07. Bebek Panggang
Suara meja diketuk-ketuk berasal dari teras halaman belakang kediaman Xin Baozhai. Hanya ditemani dengan sebatang lilin yang apinya bergoyang-goyang tertiup angin, ia menyangga kepala dengan satu sisi tangannya. Tangannya yang lain dengan jemarinya ia mengetuk-ketukan meja. Matanya terpejam, seolah ia sedang tertidur. Namun kenyataannya, Ia sedang tenggelam dalam fikirannya. Begitu dalam.
Setelah pertemuannya dengan Li Hua yang bisa dibilang sangat konyol karena Li Hua begitu terlihat berantakan tidak sebagaimana gadis bangsawan lain yang sangat peduli pada penampilannya, ada sesuatu yang lain mengganjal fikirannya. Sebuah tanda di tangan Li Hua. Berbagai pertanyaan berkutat dalam benak Xin Baozhai, bagaimana Li Hua mendapatkan tanda itu? Apakah itu tanda lahir, atau karena seauatu? Lalu siapakah sebenarnya gadis itu? Apa hubungannya dengan Pangeran Yuan Shen?
Irama ketukan di meja tiba-tiba saja terhenti, bersamaan dengan angin yang tiba-tiba berhembus kencang hingga membuat lilin yang sedari tadi menemani Xin Baozhai menjadi padam.
"Haiya, Wu Pei, kenapa kau tidak bisa datang senormal mungkin?" Protes Xin Baozhai pada seorang pria muda dengan pakaian serba putih di hadapannya ini.
"Sudah kebiasaan seperti ini, hehe." jawab si Wu Pei sambil cengengesan. Pemuda itu pun kemudian menjentikkan jarinya di atas lilin, dan nyala kembali lilin tersebut. Wu Pei kemudian duduk di seberang Xin Baozhai.
"Kenapa kau datang lama sekali, hampir saja aku pergi sendiri untuk menyeretmu kemari!"
Wu Pei hanya tersenyum sembari menggaruk kepala bagian belakangnya.
"Aaaahh, itu Guru Besar marah karena kau tidak mengiriminya kabar malah mengirimiku surat, jadi..."
Xin Baozhai tertawa mendengar tingkah kekanakan seseorang yang dipanggil Guru Besar oleh Wu Pei. Ia memang sengaja melakukannya. Tapi tak bermaksud menyinggung pula.
"Ini tidak lucu, kakak senior! Kau pergi 3 Tahun yang lalu dan kau tidak memberikan kabar sama sekali pada Guru Besar." Keluh Wu Pei.
Memang benar jika Xin Baozhai pergi kemudian tak memberikan kabar sama sekali. Namun ia yakin, bahwa 'Guru Besar'nya pasti tetap mengawasinya dari jauh.
"Bagaimana kabarnya Guru Besar?" tanya Xin Baozhai akhirnya.
"Sama saja, dia masih suka marah-marah," balas Wu Pei, "Dan ahh, ada murid baru yang sekarang jadi kesayangan guru." Wu Pei tampak sedih saat membicarakannya.
"Murid baru?" Informasi ini menarik perhatian Xin Baozhai. Karena sepengetahuannya, Guru Besar tidak mudah mengambil murid baru. Wu Pei mengangguk, kemudian ia menyandarkan tubuhnya di pinggiran pembatas teras.
"Darimana asalnya?"
"Provinsi Ling," balas Wu Pei "Dia sangat kurus dan lemah, aku tidak yakin dia akan bisa bertahan di Perguruan Shanshui."
"Apa kau iri padanya, Wu Pei??"
Seketika Wu Pei menoleh pada Xin Baozhai, menatap Xin Baozhai tak percaya. Ia menggeleng cepat.
"Tidak!" balasnya cepat, "Untuk apa aku cemburu dengan anak lemah seperti itu."
Xin Baozhai hanya mengangkat bahunya. Selama ini tidak ada yang bisa menebak isi fikiran Guru Besar perguruan Shanshui, bahkan Xin Baozhai sendiri, sebagai murid kesayangan Guru Besarnya, ia cukup sulit memahami jalan fikiran sang guru.
"Cukup membahas anak baru itu, aku tahu jika kau memanggilku, pasti ada sesuatu yang terjadi, apa?" Tebakan Wu Pei tepat sasaran. Memang ada yang ingin di ketahui oleh Xin Baozhai, dan ia ingin meminta bantuan adik seperguruannya ini.
"Kau kan cukup pandai menyamar," ucap Xin Baozhai, Wu Pei mengangguk-angguk. "Aku ingin memintamu untuk menyusup ke Istana kerajaan Mengyu."
"APA?!" Pekik Wu Pei, tubuhnya pun langsung duduk tegak, menatap Xin Baozhai penuh tanya.
"Jangan berteriak!" Dengus Xin Baozhai sembari mengetuk kepala Wu Pei.
"Kau gila ya, kau tau Istana itu di jaga oleh banyak penjaga, jika aku ketahuan-" Wu Pei mempraktikan kepalanya putus dan menggelundung.
"Jangan bercanda!" Ujar Xin Baozhai serius, melihat ekspresinya, Wu Pei pun tahu bahwa ini hal penting. Ia memajukan tubuhnya mendekati Xin Baozhai.
"Jadi apa yang harus kuselidiki?" akhirnya Wu Pei jadi lebih serius.
Xin Baozhai mendesah, kemudian memejamkan matanya sejenak. Sebenarnya, dirinya sendiri tidak yakin apakah ini benar atau tidak. Xin Baozhai butuh kepastian, atau ia tidak akan pernah tidur dengan tenang jika kenyataanya tidak terungkap.
"Ada seorang gadis yang terhubung dengan Dinasti Mengyu, ia cukup misterius karena aku tidak tahu apa sebenarnya hubunganya dengan kerajaan ini atau hanya dengan manor Pangeran Yuan Shen, cari tahu asal usulnya dan semua detailnya."
Wu Pei memperhatikannya sejenak. Ia pun mengetahui ada sesuatu dari balik raut wajah Xin Baozhai. Menerka-nerka mengapa gadis ini mampu menarik perhatian Xin Baozhai. Sepengetahuan Wu Pei, selama ini Xin baozhai sama sekali tidak pernah tertarik pada seorang gadis mana pun. Kali ini, malah tertarik dengan seorang gadis yang memiliki koneksi dengan istana pula.
"Apa dia cantik?" Tanya Wu Pei penasaran. Xin Baozhai menatapnya dengan tajam, hingga Wu Pei meringsut.
"Baiklah baiklah," Wu Pei pun mengalah. "Siapa nama gadis itu?"
"Li Hua." Jawab Xin Baozhai dengan tatapan menerawang. Tanpa bertanya pun, Wu Pei tahu, bahwa Xin Baozhai tengah membayangkan gadis itu. Sebenarnya seperti apa wujud gadis yang mampu membuat Xin Baozhai seperti orang yang tengah terpikat.
"Nama yang cantik, aku benar-benar penasaran seperti apa rupa Li Hua ini." Ujar Wu Pei.
"Lakukan dengan baik, jangan sampai menimbulkan kekacauan atau ketahuan!" Xin Baozhai memperingatkan, karena pada dasarnya Wu Pei cukup ceroboh.
"Tenanglah, serahkan semua padaku." Sahut Wu Pei dengan bangga. Xin Baozhai hanya berdecak, ia tak ingin berdebat dengan adik seperguruannya, atau dia tidak akan bisa memanfaatkan keahlian Wu Pei.
"Baik, baik, aku percaya padamu."
°°°°
Hari ini begitu cerah bersahabat, langit begitu biru cerah tak ada satu awanpun menggumpal. Sebentar lagi musim semi usai, dan musim gugur akan segera menyambut. Hawa udara yang kering sudah mulai terasa, debu-debu pun mulai memenuhi jalanan.
Teriknya matahari, tidak menyurutkan semangat Li Hua berburu sesuatu di pasar. Bersama dengan Zhang Zhilin ia menelusuri pasar, ia suka sekali membeli makanan khas Luoyang, dan juga tanghulu tentunya. Di tangannya, ia sudah menggenggam manisan yang sudah tidak berbentuk itu, begitu menikmatinya.
Tiba-tiba Zhang Zhilin teringat sesuatu, ia harus membeli peralatan jahit untuk membuat kantong parfum untuk Cheng Hao.
"Hua jie, aku akan ke toko yang ada di ujung itu ya, kau tunggu aku, sebentar saja." Kata Zhang Zhilin sambil menunjuk sebuh toko yang ada di ujung pasar, namun tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Kenapa aku tidak ikut denganmu saja?" Tanya Li Hua.
Wajah Zhang Zhilin memerah karena tersipu. Ia merasa malu, jika harus mengatakan pada Li Hua bahwa ia akan membeli sesuatu untuk Cheng Hao. Serapat mungkin, dia menyembunyikan perasaanya untuk pengawal pribadi Pangeran Yuan Shen itu.
"Sebentar saja, kumohon." rengek Zhang Zhilin.
"Baiklah, aku akan menunggu di Toko Lingwei, nanti kau temui saja aku disana."
Zhang Zhilin mengangguk, lalu berjalan cepat meninggalkan Li Hua dengan tanghulunya. Saat ia berbalik hendak pergi ke toko Lingwei, tubuhnya menabrak seseorang hingga gulali yang ia pegang terjatuh ke tanah dan hancur.
"Astaga!" pekiknya sembari memandangi gulalinya yang sudah kotor bercampur dengan tanah.
"Maafkan aku," suara ini tak asing bagi Li Hua, ia pun kemudian mendongak untuk mencari tahu siapa yang sudah menabraknya dan membuat suasana hatinya cukup buruk. Sosok tampan itu tak mungkin bisa di hindari oleh mata indah Li Hua.
"Aku benar-benar minta maaf telah menjatuhkan, tanghulu milikmu ini." katanya sembari mencoba tersenyum.
"Lupakan, ini bukan salahmu juga." balas Li Hua, meski hatinya dongkol karena tanghulunya harus terjatuh karena seseorang seperti Xin Baozhai.
Xin Baozhai menghela nafasnya, dia merasa tidak enak hati karena menyebabkan senyum di paras elok milik Li Hua itu lenyap. Dirinya tak habis fikir, mengapa harus berjalan dengan celingukan dan tak memperhatikan jalan.
"Baiklah, Aku akan pergi, berhati-hatilah lain kali, Tuan Xin." ujar Li Hua setengah hati.
Xin Baozhai tak membiarkan Li Hua pergi begitu saja. Ia kemudian menghadang jalan Li Hua. Gadis itu berhenti dan menatap Xin Baozhai dengan kening yang berkerut.
"Tuan Xin, apa yang kau lakukan?" tanya Li Hua geram.
"Aku sudah memutuskan, aku akan mengganti tanghulu yang jatuh itu." Serunya dengan senyum lebar diwajahnya. Sesaat Li Hua tertawa kecil, ia bahkan sudah melupakan bahwa makanan kesukaannya jatuh di tanah.
Melihat kerutan di kening gadis itu lenyap tergantikan oleh tawa kecil, menimbulkan kehangatan di hati Xin Baozhai. Dia tak tahu, darimana asalnya kehangatan itu, tapi ia merasa sangat nyaman.
"Tidak perlu, Tuan Xin." balas Li Hua sembari mengibaskan tangan di hadapannya. Sesaat kemudian, ia kembali berjalan melewati tubuh Xin Baozhai.
Tentu saja Xin Baozhai tak menyerah begitu saja. Ia berbalik, kemudian mengikuti langkah Li Hua. Merasa terganggu, Li Hua pun berhenti. Ia menoleh dan menatap Xin Baozhai dengan tajam kali ini.
"Kenapa kau mengikutiku?"
"Aku akan menemanimu berjalan di pasar ini, kemana pun!" Ujar Xin Baozhai. "Sebagai ganti." Ia menambahkan.
Li Hua berdecak kesal, dia tidak pernah berhadapan dengan manusia keras kepala dan tidak tahu malu ini. Kali ini, dia berhadapan dengan manusia keras kepala yang sangat tampan dan tak bisa diabaikan keberadaannya.
"Terserah saja." dengus Li Hua yang jengkel. Ia tak tahu cara menghadapi Xin Baozhai. Pria ini semakin didorong menjauh malah semakin mengganggu saja. Seperti kutu air.
Akhirnya, Li Hua membiarkan Xin Baozhai berjalan di sampingnya. Li Hua mencoba untuk membuat Xin Baozhai lelah. Ia selalu berhenti di setiap penjual, lalu menawar tapi kemudian pergi ke penjual yang lainnya.
"Nona muda, sebenarnya kau ini ingin beli apa?" tanya Xin Baozhai akhirnya.
"Kenapa? Kau sudah lelah mengikutiku?" tantang Li Hua dengan senyum misterius di wajahnya.
"Bukan begitu," Xin Baozhai tampak lesu. "Apa kau tidak lapar?"
Li Hua menggeleng perlahan, namun tubuhnya membohongi. Perutnya berbunyi dengan keras sehingga Xin Baozhai harus menahan tawanya agar tidak mempermalukan Li Hua. Sedangkan wajah gadis itu, memerah karena malu.
"Aku tahu ada kedai makanan yang sangat enak disini, ayo!" Seru Xin Baozhai, ia menarik tangan Li Hua dan mengajaknya berjalan lebih cepat.
Sesekali, Li Hua melihat bagaimana Xin Baozhai menggenggam tangannya sembari terus berjalan. Rasanya cukup aneh, kehangatan tangan Xin Baozhai mengalir ke nadinya. Li Hua pun tidak protes, sampai mereka berhenti di depan sebuah kedai yang cukup sederhana namun, begitu ramai dikunjungi.
Tertera di depan kedai tulisan 'Kedai Gun Ya'.
Mereka berdua kemudian masuk kedalam kedai tersebut. Aroma bebek yang di panggang pun menyusup ke indra penciuman keduanya, hingga saliva memenuhi rongga mulut mereka. Perut mereka semakin meronta untuk diisi. Namun, sepanjang mata memandang tak terlihat ada meja yang kosong. Kekecewaan pun meliputi wajah Li Hua, ia sudah berharap akan makan bebek panggang, tapi sepertinya harus ditunda.
"Disini ramai sekali, sepertinya tidak ada te-"
"Tuan Muda Xin!!!" Suara seorang pria paruh baya memotong ucapan Li Hua. Dia dan Xin Baozhai menoleh dan mendapati seorang pria bertubuh tambun dengan kain tersampir di bahunya menghampiri mereka.
"Tuan Dao An!!" ganti Xin Baozhai yang berseru, senyum melebar hingga ke telinganya saat melihat pria bernama Dao An itu.
"Anda baru saja sampai, kemari kemari!" Tuan Dao An mengajak mereka untuk pergi dari keriuhan di ruang utama tersebut. Mereka berjalan melewati sebuah pintu di bawah tangga, yang rupanya menghubungkan pada teras belakang kedai tersebut.
"Kenapa kita kemari?" tanya Li Hua yang tak bisa menahan rasa ingin tahunya. Selain itu, gadis itu sudah cukup lapar untuk menjadi tak sabar.
"Tuan Muda Xin, biasa makan di tempat ini, Nona." Ungkap Dao An. "Apalagi sekarang, dia membawa seorang gadis yang sangat menawan, mana mungkin kami membiarkan kalian keluar dengan perut kosong."
"Anda bisa saja, Tuan Dao An." balas Xin Baozhai,
"Baiklah, kalian tunggu disini, aku akan segera membuatkan makanan special untuk kalian."
Setelah itu, Tuan Dao An pun kembali kedalam kedai. Melihat teras belakang kedai cukup nyaman, Li Hua lalu duduk di bawah sebuah pohon yang cukup rindang. Di susul oleh Xin Baozhai, yang duduk diseberangnya.
"Rupanya Tuan Muda Xin Baozhai cukup terkenal." Ujar Li Hua memecah keheningan diantara mereka.
Senyum merekah di bibir Xin Baozhai, ia begitu bangga dengan dirinya sendiri. Memang Xin Baozhai cukup dikenal oleh penduduk sekitar, karena ia selalu bersosialisasi dengan mereka. Selain itu, kepribadian Xin Baozhai yang cukup baik membuatnya mudah untuk dikagumi semua orang.
"Begitulah, aku mengenal hampir separuh pedagang di pasar." balasnya dengan percaya diri.
"Sombong, kau bahkan tidak mengenalku." tukas Li Hua.
"Siapa yang menyangka pemilik Rumah b****l itu adalah seorang gadis?"
Kening Li Hua berkerut dalam tidak suka dengan bagaimana Xin Baozhai menyebutkan Rumah Bunga sebagai Rumah b****l. Hanya saja ia tak ingin memperpanjangnya. Ia hanya diam, sedangkan Xin Baozhai bersiul untuk menghilangkan kebosanannya.
Tak lama kemudian, Dao An muncul dengan membawa nampan besar di tangannya. Terlihat diatas nampan itu, satu ekor bebek yang sudah dipanggang berwarna kecoklatan dengan asap tipis yang masih mengepul. Aroma daging bebek yang dipanggang itu menyeruak ke penciuman Xin Baozhai dan Li Hua. Mereka tak sabar ingin segera menyantap makanan yang paling enak ini.
"Naah, ini bebek panggang special untuk Tuan Muda dan Nona, Selamat menikmati." Katanya dengan ceria sembari meletakkan bebek panggang itu di atas meja, kemudian berlalu pergi meninggalkan dua sejoli itu.
Tatapan mata Li Hua tertuju pada daging bebek utuh dihadapannya. Berkali-kali ia harus menelan salivanya yang sudah penuh dan hampir menetes. Ia ingin sekali, menarik bagian paha bebek tersebut, kemudian menghirup aromanya dan mengunyahnya secara perlahan. Betapa lezatnya.
"Tunggu apa lagi?" Suara Xin Baozhai mengganggu angan Li Hua. Ia mendongak dan melihat Xin Baozhai sedang mengamatinya.
"Boleh?" tanya Li Hua dengan ragu.
Hampir saja tawa Xin Baozhai meledak mendengar pertanyaan gadis di depannya ini. Jika ia tak boleh makan, mengapa pula Xin Baozhai harus repot-repot membawanya kemari. Hanya untuk menatap betapa indahnya bentuk bebek panggang?
"Tentu saja, Nona Muda!" seru Xin Baozhai. "Kau bisa makan sepuasnya," lanjutnya.
Tanpa basa-basi, Li Hua menelan salivanya sekali lagi. Memastikan tidak ada yang menetes, kemudian ia menyambar bagian paha bebek tersebut. Dengan kedua tanganya ia berusaha menarik bagian paha itu, membuat Xin Baozhai cukup terkejut dan juga terhibur dapat melihat gadis di hadapannya makan dengan rakus seolah makanan itu akan pergi.
Sangat jarang sekali Li Hua menikmati makanan senikmat ini. Selama di istana, ia hanya makan sesuatu yang sudah disiapkan dengan berbagai peraturan. Ia tak pernah makan sebebas ini.
"Makan pelan-pelan." decak Xin Baozhai melihat betapa rakusnya Li Hua.
Gadis itu mencoba untuk menelan daging yang ia kunyah.
"Apa bebek panggang selalu seenak ini?" tanyanya dengan polos. Xin Baozhai terkekeh, ia sangat terhibur melihat Li Hua.
Xin Baozhai mengamati Li Hua, ia menyangga kepalanya dengan menatap gadis itu. Tiap gerakan bibirnya saat menggigit potongan daging bebek dengan terburu-buru hingga bibirnya kotor karena bumbu bebek panggang itu, begitu menawan. Rasanya, angin berhembus pelan dan waktu berjalan lambat. Tatapan Xin Baozhai hanya terpaku pada Li Hua yang lahap memakan bebek panggang itu.
Merasakan bahwa bibir dan pipinya kotor, Li Hua hendak mengusapnya. Namun, tangan Xin Baozhai menahannya. Pria itu kemudian mengusap bibir Li Hua. Tubuh Li Hua membeku ketika ujung jari Xin Baozhai menyentuh bibirnya, jantungnya berdebar dengan kencang tiap kali jari itu bergerak mengusap perlahan. Udara disekitarnya pun seolah habis hingga ia merasa sesak. Seketika Li Hua memundurkan tubuhnya, dan menghela nafas sedalam-dalamnya.
"Seorang gadis harusnya bisa makan dengan rapi, lihat dirimu!" Xin Baozhai mencemooh. Wajah Li Hua memerah karena malu.
"Bukan urusanmu!" tukasnya, ia lalu hendak mengusap lagi dengan tangannya dan Xin Baozhai kembali menahannya dengan kening yang berkerut dan tatapan tajam.
"Bajumu akan kotor jika kau melakukannya, lagipula wajahmu sudah bersih." Kata Xin Baozhai. "Setiap hari kau selalu memakai pakaian putih, sedikit noda saja akan mempengaruhinya."
"Aku tahu," Balas Li Hua lirih. Saat ia bergeser untuk menyandarkan tubuhnya yang kekenyangan, Ia menatap sisa bebek yang tinggal seperempatnya saja dan menyadari sesuatu. Pria di hadapannya ini, tidak mengambil sepotong pun bebek tersebut.
"Kenapa kau tidak makan?"
"Melihatmu saja sudah membuatku kenyang," balas Xin Baozhai dengan nada mengejek.
"Ini pertama kalinya, aku menikmati bebek panggang selezat ini." ungkap Li Hua sembari menerawang kembali kehidupannya di istana.
"Apa kau hidup di hutan, bagaimana mungkin tidak pernah memakan bebek panggang?"
"Pernah." Sanggah Li Hua, tentu saja ia pernah memakannya. Tapi tidak dalam bentuk yang utuh seperti itu. Melainkan, potongan - potongan kecil dan ia harus memakannya dengan tata krama yang diajarkan oleh Nyonya Fang padanya, hingga paling banyak ia hanya makan satu potong tipis daging bebek.
Li Hua terkekeh ketika membayangkan wajah Kaisar apabila mengetahui Li Hua memakan tiga perempat ekor bebek sendiri langsung dengan menggunakan tangan.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Xin baozhai.
"Bukan apa-apa.." Li Hua teringat sesuatu, "Oh Astaga!!" pekiknya. Gadis itu terlihat panik. Ia tiba-tiba saja berdiri.
"Ada apa?"
Li Hua menutup mulutnya, kemudian bersendawa dengan keras. Sontak saja Xin Baozhai tertawa dengan keras karena Li Hua bersendawa, dan membuat wajah gadis itu semakin memerah.
Jika Zhang Zhilin tau, gadis itu pasti sudah membenamkan wajahnya ke dalam tahu. Membayangkannya, Li Hua semakin memerah. Bagaimana ia bisa bertingkah ceroboh di hadapan orang luar.
"Berhenti tertawa, Xin Baozhai!!" Dengus Li Hua kesal. Namun, Xin Baozhai yang menyebalkan tak bisa berhenti tertawa, tubuhnya bergetar hebat karena tawanya yang tak berhenti. Sedangkan Li Hua begitu malu, ia sudah makan dengan rakus dan kini bersendawa dengan keras. Sungguh, tak seperti dirinya.
"Sudahlah, terserah padamu, aku mau pergi!" Li Hua beranjak dari tempatnya, seketika Xin Baozhai berhenti tertawa. Ia menyusul langkah Li Hua yang cepat.
Mereka berjalan keluar dari Kedai milik Dao An, menembus keramaian pelanggan yang antre untuk mendapatkan bebek panggang ternikmat dikota.
"Kenapa terburu-buru, kau mau bersembunyi saat bersendawa?" goda Xin Baozhai ketika mereka berada diluar kedai.
Li Hua berhenti, ia menghela nafasnya dengan keras. Cukup sudah Xin Baozhai membuat wajahnya seperti kepiting rebus. Ia melipat tangan di depan dadanya sembari menatap tajam pada Xin Baozhai.
"Apa kau tidak puas mengejekku?" Li Hua cemberut, bibirnya membentuk kerucut samar.
Hanya saja, Xin Baozhai malah merasa senang melihat Li Hua cemberut seperti itu. Terlihat lebih manusiawi.
"Belum, lihatlah sekarang wajahmu sudah seperti bebek!" katanya lagi sengaja menggoda Li Hua.
"Kau!!!" Geram Li Hua sembari mengangkat tangannya siap memukul Xin Baozhai hingga terdengar sesuatu.
"Li Hua jie jie!!" Suara cempreng Zhang Zhilin mengalihkan perhatian Li Hua dan Xin Baozhai. Seraya menurunkan tangannya, dia dan Xin Baozhai pun menoleh ke samping. Mereka melihat Zhang Zhilin berlari kecil kearahnya dengan melambai-lambai, wajahnya pun tampak cemas.
"Zhilin!" Li Hua berseru.
"Apa kau baik-baik saja, Jie?" tanya Zhang Zhilin penuh kekhawatiran.
Setelah selesai membeli keperluan untuk membuat kantong parfum, seperti perjanjian mereka Zhang Zhilin pergi ke toko Lingwei. Sayangnya, ia tidak menemukan Li Hua disana. Awalnya, ia berniat untuk menunggu dan Li Hua pun tak menunjukkan tanda-tanda keberadaanya. Zhang Zhilin yang panik, mencari Li Hua kemana-mana dan akhirnya ia melihat sosok bak dewi yang keluar dari kedai makanan, bersama dengan pria tampan pemilik kedai teh. Cukup melegakan sekaligus mencurigakan.
"Maafkan aku Zhilin, aku benar-benar lupa." Ujarnya dengan jujur.
"Tidak apa-apa, jie, yang terpenting kita sudah bertemu." kata Zhang Zhilin.
"Senang bertemu denganmu lagi, Nona Zhang." Xin Baozhai menyela.
Zhang Zhilin tersenyum kearah Xin Baozhai dan membalas sapaannya.
"Aku tidak menyangka jika kalian akan bertemu!" kata Zhang Zhilin. "Jadi, kalian menghabiskan waktu bersama?" Imbuhnya lagi dengan penuh antusias.
"Ti, ti tidak!" Tukas Li Hua, tanpa sadar ia menggigit bibir bawahnya karena gugup. "Kami hanya makan bebek panggang." Imbuhnya lagi, Xin Baozhai ingin sekali tertawa, namun ia menahannya. Kasihan juga jika sepanjang waktu wajah gadis itu memerah.
"Oohh jadi hanya makan bebek panggang bersama, baiklah." ujar Zhang Zhilin terus menggoda Li Hua.
"Sudahlah, ayo kita kembali!" Li Hua menarik tangan Zhang Zhilin, tanpa berpamitan pada Xin Baozhai.
"Sampai jumpa Tuan Xin!!!" Seru Zhang Zhilin dengan melambaikan tangan dan tersenyum lebar.
Masih berdiri ditempatnya, Xin Baozhai mengamati punggung Li Hua yang menjauh darinya. Ia terkekeh sendiri kemudian ketika membayangkan wajah Li Hua. Hari ini, ia bisa melihat berbagai macam ekspresi di wajah gadis itu. Padahal, pertama kali bertemu ia berfikir bahwa Li Hua adalah gadis yang dingin dan tak bisa berekspresi.
"Jadi dia gadis yang bernama Li Hua?" Sebuah suara mengejutkan Xin Baozhai. Ketika ia berpaling, sosok Wu Pei sedang berdiri di sampingnya memandangi arah tempat Li Hua berjalan.
"Ya kau benar, dialah gadis itu, Li Hua." Gumam Xin Baozhai. Kemudian ia pun berbalik mengambil jalan berlawanan kembali ke kedainya.
to be continued........