11. Makan Malam
Merapikan hanfunya yang sewarna bayangan keabu-abuan, dengan hiasan serupa daun di ujung kainnya Xin Baozhai kemudian berjalan melewati kedainya. Tanpa dikata pun, ia terlihat begitu menakjubkan, sangat anggun sebagai seorang pemuda, kulitnya yang seputih salju begitu cerah menampakkan aura keindahannya. Wajahnya berseri karena senyum terus tersungging dari bibirnya yang semerah buah ceri, apalagi matanya yang dihiasi oleh bulu mata lentik dan dibingkai dengan alis lurus hitamnya berkilau bagaikan bintang. Sosoknya sungguh indah bak seorang Dewa namun secara bersamaan juga terlihat begitu agung pebuh wibawa seperti seorang Raja.
"Wah, Tuan Muda, ada rapi sekali. Sepertinya suasana hati anda sedang bagus." Suara Da Feng membuyarkan lamunan Xin Baozhai. Senyumnya yang berharga pun surut, melihat Da Feng masih dikedainya.
"Bagaimana penampilanku?" Tanya Xin Baozhai sembari sedikit merentangkan kedua tangannya dan berputar dihadapan Da Feng. Sedangkan Da Feng yang sama sekali tak bisa membeli pakaian sutera seperti itu hanya bisa mengagumi keindahan kain yang menempel pada tubuh indah Xin Baozhai.
"Menakjubkan!" Seru Da Feng. Perkataan Da Feng membuat hati Xin Baozhai semakin membuncah. Ia tak bisa menahan lagi, dan ia tersenyum.
"Aku memang seperti itu." Katanya, kemudian berjalan melewati Da Feng yang menatapnya.
"Pakaian yang menakjubkan." Gumam Da Feng sembari menggeleng-gelengkan kepalanya lalu kembali bekerja.
Saat melewati kedainya, Xin Baozhai dihentikan langkahnya oleh Nyonya Han yang melihat kemilau indah. Rupa-rupanya itu adalah Xin Baozhai.
"Wah wah wah, Tuan Muda apakah anda akan berkencan malam ini?" Goda Nyonya Han dengan bibir menornya itu.
"Asal bicara saja kau Nyonya Han, aku memang selaku seperti ini." Ujar Xin Baozhai dengan rasa percaya dirinya yang telah mencapai langit kesembilan.
"Ahhh benarkah? Apa mataku bermasalah ya?" Imbuh Nyonya Han tak mau kalah, ia ingin menarik Xin Baozhai kembali ke Bumi.
"Lanjutkan saja pekerjaan anda yang mulia itu, Nyonya Han." Kata Xin Baozhai, sembari merapikan kain hanfunya yang berkibar ia melewati Nyonya Han.
Sampai di tempat pengolahan daun teh, tercium aroma daun teh yang dipanggang. Xin Baozhai berhenti sejenak untuk menikmati harumnya daun-daun yang di panggang tersebut. Sesaat kemudian, ia melihat Liu Long tengah membawa seember penuh dengan air.
"Berhenti di tempatmu Liu Long!!!" Pekik Xin Baozhai yang bergidik melihat Liu Long. Bayangan Liu Long menyiramnya tempo hari membuatnya trauma.
"Ke-kenapa Tuan Muda? Aku harus membersihkan tempat pengolahan bunga." Kata Liu Long yang keheranan. Tidak hanya Liu Long, semua orang yang tengah mengolah daun teh pun dibuat heran oleh tingkah dan penampilan Xin Baozhai malam ini.
"Tuan Muda, kau terlihat sangat menawan malam ini, semua gadis pasti akan mengejarmu!" Teriak salah seorang pekerja Yang sedang mengaduk daun.
"Ya aku tahu, tidak perlu berlebihan." Kata Xin Baozhai sembari mengibaskan tangannya. Kemudian ia menatap Liu Long yang membeku ditempatnya.
"Kau boleh bergerak jika aku sudah pergi dari sini." perintah Xin Baozhai sebelum akhirnya ia meninggalkan tempat pengolahan itu.
Melewati pintu depan Kedai, ia berhenti sejenak melihat kedainya cukup ramai ia merasa sangat puas. Selain itu, panggung pertunjukkan yang menjadi usaha barunya memperlihatkan tanda-tanda kesuksesan.
Xin Baozhai berjalan melewati pasar. Malam itu, pasar cukup ramai, orang berlalu-lalang tapi tak seramai saat festival tempo hari. Tiap-tiap toko terpasang lampion yang bulat-bulat berwarna kuning, menambah keindahan pasar ibukota tentunya.
Langkah kakinya lambat-lambat karena Xin Baozhai benar-benar menikmati suasana pasar seperti ini. Dia suka melihat bagaimana orang-orang ini berinteraksi. Mereka terlihat sangat sederhana dan lebih manusiawi.
Tepat di depan kedai Bebek Panggang Tuan Dao An ia berhenti. Kedua tangannya bertautan dibelakang punggungnya, kadang ia mendongak untuk melihat rembulan yang tampak separuh tapi tetap memancar indah, lalu ia menunduk hanya untuk melihat kakinya menyaruk-nyaruk tanah. Dia hampir mati bosan karena menunggu.
Orang-orang yang berjalan melewatinya memandanginya, tapi mereka hanya lewat begitu saja. Membuat Xin Baozhai merasa tidak nyaman.
"Aku tahu, aku tampan." Gumamnya kesal. Kemudian Xin Baozhai bersiul untuk mengusir rasa bosannya.
"Tuan Xin." Sebuah suara yang begitu lembut mengalun merdu memenuhi telinga Xin Baozhai. Jantung Xin Baozhai berdebar begitu kencang, ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia memasang senyumannya yang paling menawan lalu berbalik.
"Aku Fikir akan-" Ucapan Xin Baozhai menggantung di udara ketika ia melihat Li Hua tidak sendirian, mereka ada berempat.
Li Hua tampil cantik hari ini dengan hanfu putihnya yang selaras dengan kulit seputih saljunya, rambutnya dihias dengan menggunakan hiasan berwarna biru muda. Bibirnya cerah sewarna buah peach dan matanya berbinar cerah.
Tapi ia tak sendiri, di sampingnya pemuda bertubuh tinggi dan tegap meski agak kurus itu berdiri. Wajahnya sedikit pucat, namun tak mampu menyembunyikan ketampanannya, dia mengenakan hanfu biasa dan bukan pakaian formalnya, alisnya lurus hitam membingkai matanya yang tidak terlalu sipit, tulang hidungnya lurus nampak anggun di wajahnya apalagi dipadukan dengan bibir tipisnya yang merah pucat.
Ada sesuatu yang menyentil hati Xin Baozhai ketika melihat kedua insan itu. Mereka tampak serasi bersama, seperti sepasang merpati yang tak bisa dipisahkan. Xin Baozhai tak suka melihat keindahan perpaduan itu.
"Halo Tuan Muda Xin!" Seru Zhang Zhilin yang muncul dari balik bahu Sang Pangeran, senyumnya merekah ceria seperti anak-anak. Xin Baozhai pun kemudian melihat Cheng Hao yang berdiri dibelakang Li Hua. Sebilah pedang tidak lepas dari pinggangnya.
"Oh Ha halo, Nona Zhang." Balas Xin Baozhai dengan menyunggingkan sebelah bibirnya yang berkedut.
"Tuan Xin, Ini Kakakku Pangeran Yuan Shen, dan Kakak Ini Tuan Muda Xin." Li Hua memperkenalkan keduanya.
Tanpa diketahui siapapun, keduanya saling melemparkan tatapan yang setajam ujung anak panah yang bisa menembus jantung masing-masing. ada persaingan yang tak kentara, hanya diantara kedua pria itu.
"Xin Baozhai memberi hormat pada Yang-"
"Sudah-sudah, aku tidak ingin semua orang disini mengetahuinya, mari kita masuk saja." Pangeran Yuan Shen menyela ucapan Xin Baozhai.
Xin Baozhai hanya menelan ludah kemudian ia mempersilahkan rombongan itu dengan hati dongkol. Mengapa juga Li Hua membawa segerombol manusia untuk bertemu dengannya, apa gadis itu takut dia akan berbuat yang tidak-tidak. Dia pria terhormat! Tak mungkin melakukan hal semacam itu.
Kening Pangeran Yuan Shen berkerut lebih dalam ketika masuk kedalam kedai yang ramai dan riuh. Mereka antre hanya untuk mendapatkan bebek panggang.
Pangeran melihat kesekeliling, tapi tidak ada tanda-tanda tempat yang nyaman dapat di duduki mereka. Begitu juga dengan Zhang Zhilin, ia baru pertama kali masuk kedalam kedai ini. Lalu melihat bagaimana antreannya cukup banyak, ia sangat pesimis bisa makan bebek panggang hari ini.
"Jie... Jie... Ramai sekali, sepertinya kita tidak akan bisa makan bebek panggang disini." Bisiknya pada Li Hua.
"Nona Zhang tidak perlu khawatir, aku sudah memesan tempat sebelumnya untuk kita." Xin Baozhai menyahut dengan memasang senyuman manisnya. Ia kemudian menghilang lagi entah kemana, membiarkan empat orang itu menunggu.
Tak lama kemudian, Xin Baozhai kembali muncul dengan wajah yang berbinar ketika menatap Li Hua.
"Ayo ikut denganku." Katanya, mereka berempat akhirnya mengikuti langkah Xin Baozhai menembus desakan manusia yang begitu banyak itu.
Mereka berjalan melalui pintu belakang kedai itu. Mengarah pada halaman belakang kedai, disana mereka dikejutkan dengan sebuah taman yang cukup indah. Li Hua terheran, terkahir kemari saat bersama dengan Xin Baozhai, keadaannya tak seperti saat ini. Waktu itu, hanya taman sederhana dengan sebuah pohon di samping kolam dan meja batu. Kali ini, halaman belakang itu dihiasi oleh obor-obor kecil yang menghiasi jalan setapak menuju ke kolam. Di sisi jalan setapak itu terdapat bunga-bunga yang sedang mekar dan tampak berkilau dengan bantuan oleh cahaya bulan yang bersinar separuh.
Di samping kolam itu terdapat sebuah pohon yang dibawahnya ada sebuah meja batu dengan beberapa tempat duduk. Mereka pun pergi kearah meja itu dan diatas meja sudah tersedia dua porsi besar bebek panggang yang baru saja matang terlihat dari asap tipis yang masih mengepul. Aroma mentega dan lelehan daging menusuk indra penciuman mereka, sehingga mulut mereka dipenuhi oleh air liur.
"Mari, mari silahkan duduk disini." Kata Xin Baozhai.
Mereka duduk melingkar dengan Li Hua berada di antara Xin Baozhai dan Yuan Shen. Sementara itu, mata indah Li Hua begitu fokus pada bebek panggang yang kecokelatan seolah-olah memanggil untuk segera dibelah, diiris lalu di nikmati.
"Kenapa diam saja, Makanan sudah disediakan." Kata Xin Baozhai.
"Akan kupotongkan dagingnya." Kata Li Hua, kemudian ia mengambil sebuah pisau. Tapi belum sempat ia mengiris daging bebek itu, tangannya di sambar oleh Xin Baozhai.
"Mana boleh begitu, karena aku yang mentraktir kalian aku akan melayani kalian malam ini."Ujarnya dengan berat hati.
Xin Baozhai mengambil alih pisau dan garpu besar yang di bawa oleh Li Hua. Ia mulai mengiris daging bebek panggang yang menggoda perut untuk langsung di lahap.
Ia memotong paha Bebek, kemudian memberikannya pada Li Hua dengan senyum yang merekah diwajahnya.
"Ini untukmu Nona Li Hua, Kau suka bagian ini kan. Makan sepuasmu." Ujarnya, tanpa disadari oleh Xin Baozhai ada sebuah tatapan tajam yang menembus dirinya dari mata dingin Pangeran.
Xin Baozhai terus mengiris, ia memberikan irisan besar untuk Yuan Shen, lalu membaginya pada Cheng Hao dan Zhang Zhilin.
"Ayo ayo, silahkan dimakan." Ia mempersilahkan mereka semua untuk makan. Namun, sebelum dipersilahkan rupanya Li Hua sudah mulai melahap paha bebek itu.
"Wah wah, kau suka sekali dengan bebek panggan rupanya." Decak Yuan Shen yang keheranan melihat betapa lahapnya Li Hua makan. Selama tinggal disampingnya dulu, Li Hua terkengkang oleh peraturan istana. Dirinya harus makan secara anggun dan sopan. Tapi melihatnya begitu bebas disini, sepertinya memang kehidupan istana tidak cocok untuk Li Hua.
"Haiya, lihatlah dirimu nona, kau ini selalu saja makan dengan rakus, sampai bibirmu kotor begitu." Ucap Xin Baozhai, ia hendak menjulurkan tangannya ingin membersihkannya tapi tangan Yuan Shen rupanya lebih cepat.
Pemandangan berebut membersihkan wajah Li Hua menjadi perhatian Cheng Hao dan Zhang Zhilin. Kedua abdi itu berpandangan dan tersenyum penuh makna.
"Selain mengelola kedai teh, apa yang kau lakukan disini Tuan Xin?" Tanya Yuan Shen sembari menikmati daging bebeknya.
"Tidak banyak, biasanya aku berkeliling pasar."
"Dan berkunjung ke rumah bunga?" Pertanyaan yang keluar dari bibir Yuan Shen cukup tajam. Ketegangan pun meningkat diantara mereka.
"Hanya sesekali untuk mengantarkan pesanan." Balas Xin Baozhai sembari tersenyum seolah tak terpengaruh dengan maksud ucapan Yuan Shen.
"Baik sekali," Sahut Yuan Shen, "Apakah anda sudah menikah?"
"Uhukk!" Xin Baozhai tersedak mendengar pertanyaan itu. Li Hua yang berada disampingnya kemudian membantu Xin Baozhai dengan menepuk punggungnya, tapi Yuan Shen tak membiarkannya. Dia mendorong tangan Li Hua supaya menyingkir dan Yuan Shen menepuk punggung Xin Baozhai keras-keras sebagai gantinya.
"Apakah sudah baikan?" Tanya Li Hua.
"Uhhukk-uhuuk." Xin Baozhai terbatuk lebih keras.
"Kakak mungkin kau terlalu keras." Ujar Li Hua.
"Memang begini seharusnya, lagipula kan tuan Xin adalah pria yang kuat." Tegur Li Hua yang iba melihat wajah Xin Baozhai berubah hijau.
Pemandangan itu tak luput dari Zhang Zhilin dan Cheng Hao yang bertukar pandang penuh arti untuk kesekian kalinya. Mereka melihat ada percikan cinta segitiga di antara muda-mudi yang bertingkah konyol di hadapan mereka.
"Ah terimakasih banyak." Ujar Xin Baozhai merasa dongkol, tapi ia menyembunyikannya.
"Tidak perlu sungkan." Jawab Pangeran Yuan Shen sembari mengambil air dan meminumnya.
Mereka menghabiskan sisa bebek yang masih tersisa hingga tak bisa bergerak. Bebek Kedai Gun Ya sangat sulit jika harus diabaikan, karena begitu lezat dengan daging yang empuk dan lezat.
Setelah memastikan mereka mampu berdiri, mereka pun meninggalkan kedai Gun Ya. Malam telah begitu larut, dan banyak pedagang telah mematikan lampu kedai mereka. Rakyat pun telah menutup tirai dan pintu rumah mereka.
"Li Hua." Panggil Pangeran Yuan Shen ketika mereka berlima setengah perjalanan menuju Ke Rumah Bunga. "Sepertinya, aku harus kembali ke istana." Ujarnya sembari menatap kearah Li Hua lalu ke arah Xin Baozhai. "Jika tidak keberatan, Tuan Xin mohon antarkan adik kecilku ini dengan selamat sampai ke rumahnya."
Xin Baozhai agak terkejut dan ia pun tertegun untuk sesaat. Tak pernah dibayangkan olehnya, Pangeran Yuan Shen akan menyerahkan tugas menjaga Li Hua dengan mudah kepadanya.
"Kenapa tidak menginap saja di Paviliunku?" Ada nada sedih tersirat dalam suara lembut Li Hua.
Pangeran Yuan Shen mendekat lalu mengusap rambut kepala Li Hua dengan senyum penuh kasih sayangnya. Dia pun ingin menemani Li Hua, tapi keadaannya yang dihadapi sekarang tidak semudah itu. Saat ini Yuan Shen harus melangkah dengan lebih berhati-hati.
"Yang Mulia tidak perlu khawatir, saya akan mengantar Nona Li Hua kembali dengan selamat." Ujar Xin Baozhai.
Lalu mereka pun pergi, dan Yuan Shen masih berdiri di sana menatap punggung Li Hua yang menjauh di dampingi oleh Cheng Hao.
"Yang Mulia, anda tidak ingin mengatakannya pada Nona Li Hua?" Tanya Cheng Hao yang diam-diam mengamati raut wajah Yuan Shen.
Terlihat sangat jelas, Yuan Shen mengkhawatirkan Li Hua. Tapi ia juga kecewa. Keputusan yang dibuat oleh Baginda Raja begitu mendadak dan tak bisa di usik lagi.
"Nanti... Nanti akan kusampaikan padanya." Katanya pelan hampir tak terdengar.