10. Pertunjukan Pertama
Riuh keramaian puluhan manusia berdesakan memasuki area pertunjukan. Rumah Bunga yang biasanya tak berkegiatan di pagi hari, terpaksa harus menyingkap tirai di pagi hari untuk menerima kunjungan para penikmat pertunjukan. Aula utama yang besar di Rumah Bunga telah disulap menjadi area pertunjukan. Sebuah panggung yang cukup besar berada di ujung area, kursi-kursi penonton sudah rapi dibariskan oleh pelayan dan kini telah terisi penuh. Ruangan di dekorasi dengan indah dengan mengganti tirai-tirai penghias.
Pengunjung yang mampu membayar 10 keping uang akan menikmati pertunjukan dengan kursi paling strategis. Mereka tak peduli akan semua itu, kabar yang beredar mengenai pertunjukan ini telah menarik minat kebanyakan penduduk. Sampai aula besar tak cukup menampung mereka, dan akhirnya lantai dua pun dipenuhi oleh pengunjung yang tak ingin ketinggalan melihat drama pertama apa yang akan ditampilkan pada pertunjukan perdana hari ini.
Seperti biasanya dengan penutup wajah menghiasi rupa eloknya, Li Hua berdiri mengamati dari pintu yang menghubungkan Rumah Bunga dengan jalan menuju paviliun miliknya. Dia cukup terkejut karena pengunjung Rumah Bunga begitu banyak. Sungguh diluar dugaannya, rupanya usul dari pemilik kedai teh itu cukup berhasil.
"Aku tidak menyangka mereka sangat antusias dengan pertunjukan ini." ujar Zhang Zhilin yang terpukau dengan banyaknya orang berjubel di dalam sekitar panggung hanya untuk menunggu pertunjukan dimulai
"Tidak seperti dugaanku."gumam Li Hua.
"Kemana ya Tuan Xin, di hari pembukaan mengapa malah tidak terlihat ya." Zhang Zhilin melongokkan kepalanya, mencoba mencari sosok tampan tersebut. Hanya saja yang dicari tidak ada disana.
Berada di ruang rias para aktor, Xin Baozhai memberikan semangat bagi mereka yang akan menampilkan pertunjukan untuk pembukaan hari ini. Senyumnya merekah selama ia terus berbicara pada satu persatu aktor tersebut. Mereka tidak banyak, hanya ada sekitar lima orang. Dua wanita dan tiga pria.
Mereka adalah penampil yang biasanya tampil pada pertunjukan keliling, jarang menetap di satu tempat. Xin Baozhai menemukan mereka atas bantuan Wu Pei. Saat itu mereka hendak pergi ke Dinasti Liang, untung saja Wu Pei mampu membujuk mereka, hingga mereka bersedia untuk kembali ke ibukota dan menjadi penampil tetap untuk sementara waktu ini.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Bekerja keraslah!" seru Xin Baozhai kemudian ia beranjak keluar.
Dia sendiri pun agak terkejut melihat tumpahan manusia di aula utama dan lantai dua. Sungguh di luar dugaanya jika pertunjukan ini sangat menarik minat massa. Mata elangnya mengamati pengunjung. Kebanyakan dari rakyat kelas menengah, melihat dari pakaian mereka. Ada pula beberapa pendekar jianghu. Ia terus mengamati, hingga matanya menemuka beberapa pejabat pemerintahan dengan rangking rendah. Senyumnya merekah lebih lebar. Sepertinya rencananya akan berhasil dengan luar biasa sempurna.
"Tuan Xin." seseorang menepuk bahu Xin Baozhai, seketika ia pun berbalik dan Zhei Yan telah berdiri di belakangnya dengan wajahnya yang sumringah.
"Tuan Zhei, kulihat banyak sekali pengunjungnya." ujar Xin Baozhai.
"Tentu saja, apapun yang ada rumah bunga ini selalu dinantikan oleh semua orang." katanya bangga, "Lihatlah, sepertinya kalian akan kuwalahan menyediakan teh."
Memang benar apa yang diucapkan oleh Zhei Yan. Kemasyuran Rumah Bunga tidak perlu diragukan lagi.
"Arak pun boleh, kalian akan lebih untung." balas Xin Baozhai, teringat akan sesuatu ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu atau seseorang. Helaan nafas yang keluar dari bibirnya menandakan bahwa Xin Baozhai tidak menemukan yang dia cari.
"Nona Li Hua ada di belakang." Kata Zhei Yan seolah bisa membaca fikiran Xin Baozhai.
Wajah putih Xin Baozhai pun memanas dan menjadi kemerahan karena ucapan Zhei Yan. Senyumnya yang tulus menjadi kaku. Apakah terlihat jelas dimata pria di hadapannya ini jika ia sedang mencari seseorang, tepatnya Li Hua? Sebenarnya, Xin Baozhai hanya ingin menyombongkan diri karena idenya ini sungguh berhasil, dan ingin melihat bagaimana wajah rupawan itu bereaksi.
Mengikuti instruksi dari Zhei Yan, segera ia melangkahkan kakinya menuju ke tempat Li Hua berada. Ia melihat sosok bak malaikat itu berbalik ke arah paviliunnya. Buru-buru Xin Baozhai melangkah lebih cepat menyusul langkah Li Hua.
Dengan beberapa gerakan cepat, pemuda tampan itu berhasil menyusul Li Hua lalu menghadang jalannya. Senyumannya yang membuat wajahnya yang indah itu semakin luar biasa tampan merekah begitu saja. Namun kehadirannya yang tiba-tiba mengejutkan si gadis yang membelalakan matanya karena tak percaya Xin Baozhai cukup kekanakan untuk mengejutkannya secara tiba-tiba begitu.
"Lihatkan, rencanaku berhasil. Rumah Bunga ini semakin ramai saja." ujar Xin Baozhai menyombongkan diri. Li Hua manggut-manggut sepakat.
"Meski begitu, kau belum memberitahuku keseluruhan rencanamu." kata Li Hua begitu ketus.
Malam sebelum pembukaan panggung pertunjukan itu, Xin Baozhai memang telah berjanji untuk mengatakan semuanya pada Li Hua. Mungkin ini saatnya ia menceritakan semuanya.
Jauh sebelum hari ini, ketika Xin Baozhai memutuskan untuk mengajukan kerjasama dengan Li Hua ia telah memerintahkan Wu Pei untuk menyelidiki sesuatu di perbatasan Liang dan Mengyu. Selama beberapa hari melakukan penyelidikan pun, akhirnya Wu Pei telah kembali dan memberitahukan segala hal yang didapatkannya pada Xin Baozhai.
Di perbatasan antara Dinasti Liang dan Dinasti Mengyu adalah Kota Gongque, kota itu masuk dalam wilayah Mengyu. Karena terletak di perbatasan, kota ini sering jadi perebutan wilayah, masyarakatnya pun miskin. Kebanyakan masyarakat harus bercocok tanam sedangkan tanah di daerah Gongque sangat tandus.
Belakangan, diketahui oleh Xin Baozhai dari pembeli di kedainya banyak rakyat Gongque nekat ke ibukota menjadi b***k atau sekedar berdagang apa adanya. Mereka mengatakan, tanah-tanah tandus mereka telah ditandai oleh para bangsawan tak bertanggung jawab. Mereka yang melawan mempertahankan tanahnya di pukuli, dan disiksa hingga menyerah.
Keadaan itu semakin parah setelah terdengar kabar bahwa ada pimpinan pemberontak lama yang menjadi buronan pemerintah kini mulai mengumpulkan masa di Gongque dan sepertinya didukung oleh gubernur disana. Masalahnya, rumor yang beredar pemimpin pemberontak itu berasal dari Liang, dinasti Liang berusaha merebut kembali Gongque. Begitulah rumor yang beredar.
Xin Baozhai ingin menyelidiki siapa dalang dibalik ancaman kerusuhan ini. Kejadian ini, sangat mirip dengan kejadian 3 tahun lalu. Jika ia bisa mengungkapkan dalang dibalik semua ini dengan menempatkan mata-matanya di rumah bunga, kemungkinan ia bisa mengungkapkan kejadian yang lampau itu, dan membersihkan nama Xin Baoyue, dan mengembalikan kehormatannya.
Mendengar cerita Xin Baozhai, mata indah Li Hua melebar. Rupanya Xin Baozhai mengambil langkah berbahaya seperti ini. Li Hua sangat tahu, berurusan dengan pemerintah dan pejabatnya tidak akan mudah.
"Kenapa kau menceritakan semua ini padaku?" tanya Li Hua. "Kau tidak takut jika aku mengatakan ini pada Perdana Menteri? Kau sendiri mengetahuinya, aku telah diam-diam bertemu dengan Perdana Menteri." lanjut Li Hua dengan hati-hati.
Namun, Xin Baozhai bergeming lalu tertawa terbahak-bahak. Tubuhnya gemetar karena tawanya yang begitu keras. Sedangkan Li Hua memberengut, ia merasa Xin Baozhai telah mempermainkannya.
"Kau boleh menceritakan semuanya pada pak tua itu, lalu aku akan mengatakan pertemuan rahasiamu pada Pangeran Yuan Shen." ujar Xin Baozhai ketika tawanya berhenti.
Wajah Li Hua menjadi sangat pucat, Pangeran akan sangat marah jika mengetahui hal ini dari Xin Baozhai. Lagipula yang dilakukan oleh Li Hua demi Pangeran. Meski begitu, ia tetap harus waspada.
"Kenapa pucat begitu, jangan difikirkan. Bagaimana kalau kita pergi ke pasar malam ini?" ajak Xin Baozhai.
Li Hua melemparkan tatapan setajam pisau pada Xin Baozhai. Sungguh pria di hadapannya itu tak tahu malu. Setelah memanfaatkannya untuk menjadi telinga baginya, kini mengajaknya ke pasar.
"Ada penjual tanghulu yang sangat lezat, kau tidak ingin mencobanya?" Xin Baozhai mencoba kembali. Ia tidak menerima penolakan apalagi dari gadis secantik Li Hua.
Li Hua masih cemberut, ia berfikir keras. Sungguh, dia terjebak pada dua kubu. Ia telah dimanfaatkan oleh perdana menteri, sekarang ia oleh Xin Baozhai. Tiba-tiba Li Hua teringat akan sesuatu, mungkin ini ada kaitannya. Ia harus mencobanya, jika memang berkaitan dia akan memanfaatkan keadaannya saat ini.
"Apa kau tidak bosan harus di paviliun sepanjang waktu?" bujuk Xin Baozhai lagi.
"Bebek di kedai Gun Ya sepertinya enak." ujar Li Hua akhirnya, dan tersenyunlah Xin Baozhai karena telah berhasil membujuk sang dewi yang elok parasnya itu.
°°°°°
Air jernih di kolam beriak-riak ketika bulir-bulir makanan jatuh di atasnya, ikan-ikan koi berwarna-warni mengerumuni makanan yang mengapung tersedia untuk mereka itu. Pangeran Yuan Shen menyebar lagi makanan di titik yang lain agar ikan-ikan itu tak lagi berebut.
Sesaat kemudian sesosok berpakaian serba hitam dengan penutup wajah muncul dari balik tembok tinggi manor Pangeran Yuan Shen, orang itu langsung berlutut di samping pangeran.
"Salam Yang Mulia." katanya penuh penghormatan pada Pangeran Yuan Shen.
"Wah wah, ada kabar apa sehingga kau datang kemari di siang bolong, Gu Xia?" Tanya Pangeran yang tak teralihkan dengan memberi pakan ikan-ikan kelaparan itu.
"Maafkan hamba, Yang Mulia." Ujarnya takzim. "Ada hal yang harus hamba sampaikan pada Anda."
Pangeran menghela nafasnya, jika Gu Xia sampai muncul di siang hari seperti ini pasti ada berita genting yang harus disampaikan olehnya, dan kabar itu belum menjamah telinga Kaisar tentunya.
"Kau tidak sedang ingin libur bekerja kan?" Mendengar respon Pangeran, Gu Xia terkejut. Sungguh, orang yang jadi majikannya itu memiliki selera humor yang salah waktu.
"Yang Mulia, hamba tidak berani." Kata Gu Xia lagi.
"Baik-baik." Pangeran Yuan Shen berdecak, "Berdirilah dan beritahu aku kabar apa yang menarik hari ini." ujarnya lagi sembari masih memberi makan ikan-ikan yang hampir meledak perutnya karena kekenyangan.
"Benar seperti dugaan anda, Yang Mulia. Daerah Gongque dilanda krisis, ada sekelompok orang yang berusaha memulai pemberontakan, kabarnya pemimpin mereka adalah..." Gu Xia tampak ragu untuk mengatakannya. Tangan Pangeran Yuan Shen berhenti memberi makan, kini ia beralih menatap Gu Xia yang berdiri di hadapannya.
Gadis yang mengikutinya ini bertubuh cukup pendek. Tapi keahlian berpedang dan beladirinya terasah sangat baik, gerakannya pun sangat cepat. Kadang Pangeran Yuan Shen merasa malu, karena dilindungi oleh gadis seperti Gu Xia.
"Siapa pemimpin mereka?" Tanya Pangeran Yuan Shen cukup serius.
"Jin Wei." Ucap Gu Xia.
Wajah Pangeran Yuan Shen memerah. Jin Wei! Nama itu tidak asing baginya, Jin Wei adalah salah satu dalang pemberontakan 5 tahun silam, dan kini muncul kembali? Apa dia benar-benar kurang kerjaan.
"Aku belum bisa memastikannya apa itu benar Jin Wei, atau bukan. Segera aku akan kembali dan memastikannya."
Pangeran Yuan Shen manggut-manggut, kemudian ia beralih lagi menghadap kolam berniat untuk memberi makan lagi ikan-ikan yang sudah tak berdaya meski hanya untuk berenang.
"Pangeran, ada hal lain yang harus saya laporkan pada anda." kata Gu Xia menyelamatkan ikan-ikan yang kini menatapnya berterimakasih.
"Ada apa lagi?"
"Nona Li Hua." Mendengar nama Li Hua disebutkan, sudah tak ada niat Pangeran untuk membuat ikan-ikan mati kekenyangan. Perhatiannya kini benar-benar teralihkan.
"Nona Li Hua diam-diam menemui Perdana Menteri Zhu Yi Zheng dikediamannya dan Sekarang bekerja sama dengan pemilik kedai teh."
"Apa? Bekerja sama dengan Xin Baozhai?!" Pangeran Yuan Shen mengeratkan genggamannya pada kotak makan ikan. "Mengapa aku tak mengetahuinya, mengapa dia tidak memberitahuku?" gumamnya lebih pada diri sendiri.
"Hari ini adalah hari pembukaanya, mereka membuka Rumah Bunga di siang hari untuk pertunjukan." lanjut Gu Xia.
Pangeran masih tertegun tak percaya harus mendengar semua ini dari Gu Xia dan bukannya dari Li Hua sendiri. Hatinya merasa sedih, apakah Li Hua tak mempercayainya lagi, atau dia telah terjerat oleh pemilik kedai itu?
"Baiklah, biar nanti aku kesana." jawabnya lesu. Ia menghela nafas berat, seolah beban berat telah diletakkan pada pundaknya. "Gu Xia.?"
"Ya, Yang Mulia?"
"Siapa saja yang mengetahui kehadiran Li Hua di rumah Perdana Menteri?" Suara Pangeran kini berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Penuh penekanan dan mematikan.
"Seorang b***k milik Perdana Menteri."
"Hanya seorang?" Pangeran memastikan hal tersebut.
"Hanya seorang, Yang Mulia." jawab Gu Xia dengan pasti.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, berikan pesan yang jelas untuk tidak mengusik Li Hua." Ujar Pangeran Yuan Shen sedingin salju.
Setelah memberi hormat, Gu Xia pun langsung undur diri.
Sesaat kemudian, langkah kaki yang terburu-buru namun menghentak terdengar mendekat. Rupanya Cheng Hao sedang berlari kearah Pangeran tergopoh-gopoh. Sedangkan Pangeran hanya terdiam menatap pengawalnya itu dengan bingung.
Setelah berada tak jauh dari hadapan Pangeran, langkah pun Cheng Hao segera berhenti. Sekuat tenaga ia tak menunjukkan helaan nafasnya yang putus-putus. Sedangkan Pangeran Yuan Shen hanya mengangkat alisnya melihat tingkah Cheng Hao.
"Pangeran, Anda baik-baik saja?" Tanya Cheng Hao, matanya menelisik ke tubuh Pangeran sembari memastikan tidak ada luka atau apapun yang bisa menyakitinya.
"Aku sedang memberi makan ikan-ikan ini." Kata Pangeran yang mencoba menahan diri untuk tidak mengejek Cheng Hao.
"Pelayan memberitahuku ada bayangan hitam yang melompat kemari." Kata Cheng Hao, ia pun celingukan ke kanan, ke kiri kemana pun memastikan keberadaan bayangan hitam itu.
"Apa yang kau maksud bocah kecil bernama Gu Xia?"
"Gu Xia?" Cheng Hao tak percaya. "Gu Xia yang kemari? Di siang hari, Yang Mulia?" Tanya Cheng Hao memastikan.
Sang Pangeran hanya manggut-manggut mengiyakan.
"Oh Syukurlah, kufikir seorang pembunuh." Cheng Hao mengusap dadanya merasa sangat lega.
"Lagipula bukankah tugasmu menjagaku, kau malah pergi." Gerutu Pangeran sembari beranjak dari tempatnya menuju ke dalam ruangan pribadinya.
"Maafkan hamba, Yang Mulia." balas Cheng Hao yang kemudian mengekor Pangeran.
"Ngomong-ngomong, kau tidak tahu kalau Li Hua bekerja sama dengan Xin Baozhai?" Tanya Pangeran Yuan Shen, ia menaruh kotak makan ikan di atas meja. Sedangkan Cheng Hao terdiam.
"Jadi kau mengetahuinya?"
"Maafkan hamba, Yang Mulia." Cheng Hao seraya berlutut memohon ampun pada Pangeran Yuan Shen. "Hamba mengetahuinya pagi ini, tapi belum sempat melaporkannya pada Anda, Yang Mulia."
Yuan Shen lagi-lagi hanya manggut-manggut lalu meminta Cheng Hao berdiri. Ia sedang tidak bersemangat hari ini. Sungguh.
"Baiklah, aku akan bersiap, kita akan kesana sekarang." Ujarnya lesu lalu masuk kedalam kamarnya.
Entah mengapa hati pangeran Yuan Shen sangat terusik dengan kenyataan bahwa Li Hua tak melibatkannya dalam kerjasamanya dengan Xin Baozhai.
To be continued