08. Siapa Xin Baozhai?
Angin yang berhembus dengan perlahan begitu kering dan panas, bak angin dari gurun. Dedaunan yang mengering pun berjatuhan, begitu pula dengan kelopak-kelopak bunga yang memenuhi halaman paviliun milik Li Hua. Gadis itu, berdiri di teras rumahnya. Seperti biasanya, ia mengenakan hanfu berwarna putih. Hari ini ia menggerai rambutnya, tak menyisir atau menghiasnya sama sekali. Wajahnya terlihat gelisah, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Di tangannya mengenggam sebuah kantong, diangkat tangannya dan ia membukanya.
Hatinya ragu, apakah langkah yang diambilnya ini sudah benar atau tidak. Li Hua menghela nafasnya begitu dalam. Tangannya kembali dijatuhkan ke sisi tubuhnya. Pikirannya benar-benar buntu saat ini. Namun, sesaat kemudian dia membenarkan apa yang sudah dia lakukan dan menguatkan tekadnya untuk hal tersebut.
"Ya, aku melakukannya untuk Shen ge." Ia mengingatkan dirinya sendiri. Lebih tepatnya memaksa dirinya untuk mengingat dan mematri dalam hatinya untuk siapa dia melakukan semua ini, ya, kebaikan kakanya, Pangeran Yuan Shen.
"Jie, ayo masuk, anginnya semakin kencang." Zhang Zhilin mengingatkan sembari mendekat pada Li Hua.
Li Hua tampak sedikit terkejut, lamunannya terusik oleh kedatangan Zhang Zhilin yang seraya menggamit lengan kecilnya. Ia menoleh pada Zhang Zhilin, kemudian tersenyum tipis. Wajah pucat Li Hua membuat Zhang Zhilin menjadi khawatir. Zhang Zhilin melarikan tangannya pada kening Li Hua untuk memeriksa suhu tubuhnya.
"Apa kau sakit? Kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Zhang Zhilin, keningnya berkerut dalam ketika ia mengetahui bahwa tubuh Li Hua bahkan tidak demam, tapi begitu pucat seperti tidak dialiri oleh darah saja.
Perlahan-lahan Li Hua menyingkirkan tangan Zhang Zhilin dari dahinya. Dia memang tidak sakit, tapi apa yang telah ia lakukan membuatnya berfikir lebih keras dari biasanya. Keputusan yang ia ambil, menghantui dirinya. Walau sudah berusaha sekuat mungkin, kenyataannya dia masih meragu.
"Kau hanya pergi sebentar, mengapa saat pulang jadi pucat. Sebenarnya, kau pergi kemana?" tanya Zhang Zhilin.
Sebelumnya, pagi hari sekali Li Hua mendapatkan sebuah surat rahasia dengan stempel cokelat dengan lambang pohon di dalamnya. Melihatnya sekikas saja Li Hua tahu, bahwa ini adalah Lambang Keluarga perdana menteri Zhu Yi Zheng. Tentu saja, Li Hua bertanya-tanya mengapa Perdana Menteri mengiriminya surat rahasia.
Ketika ia membuka surat tersebut, ia cukup terkejut dengan isinya. Tangannya pun sempat gemetar. Bagaimana tidak, ia tinggal di luar istana dengan tujuan menghindari hiruk pikuk persoalan di istana, tetapi sepertinya sia-sia saja. Pada akhirnya ia malah mendapatkan surat rahasia ini. sepertinya kemana pun dia pergi akan selalu dikejar-kejar hal semacam ini.
Setelah itu pun, Li Hua pergi sendirian ke rumah sang perdana menteri, menerima undangan rahasia itu. Rupanya, Perdana Menteri telah mengirim seseorang menunggunya tak jauh dari rumah bunga. Ia pun diantarkan melalui pintu belakang kediaman sang Perdana Menteri.
Sejak kembali dari rumah yang paling tidak ingin dikunjungi oleh hampir semua orang itu, Li Hua terus melamun dan berdiri di teras tanpa memerdulikan angin yang berhembus semakin kencang dengan membawa debu itu menerpa tubuh kecilnya yang ringkih.
"Aku baik-baik saja, aku akan pergi ke istana." katanya tiba-tiba. Ia hendak bergegas namun, Zhang Zhilin menahan lengannya hingga ia pun berhenti.
"Kenapa tiba-tiba ingin pergi ke istana?" Zhang Zhilin sangat mengerti apabila Li Hua tinggal di sini karena ingin menghindari para wanita yang tinggal di harem istana. Sekarang ingin kembali ke sana, meski hanya untuk berkunjung pasti ada alasan yang kuat. Li Hua terdiam, ia memikirkan alasan yang tepat agar Zhang Zhilin tidak merasa curiga. Namun apa kiranya?
"Haiyaa, Zhilin, aku merindukan Shen ge." katanya tidak sepenuhnya berbohong. Cukup lama Pangeran Yuan Shen tidak mengunjunginya. Mungkin dengan ini Zhang Zhilin akan memercayainya.
"Biasanya kau akan menunggunya, mengapa kali ini berbeda?"
Li Hua berdecak pelan, sangat pelan. Ia kesal, mengapa Zhang Zhilin banyak bertanya hari ini? Dia sendiri tak pandai berbohong, akan sangat kelihatan jika ia berbohong satu kata saja. Li Hua terus berfikir, oh Ayolah!
"Aku juga rindu suasana di Istana, Aku ingin bertemu Nyonya Fang dan Yang Mulia Kaisar." Dalam hatinya, Li Hua berharap kebohongannya tidak ketahuan. Jika Zhang Zhilin lebih curiga, tamatlah riwayatnya. Gadis ayu itu memasang senyuman termanisnya agar Zhang Zhilin lebih mempercayainya.
Alhasil, Zhang Zhilin pun hanya manggut-manggut saja mempercayai ucapan Li Hua. Dalam hatinya, Li Hua merasa begitu lega. Ini adalah kebohongan pertamanya yang tak terungkap. Mungkin sekarang keahliannya bertambah. Dia harus mengapresiasi dirinya untuk itu.
"Kalau begitu aku akan melakukan persiapan." kata Zhang Zhilin.
"Tidak perlu!" pekik Li Hua dengan cepat. Zhang Zhilin heran, hingga satu alisnya naik. Benaknya pun bertanya-tanya, mengapa Li Hua sangat gelisah hari ini? Li Hua tidak seperti biasanya, seolah gadis cantik itu telah menghadapi sesuatu yang mengerikan.
"Maksudku, aku tidak akan lama di istana, hanya mengunjungi kakakku." lanjut Li Hua mencoba lebih tenang. Meski merasa aneh dengan sikap Li Hua saat ini, tapi Zhang Zhilin hanya diam saja. Ia tak ingin mengganggu Li Hua. Karena ia tahu, jika Li Hua ingin Zhang Zhilin mengetahui kegelisahan dirinya maka gadis rupawan itu akan menceritakan segalanya. Jika tidak, Zhang Zhilin tak pernah memaksanya.
Setelah menyiapkan segala sesuatunya, Zhang Zhilin memberitahu Li Hua. Keduanya pun pergi ke istana dengan tandu yang memang sudah di persiapkan khusus untuknya. Hanya saja, Li Hua jarang sekali menggunakan tandu tersebut.
Sepanjang jalan, Li Hua menjadi lebih pendiam. Bukan seperti Li Hua biasanya, yang banyak bicara dan ceria. Zhang Zhilin pun merasakannya, namun percuma saja memaksa Li Hua bercerita, gadis ini cukup keras kepala.
Tak sulit baginya untuk memasuki istana karena Li Hua memiliki lencana khusus yang diberikan oleh kaisar padanya. Dengan menunjukkan tanda itu maka semua pengawal gerbang akan dengan cepat memberinya jalan. Bahkan mereka memberikan hormat pada Li Hua.
Mereka langsung menuju ke manor Pangeran Yuan Shen. Setibanya di kediaman pangeran, Li Hua pun bergegas turun. Ia sangat antusias untuk bertemu dengan Sang Pangeran. Karena terburu-buru, Li Hua hampir saja terjatuh dari tandu. Untung saja seseorang dengan sigap menangkap tubuh Li Hua yang seringan kapas itu.
"Adik kecil, kenapa kau terburu-buru begitu?" Suara ini bukan seperti milik Pangeran Yuan Shen, lebih dalam dan cukup besar, aroma tubuhnya pun berbeda. Apabila pangeran Yuan Shen memiliki harum seperti Pinus segar maka Pria ini lebih maskulin. Hingga Li Hua pun mendongak untuk melihat siapa gerangan yang sudah menolongnya.
Ketika melihat sosok tinggi dan tampan, dengan aura wibawa yang cukup kuat, seketika Li Hua menunduk memberikan hormatnya.
"Maafkan saya, Yang Mulia Putra Mahkota." Ujar Li Hua selembut mungkin.
Dihadapannya berdiri Pangeran Yuan Qi. Pangeran kedua sekaligus Putra Mahkota yang menggantikan Pangeran Yuan Shen. Perawakannya tinggi besar dan gagah, ia memiliki kharisma yang mampu memesona tiap gadis yang memandangnya. Tatapannya setajam elang, senyumnya tipis dan kaku, garis rahangnya begitu kuat. Ia cukup handal dalam beladiri. Hanya saja Pangeran Yuan Qi belum menemukan Putri Mahkota yang cocok untuk mendampinginya.
"Kau ini, selalu saja sangat formal jika denganku. Anggap saja aku ini seperti Yuan Shen." Kata Pangeran Yuan Qi. Tapi tentu saja, Li Hua tak bisa memperlakukannya seperti Pangeran Yuan Shen.Yuan Qi cukup tegas, kepribadiannya pun sangat bertolak belakang dengan Pangeran Yuan Shen dan ia satu-satunya pria yang ditakuti oleh Li Hua di dalam istana. Setiap kali berada di dekat Pangeran Yuan Qi maka Li Hua akan merasa seperti terintimidasi.
"Mana boleh begitu, Yang Mulia, Nyonya Fang akan marah besar padaku." Jawab Li Hua spontan.
"Salam Yang Mulia." Suara Zhang Zhilin mengalihkan perhatian keduanya. Pangeran Yuan Qi hanya tersenyum ke arah Zhang Zhilin.
"Apa kau ingin menemui Yuan Shen?" Tanya Pangeran Yuan Qi dengan lembut pada Li Hua.
Gadis ayu itu kemudian mengangguk perlahan. Namun, menyadari kehadiran Pangeran Yuan Qi, ia berfikir untuk mengurungkan niatnya.
"Tapi, sepertinya Saya akan kembali lagi."
"Kenapa?! Ay-" Ucapan Pangeran Yuan Qi terpotong oleh suara lain yang berasal dari Manor.
Pangeran Yuan Shen, berjalan mendekati mereka. Di belakangnya pun mengikuti Cheng Hao, berjalan dengan tegap lengkap dengan pedang di sarungnya bertengger di pinggang rampingnya yang kokoh.
"Wah wah, rupanya aku sedang kedatangan tamu yang tak terduga." decaknya, Pangeran Yuan Shen tersenyum dan terus menatap ke arah Li Hua yang tampak pucat. Ke khawatiran pun menyelimuti dirinya.
"Kudengar dari pelayan, kau sedang tidak enak badan, makanya tidak hadir dalam pertemuan pagi ini." Ujar Pangeran Yuan Qi. Perhatian Pangeran Yuan Shen pun teralihkan. Kini ia menatap Kakaknya itu sembari tersenyum. Meski jelas sekali senyumannya itu tak sampai ke mata.
"Ah, Ya pagi ini aku merasa sedikit dingin, jadi aku tidak hadir." balas Pangeran Yuan Shen. "Daripada berdiri disini, lebih baik kita menikmati teh di taman belakang, bagaimana?"
Mendengar Pangeran Yuan Shen tidak begitu sehat cukup membuat Li Hua terusik. Ia ingin memarahi Yuan Shen, tapi karena ada Putra Mahkota di dekatnya ia harus bersikap seperti layaknya seorang putri, sebagaimana yang sudah diajarkan oleh Nyonya Fang. Li Hua hanya bisa mendesah diam-diam.
Mereka akhirnya berada pada teras Manor Pangeran Yuan Shen. Karena tidak memiliki banyak pelayan, Zhang Zhilin menjadi pengganti untuk menyiapkan teh mereka.
Li Hua tak sedetik pun luput memperhatikan Pangeran Yuan Shen. Ia begitu khawatir dengan keadaan pangeran saat ini.
"Apa tabib istana sudah memeriksamu, Adik?" Tanya Pangeran Yuan Qi.
Sesaat Pangeran Yuan Shen melirik kearah Li Hua yang tampak kesal dengan wajah pucat gadis itu, fikirannya pun tidak bisa fokus pada ucapannya. Namun kemudian ia tersenyum dan menjawab pertanyaan Pangeran Yuan Qi.
"Aku sudah lama tidak memanggil Tabib istana, ini juga bukan masalah serius." Balas Yuan Shen, jelas tersirat ia sebenarnya memberi tahu Li Hua bahwa tak perlu khawatir.
"Bagaimana pun, kau adalah seorang pangeran. Kau harus memperhatikan kesehatanmu." Ujar Pangeran Yuan Qi, ia kemudian mengambil cangkir teh yang baru saja di sajikan oleh Zhang Zhilin dan menyesap aroma teh yang nikmat itu.
"Kakak kau benar, aku memang terlalu acuh pada kesehatanku, terimakasih sudah memperhatikanku." Yuan Shen mengangguk berterimakasih dengan hormat.
Lagi-lagi Li Hua mendesah. Dia sangat tidak suka terjebak pada percakapan yang cukup kaku seperti ini, hanya di istana seperti ini kakak beradik bicara dengan sangat formal. Apalagi, Yuan Qi ada di antaranya, keadaannya akan lebih berbeda.
Yuan Qi adalah pribadi yang keras dan sangat kaku. Menurut Li Hua senyuman yang selalu disunggingkan oleh Yuan Qi itu palsu, tapi Yuan Shen pernah memarahinya karena hal ini meski Yuan Shen pun setuju dengan Li Hua. Yuan Qi tidak memiliki selera humor yang bagus, semua hal diambil serius olehnya. Namun, karena itu dia menjadi pria yang disiplin.
"Apa yang kau bicarakan, kau adalah adikku tentu saja aku akan memperhatikan." kata pangeran Yuan Qi kemudian ia meletakkan cangkir tehnya. Matanya, menangkap Li Hua yang tak bersuara sama sekali. Hanya duduk diam mendengarkan dengan wajah pucat pasi.
"Apakah kau sakit, Adik kecil??" Tanya Pangeran Yuan Qi.
Diamnya Li Hua memang sedikit tak biasa. Gadis itu penuh kejutan, dan sangat aktif. Melihatnya terdiam dengan wajah pucat tentu saja menunjukkan ada sesuatu yang salah terjadi padanya.
"Iya, wajahmu pucat sekali." imbuh Pangeran Yuan Shen yang akhirnya memiliki kesempatan untuk menanyakan keadaan gadis itu.
"Tidak, tidak." jawab Li Hua dengan melambaikan tangan di depannya. Ia lalu tersenyum kaku. "Ini mungkin karena udaranya cukup kering, jadi aku terlihat cukup pucat, tapi kalian tidak perlu khawatir." Imbuhnya cepat.
"Baiklah kalau memang begitu," Sahut Yuan Qi. "Sepertinya, aku harus pergi dulu." Pangeran Yuan Qi pun beranjak pergi setelah di antarkan oleh pangeran Yuan Shen.
Melihat kesempatan itu, Li Hua segera bangkit. Ia mencari keberadaan Cheng Hao. Rupanya, pengawal itu sedang bersantai di dapur dengan Zhang Zhilin. Keduanya terlihat akrab, hingga menimbulkan kecurigaan pada Li Hua. Mereka bahkan sangat asik berbincang sampai tak menyadari sosok Li Hua di pintu.
"Ehem." Li Hua berdeham, keduanya tersentak kaget lalu menghadap pada Li Hua.
"Nona, apakah ada yang kau perlukan?" Tanya Zhang Zhilin yang tampak salah tingkah. Gadis itu mendorong tubuh Cheng Hao dan berjalan melewatinya.
"Aku ingin bicara dengan Cheng Hao ge." balasnya.
Seraya Cheng Hao pun melangkah maju. Melihat, pembicaraan itu bukan untuknya Zhang Zhilin pun kembali menyiapkan beberapa camilan.
Setelah memastikan bahwa hanya ada dirinya dan Cheng Hao, meski dengan ragu-ragu Li Hua mengambil sebuah kantong yang ia simpan di kantong lengannya dan memberikannya pada Cheng Hao. Untuk beberapa saat Cheng Hao bingung, kantong apa yang diberikan oleh Li Hua padanya? Terlihat seperti kantong obat yang biasanya ia temui di kedai obat.
"Aku mendapatkan ini tadi pagi, orang itu bilang bahwa ini bisa membantu pemulihan Pangeran Yuan Shen, Hao ge bisakah kau membantuku?" tiap ucapan yang keluar dari bibir ranum Li Hua begitu hati-hati. Menambah rasa penasaran Cheng Hao sebenarnya. Jika memang itu sebuah obat, mengapa Li Hua terlihat sangat ragu ketika memberikannya?
"Darimana anda mendapatkan ini, Nona?"
Li Hua tertegun sejenak, tanpa sadar ia menggigit bibirnya. Dia sedang gugup saat ini. Cheng Hao tidak akan pernah melepaskannya, dan sangat sulit untuk membohongi pemuda itu.
"Nona, apakah anda serius, jika obat ini membuat pangeran jauh lebih buruk maka konsekuensinya akan besar." Cheng Hao mengingatkan, peraturan di istana sangatlah ketat. Tidak ada satu kesalahan yang bisa menyelip keluar dari hukum istana. Meski anak Kaisar sekali pun.
"Itulah sebabnya, aku ingin kau membawa ini pada Tabib Istana, tanyakan apa kandungan dalam obat ini." Li Hua menghela nafasnya.
Sekali lagi, Cheng Hao menatap kantong obat di dalamnya kemudian menatap Li Hua yang tampak sangat gelisah. Ia menyadari, bahwa Li Hua hanya ingin kesembuhan bagi Pangeran Yuan Shen.
"Baiklah, sesuai dengan perintah Anda, Nona."
Li Hua menghela nafasnya lega. Paling tidak ia sudah mencoba. Selanjutnya ia harus menyusun rencana yang lain, untuk membayar hutangnya pada orang yang memberikan obat itu padanya.
°°°°
Teh dalam teko yang tadinya mengepul kini bahkan tak terlihat lagi asap tipisnya. Namun, isinya masih penuh tak berkurang sama sekali. Tidak biasanya, Xin Baozhai menyia-nyiakan teh seduhan Da Feng. Di hari liburnya seperti saat ini, biasanya Xin Baozhai bersantai di tepi kolam ikan miliknya dengan membaca beberapa buku dan menikmati teh.
Hari ini cukup berbeda, bukunya tak tersentuh, tehnya pun tak berkurang. Seharian, yang dia lakukan melamun sambil memangku kepalanya dengan telapak tangannya.
Semua itu karena kedatangan Wu Pei pagi tadi. Sudah dua minggu sejak Wu Pei mengintai istana. Awalnya dia masuk, dengan menyamar sebagai pengawal istana. Sungguh tidak sulit baginya, tidak ada yang mengenalinya. Mungkin karena terlalu banyak pengawal di istana. Pemuda itu kemudian, mendekati salah satu pelayan istana yang sudah ia targetkan.
Pelayan istana itu adalah seorang gadis berusia sekitar 15 tahun. Tapi, ia seperti biang gosip. Dimana pun ia berdiri, maka akan ada satu gosip yang beredar. Sungguh, telinga dan mulut yang dimanfaatkan dengan sangat baik sekali. Dari situlah, Wu Pei mendapatkan semua informasi. Meski tidak valid, karena tentu saja Pelayan itu pasti mendengarnya dari orang lain. Namun, informasinya cukup meyakinkan.
"Jadi dia anak yang dibawa oleh Kaisar sendiri 13 tahun yang lalu." begitu Xin Baozhai menyimpulkan informasi yang diberikan oleh Wu Pei.
Kini Xin Baozhai mengetahuinya. Li Hua adalah Puteri angkat kaisar, meskipun tak ada ritual resmi untuknya. Lalu, ia berada di bawah perlindungan Pangeran Yuan Shen, di berikan nama oleh Pangeran Yuan Shen karena Li Hua sendiri lupa namanya sejak ia dibawa oleh Kaisar. Asal-usul gadis itu pun tak jelas sama sekali. Saat ini Li Hua dikenal sebagai Puteri Yuan Li di istana.
Sedangkan Xin Baozhai kembali membuka ingatannya 13 tahun yang lalu. Ia mengepalkan tangannya, tidak ingin mengingat kejadian berdarah malam itu. Kenangan hari itu, cukup pahit dan menyisakan luka yang tak pernah kering.
"Tuan Muda." Suara seseorang mengusik lamunan Xin Baozhai. Menoleh dan mendapati Da Feng sedang berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Ada apa,?"
"Apakah kau mau aku membuatkan teh yang baru? Kulihat tehnya sudah dingin." Lanjut Da Feng.
Xin Baozhai melihat ke arah teko di meja depannya. Memang benar, tak ada lagi asap mengepul, dan entah sudah berapa lama sejak ia tenggelam dalam lamunannya. Teh itu seharusnya malah sudah beku.
"Tidak perlu." balasnya singkat.
Da Feng menelengkan kepalanya, ia cukup heran dengan tingkah Tuan Mudanya. Biasanya, Xin Baozhai terlihat ceria seolah tak memiliki beban apapun, kini berubah muram dengan wajah dingin dan cukup misterius.
"Apakah kau sakit, Tuan Muda?"
"Tidak Da Feng, aku tidak sedang sakit." Jawab Xin Baozhai dengan acuh tak acuh. Ia bahkan tak repot-repot menatap Da Feng untuk meyakinkan keadaannya sendiri.
Melihat tampaknya Xin Baozhai dalam suasana hati yang buruk, tanpa tahu pasti penyebabnya Da Feng menyerah, ia tak ingin membuat sisa hari Xin Baozhai hari ini lebih buruk lagi. Jika tidak, entah apa yang akan di lakukan Xin Baozhai terhadapnya nanti. Tuannya ini sangat sulit untuk ditebak jalan pikirannya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan kembali bekerja." kata Da Feng.
Xin Baozhai kembali larut dalam lamunannya. Ia bahkan tertidur karena terlalu dalam memasuki fikirannya.
to be continued...