sangat menyukainya." balas Li Hua dengan mengambil cangkir teh yang sudah di isi oleh Xin Baozhai.   Tiba-tiba saja, Xin Baozhai menahan tangan Li Hua. Ia kemudian mengambil cangkir tersebut dan meletakkannya kembali.   "Kenapa?!"   "Tidak baik untuk perempuan membiarkan anggota tubuh mereka terluka tanpa di obati." Kata Xin Baozhai.   "Apa kau terluka, Jie?" Tanya Zhang Zhilin yang khawatir.   Li Hua menatap Xin Baozhai kesal. Dia paling tidak suka membuat orang lain khawatir, sekarang malah Xin Baozhai yang membuat dirinya dikhawatirkan.   "Karena bajunya putih, darahnya terlihat jelas, bagaimana anda tidak mengetahuinya, Nona Zhang?" tanya Xin Baozhai penuh sarkasme.   Zhang Zhilin pun memperhatikan Li Hua dengan baik-baik. Memang benar, terdapat bercak kemerahan di lengan kiri hanfu Li hua, bagaimana ia tak menyadarinya.   "Jie, maafkan aku, aku tidak tahu kau terluka." katanya penuh sesal.   "Ini cuma luka kecil, tidak perlu berlebihan!" jawabnya sambil menatap tajam kearah Xin Baozhai. Pria itu hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh.   "Nona Zhang, kau bisa membantu Nona Li Hua untuk membalut lukanya dengan ini." Xin Baozhai kemudian menyodorkan kotak yang tadi di bawanya.   "Terimakasih Tuan Xin,"   Sementara Zhang Zhilin mengobati luka Li Hua yang berupa sayatan di lengan kirinya, Xin Baozhai kembali mengaduk teh yang ada di dalam pot yang dipanaskan. Sesekali ia melirik pada Li Hua yang meringis kesakitan saat diobati oleh Zhang Zhilin. Ia juga melihat lengan Li Hua yang tersingkap, Begitu putih dan..   Dan..   Tangan Xin Baozhai yang sedang mengaduk tiba-tiba berhenti. Pandangannya terarah pada tanda di tangan Li Hua. Sebuah tanda berupa guratan daging kemerahan yang mirip seperti bunga.   "Tuan muda??" Suara Zhei Yan mengejutkan Xin Baozhai, ia terkesiap kemudian memandang Zhei Yan yang tengah duduk menantikan tehnya.   "Ya?"   "Kenapa anda melamun??" Pertanyaan Zhei Yan menarik perhatian Li Hua dan juga Zhang Zhilin. Keduanya pun memperhatikan Xin Baozhai yang terlihat seperti orang linglung.   "Tidak, aku, aku hanya ingat sesuatu." Kemudian ia kembali mengisi cangkir ketiga tamunya. Senyum yang biasa menghias bibirnya lenyap. Wajahnya seolah memakai topeng tanpa ekspresi, begitu dingin dan misterius. Tak ada yang tahu apa yang terdapat dalam benak Xin Baozhai kecuali dirinya sendiri.   "Ahhh begitu,"   "Terimakasih, Anda sudah mengundangku kemari" Ujar Li Hua akhirnya.   "Dengan senang hati, dan diantara kita kurasa tidak perlu begitu formal." jawab Xin baozhai dengan sungguh-sungguh. Ia sudah mampu mengatasi emosinya yang bergejolak untuk sesaat tadi.   "Tuan Xin, Bagaimana anda mendapatkan bunga prem merah ini? Bukankah ini sangat langka?" Tanya Zhang Zhilin seraya melihat kearah pohon plum tak jauh darinya.   "Aku membawanya dari gunung Siwu." Jawabnya.   "Gunung Siwu?" Tanya ketiga orang itu bersamaan, mereka heran sekaligus hampir tak percaya.   Gunung Siwu dikenal sebagai tempat yang penuh dengan kutukan dan rumor mistis. Mereka menyebutkan, bahwa siapapun yang datang ke tempat itu, tidak akan kembali dengan selamat. Selain itu, di gunung Siwu terdapat sekte abadi penjaga yang berasal dari dunia Jianghu. Tempatnya pun berada pada perbatasan Dinasti Mengyu dan Dinasti Liang.   "Mustahil!" Decak Li Hua. Gadis itu sangat terbuka dan berfikiran sederhana. Ia selalu mengutarakan apa yang di fikirkannya tanpa fikir panjang.   Menyadari kecerobohannya dalam berbicara, Xin Baozhai tertawa untuk menutupinya.   "Kau percaya begitu saja?!" tanyanya sambil terus tertawa. Ketiga tamu di hadapannya memandangnya dengan heran. Tidak ada yang lucu disini.   "Tentu saja tidak, jika kau pergi ke gunung itu, aku tidak yakin kau masih bisa disini dan tertawa" Balas Li Hua ketus. Xin baozhai pun langsung berhenti tertawa.   Ia kemudian menatap kearah tanaman bunga plum merah yang sedang mekar itu. Kenangan masa lalunya pun menggelayut di benaknya, namun segera ia menampiknya.   "Seseorang memberikan tanaman ini sebagai hadiah untukku, jadi bagaimana aku tahu darimana asalnya?" lanjutnya. Ada kegetiran dalam suaranya, hanya dia yang mengetahuinya. Dan ia tak siap berbagi pada siapapun. Sayangnya, ada orang lain yang kini tengah memperhatikannya, dan merasakan kegetiran dalam tiap kata-katanya.   to be continued.....  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD