3. Kapan Kalian Punya Anak?

2065 Words
Malam yang tidak inginkan Calixto akhirnya datang. Dia tidak suka malam ini karena orangtuanya dan juga orangtua Mia akan makan malam bersama. Mereka akan banyak berbicara hal-hal yang membosankan hingga tengah malam. Mereka juga dengan pintarnya memilih hari di mana besok pagi dia harus kembali bekerja. “Kenapa tidak turun?” Mia menahan tangannya yang hendak membuka pintu mobil. “Kamu turun duluan saja, ada yang harus kulakukan.” Tidak ada yang Calixto lakukan di dalam mobilnya. Dia mengambil napas panjang sebelum akhirnya menghela napas. Selama beberapa saat dia di sana, sebelum keluar dari dalam mobilnya. Acara makan malam itu dilakukan di halaman belakang rumah orangtua Calixto yang ada di pinggiran jauh pusat kota Columbus. Begitu masuk ke dalam rumah, Calixto mendengar tawa dari para orangtua yang terdengar sangat nyaring. Di depan pintu yang menghubungkan ruang santai dengan halaman belakang, Calixto terdiam. Dia menyiapkan mentalnya sebelum melangkah ke halaman belakang rumah. Begitu pintu Calixto buka, orang-orang yang ada di sana menatapnya. “Calixto, anakku.” Hana ibu Calixto memeluk anaknya dengan erat. “Mama merindukanmu.” “Ma, kita baru beberapa satu minggu tidak bertemu.” Calixto melepaskan pelukan ibunya itu. “Tapi tetap saja Mamamu ini selalu merindukanmu.” Hana tersenyum dan menarik tangan Calixto. “Ayo duduk dan makan.” Tidak banyak yang Calixto ucapkan selama acara makan malam itu. Dia cukup menikmati makanan yang dimasak oleh ibunya. Masakan ibunya memang tak pernah mengecewakan. Saat tengah bersantai menyesap winenya, Calixto dikejutkan oleh ucapan Choon Hee, ibu Mia yang berarti ibu mertuanya itu. “Aku harap kalian akan segera memiliki anak,” ucap Choon Hee dengan sungguh-sungguh. “Aku juga benar-benar berharap punya seorang cucu di usiaku yang sudah 60 tahun,” ucap Hana menambahkan. Calixto yang mendengar keinginan ibunya dan juga mertuanya itu tidak beraksi apa-apa. Hingga dia memutuskan untuk pun melirik Mia yang ada di sebelahnya dan Mia tampak tegang. “Ah.…” “Kami akan mengusahakannya,” ucap Calixto. Mia menatap Calixto tak percaya. Mia merasa apa yang baru saja Calixto ucapkan itu tidak benar. Calixto yang merasa ditatap seketika menoleh dan memberi tanda agar Mia tidak melakukan hal yang akan membuat keributan di pertemuan ini. “Jangan terlalu memaksa mereka, mereka bahkan baru menikah lima bulan.” Charles ayah Calixto berucap. Dia bukan orang yang memaksakan kehendak pada anaknya dan dia merasa jika istrinya sudah banyak memaksa Calixto. “Mereka tentu sudah sangat mengenal, sayang.” Hana menatap Mia. “Bukan begitu Mia?” “Iya,” ucap Mia sambil memamerkan senyum manisnya. “Lakukan jika kalian siap, aku sama seperti Charles,” ucap Jae Sun ayah Mia yang sedari tadi memilih diam. Calixto tersenyum kecil dan mengangguk. Dia kemudian mencoba untuk tidak peduli dengan setiap pembicaraan yang terdengar. Semua pembicaraan itu benar-benar terdengar merepotkan. Calixto ingin pergi saja dari tempat ini. Makan malam yang merepotkan itu akhirnya berakhir. Ini yang Calixto tunggu-tunggu sejak kedatangannya. Calixto dan Mia kembali ke dalam mobil mereka dan berkendara menuju apartemen milik Calixto yang sudah Calixto tinggali selama dua tahun. “Calixto,” panggil Mia tepat saat lampu merah menyala. “Ya?” “Aku belum ingin mempunyai seorang anak.” Ini yang sedari tadi mengganjal hati Mia dan dengan keberanian yang dia kumpulkan, dia akhirnya mengatakannya juga pada Calixto. “Ya tak masalah. Ini hidupku dan hidupmu, tentu hanya kita yang bisa menentukannya.” Calixto tidak pernah ambil pusing dengan keinginan ibunya dan juga mertuanya itu. “Tapi tadi kamu mengatakan iya! Dan aku benar-benar tidak siap untuk hal itu.” Calixto menoleh dan berucap, “Itu agar mereka diam, apa kamu mengerti? Aku juga tidak berpikir untuk memiliki seorang anak. Jadi, nikmati saja hidupmu dan lupakan apa yang tadi kamu dengar.” Ada kelegaan dari diri Mia saat mendengar penjelasan Calixto. “Terima kasih sudah mengerti yang kumau.” “Ya,” jawab Calixto singkat. Baru kali ini Mia terasa menyebalkan. Calixto sangat tidak suka pada perempuan yang terlalu merepotkan. Mia sudah sebesar ini dan dia masih tidak mengerti untuk mengatakan iya saja daripada harus berdebat? Toh orang tua mereka pasti mengerti jika melakukan hubungan badan tidak selalu membuahkan hasil. s****a dan sel telur haruslah dalam keadaan yang sehat dan itu harus dilakukan pada saat yang tepat. Walau begitu, tidak ada jaminan untuk bisa langsung mendapatkan anak. Mobil yang dikendarai Calixto kemudian melaju dengan lebih cepat membelah jalan malam kota Columbus. Tidak ada suara yang terdengar sama sekali karena Mia sibuk dengan ponselnya dan tampak juga sebuah earphone yang terpasang di telinga Mia. Hal itu karena, siapa pun yang ada di dalam mobil Calixto, dia harus mengikuti peraturan yang Calixto buat dan salah satu peraturan itu adalah tidak mendengarkan lagu. Jika ingin mendengarkan lagu maka dengarkan dengan earphone dan tidak boleh ikut bernyanyi. Kaku? Tapi itulah Calixto yang tidak ingin konsentrasinya buyar. Bahkan untuk berbicara tentang hal yang tidak perlu, Calixto tidak ingin melakukannya. Dengan kata lain, Calixto sebenarnya lebih suka ketenangan. Saking sukanya ketenangan, ada kalanya Calixto akan pergi ke hutan selama seminggu dan berkemah di sana. Calixto rindu pergi ke hutan. Saat libur musim panas nanti Calixto akan pergi ke hutan lagi. Mungkin ada baiknya jika dia pergi lebih lama karena waktu libur musim panasnya kemarin terbuang sia-sia. Perjalanan mereka menuju apartemen cukup lama dan sepanjang perjalanan itu benar-benar sepi. Calixto bahkan tidak sadar jika Mia tertidur dan dia baru menyadari saat mereka tiba di parkiran apartemen. “Mia, kita sudah sampai,” ucap Calixto sambil membuka sabuk pengaman yang membelitnya. Tidak ada reaksi sama sekali dari Mia dan Calixto menipiskan bibirnya tidak suka. Dia pun menggoyangkan lengan Mia beberapa kali hingga Mia akhirnya bangun dari tidurnya. “Sudah sampai, sebaiknya kita segera masuk ke dalam,” ucap Calixto lalu meninggalkan Mia lebih dulu. Dia bahkan tidak menunggu Mia keluar dari mobil untuk pergi bersama-sama ke lift. Saat lift terbuka dan Calixto masuk ke dalamnya, pintu lift baru saja akan tertutup hingga sosok Mia yang berlari tergesa ke arahnya membuat Calixto menahan pintu lift yang akan tertutup. Mia pun berhasil masuk ke dalam lift dengan napas yang sedikit terengah. Setelah bisa mengatur napasnya, Mia menatap Calixto dengan tatapan kesalnya. “Seharusnya kamu menungguku agar kita bisa sama-sama masuk,” ucap Mia kesal. “Kamu terlalu lama keluar dari dalam mobil,” jawab Calixto santai. “Seharusnya dengan badanmu yang sekecil itu, kamu bisa melakukan segala macam dengan lebih cepat.” Mia menatap pantulan tubuhnya. Tubuhnya tidak sekecil apa yang Calixto ucapkan. Tubuhnya kurus dan tingginya tidak jauh berbeda dengan Calixto. Ini adalah badan yang diinginkan semua gadis di zaman ini. Bahkan banyak orang yang berusaha mati-matian untuk mendapatkan bentuk tubuh seperti ini. “Itu karena aku mengantuk,” ucap Mia. “Aku ingin segera tidur. Bagaimana denganmu?” “Tidak, ada yang harus kukerjakan,” jawab Calixto bertepatan dengan pintu lift yang terbuka. “Ini masih masa orientasi, apa kamu sudah sesibuk itu?” “Bukankah kamu juga sibuk di masa ini juga?” Calixto balik bertanya. “Tidak begitu. Apa karena aku mengajar anak sekolah dasar?” Sebenarnya pertanyaan ini Mia tanyakan pada dirinya sendiri. Calixto yang akan membuka kunci apartemen menoleh ke arah Mia. “Harusnya kamu lebih banyak memikirkan siswamu. Masa-masa sekolah dasar adalah masa-masa yang sangat penting dalam membangun karakter siswamu.” Kata-kata dari Calixto membuat Mia merengut. Sifat Calixto yang seperti orang tua inilah yang membuatnya tidak suka pada Calixto. Tapi walau begitu, Mia cukup senang karena bisa hidup dengan Calixto. Hidup dengan Calixto membuatnya bisa hidup dengan bebas. Masuk ke dalam rumah, Calixto langsung pergi ke ruang kerjanya. Sedangkan Mia, dia langsung masuk ke dalam kamar. Di dalam ruang kerjanya, Calixto langsung menyalakan komputernya. Ada jurnal yang harus Calixto selesaikan dan beberapa data sudah dia dapatkan. Calixto akan memasukkannya ke dalam jurnal yang akan dia buat. Selain mengerjakan jurnalnya, Calixto juga berencana untuk mempersiapkan materi-materi dan strategi apa yang akan dia gunakan untuk mengajar. Calixto yang melihat anakan hasil kultur jaringannya mendadak teringat dengan pembicaraan masalah anak. Ibunya tidak pernah puas, Calixto tahu itu. Setelah menyetujui keinginan ibunya untuk menikah, lima bulan lalu Calixto akhirnya melepas masa lajangnya. Calixto jadi ingat bagaimana waktu pernikahan itu berlangsung. Sebuah pernikahan yang bisa dibilang sederhana dan hanya didatangi oleh orang-orang terdekat mereka dan entah kenapa Calixto ingin melupakannya saja. * * * “Satu jam lagi pernikahanmu akan berlangsung, apa kamu gugup?” Pertanyaan yang terlontar itu membuat Calixto yang sibuk dengan ponselnya mengangkat pandangannya. Mata coklatnya itu menatap sosok ayahnya yang berjalan mendekatinya. “Dibanding gugup karena acara pernikahannya. Aku lebih memikirkan hal yang akan terjadi setelah pernikahan ini,” jawab Calixto dan kembali fokus pada ponselnya. Di saat Calixto harusnya menghafalkan kalimat yang akan dia ucapkan di altar, Calixto malah sibuk membaca jurnal. Si gila belajar yang tidak tahu tempat, itu adalah julukan yang Calixto dapatkan dari teman-teman sekolahnya. “Apa yang kamu lakukan?” Charles merebut ponsel Calixto. Mengetahui apa yang dilakukan Calixto, Charles berdecak kesal. “Di saat seperti ini kamu malah sibuk membaca jurnal.” Ponsel itu Charles masukkan ke dalam saku celananya. “Dulu Papa sangat gugup dan mati-matian menghafal janji suci yang harus Papa ucapkan di altar.” Calixto menghela napas lelah. “Itu sudah kuhapalkan. Seharusnya Papa tidak perlu khawatir dengan hal itu dan tolong kembalikan ponselku,” pintanya. Charles menggeleng. “Tidak ada ponsel, sekarang kita harus pergi untuk melakukan sesi foto keluarga. Kamu harus melihat bagaimana cantiknya calon istrimu.” “Aku sudah pernah melihatnya bukan?” Calixto dengan terpaksa bangun dari duduknya. “Seorang gadis akan terlihat berbeda di hari pernikahannya.” Calixto mengangkat sebelah alisnya dan bertanya,“Apa dia melakukan operasi plastik untuk hal ini?” Ucapan Calixto yang tanpa filter itu membuat Charles memukul lengan anaknya. “Jangan mengatakan itu, kamu harus lebih bisa menjaga perasaan seseorang ketika sudah memilih melakukan operasi.” “Jadi dia melakukan operasi plastik,” simpul Calixto. “Tidak!” seru Charles. “Dia tidak melakukannya, Papa hanya mengajarimu untuk tidak mengomentari penampilan perempuan.” “Aku mengerti,” gumam Calixto. Mereka berdua berjalan menuju ruang di mana mempelai ditempatkan. Tidak ada perasaan gugup yang menghampiri Calixto, tapi semua orang selalu mengatakan jika dia akan merasakan kegugupan itu saat dia akan menikah. Kenapa dia tidak merasakannya? Calixto juga tak mengerti kenapa. “Nah, calon istrimu sudah menunggu di dalam,” ucap Charles kemudian membuka pintu dengan perlahan. Di ambang pintu yang akhirnya terbuka, Calixto sedikit terkejut di dalam sudah ramai oleh anggota inti dari keluarganya dan juga keluarga Mia, calon istrinya. “Bagaimana?” bisik Charles. “Yang berbeda hanya make upnya saja,” ucap Calixto jujur. “Tapi cantik bukan?” tanya Charles lagi. Charles tampaknya tidak puas dengan jawaban anaknya itu. Apa Calixto tidak merasa tertarik sama sekali dengan perempuan secantik Mia? Badan tinggi semampai, kulit putih bersih tanpa noda,, wajah yang kecil, mata dengan dobel eyelid dan bibir yang merah merona. Sungguh Mia adalah gadis layaknya bulan purnama yang sangat cantik. Kecantikan Mia itu harusnya menarik perhatian Calixto, tidak mungkin Calixto mau menikahi Mia guna menyembunyikan orientasi seksualnya bukan? pikir Charles yang sejujurnya sangat khawatir dengan anaknya saat ini. “Yah… cantik.” Calixto kemudian berjalan memasuki ruangan. Sesi foto sebelum acara pernikahan pun berlangsung dengan cukup heboh. Yang membuat heboh tentu saja Hana dan juga Choon Hee selaku ibu dari mempelai pria dan wanita. Mereka berdua benar-benar sudah menunggu sejak lama acara ini bisa terjadi. Setelah sesi foto, mereka semua harus bersiap untuk acara utama. Pemberkatan terjadi di sebuah hotel tepi pantai dan ini tentu bukan keinginan Calixto. Calixto bahkan tidak pernah ikut campur masalah pernikahannya. Dia menyerahkan semua urusannya pada orangtuanya. Tanpa terasa, acara utama yang ditunggu-tunggu semua orang tiba. Calixto yang ada di depan altar sekarang tengah menunggu mempelai wanita untuk masuk. Sampai di sini Calixto belum juga merasakan emosi apa pun di dirinya. Perlahan namun pasti, Calixto melihat Mia yang berjalan ditemani ayahnya sendiri, Jae Sun. Sebuah kode untuk tersenyum Calixto dapatkan dari Charles. Kode itu membuat Calixto tersadar jika dia tidak tersenyum dan memaksakan sebuah senyum sopan tersungging di sana. Di saat seperti ini senyuman itu memang penting bukan? Saat janji suci itu terucap dengan begitu mudahnya dari mulutnya, Calixto hanya menganggap itu seperti ucapan yang sering dia ucapkan pada mahasiswanya. Dia tidak merasakan perasaan istimewa setelah mengatakan itu. Bahkan saat dia mencium seseorang untuk pertama kalinya. Calixto tidak merasakan lonjakan hormon kebahagiaan itu. Ke mana perginya hormon dopamin yang seharusnya dia rasakan? Apa orang-orang berbohong tentang semua kebahagiaan itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD