09. Untuk Rakyat

2941 Words
09. Untuk Rakyat Dinginnya malam begitu menusuk tulang, badai salju membuat seluruh wilayah tertutupi oleh salju. Bagi mereka yang tak mampu membeli arang, maka rumah mereka akan membeku. Pemiliknya pun akan susah untuk bertahan hidup pada musim seperti ini. hal itu sudah wajar terjadi karena musim seperti ini mereka yang tidak bersiap untuk menghadapinya akan terkubur oleh dinginnya salju. Namun, malam yang begitu dingin hingga menusuk tulang tak menghentikan seorang anak lelaki untuk menggoda bocah perempuan di depannya. Bocah itu sedang belajar menulis di lembar putih. Tapi, si anak lelaki terus menyenggol kuasnya dengan sengaja. Hingga akhirnya tulisan gadis itu menjadi tercoret. "Pangeran, aku tidak akan bisa belajar." katanya dengan suara yang begitu menggemaskan. "Memangnya kau belajar menulis apa, kau kan masih kecil." "Menulis namamu." jawabnya asal. Tiba-tiba pangeran kecil itu mengambil kuas milik sang bocah perempuan. Membuat si bocah perempuan itu hampir menangis, merasa bersalah, Pangeran kecil mengusap pipi bocah itu dengan penuh kasih sayang. "Jangan menangis, aku hanya ingin menunjukkan padamu bagaimana caranya menulis namaku dengan benar." katanya lagi. "Benarkah?" "Eung." Jawab pangeran kecil sembari mengangguk. Gadis kecil itu kemudian tersenyum dengan cerah. Lalu, pangeran menuliskan namanya di atas selembar kertas yang baru. Ia menuliskan hurufnya dengan cukup rapi. "** (Wang Yue)." Pangeran membacakan tulisan yang ia buat. "Wang Yue." Gadis kecil itu kemudian mengikutinya. "Sekarang aku akan menuliskan namamu." Kata pangeran kecil, kemudian ia mulai menulis lagi. Kali ini terdiri dari tiga suku kata. "*** (Xin Feng Huö)" "Xin Feng Huö" Gadis itu mengulanginya dengan ceria. Xin Feng Huö.. Xin Feng Huö.. Xin Feng Huö.. "Xin Feng Huö!" Nafas Xin Baozhai terengah, matanya terbuka amat lebar. Mimpinya begitu jelas seolah terjadi tepat di depan matanya. Sudah lama mimpi seperti ini tidak menghampirinya, entah mengapa malam ini ia bermimpi seperti ini lagi setelah sekian lama. "Kau bermimpi lagi?" Suara Wu Pei menarik kesadarannya secara penuh. Pemuda itu berdiri tepat di hadapannya, menatapnya keheranan. "Mengapa kau di kamarku?" tanya Xin Baozhai. Ditanya seperti itu, Wu Pei malah tertawa. Sungguh, Xin Baozhai adalah pemuda tertampan yang paling bodoh sedunia. Bagaimana bisa taman seluas ini dengan langit sebagai atapnya, yang mana jika terjadi hujan maka mereka akan basah kuyup menjadi kamarnya? "Dia pasti belum bangun seutuhnya" gerutu Wu Pei. Tak! Kepala berharganya dipukul dengan keras oleh Xin Baozhai. Pemuda itu pun mengaduh kesakitan. Akhirnya Xin baozhai yang tersadar pun kemudian duduk dengan sempurna. Ia mengamati sekitarnya, hari sudah sangat gelap, ia juga tak mendengar suara gaduh di kedainya. Ini menandakan semua pegawainya sudah selesai bekerja. Tatapannya kemudian beralih pada Wu Pei, pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh pemuda itu. Terlihat dari gelagatnya yang ragu-ragu, ini pasti sesuatu yang cukup mengejutkan atau bisa di bilang buruk. "Ada apa?" tanya Xin Baozhai dengan malas. Menyadari bahwa sudah ketahuan, Wu Pei meringis sembari menggaruk kepala bagian belakangnya. Ia masih ragu, apakah sepucuk surat yang ia terima sore tadi melalui merpati harus ia serahkan pada Xin Baozhai atau tidak. Tapi, dilihat dari isi suratnya mungkin cukup mampu membuat Xin Baozhai pergi dari kerajaan Mengyue. "Kau ingin kuhajar dulu?" Xin Baozhai benar-benar dalam keadaan suasana hati yang buruk hari ini. Sekuat tenaga ia menahannya agar tak menimbulkan korban jiwa. Setelah menimang dengan cepat, akhirnya Wu Pei pun mengambil sesuatu dari balik lengan bajunya. Lama ia merogoh, belum juga ketemu. "Ahh, kemana ya tadi kutaruh." Wu Pei terus mencari, ia sangat yakin menaruh surat tersebut di lengan bajunya. Beberapa saat ia terus mencari dan tak menemukan surat tersebut, ia mendengus kesal. Wajahnya cemberut, mengapa ia seceroboh ini. "Kenapa?" Tanya Xin Baozhai. "Hah?" Wu Pei tersentak, bagaimana ia harus mengatakan pada Xin Baozhai, bahwa ia sudah menghilangkan surat penting itu? "Apa yang di kepalamu itu?" tanya Xin Baozhai, lalu ia meraih kepala Wu Pei, mengambil sesuatu yang menyelip di ikatan rambutnya. Wu Pei menatapnya, dan mencoba mengenali benda apa itu. Sebuah gulungan kecil, berwarna kecokelatan yang segelnya telah terbuka. "Nah itu dia!" Serunya. "Bagaimana bisa ada disana." gumam Wu Pei. "Kau membukanya?? Lancang sekali." Xin Baozhai tidak serius mengatakannya, dia hanya menggoda Wu Pei yang panik. "Ah, maafkan aku kakak senior." Xin baozhai tak ingin memperpanjang masalah ini. Lagipula hanya sebuah surat. Jika seharusnya dirahasiakan, mengapa di kirim pada Wu Pei? Ini berarti surat tersebut tidak begitu rahasia kan? "Wang Qian??" Xin Baozhai agak terkejut melihat cap merah berukiran bunga teratai di ujung sudutnya. Wu Pei hanya mengangguk pelan. Kemudian ia mulai membaca tiap baris tulisan yang tertera di atas gulungan kertas kecil itu. Beberapa saat, alisnya saling bertaut. Ia sungguh serius membaca surat ini. "Apa Wang Qian yang kau maksud sebagai murid baru Guru Besar?" tanya Xin Baozhai. Lagi, Wu Pei hanya mengangguk pasrah. "Aku juga baru mengetahuinya, jika anak itu adalah Puteri Wang Qian." Gumam Wu Pei dengan lemas, seolah nyawanya diambil secara perlahan. Ia tampak kehilangan semangat hidupnya. "Dia mencariku." kata Xin Baozhai. "Tentu saja, anda harus kembali ke Istana menyelesaikan semua masalah ini. Guru Besar tidak bisa membantu anda lebih lama lagi." Ucap Wu Pei begitu formal, membuat Xin Baozhai bergidik. Karena Wu Pei tak pernah sekalipun bersikap formal di hadapannya. Xin Baozhai merenung kembali, dalam surat yang ditulis oleh Wang Qian berisi tentang kondisi di dalam istana dinasti Liang. Baginda Ibu Suri sebagai pengganti kaisar saat ini tengah mengalami kondisi kritis. Sedangkan empat pangeran yang tersisa di Istana sudah mulai berebut untuk menduduki singgasana. Jika keadaan terus di biarkan, maka istana akan berada dalam kekacauan. Sedangkan yang bisa menghentikan kekacauan ini hanya Xin Baozhai. "Kembalilah, kehidupanmu ada di Liang, bukan di sini kakak senior." Ujar Wu Pei. Pemuda itu pun benar, tapi tujuannya kemari belum terpenuhi. Sedangkan saat ini, ia mulai mendapatkan petunjuk yang bisa membuka jalannya untuk menyelesaikan misinya. "Aku akan kembali, setelah semuanya selesai." jawabnya tegas. °°° "Nona Li Hua." Suara Cheng Hao mengejutkan Li Hua yang tengah meniup-niup api di dalam tungku untuk memasak hingga gadis rupawan itu tersentak dan hampir terjatuh. Dengan cepat, Cheng Hao pun membantu Li Hua untuk berdiri. "Ah, Bagaimana? Apa kau sudah menemui tabib istana?" Tanya Li Hua dengan sangat antusias. Cheng Hao mengangguk perlahan, ekspresinya tak bisa terbaca. Membuat Li Hua kesal harus menunggu Cheng Hao mengatakan sesuatu. "Kata tabib istana, itu adalah ramuan langka, memang bisa digunakan untuk membantu menyembuhkan aliran chi yang dingin." jelas Cheng Hao pada Li Hua. "Syukurlah kalau begitu." ujar Li Hua sembari menghela nafas lega. "Tapi darimana anda mendapatkan ramuan langka itu?" Seperti disambar petir siang bolong, Li Hua tak pernah menyangka bahwa Cheng Hao akan bertanya seperti ini. Dirinya pun tak pernah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini. Seperti biasanya saat ia gugup, Li Hua menggigit bibir bawahnya dengan gelisah. "Ahhh, Nona masakanmu hampir hangus." Suara Zhang Zhilin membuyarkan lamunan Li Hua dan mengalihkan perhatian Cheng Hao untuk sementara ini. "Oh Astaga, bagaimana ini." Li Hua kembali beralih pada masakannya. Di bantu dengan Zhang Zhilin yang menatap apinya, ia mengaduk makanan tersebut, kemudian mengangkatnya. "Hao, apa kau sudah makan?" Tanya Zhang Zhilin, yang menyadari bahwa Cheng Hao masih berada di dapur mereka. "Sudah, aku akan kembali ke sisi pangeran, sampai jumpa." Katanya lalu ia beranjak pergi. Zhang Zhilin penasaran, mengapa Cheng Hao tiba-tiba kemari lalu sudah pergi lagi. Ia pun mendekati Li Hua yang sedang memasukan makanan yang ia buat kedalam mangkuk. Zhang Zhilin mengambil mangkuk tersebut untuk membantu Li Hua. "Kenapa Cheng Hao kemari, Jie?" Tanya Zhang Zhilin. "Aahh, itu, dia hanya memberitahu bahwa mungkin pangeran tidak bisa kemana-mana, keadaannya tidak memungkinkan." jawab Li Hua berbohong. "Apakah Yang Mulia sakit lagi?" Zhang Zhilin tampak khawatir. Di musim gugur seperti ini, dengan cuaca yang kering dan dingin memang akan membuat tubuh pangeran yang lemah menjadi lebih lemah. "Yang Mulia hanya membutuhkan istirahat, lagi pula tidak baik bagi seorang pangeran sering berada di sini." jelas Li Hua cukup untuk menenangkan Zhang Zhilin yang rasa ingin tahunya cukup besar. Setelah semua makanan yang dimasak telah siap, di bantu dengan Zhang Zhilin makanan itu di bawa ke teras untuk di nikmati bersama. Namun, saat mereka hendak makan. Sebuah ketukan di pintu, menarik perhatian keduanya. Zhang Zhilin dengan ceria, berlari dan membuka pintu itu. Melihat Zhei Yan yang berdiri di ambang pintu dengan kipas di pergelangan tangannya, membuat senyum Zhang Zhilin merekah. Tidak hanya kedatangan Zhei Yan yang membuat mata Zhang Zhilin terasa cerah, itu karena sosok yang berdiri dibalik Zhei Yan telah mampu mengalihkan dunia Zhang Zhilin. "Salam Nona Zhang, apakah Nona Li Hua berada di rumah?" "Ya, masuk masuk, Nona sedang ada di rumah. Apa kalian sudah makan?" Tanya Zhang Zhilin. "Tidak perlu repot-repot, Nona Zhang." kata Zhei Yan. "Apanya, dia kan bilang sudah membuatnya. Kau harus menghargainya Tuan Zhei Yan." Timpal pria yang berjalan beriringan dengan Zhei Yan yang tak lain adalah Xin Baozhai. Mendengar ucapan pria itu, Zhang Zhilin terkikik geli. Di dunia ini rupanya ada seorang yang rupawan tapi sungguh tak tahu malu. Zhei Yan hanya menutup wajahnya dengan kipas di tangannya, tak sanggup menunjukkan wajahnya. Melihat ada tamu yang berkunjung, Li Hua pun langsung berdiri untuk menyambut mereka. Senyumnya mereka seindah bunga persik di musim semi. Matanya yang teduh membawa kesejukan bagi hati yang gersang. "Tuan Zhei Yan, Tuan Muda Xin. Apa yang membawa kalian ke paviliunku?" Tanya Li Hua dengan sopan. "Keperluanku hanya mengantarkan Tuan Muda Xin, untuk selanjutnya mungkin kalian bisa berbicara lebih lanjut." sahut Zhei Yan. Pandangan mata Li Hua langsung jatuh pada pria yang tengah mengenakan hanfu berwarna biru gelap itu. Mencoba menilai, apakah gerangan yang akan disampaikan oleh Pemuda yang cantiknya bak dewa itu. "Kudengar kau memasak, apa aku boleh mencicipi masakanmu?" tanya Xin Baozhai tiba-tiba. Tatapan Li Hua lun melebar, ia menggigit bibir bawahnya sesaat. "Oh, tentu saja." jawabnya datar. "Kebetulan, aku benar-benar lapar." Xin Baozhai kemudian berjalan melewati Li Hua yang masih mencerna maksud Xin baozhai. Dengan hati-hati ia menatap Xin Baozhai yang duduk sembari melihat ke meja makan yang penuh dengan masakan yang ia masak. "Kenapa dia kemari, Zhei Yan ge?" Tanya Li Hua berbisik pada Zhei Yan. "Bagaimana aku tahu?" jawabnya dengan menutup separuh wajahnya dengan kipas. "Ah sudahlah, semuanya ayo makan." ujar Li Hua pelan. Tidak bersemangat Li Hua berjalan ke arah teras. Di sana terdapat sebuah meja bundar yang cukup besar dan di atasnya terdapat berbagai macam hidangan. Xin Baozhai telah duduk dengan tatapan matanya terarah pada semua piring yang penuh makanan itu. Beberapa kali ia telah menyesap salivanya yang hampir menetes keluar mulutnya. "Setiap hari kau memasak banyak begini? Tanya Xin Baozhai. Setelah Zhang Zhilin menyiapkan peralatan makan. Tanpa menunggu instruksi Xin Baozhai mengambil banyak makanan ke dalam mangkuknya dan memakannya dengan lahap. "Sejak kapan kau tidak makan, Tuan Xin?" tanya Li Hua yang dengan anggun memasukan sebuah makanan ke mulutnya. "Nona Li, Makananmu ini sangat lezat!!" decaknya dengan mengangkat kedua jempolnya sembari tersenyum memamerkan deretan gigi rapinya. Li Hua mengangkat sebelah alisnya. Tingkah Xin Baozhai sangat mencurigakana. Lagipula, di rumahnya yang mewah mana mungkin pelayannya tak memasak makanan yang lezat? "Pelayanmu tidak menyiapkan makanan untukmu?" Tanya Li Hua sinis. "Uhuk, uhuk." Xin Baozhai tersedak, Zhei Yan pun membantu pemuda itu dengan menepuk punggungnya. "Berhati-hatilah, Tuan muda. Makanan ini tidak akan kabur kemana pun." Sindir Zhei Yan. Sehingga Zhang Zhilin terkikik geli. "Bukankah cara makannya seperti jiejie.?" Tanya Zhang Zhilin. Tapi sepertinya Li Hua masih curiga dengan kedatangan Xin Baozhai kemari. Meski begitu, Li Hua diam saja dan menikmati makanannya sembari sesekali mengamati Xin Baozhai yang masih mengunyah makanannya. Usai semua hidangan dihabiskan sebagian besar oleh Xin Baozhai yang seperti tunawisma kelaparan itu, Zhang Zhilin di bantu Li Hua membersihkan meja. Xin Baozhai tetap berada di meja itu sembari menikmati sepoi angin kering musim gugur. "Sebenarnya ada perlu apa anda mendesak ke kediaman Nona Li Hua?" desak Zhei Yan untuk ke sekian kali sejak Xin Baozhai menginjakkan kakinya di Rumah Bunga ini. Namun seolah tak terusik, Xin Baozhai bersenandung mengikuti alunan hembusan angin kemudian bergumam mengutarakan sebait puisi. "Ayam berkokok meminta senja segera tiba, Berganti malam ia menuntut pagi." Ia berkelakar dalam puisinya menyindir Zhei Yan. "Puisi macam apa itu." Sanggah Li Hua yang baru saja kembali. Dia berdiri bersandar pada tiang peyangga teras dengan menatap ke halaman. "Aku ingin menawarkan sesuatu pada kalian, padamu khususnya. Bisa kita bicara empat mata?" Akhirnya penantian semua orang tentang maksud Xin Baozhai pun tiba. Li Hua menelengkan kepalanya untuk melihat Xin Baozhai yang tengah menyangga dagu dengan satu tangannya. Pria di hadapannya ini sulit untuk ditolak kan? Jika Li Hua menolaknya, ia akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan keinginanya. Entah mengapa Li Hua bisa mengenalnya sedalam ini. "Baiklah, kita masuk saja kalau begitu." Li Hua mengintruksikan pada Zhang Zhilin dan Zhe Yan untuk tidak turut campur lalu ia dan pemilik kedai teh pun masuk ke ruang pribadinya. Li Hua menutup pintunya, ia tahu maksud Xin Baozhai bahwa tidak ingin seorang pun mengetahui apa niatnya yang sebenarnya. Xin Baozhai duduk di sebuah kursi yang berada di tengah ruangan, sedangkan Li Hua masih berdiri di dekat pintu. Mengamati Xin Baozhai dengan seksama, ia sungguh waspada. Sekiranya itulah yang diajarkan oleh Pangeran Yuan Shen padanya, untuk selalu waspada kepada siapapun. "Jadi, apa yang ingin anda bicarakan?" Tanya Li Hua tanpa basa-basi dan tidak mendekat satu langkahpun pada Xin Baozhai. Wajah Xin Baozhai dihiasi oleh senyuman tipis, ia bisa melihat betapa waspadanya gadis dihadapannya ini padanya. "Karena kau tidak berbasa basi, maka aku akan langsung saja." katanya, dan Li Hua mengangguk. "Mengapa kau begitu waspada terhadapku tapi tidak dengan Perdana Menteri?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut manis Xin Baozhai yang berwajah bak dewa itu. Sedangkan mata Li Hua membulat seperti bola salju, tubuhnya gemetar karena ia menahan kepalan tangannya. "Apa maksudmu, aku tidak ada urusan dengan pertanyaan konyolmu itu, jika kau hanya ingin bertanya hal itu lebih baik keluarlah dari rumahku." Tubuh Xin Baozhai bergetar hebat karena tawanya. Ia sampai harus memegangi perutnya agar tak terasa menyakitkan. Kening Li Hua berkerut, bibirnya mengerucut ia merasa tak ada yang lucu dan mengapa Xin Baozhai tertawa seperti ini? "Tidak ada yang lucu Tuan Xin." katanya tegas, kali ini Xin Baozhai berhenti tertawa lalu ia bangkit dari duduknya dan mendekati Li Hua yang masih berdiri di dekat pintu. "Aku penasaran." gumamnya sambil meraih sepelintir rambut lurus Li Hua dan memainkannya, "Apa hubungannya kau dengan Perdana Menteri? Apa kau selirnya?" Lanjut Xin Baozhai. Sebuah tangan melayang keras hampir membuat bekas memerah di wajah tampan milik Xin Baozhai, namun dengan kilat mampu di tahan oleh Xin Baozhai sendiri. Lalu mengambil kesempatan, Xin Baozhai memutar tubuh Li Hua dan mendekapnya. "Apa yang kau lakukan, lepaskan aku!" Li Hua melawan. "Bagaimana ini, kau melekat kuat pada tubuhku." Goda Xin Baozhai sementara satu tangannya yang lain melingkar di pinggang Li Hua mendekatkan mereka. Hal itu membuat wajah Li Hua yang seputih salju kini semerah kepiting rebus. "Jika kau berani macam-macam aku akan berteriak!!" Ancam bibir mungil semerah plum itu. "Berteriaklah, maka aku akan membocorkan rahasia pertemuanmu dengan Perdana Menteri kepada Pangeran pujaanmu itu." Xin Baozhai balik mengancam dengan nada penuh canda. Menggoda Li Hua rupanya sangat menyenangkan. "Apa maumu sebenarnya?" Li Hua bukan wanita bodoh, ia tahu Xin Baozhai pasti memiliki sesuatu di balik semua ini, tak mungkin ia mengetahui tentang pertemuan Li Hua dengan perdana menteri jika Xin Baozhai tak ada kaitannya. Pasti ada. "Jika kau mau mendengarkanku dengan seksama, aku akan mengatakan sesuatu yang akan menarik perhatianmu, bagaimana?" Li Hua berfikir sejenak namun tanpa sadar ia menggigit bibir bawahnya, gugup. Apakah Xin Baozhai bisa di percaya? "Dan aku tak akan membocorkan rahasia kecilmu." "Baiklah, baiklah!" dengus Li Hua akhirnya mengalah sementara untuk mendapatkan kemenangan, entah kemenangan seperti apa. Merasa pegangan tuan Xin Baozhai semakin renggang, Li Hua memanfaatkannya lalu melepaskan diri. Xin Baozhai tak terkejut, dia hanya tersenyum simpul. Keduanya pun duduk berhadapan di meja kursi yang terletak di tengah ruang itu. "Sebenarnya, aku hanya ingin mengajukan kerjasama dengan anda nona pemilik rumah bunga." Ucap Xin Baozhai sopan. Alis Li Hua terangkat, ingin rasanya ia membuka kepala Xin Baozhai dan membaca isinya. "Kerjasama seperti apa yang kau inginkan, Tuan Xin?" Xin Baozhai menghela nafas dalam dalam sembari memperhatikan air muka sang dewi yang begitu menawan di hadapannya, bibir yang mengerucut cemberut dengan kening bertaut penuh beban fikiran. Xin Baozhai akhirnya memutuskan untuk memberikan Li Hua gambaran kerjasama mereka dengan mengarang sedikit kata pengantar. "Beberapa hari yang lalu, aku mendengar bahwa telah terjadi sedikit kerusuhan di perbatasan antara Liang dan Mengyue, aku mendengar kabar burung yang tidak bisa dipercaya, jadi-" Xin Baozhai berhenti untuk mengamati reaksi Li Hua. "Jadi apa hubungannya rumah bunga milikku dengan masalah di perbatasan, aku tidak mengurusi urusan negara, Tuan Xin." Balasnya dengan keras dan tegas. "Memang tidak ada hubungannya, tapi rumah bunga ini akan sangat membantu." Lanjut Xin Baozhai penuh keyakinan. ia lalu berdiri memunggungi Li Hua yang menatap punggungnya penuh tanya. "Rumah Bunga ini hanya buka saat menjelang malam hingga pagi, benarkan?" Tanya Xin Baozhai sembari menoleh pada Li Hua. Gadis itu memangku dagunya sambil mengangguk perlahan. Lalu Xin Baozhai kembali ketempat duduknya. "Bagaimana jika siang hari juga buka, bukan sebagai rumah bunga namun kedai pertunjukkan?" "Kedai pertunjukkan, kau semakin membuatku bingung, Tuan Xin." Desah Li Hua yang kesal. "Jadi saat siang kalian akan membuka kedai ini, dengan pertunjukkan drama sebagai inti dari kedai, aku akan menyediakan semuanya, pertunjukan dan juga minumannya, mengundang lebih banyak tamu, dan kau bisa para Bunga milikmu akan jadi informan." Sekarang Li Hua tau maksud Xin Baozhai. Pria bertampang bak dewa dan terlihat polos ini rupanya ingin menjadikan usahanya sebagai agen rahasia untuk mendapatkan informasi. Tapi dari siapa dan untuk siapa? "Siapa, kau butuh informasi dari siapa? Dan untuk apa semua informasi itu nantinya?" selidik Li Hua. Xin Baozhai tersenyum puas, dia tahu akan berhasil. "Untuk rakyat Mengyu." balasnya singkat penuh makna. to be continued.....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD