Part 2. Menikah

1341 Words
"Tunggu apalagi? Cepat kamu tanda tangani surat itu! Setelah kamu berhasil memberikan saya seorang anak, kamu bisa pergi!" Naura sempat terdiam. Menatap ragu wajah laki-laki di hadapannya. Tatapan Alex seperti ingin membunuhnya. Bayangan wajah ibunya yang saat ini terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit, membuat dia akhirnya menerima tawaran itu. Alex tersenyum smirk, kala melihat Naura mulai menandatangani surat perjanjian kontrak pernikahan mereka. Mereka akan menikah secepatnya. Pernikahan mereka akan dilakukan di Mansion Alex secara tertutup. Bahkan, Alex melarang Naura memberitahu ibunya kalau dia akan menikah. "Bagus! Setelah ini Joy akan menyiapkan pernikahan kita." "Maaf, Tuan, apa Tuan dan Nyonya besar akan hadir di pernikahan kita nanti?" tanya Naura dengan sangat hati-hati. Dia takut kalau nantinya Alex akan sangat marah padanya. "Tidak! Untuk sementara waktu, pernikahan ini bersifat rahasia. Biarlah mereka tidak tahu kalau kita sudah menikah. Kamu tidak perlu memusingkan hal itu. Biar saya saja yang mengurusnya. Tugasmu hanya satu, segera mengandung benih saya dan jangan pernah mengharapkan cinta dari saya!" jawab Alex dan Naura menganggukkan kepalanya. "Apa ada yang ingin kamu tanyakan lagi? Jika tidak, kita akan langsung melakukan persiapan pernikahan." Naura tak berani menatap Alex. Bagi dia, Alex begitu menakutkan. Namun, di sisi lain, dia sangat membutuhkan uang itu. "Tuan, apa boleh saya meminta uangnya lebih dulu? Saya membutuhkan uang itu. Saya harus membayar biaya operasi dan pengobatan ibu saya selama ini di rumah sakit." "Saya akan memberikan uang itu setelah kita menikah," jawab Alex tegas. Tak ada pembicaraan lagi dari keduanya. Mereka kini sudah dalam perjalanan menuju sebuah Mall. Naura merasa canggung saat harus berjalan beriringan dengan tuannya. Dia menyadari siapa dirinya, wajar jika tuannya merasa malu jalan berdua dengannya. "Saya ingin melihat model terbaru cincin pernikahan! Sekalian, kamu tunjukkan satu set perhiasan berlian!" perintah Alex pada sang pelayan toko perhiasan. Alex masih saja bersikap dingin padanya. Naura menyadari kalau yang Alex inginkan darinya adalah seorang anak. Bukan dirinya. Jadi, dia tak boleh memakai cinta dalam hubungan mereka. Baginya, yang terpenting dia harus segera hamil agar bisa segera pergi dari hidup Alex. Meski sebenarnya, dia sama sekali tak menginginkan pernikahan itu. "Kita berpisah di sini. Kamu pulang naik taksi saja! Soalnya, saya harus ke kantor. Persiapkan diri kamu untuk pernikahan kita!” ujar Alex. "Tuan, apa saya boleh menengok ibu saya?" Naura bertanya dengan sangat hati-hati. "Ya, tapi sebelum saya pulang, kamu harus sudah sampai di Mansion," sahut Alex dingin. Naura hanya menganggukkan kepalanya, tak berani berkata lagi. Mereka pun berpisah. Naura pergi meninggalkan mall dengan menggunakan ojek online, sedangkan Alex langsung pergi menuju perusahaannya. Selama dalam perjalanan, dia terlihat hanya diam. Dia yakin, pernikahannya dengan Naura akan menimbulkan pertentangan dari berbagai pihak. Namun, menurutnya, ini keputusan yang terbaik. *** Naura terlihat baru saja tiba di rumah sakit. Dia langsung menghampiri perawat untuk mengetahui kondisi ibunya. Sejujurnya, dia ingin sekali menjaga ibunya di rumah sakit, tetapi selama ini dia harus bekerja. Sang perawat, mengarahkan Naura untuk berbicara langsung dengan dokter yang menangani ibunya. Dengan uang yang dia miliki, dia ingin melakukan yang terbaik untuk ibunya. "Dalam beberapa hari lagi, saya akan mendapatkan uang untuk biaya operasi ginjal ibu saya. Apa pihak rumah sakit bisa membantu saya mencarikan donor ginjal untuk ibu saya? Saya mohon, tolong sembuhkan penyakit ibu saya!" pinta Naura. Wajahnya terlihat begitu sedih. Harapannya sangat besar agar sang ibu bisa sembuh kembali. "Baiklah, kami akan membantu mencarikannya. Kalau bisa secepatnya segera dipersiapkan biayanya karena kondisi ibu Anda sewaktu-waktu bisa saja drop. Saya tidak menjamin beliau bisa bertahan lama," jawab Dokter Charles yang langsung disambut Naura dengan anggukan kepala. Naura pun berjalan gontai menghampiri ranjang ibunya berada. Dipandanginya wajah sang ibu yang terlihat sangat pucat. Tanpa sadar, air matanya menetes satu persatu. Bagi Naura, ibunya adalah pahlawan dalam hidupnya. Sejak dia berusia satu tahun, ayahnya pergi demi wanita lain hingga sang ibu harus berjuang membesarkannya. "Semua akan Naura lakukan, demi bisa menyembuhkan Mama. Hanya Mama yang Naura miliki di dunia ini. Aku mohon, bertahanlah sampai Naura punya cukup uang untuk biaya operasi Mama," ucap Naura lirih sambil menggenggam tangan sang ibu yang terlihat tak berdaya. "Naura butuh Mama. Naura mohon, bertahanlah ya, Mah." Setelah menghabiskan waktu di sana selama satu jam, akhirnya Naura pun memutuskan pergi karena dia harus kembali bekerja. Jarak rumah sakit ke Mansion cukup jauh. Selama dalam perjalanan, Naura berdoa agar dia bisa sampai lebih dulu sebelum Alex pulang. Namun, harapannya sirna. Naura tampak lemah saat melihat mobil Alex sudah terparkir di sana. "Ternyata, dia sudah pulang. Ya Tuhan, pasti dia akan sangat marah. Kenapa dia sampai di Mansion begitu cepat? Apa dia tidak jadi meeting di kantor?" Naura bermonolog dalam hati. Rasa takut menghampirinya. Dia berharap, Alex tidak tahu kalau dia baru saja sampai di Mansion. "Sial! Dia melihatku," gerutu Naura dalam hati. Alex menatap sinis, sejak Naura datang. Tentu saja hal itu membuat Naura merasa ketakutan. "Sejak kapan pelayan di sini pergi seenaknya saja meninggalkan Mansion?" sindir Alex. Pria itu memang sangat kejam. Dia hanya memperbolehkan pelayannya pergi meninggalkan Mansion saat libur tahunan saja. Alex memberikan jatah libur tahunan selama tujuh hari pada pelayan secara bergantian. Setelah itu, dia tak mengizinkan seluruh pekerjanya pergi keluar Mansion tanpa alasan yang jelas. "Padahal aku sudah izin, apa dia lupa?" gerutu Naura dalam hati. "Hei, kenapa kamu malah diam saja? Apa telingamu tuli sampai tidak mendengar ucapan saya?" pekik Alex membuat tubuh Naura bergetar kaget. Tuannya itu memang seperti monster yang begitu menakutkan. Semenjak perselingkuhan mantan istrinya, Alex menjadi sosok yang kejam. Sampai-sampai para pekerja di mansionnya berharap, Alex segera mendapatkan istri kembali. Mereka yakin, Alex seperti itu karena terlalu lama menduda. "Ma-maaf, Tuan. Ibu saya kritis di rumah sakit. Saya khawatir tidak bisa bertemu untuk terakhir kalinya kalau saya tidak menengoknya. Saya janji tidak akan seperti ini lagi," ucap Naura lemah. Dia juga terlihat menundukkan kepala karena tidak berani menatap laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. "Ya sudah, segera ganti pakaianmu, dan bekerja kembali!" Naura pun menganggukkan kepala dan langsung meninggalkan Alex yang kembali melanjutkan aktivitas makannya. *** Hari yang dinanti akhirnya tiba. Naura dan Alex akan menikah. Para pekerja sempat terkejut saat mengetahui pernikahan mereka yang terkesan dadakan. Bahkan, tak ada tanda-tanda terjadi hubungan spesial di antara keduanya. Air mata yang sejak tadi tertahan, akhirnya jatuh juga satu persatu. Ini adalah pernikahan yang tak dia inginkan. Jika bukan untuk menyelamatkan nyawa ibunya, Naura pasti lebih memilih pergi meninggalkan Alex. "Sudahlah, jangan menangis terus! Jangan berpikir hidupmu paling buruk di dunia ini!" Suara bariton Alex menyadarkan kesedihan Naura. "Hapus air matamu! Jangan sampai pekerja di Mansion ini berpikir macam-macam, atas apa yang terjadi pada kita!" pekik Alex. Naura menghapus air matanya. Tak ada gunanya juga dia berperang dengan laki-laki yang tak memiliki hati. Lebih baik dia menerima kenyataan itu dan berusaha membuat dirinya hamil agar tugasnya segera berakhir. Alex menggandeng tangan Naura menuruni anak tangga. Tak dapat Alex pungkiri, Naura memang cantik. Jika orang tak mengenal Naura, pasti mereka tak menyangka kalau wanita itu hanyalah seorang pelayan di mansionnya. Pernikahan di mulai. Mereka mengucap ikrar janji sehidup semati di depan pendeta. Pernikahan mereka pun berjalan lancar. Kini keduanya sudah resmi menjadi pasangan suami-istri. Tak ada kebahagiaan di pernikahan itu, kedua orang tua mereka pun tak hadir di sana. Tanpa Alex ketahui, ada seorang pekerja yang berkhianat padanya. Dia mengadu pada maminya kalau hari ini mereka akan melangsungkan pernikahan. Sayangnya, sang mami datang terlambat saat Alex dan Naura sudah sah menjadi pasangan suami-istri. "Hentikan! Pernikahan ini tidak sah! Sampai kapan pun saya tidak akan mengizinkan anak saya menikah dengan seorang pelayan. Dasar w************n. Pasti kamu sudah menggoda anak saya, 'kan?" ucap Berliana dengan begitu sombongnya. Berliana hendak memberi pelajaran pada Naura. Namun, Alex coba melerai dengan melindungi Naura dari amukan wanita paruh baya itu. "Lepas! Biar Mami kasih pelajaran wanita jalang ini!" "Cukup, Mi! Aku sama Naura sudah resmi menjadi pasangan suami-istri. Mau tidak mau, sekarang dia adalah istriku. Lebih baik sekarang Mami terima Naura sebagai menantu Mami," ucap Alex tegas. Mata Berliana membulat sempurna seketika. "Tidak! Sampai kapan pun, aku tidak akan menerima dia menjadi menantuku. Ceraikan dia, atau kamu akan kehilangan orang tuamu!" ancam Berliana pada putranya dengan tegas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD