12. Pita Merah
Kediaman Pangeran Yuan Shen begitu sibuk tak seperti biasanya. Terlalu banyak pelayan dari hari sebelumnya. Mereka menghias kediaman Pangeran begitu rupa, pilar-pilarnya dihias dengan renda berwarna merah. Kemudian memasang tirai-tirai kecil berwarna merah. Ranjang biasanya menjadi tempat tidur Pangeran pun di hias dengan warna merah. Semuanya serba merah.
Pemilik manor yang agung itu memandangi kediamannya yang biasanya begitu suram kini menjadi berwarna, dengan warna yang sama sekali tak disukai olehnya dan dia hanya bisa mendesah kesal dan pasrah. Jika bukan karena permintaan Ayahandanya, dia tak akan sudi memasang segala macam dekorasi berwarna mencolok seperti itu.
Pangeran Yuan Shen lebih menyukai warna putih dan merah muda seperti bunga persik. Dia lebih tenang jika hidupnya diwarnai dengan dua warna itu. Tapi kini itu hanya akan menjadi kenangan. Hanya kenangan.
"Nona anda tidak boleh masuk sembarangan!" Sebuah keributan mengusik perhatian Yuan Shen, dia pun segera pergi ke arah keributan itu.
Dalam pandangannya yang begitu sempurna, tertangkap sosok indah yang menawan hati tengah dihadang jalannya oleh seorang pelayan yang tak bisa disandingkan dengan si permata hati itu. Pangeran pun tergesa-gesa berjalan kearah mereka, tanpa sadar dia menarik si pelayan hingga terjatuh ke belakang.
"Kakak!" Suara lembut ini menenangkan hati Pangeran Yuan Shen yang tengah gundah gulana.
"Pangeran, gadis ini menerobos masuk." kata si pelayan yang kini telah berlutut di belakang kaki Pangeran Yuan Shen.
"Siapa kau berani menyentuhnya, hah!? Apa kau tidak mengenalnya!? Dia adalah Puteri Angkat Yang Mulia Kaisar!!" Pangeran begitu geram, ia menatap pelayan itu dengan sangat tajam. Seketika pelayan itu pun bersujud memohon ampun pada Pangeran Yuan Shen.
"Maafkan hamba, Yang Mulia Pangeran, Hamba tidak mengenali Puteri."
"Kakak sudahlah." Suara Li Hua mengalihkan perhatian Yuan Shen yang telah diliputi oleh amarah. Sang Pangeran menghela nafas berat, kemudian ia menatap adiknya yang cantik jelita itu.
"Mengapa kau kemari? Mana Zhang Zhilin?" Suara Pangeran Yuan Shen menjadi lebih lembut. Dia menggandeng Li Hua kemudian berjalan menuju serambi rumahnya, tepat di samping kolam yang penuh dengan ikan koi gendut.
"Aku segera kemari setelah mendengar rumor, tapi sepertinya itu bukan lagi sebuah rumor." Terpancar kesedihan dalam suara lembut Li Hua. Wajahnya pun begitu suram tak bercahaya, mata indahnya berkaca-kaca hendak menumpahkan segala emosi yang dia rasakan.
"Mengapa kau menyembunyikannya dariku?" Pertanyaan Li Hua membuat Pangeran Yuan Shen membeku.
"Aku..." Pangeran Yuan Shen ragu mengatakannya.
"Jangan menikah dengan Zhu Qie Ye." Tiba-tiba saja Li Hua mengatakannya dengan air mata yang berurai.
"Ini perintah Kaisar," Jawab Yuan Shen pelan.
"Kakak, Mungkin ini perintah Kaisar tapi lihatlah, dia Puteri Perdana Menteri." Li Hua mencoba mengatakannya dengan tenang meski terisak.
Hati Pangeran Yuan Shen seperti diremas. Dia mengira bahwa Li Hua akan mengatakan perasaannya pada Pangeran Yuan Shen, tapi dia salah.
"Lebih baik menyimpan musuh di dekat kita, jadi bisa mengawasinya." Kata Pangeran Yuan Shen tegas.
Li Hua menatap pangeran dengan tatapan tak percaya. Dia mencoba melindungi satu-satunya orang yang sangat ia pedulikan, tapi sang Pangeran tak menghiraukannya.
"Dia mungkin akan jadi mata-mata." Ujar Li Hua lirih, tak yakin.
"Tentu," balas Yuan Shen yang tampak semakin jelas. "Seperti yang kau lakukan." imbuhnya. Kali ini mata indah Li Hua yang dihiasi oleh bulu mata yang lentik itu melebar. Terkejut, takut dan sedih teraduk menjadi satu dalam lautan dalam matanya.
"Selama ini..." Jeda sesaat Li Hua menerka.
Pangeran Yuan Shen mengangguk, jauh dilubuk hatinya ia begitu menyesal telah melontarkan kalimat itu. Seandainya saja bisa, ia akan menarik semua kata-katanya. Apalagi melihat kesedihan yang terpancar jelas di mata gadis yang sangat dia sayangi sepenuh hati itu. Ia tak tega, tak sampai hati ia menyakiti Li Hua sedalam ini.
"Kau lupa dengan siapa Cheng Hao bekerja?" Yuan Shen mengingatkan Li Hua. Meski sebenarnya dia berbohong, Cheng Hao tidak pernah mengatakan apapun padanya. Semua karena Gu Xia yang sudah mengawasi Li Hua selama ini.
Akhirnya Li Hua menyadarinya. Kesetiaan Cheng Hao hanya untuk Yuan Shen. Itu baik, sangat baik. Hanya saja, hatinya masih terluka. Ia sendiri tak ingin melibatkan diri di antara urusan istana, apalagi mendekati perdana menteri Zhu Yi Zheng. Tidak terbesit di fikirannya akan bertemu dengan pria yang ditakuti seluruh Mengyu. Tapi, entah kenapa iming-iming Zhu Yi Zheng membuat Li Hua tergoda. Ia mendambakan kesembuhan untuk Yuan Shen, dan apapun itu akan ia lakukan.
"Kakak, aku...aku-"
Tak mampu menyelesaikan kalimatnya, Li Hua berlari dengan kencang meninggalkan Yuan Shen yang terpaku. Sang Pangeran tak ingin tinggal diam, ia pun beranjak untuk mengejar Li Hua. Bagaimana pun, hatinya adalah milik Li Hua. Melihat kesedihan meliputi gadis itu, membuat dirinya sendiri terluka. Dia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika Li Hua menderita karena menanggung beban seperti itu.
Namun, pengejaran Yuan Shen terhenti. Seorang gadis yang sangat cantik dengan wajah bulat telur, berkulit putih gading dengan hanfu merah muda menghadang jalan Pangeran. Dengan penuh kesopanan gadis itu membungkukkan tubuhnya sedikit.
"Zhu Qie Ye memberi hormat pada Pangeran Cheng Hua." katanya dalam suara yang mengalun indah bak Irama Qizi. Pangeran menatap gadis itu kesal, mengapa harus datang di saat seperti ini?
Melihat Yuan Shen tak menghiraukannya, Zhu Qie Ye pun bangkit. Ia menatap wajah Yuan Shen yang bak batu pualam yang licin, dan tampan itu. Memang di seluruh istana ini tak ada yang bisa menandingi kecantikan wajah milik Yuan Shen.
"Maaf, aku sudah mengganggu anda, Yang Mulia." kata Zhu Qie Ye.
Mendengar suara merdu Zhu Qie Ye tubuh pangeran tersentak kaget. Ia pun kemudian menatap Zhu Qie Ye dengan kesal. Tapi segera ditutupi olehnya, ia harus ingat bahwa gadis di hadapannya ini akan sangat membahayakan bagi dirinya.
"Maafkan aku, Qie Ye, mengapa jauh-jauh datang kemari? Kau bisa meminta pelayan saja." meski berusaha menutupi kekesalannya, masih tampak jelas terlihat wajah Yuan shen saat ia menatap Qie Ye. Bahkan di mata Yuan Shen, kecantikan Qie Ye pun tak terlihat dan tak mampu membuat hatinya luluh.
"Sebenarnya aku menyelinap datang kemari, aku hanya ingin melihat bagaimana rupa calon suamiku." Katanya dengan wajah memerah merona karena malu.
"Tapi kau mengenaliku begitu melihatku, apa benar ini pertama kalinya kau melihatku?" Selidik Yuan Shen penuh curiga, ia hampir melupakan tujuan awalnya untuk mengejar Li Hua.
"Tidak susah, pakaian sutera mewah, dan gantungan Giok naga, dan wajah seindah musim semi, tentunya hanya dimiliki Pangeran Yuan Shen kan?"
Bahkan pujian seindah itu pun tak membuat hati pangeran tergerak.
°°°°°
Langkah Xin Baozhai lambat-lambat karena ia gemar sekali berhenti untuk menyapa para pedagang di pasar. Kebanyakan mereka pun begitu senang saat melihat pemuda tampan menghampiri mereka. Menurut Xin Baozhai berinteraksi dengan orang-orang seperti mereka dapat membuat suasana hatinya lebih baik. Tapi hari ini, kegundahannya berlipat-lipat karena semua informasi yang dia terima tidak membaik meski ia hampir menyapa semua orang.
Pagi sekali Wu Pei melaporkan informasi yang dia dapatkan dari Rumah Bunga. Ya. Xin Baozhai hanya menggunakan Rumah Bunga sebagai kedok, dia tak benar-benar menggunakan pekerja di rumah Bunga untuk mendapatkan semua informasi. Dia tak mudah percaya dengan semua orang apalagi, orang yang bekerja di Rumah Bunga. Dia hanya menggunakan alasan kerja sama agar leluasa keluar masuk ke dalamnya.
Xin Baozhai menempatkan Wu Pei sebagai pekerja untuk pertunjukkan. Itu sebabnya, Wu Pei akan dengan mudah mengakses seluruh Rumah Bunga.
Semuanya berjalan sesuai dengan rencana Xin Baozhai. Keberadaan pertunjukkan di rumah Bunga menjadi daya tarik sendiri bagi para pejabat dan orang-orang. Selain itu juga mudah bagi Wu Pei untuk menyelinap dan mendapatkan informasi yang dia butuhkan.
"Aku melihat beberapa pejabat datang, mereka banyak minum seolah merayakan sesuatu." Kata Wu Pei kala itu, ia berusaha mengingat kembali.
"Sesekali mereka menyebutkan nama Zhu Yi Zheng, entah siapa dia. Tapi nama itu sangat dihormati sepertinya." lanjut Wu Pei.
"Mereka menyebutkan sesuatu tentang daerah perbatasan, upaya pemberontakan akan berhasil dan mereka harus bersiap."
Xin Baozhai cukup yakin, pemberontakan itu pasti ada kaitannya dengan Zhu Yi Zheng. Ia tahu betul, sudah bertahun-tahun semenjak insiden pemberontakan yang melibatkan keluarga Xin, Dinasti Liang yang saat ini dipimpin oleh Ibu Suri sangat berhati-hati untuk tidak menyentuh perbatasan dengan cara apapun.
"Mereka mengira dengan melihat tempramen Kaisar Yuan Long, rasanya akan pecah perang." Kata-kata Wu Pei sedikit membuat Xin Baozhai khawatir. Perang hanya akan membuat rakyat di perbatasan ketakutan. Mereka tak akan punya tempat berlindung.
"Wu Pei, pergilah ke Gongque cari tahu kebenarannya. Kirimkan informasi padaku dan Ibu Suri. Apa kau mengerti?"
Setelah itu, suasana hati Xin Baozhai terus bergejolak. Jika memang akan segera pecah perang, maka ia harus segera kembali. Namun, ia harus bisa mencegahnya. Harus.
Tiba-tiba saja, sembari memikirkan segala kemungkinan dan rencana apa yang akan dia susun, langkah kakinya yang lambat-lambat itu akhirnya berhenti dengan pandangan matanya tertuju pada sosok berhanfu putih. Mungkin semua orang tidak berhasil membuat suasana hatinya membaik, namun melihat keindahan di hadapannya ada percikan aneh di hatinya yang membuat dirinya mampu menyunggingkan seulas senyum samar.
Kaki Xin Baozhai yang awalnya berjalan lambat-lambat itu akhirnya punya alasan untuk melangkah lebih cepat. Ia berjalan menuju pintu utama rumah bunga. Berhenti untuk menunggu si bunga indah itu berjalan kearahnya. Sayangnya, Xin Baozhai mendapati gadis cantik itu berjalan lemah, tak bersemangat dan menunduk seperti tengah bersedih hati.
Xin Baozhai tetap berdiri di sana, menunggu. Sepertinya gadis itu bahkan tak melihat jalan di depannya karena terus berjalan, hingga akhirnya menabrak d**a bidang Xin Baozhai.
"Apakah sekarang aku seperti hantu sampai kau tidak bisa melihat keberadaanku?" tanya Xin Baozhai dengan nada menggoda. Sang gadis pemilik mata terindah yang pernah Xin Baozhai temui itu akhirnya bertemu dengan mata Xin Baozhai. Kesedihan dan penyesalan tampak jelas disana, terdapat jejak tangis di bulu matanya yang basah.
"Ada apa? apa yang terjadi? Apa kau diganggu oleh preman pasar?" Kekhawatiran meliputi Xin Baozhai, ia mengamati gadis itu lekat-lekat. Tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuhnya. Lalu mengapa dia menangis? Siapa pula yang tega membuat gadis polos seperti ini menangis?
Li Hua tak menjawab, ia hanya kembali menunduk lalu hendak berjalan melewati Xin Baozhai. Tentu saja Xin Baozhai tak akan melepaskannya begitu saja.
Meski tidak mengetahui mengapa gadis itu menangis, Xin Baozhai menghadang jalan Li Hua. ia kemudian meraih tangan si cantik itu, lalu ia berjalan dengan menggenggam tangan Li Hua.
Xin Baozhai merasa Li Hua bukanlah gadis yang biasa ia temui. Jika gadis yang ia genggam tangannya saat ini benar-benar Li Hua pasti akan memberontak, atau setidaknya terus mengoceh untuk bertanya kemana mereka akan pergi. Tetapi, kali ini Li Hua begitu diam dan menurut saja kemana Xin Baozhai membawanya.
Mereka berjalan melewati pasar, hingga sampai di ujung jalan lalu Xin Baozhai membawanya melewati jalan di samping pasar. jalanan itu sepi, hanya terdapat beberapa orang yang tinggal disana. Selama itu pula Li Hua tidak mengeluarkan satu patah kata.
Saat sampai pada jalan setapak di hadapan mereka, barulah Li Hua menarik tangan Xin Baozhai dengan keras.
"Kenapa membawaku kemari?" Tanyanya dengan suara yang lemah.
"Aku ingin menujukkan sesuatu padamu." kata Xin Baozhai lembut, ia tersenyum untuk meyakinkan Li Hua. "Jangan khawatir, aku tidak akan berbuat sesuatu padamu." lanjutnya saat melihat kekhawatiran di wajah Li Hua.
Mereka melewati jalan setapak yang menanjak tersebut. Jalan itu begitu gelap, tapi Xin Baozhai tak melepaskan tangan Li Hua barang sedetik. Mereka menaiki sebuah bukit, hingga akhirnya mereka sampai di atas bukit yang hanya ditumbuhi oleh rerumputan.
Nafas Li Hua terengah-engah karena tak terbiasa untuk mendaki bukit. Melihatnya Xin Baozhai tersenyum.
"Lihatlah!" Kata Xin Baozhai sembari menengadah.
Li Hua pun menengadahkan kepalanya. Kala itu ia melihat langit malam yang begitu gelap dihiasi oleh gemerlap bintang, begitu indah dan menakjubkan. Untuk beberapa saat, Li Hua sangat takjub dengan pemandangan yang begitu indah ini. Dia tidak ingin melewatkan momen yang berharga seperti ini.
"Ini adalah tempat yang aku temukan saat pertama kali menginjakkan kaki di Luoyang tiga tahun yang lalu." Suara Xin Baozhai terdengar mengalun penuh emosi yang terpendam. Li Hua menoleh dan menatap wajah pria itu dengan seksama. Keindahan malam itu menjadi bertambah karena kecantikan wajah Xin Baozhai.
"Di tempat ini, aku seolah bisa menjadi lebih dekat dengan ayahku." ujar Xin Baozhai, terdengar kesedihan dalam nada suaranya.
"Aku biasanya mencurahkan semua perasaanku disini, dan tak seorang pun mengetahuinya." lanjutnya, kemudian ia menunduk dan menoleh pada Li Hua penuh arti.
"Kau juga bisa melakukannya, anggap saja aku tidak ada disini. Mungkin kau bisa meredakan perasaan gundah di hatimu."
"Tapi kau tetap bisa mendengarnya." cibir Li Hua, dan tawa lolos dari bibir Xin Baozhai.
Wajah Li Hua memberengut karena Xin Baozhai tak pernah serius. Pria itu selalu saja membuat lelucon. Sekarang pun menertawakannya.
Xin Baozhai duduk, kemudian tangannya yang masih menggenggam tangan Li Hua pun menariknya pelan untuk duduk. Saat Li Hua telah dudum di sampingnya, Xin Baozhai kemudian bergeser untuk memunggungi Li Hua dan melepaskan genggamannya.
"Aku akan menutup telingaku, sekarang kau bisa mengutarakan semua perasaanmu." Katanya lagi.
"Berjanjilah kau tidak menguping." Li Hua memeringatkan.
"Ya seperti yang kau minta, Tuan Puteri."
Xin Baozhai menutup telinga dengan kedua tangannya. Tapi bukan Xin Baozhai jika ia tidak begitu jahil. Saat ia merasa Li Hua mulai bicara, ia meregangkan tangannya sedikit dan mendengar apa yang dikatakan oleh si gadis cantik itu.
"Aku tidak tahu kenapa harus mengutarakan semuanya, terlebih lagi di dekat pria yang paling menyebalkan yang pernah kutemui." Mendengarnya, Xin Baozhai tersenyum samar.
"Tapi aku bersyukur, aku tidak merasa sendiri untuk pertama kalinya." Li Hua menghela nafas, dan senyum di wajah Xin Baozhai semakin mengembang ketika mengetahui peran kecilnya untuk hidup Li Hua.
"Bukan berarti aku benar-benar sendirian, Kakak Shen selalu menemaniku, dia orang yang selalu membuatku merasa aku tidak sendirian, orang pertama yang mengulurkan tangan padaku di Istana yang begitu dingin, dia orang pertama yang selalu menjagaku, tapi bagaimana pun, aku hanya orang asing yang entah berasal dari mana, meski begitu Kakak Shen sangat baik padaku. Aku pun ingin menjaganya, memastikan dia akan hidup bahagia meski pernikahannya membuatku sedih." Mendengar semua itu, senyum Xin Baozhai yang tadinya begitu lebar kini memudar perlahan. Ia telah menurunkan tangannya dan mengepalkan jarinya hingga buku-buku tangannya memutih.
"Aku tidak takut jika Kakak Shen akan menikah dengan siapapun, tapi tidak dengan Zhu Qie Ye. Aku tidak tahu apapun, tapi kurasa Perdana Menteri bukan orang baik. Aku ingin menjaga Kakak Shen dari orang jahat seperti mereka." lanjut Li Hua.
"Tapi...." Terdengar helaan nafas Li Hua yang berat, ia menengadah ke langit. "Aku sudah menghianati kepercayaan Kakak Shen, aku sudah menyakiti orang yang menjagaku selama ini-" Tubuh Li Hua mulai gemetar, dia pun terisak. "Dia.. Dia akan membenciku." Isakan Li Hua menjadi lebih kencang.
Saat itu juga Xin Baozhai berbalik tidak peduli dengan janjinya. Ia melihat gadis itu menutup wajahnya dengan tubuh yang gemetar. Xin Baozhai mengusap punggung Li Hua dengan lembut, merasakan sentuhan Xin Baozhai seketika Li Hua mendongak dengan wajah memerah.
"Kau mendengarnya?" tanya Li Hua lalu mengisap ingusnya. Melihat tingkah kekanakan Li Hua membuat Xin Baozhai ingin tertawa, ia menahannya dengan menggigit bibir bawahnya.
"Kau menertawakanku."
"Tidak!" Seru Xin Baozhai.
"Pembohong." Li Hua tiba-tiba saja berdiri. Dia beranjak pergi, namun tiba-tiba terjatuh dengan teriakan kecil.
Buru-buru Xin Baozhai menghampiri Li Hua yang terduduk di tanah. Ia melihat noda merah di pakaian putih Li Hua, lalu melihat kaki gadis itu terluka dan mengeluarkan cukup banyak darah.
"Kau ini gadis yang cukup ceroboh."
"Ini hanya luka kecil." tukas Li Hua, tapi ia tak bisa bohong jika 'luka kecil-nya' itu cukup membuatnya meringis kesakitan.
Xin Baozhai memeriksa luka tersebut, panjang dan terlihat cukup dalam karena darah yang keluar lumayan banyak. Ia kemudian menyobek pakaiannya dan hendak membalutkannya pada kaki Li Hua.
"Eh, apa yang kau lakukan?" Tanya Li Hua dengan tangannya menghalau Xin baozhai. Pria itu mendongak tak percaya disaat seperti ini, Li Hua masih bisa bersikap keras kepala. Memang keras kepala tak kenal waktu, kan?
"Membalut lukamu?"
"Sungguh aku-"
"Aku tidak apa-apa ini hanya luka ringan? Itukah yang ingin kau katakan?" Sela Xin Baozhai dengan menatap Li Hua. "Dengar, bukannya aku akan menyakitimu. Aku hanya membantu, aku tak bisa membiarkan bukit ini dikotori oleh darahmu." Ada nada kesal dalam tiap katanya.
Li Hua pun tertegun, ini pertama kalinya Xin Baozhai berbicaa seperti ini. Sarkasmenya langsung mengenai hati Li Hua.
Akhirnya gadis itu pun berhenti bicara dan membiarkan Xin Baozhai melakukan apa yang ingin dilakukannya. Sedangkan Li Hua mengamatinya, pria itu memiliki tangan yang kokoh namun lembut, jari-jarinya runcing dan dilihat dari cara membalutnya yang cepat dan rapi, ia seolah sudah terbiasa melakukan itu.
"Apa yang kau lihat?" tanya Xin Baozhai ketika ia telah selesai dan tak sengaja mendapati Li Hua memperhatikan dirinya. Wajah Li Hua pun memerah karena malu telah tertangkap basah oleh Xin Baozhai.
"Tidak ada."
"Benarkah?" Suara jenaka Xin Baozhai telah kembali. "Bukannya kau sedang mengagumi ketampananku?" godanya.
Alis Li Hua bertaut, lalu ia memalingkan wajahnya yang memanas karena malu.
"Tidak perlu malu, aku tahu wajahku ini memang anugerah, semua wanita tak luput oleh pesonanya." ujar Xin Baozhai dengan penuh percaya diri.
"Kau sedang menghayal ya?" tukas Li Hua sambil menahan senyumnya.
"Tidak, aku bersungguh-sungguh. Sekarang kemarilah!" Xin Baozhai berjongkok dan membalikkan badannya di depan Li Hua.
"Naik kepunggungmu?"
"Iya Tuan Puteri." Balasnya, "Apa kau ingin aku menyeretmu turun? Aku akan dengan senang hati melakukannya." katanya acuh tak acuh. Di samping itu, Xin Baozhai telah mengantisipasi jika Li Hua menolaknya, ia sudah menyiapkan segudang kata-kata, namun-
"Aku juga tidak ingin diseret olehmu." Balas Li Hua kemudian ia berusaha naik ke punggung Xin Baozhai.
Aneh rasanya saat Li Hua begitu menurut. Akan tetapi Xin Baozhai tak berkomentar, ia mulai memegangi bagian belakang Li Hua dan mengangkatnya.
"Kau berat sekali rupanya." Ujar Xin Baozhai ketika mereka mulai berjalan. Li Hua hanya mendengus kesal.
"Darimana kau berasal tuan Xin?" Tanya Li Hua disela keheningan mereka yang sudah berlangsung beberapa saat.
Jeda sejenak, Xin Baozhai akhirnya menjawab perlahan. "Dari tempat yang jauh dari sini, kira-kira jika perjalanan dengan kuda akan memakan waktu yang lama."
Lalu hening lagi, Xin Baozhai menikmati hembusan nafas Li Hua di sekitar tengkuknya. Seperti irama nyanyian di musim semi bagi Xin Baozhai.
"Darimana kau berasal?"
"Aku tidak tahu, Pangeran Yuan Shen bukanlah kakak kandungku. Kaisar mengangkatku jadi salah satu puterinya. Tapi aku tak pernah tahu latar belakangku."
Xin Baozhai cukup terkejut saat Li Hua mengungkapkan hal itu padanya.
"Lalu mengapa membuka rumah b****l? Tidak takut pada kaisar?"
Li Hua tertawa kecil, pertanyaan itu sering kali didengarnya dari pelayan setianya Zhang Zhilin. Apakah dia tidak takut jika akhirnya, rumah bunganya itu menjadi aib bagi keluarga kerajaan.
"Aku ingin bersembunyi, kehidupan istana tidak cocok untukku." Katanya dengan nada sedih seolah dia telah mengalami sesuatu yang mengerikan di dalam istana.
Xin Baozhai terdiam dan tak bicara lagi sepanjang dia menuruni bukit. Sampai ia mengetahui Li Hua tertidur di punggungnya.
"Entah apa yang telah kau lalui selama ini." Gumamnya penuh arti. Lalu ia lanjut berjalan menuju ke Rumah Bunga.
Karena Zhei Yan pernah memberi tahu jalan menuju ke paviliun, Ia pun langsung pergi kesana. Tidak mungkin melewati aula utama rumah bunga di malan hari. Pasti sangat riuh dan ramai, apalagi malam ini ada pertunjukkan istimewa yang diadakan secara khusus oleh para pemain pertunjukkan.
Setelah membuka pintu gerbang paviliun, Xin Baozhai terhenti ketika ia melihat seorang pria dengan pakaian merah khusus untuk pengantin pria berdiri di halaman paviliun dengan gelisah. Saat ia menoleh ke arah Xin Baozhai seketika ia berjalan tergesa-gesa ke arah Xin Baozhai.
"Apa yang kau lakukan!?" geramnya dengan mata melebar ketika melihat Li Hua diatas punggung Xin Baozhai tertidur.
"Kau meninggalkan malam pengantinmu." Itu bukan pertanyaan.
"Bukan urusanmu," tukas Yuan Shen. "Kau bawa dia kemana!? Apa yang telah kalian lakukan!?"
"Menurutmu apa yang akan dilakukan oleh seorang pemuda dan gadis saat berduaan?" Xin Baozhai sengaja untuk memancing amarah Yuan Shen. Dia pun berhasil, karena mata Yuan Shen memerah seperti darah dan kini tangannya sudah mencengkram kerah baju milik Xin Baozhai.
"Jiejie!" Seru Zhang Zhilin yang keluar dari dalam paviliun, dia berlari mengangkat hanfunya menghampiri dua pria yang sudah siap saling menggorok tenggorokan itu.
Pada saat yang sama, Cheng Hao tiba-tiba muncul entah darimana. Dia dengan pedangnya menghadang d**a Xin Baozhai. Tapi sepertinya Xin baozhai tak gentar pada Cheng Hao, ia malah menatap tajam Yuan Shen.