"Apa kamu tidak sadar, siapa wanita yang kamu nikahi ini? Dia hanya pelayan di Mansion kamu. Mami yakin, pasti dia sudah menjebak kamu untuk menikah dengannya." Berliana masih saja bersikeras menolak Naura. Dia menuduh Naura yang menggoda anaknya.
"Hubungan kami sudah jauh, Mi. Mungkin saja saat ini sudah ada benih Alex di rahim Naura. Bukannya Mami ingin aku menikah lagi agar bisa memberikan cucu untuk Mami?" jawab Alex mengingatkan sang mami.
"Iya, tapi bukan dengan wanita miskin seperti dia. Dia hanya wanita miskin dan kita orang terpandang. Dugaan Mami benar kalau dia sudah menggoda kamu agar kamu melakukan hubungan intim dengannya dan akhirnya kamu akan menikahi dia," sahut Berliana, lagi-lagi kesombongan jelas terdengar dari bahasa dan nada bicaranya.
Sontak pernyataan Alex, membuat para pekerja di sana tercengang. Mereka menjadi tak suka pada Naura. Hanya Sisilia yang tak terpancing. Dia sangat mengenal Naura, tak percaya Naura seperti itu.
"Ngomong-ngomong, kenapa Mami tahu kalau aku menikah dengan Naura hari ini?" tanya Alex baru ingat jika sang mami seharusnya tidak tahu soal pernikahannya dengan Naura. Dia yakin kalau ada yang membocorkan pernikahannya dengan Naura. Selama ini maminya jarang sekali datang ke mansionnya. Alex menatap tajam ke arah pekerjannya satu persatu.
"Jawab pertanyaan saya, siapa yang membocorkan rencana pernikahan saya dengan Naura! Jika tidak ada yang mengaku, saya akan bawa kasus ini ke hukum. Apa kalian siap hidup di balik jeruji?" Alex mengancam penuh penekanan.
"Kamu salah! Tidak ada yang memberi tahu Mami. Mami datang karena firasat seorang ibu terhadap anaknya. Sayangnya, Mami datang terlambat. Jadi, kamu tidak perlu curiga sama mereka!" Berliana coba melindungi Tessa–pelayan yang menaruh iri pada Naura.
Alex tidak mudah percaya begitu saja. Dia tetap melakukan tindakan tegas. Membuat tubuh Tessa bergetar dan mengeluarkan keringat dingin. Wajahnya pun terlihat pucat. Alex yakin kalau Tessa yang melakukannya. Ekspresi wajahnya, jelas menggambarkan kalau dia seperti ketakutan karena kesalahannya.
"Cepat kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini!" pekik Alex.
"Ta-tapi, Tuan, saya butuh pekerjaan ini. Saya janji tidak akan mengulangi perbuatan saya lagi!" Tessa memohon iba.
"Pergi! Saya bilang pergi, ya pergi! Saya tidak butuh seorang pengkhianat di Mansion ini!" Alex memijat keningnya, tiba-tiba saja dia merasa pusing. Dugaannya benar, maminya akan menolak pernikahannya dengan Naura.
"Mami akan beri kamu waktu satu minggu! Kamu pilih wanita miskin itu atau orang tua kamu. Papi kamu pun pasti akan menolak pernikahan kamu dengan wanita miskin itu. Dia tidak akan sudi punya menantu dari kalangan rendahan. Kalau kamu menginginkan harta papi, tinggalkan wanita itu, dan menikahlah dengan Laura! Laura mencintai kamu, sejak kamu masih terikat dengan Sella. Sayangnya, kamu tidak menyadarinya.”
Mendengar semua perkataan dari ibu mertuanya, rasanya begitu menyakitkan. Namun, Naura tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa pasrah dan menerima semua penghinaan itu. Tidak sanggup lagi menahan air mata yang hampir jatuh, Naura pun memilih pergi ke kamarnya. Tanpa peduli dengan pertikaian ibu dan anak yang sedang memperdebatkan pernikahannya.
"Ya Tuhan, bantulah aku untuk lepas dari dia! Aku tidak masalah kalau Tuan Alex hanya memberikan uang setengah dari isi surat perjanjian kami. Aku berharap, dia mau membatalkan perjanjian itu."
Berliana pun akhirnya pergi sambil menghentakkan kaki dengan kesal. Satu minggu lagi dia akan datang kembali, menanyakan keputusan sang anak. Namun, dia tak sepenuhnya menerima. Dia akan menyuruh Laura untuk menemui Alex. Mendekati Alex agar meninggalkan Naura.
"Mulai hari ini, kita akan tidur satu kamar! Joy sudah menyiapkan pakaian untukmu, kamu tidak perlu membawa pakaian gembel milikmu," ucap Alex yang datang tiba-tiba ke kamar Naura.
Naura salah besar. Dia pikir Alex akan menceraikannya. Justru nyatanya, Alex malah menyuruhnya untuk tidur satu kamar.
"Kenapa kamu diam? Apa kamu tidak mendengar perkataan saya? Hah?!"
Tak ada rasa iba sedikit pun di hati Alex, melihat mata sembab Naura karena banyak menangis. Naura pun berjalan sambil menunduk, mengekori Alex dari belakang. Dia merasa sangat malu. Harga dirinya sebagai wanita seakan terinjak-injak. Pasti pekerja lainnya, akan menganggap dia sebagai seorang penggoda yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Alex.
"Lakukan tugasmu dengan baik! Bersikaplah layaknya seorang istri. Tapi ingat, jangan pernah gunakan hati dalam hubungan kita ini! Sampai kapan pun, saya tidak akan pernah mencintaimu. Memang benar, apa yang dikatakan mami saya. Kamu itu hanyalah seorang pelayan dan tidaklah pantas untuk saya! Jadi, setelah anak saya lahir, saya pasti akan menikah dengan wanita lain," ucap Alex dengan begitu sombongnya tanpa memikirkan perasaan Naura yang semakin tertekan.
"Jika Tuan sudah menyadarinya, kenapa Tuan tidak menceraikan saya saja sekarang dan menikahi wanita yang lebih pantas mengandung anak, Tuan. Jadi, Tuan tidak perlu melibatkan saya dalam hal rumit ini," sahut Naura. Dia coba memberanikan diri untuk bicara pada Alex.
"Diam! Saya tidak butuh pendapat kamu. Itu urusan saya untuk memutuskan apa yang akan saya lakukan. Lagi pula, apa kamu lupa kalau kamu juga butuh banyak uang untuk ibumu? Apa kamu tega, membiarkan ibumu mati mengenaskan hanya karena kamu tidak sanggup membiayai operasinya?"
Naura terdiam. Sungguh pilihan yang sulit dan dia tidak mungkin bisa memilihnya. Andai saja ayahnya tidak pergi meninggalkannya dulu, mungkin dia tak akan berurusan dengan Alex–pria yang dianggapnya tak punya hati dan begitu kejam.
Ibunya pernah bercerita jika ayahnya berasal dari keluarga berada. Namun, neneknya sangat jahat. Dia tega menikahkan sang ayah dengan wanita lain. Lambat laun, ayahnya lebih memilih wanita pilihan neneknya dan meninggalkan ibunya yang hanya berasal dari keluarga miskin.
"Ya Tuhan, apakah nasibku akan menderita sama seperti Mama? Di saat Tuan Alex sudah mencapai tujuannya, dia pasti akan membuangku seperti sampah. Tapi mungkin kisahnya akan berbeda, kelak anak yang akan aku lahirkan tidak akan mengalami hidup miskin seperti aku. Dia justru akan hidup dengan bergelimangan harta di keluarga kaya raya, tapi … apa aku sanggup pergi dari anak yang aku lahirkan nanti?"
Naura baru menyadari kalau Alex sudah pergi meninggalkannya. Dia pun coba mencari keberadaan Alex. Namun, tetap tidak ada.
"Pernikahan macam apa ini? Di saat pengantin baru harusnya menikmati malam yang indah dengan pasangannya. Dia justru meninggalkan aku dengan rasa sakit yang terus dia berikan lewat ucapannya.” Naura tertunduk lesu. Duduk di tepi ranjang sambil menangis terisak. Rasanya amat menyakitkan hingga sesak di d**a membuatnya sampai kesulitan bernapas.
“Kamu harus kuat, Naura! Kuat demi Mama.” Wanita itu menekan dadanya kuat-kuat, berharap rasa sesak akan sedikit berkurang.