“Kapan ya musim semi datang?” Kayra menatap langit yang berwarna biru.
“Cuaca peralihan antara musim panas ke musim gugur adalah yang terbaik bodoh!” Amanda dengan emosi melempar roti pesanan Kayra. “Makan itu biar otakmu bisa berpikir jernih.”
“Hey, jangan kasar seperti ini. Aku tidak akan membuatkanmu mie instant lagi kalau begini.”
Ancaman Kayra tampaknya berpengaruh pada Amanda. Amanda terlihat mengerucutkan bibirnya. Mi instant buatan Kayra adalah yang terbaik dan Amanda tidak bisa menolak godaan itu.
Kayra menyandarkan tubuhnya di bangku taman fakultasnya. Udara yang sejuk dan segar membuat Kayra sangat betah berada di sini.
Roti yang Amanda berikan segera Kayra buka. Sambil terus kepalanya tengadah menatap langit, Kayra berucap, “Padahal langit sejernih ini, tapi katanya akan ada hujan sore nanti.”
“Untung saja hari ini aku tidak punya jadwal ke mana-mana.”
“Tidak pergi dengan senior itu?” Kayra melirik Amanda dengan tatapan penuh godaan.
“Kapan lagi aku bisa menghabiskan waktu denganmu?” Amanda mengambil potongan roti milik Kayra dan memakannya. “Harusnya kamu beruntung memilikiku yang akan menemani malam dinginmu.”
“Aku tersanjung.” Kayra menghela napas. Dia kembali melirik Amanda dan bertanya, “Bagaimana rasanya diperlakukan seperti seorang putri oleh senior itu?”
“Menyenangkan! Melihatnya mengemis untuk selalu pergi denganku itu terasa sangat menyenangkan.”
“Seorang b***k cinta,” gumam Kayra.
“Ya, mungkin.”
“Kapan ya aku akan mendapatkan seorang yang akan tergila-gila padaku?” Tatapan mata Kayra mendadak berubah sedih. Sudah dua tahun dia di sini dan belum pernah berpacaran sekali pun.
Amanda bangun dari duduknya dan hal itu membuat kepala Kayra hampir terjatuh. Amanda sekarang berdiri tepat di depan Kayra dan menunjuk wajah Kayra lalu berseru, “Bagaimana seseorang bisa tergila-gila padamu jika kamu terus menghindar, ah?!”
Teriakan Amanda membuat Kayra beringsut namun di tahan oleh kedua tangan Amanda. Kayra menunjukkan senyum malu-malunya.
“Bagaimana ya,” katanya ragu. Mata Kayra kemudian bergerak gelisah. “Aku belum menemukan yang…”
Kedua pegangan tangan Amanda kemudian terlepas. Amanda kembali duduk di tempatnya. “Yang masuk ke dalam tipemu,” potong Amanda.
Kayra mengangguk mengiyakan. Amanda kemudian menghela napas. “Anak baik-baik sepertimu lebih baik mencari kekasih di negara asalmu saja.”
“Itu masih dua tahun lagi,” keluh Kayra.
“Ya karena kamu tidak suka pria asing. Kamu selalu mengeluh dengan mereka yang terlalu bebas lah, yang memakai tatolah, yang pecandulah. Sangat sulit memang menemukan pria yang baik-baik saja di sini.”
“Kalau kamu tahu semua pria tidak baik-baik saja, kenapa kamu masih berkencan dengan mereka?” tanya Kayra.
“Karena aku juga suka. Aku tidak bisa hidup sendirian, walau begitu, aku tidak pernah memberikan sepenuh hatiku untuk mereka. Kenapa? Karena aku tahu jika tidak ada hubungan yang akan bertahan lama, bahkan setelah menikah. Jadi ya, aku sudah siap dengan perpisahan itu.”
“Aku ingin hubungan yang bertahan lama,” ucap Kayra pelan. “Apa ini karena aku tinggal di wilayah yang mengharuskan menikah? Melihat seseorang berkeluarga dan memiliki anak membuatku menginginkannya juga.”
“Ya itu salah satunya bukan? Dan jika kamu mengharapkan itu, pria di sini sangat sulit untuk diajak menikah. Tapi jika kamu ingin merasakan satu kali yang namanya berpacaran dengan pria asing yang hidup bebas, tentu itu suatu hal yang bagus untuk menjadi pengalamanmu.”
Kayra tertawa. “Jika mereka tidak ingin tidur, mungkin aku akan memikirkannya.”
Amanda tertawa, tawanya yang keras mendadak memelan sesaat dia mengingat sesuatu. “Sepertinya aku tahu siapa orangnya,” bisik Amanda.
“Ah? Siapa?”
“Daniel”
Kayra menoleh ke arah Amanda dengan mata yang melotot lebar. “Wah gila!” serunya.
“Ya, dia selama ini juga mendapatkan reputasi baik. Selama dua tahun mengenalnya, dia juga tidak memiliki kekasih.”
Kayra mencubit gemas pipi Amanda. “Jangan menyarankan hal yang tidak akan kulakukan.”
“Kenapa tidak?”
“Dia sahabat kita bodoh.”
“Apa salahnya dengan sahabat menjadi crush?”
“Pikirkan saja sendiri! Hal seperti itu tidak mungkin kamu tidak mengerti!” Kayra bangun dari duduknya. “Aku bisa gila jika terus-terusan di sini.”
“Wah, kamu malu-malu sepertinya.” Amanda bangun dari duduknya. Dia mencoba menyamakan langkahnya dengan langkah Kayra. “Wajahmu memerah, sepertinya kamu menyukai Daniel!”
“Sialan! Jangan mengatakan itu dengan suara yang keras!” pekik Kayra. “Aku tidak menyukainya dan bagaimana jika dia mendengar itu!”
“Mana mungkin ada Daniel di wilayah gedung fakultas kita.”
“Dih, kau kira sejauh apa gedung fakultas kita dengan fakultasnya?”
“Setidaknya dia tidak akan berpikir untuk pergi ke wilayah taman fakultas kita.”
Kayra memutar bola matanya bosan. “Terserah, tapi jangan mengatakan hal itu lagi. Jangan buat aku malu untuk berbicara dengannya.”
“Hohoho… malu ya?”
“Amanda!”
*
*
*
Tangan besar milik Calixto terlihat bergetar dan mengeratkan genggamannya pada alas papan tulis miliknya. Ekspresi wajah Calixto saat dia duduk tidak jauh dari dua gadis yang berbicara dengan suara kerasnya membuat dahi Calixto mengernyit. Hanya dua orang, tapi suara itu seperti suara sepuluh orang.
Ini jelas-jelas polusi suara! batin Calixto kesal.
Calixto menutup wajahnya dengan alas papan tulis miliknya itu. Kapan ini akan berakhir? Dia perlu menenangkan dirinya di tempat ini.
“Amanda!”
Teriakan keras itu membuat Calixto mengatup rahangnya kuat. Alas papan tulis itu sedikit Calixto jauhkan dan dia melirik dua gadis yang duduk tidak terlalu jauh di samping kirinya. Dua gadis itu akhirnya pergi menjauh dan sekarang Calixto bisa menenangkan dirinya sendirian di sini.
Bagian taman ini biasanya sepi dan dua gadis itu duduk di sini hanya untuk membicarakan hal percintaan? Apa mereka tidak bisa membicarakan hal lain selain tentang percintaan?
Kenapa semua orang terus-terusan membicarakan hubungan percintaan dan juga anak? Apa mereka akan mati jika tidak merasakan cinta? Mati karena patah hati mungkin iya. Banyak yang bilang jika mereka siap dengan patah hati, seperti Maria. Tapi kenyataannya, mereka tetap merasakan sakit karena patah hati itu.
Selain itu, gadis yang mendambakan pernikahan itu, apa dia kira menikah dan memiliki anak semudah dan semenyenangkan itu? Calixto tidak habis pikir kenapa anak-anak muda itu hanya membicarakan hal yang menyenangkan saja tanpa memikirkan segala macam hal buruk yang mungkin saja terjadi.
“Seharusnya mereka pikirkan saja bagaimana cara lulus dari universitas ini.” Calixto mengambil pena yang ada di kantung bajunya dan mulai menulis kembali.
“Melihat seseorang berkeluarga dan memiliki anak membuatku menginginkannya juga.”
Calixto menghentikan gerak tangannya. Dia malah kembali teringat ucapan gadis berisik itu. Apa yang indah dari berkeluarga dan memiliki anak? Dia tidak mengerti sampai di sini. Tidak ada hal yang menyenangkan dari berkeluarga. Jika bukan karena lingkungannya, Calixto mungkin tidak akan menikah karena hubungan yang seperti itu terasa merepotkan baginya. Memahami perasaan manusia itu sangat sulit, terutama memahami perempuan.
“Lingkungan yang menyebalkan,” gumam Calixto.
Calixto kemudian bangun dari duduknya dan berjalan menuju rumah kaca yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari tempat duduknya. Seharusnya dia pergi ke tempat ini sedari tadi, bukannya malah diam mematung sambil menahan emosi karena suara berisik tadi.
Calixto cukup sibuk di rumah kaca hingga sore akhirnya datang dan hujan turun seperti yang sudah diperkirakan di ramalan cuaca. Dari sana, Calixto pergi menuju ruangannya dulu untuk mengambil barang-barangnya. Hujan belum terlalu deras saat Calixto bisa berlari menuju gedung fakultas.
Hujan tidak membuat mahasiswa-mahasiswa gentar untuk pulang. Satu payung digunakan oleh dua orang dan tampaknya hanya Calixto yang menggunakan satu payung untuk dirinya sendiri.
“Apa kamu sudah gila?! Ini sangat dingin bodoh!”
Calixto menahan napasnya saat mendengar teriakan itu. Kenapa hari ini penuh dengan teriakan? Calixto ingin menikmati waktunya dengan tenang sekarang.
Tepat di sampingnya, Calixto melihat seseorang yang hanya memakai jas hujan berlari melewatinya. Tak lama setelah itu, seorang dengan payungnya datang mengejar.
Calixto benar-benar tidak habis pikir kenapa ada orang yang membawa jas hujan ke kampus seperti itu? Jas hujan itu bahkan tidak akan melindungi sepenuhnya. Gadis yang memakai jas hujan itu jelas gadis yang gila dan laki-laki yang mengejarnya adalah laki-laki yang bodoh.
Gadis dengan jas hujan birunya itu akhirnya terlindungi oleh payung dari laki-laki yang mengejarnya. Gadis itu hendak pergi namun segera ditahan oleh si laki-laki dengan merangkulnya erat. Mereka berdua tertawa dengan riangnya dan Calixto mendadak merasa kesal.
Mata Calixto merasa ternoda dengan semua kedekatan orang-orang yang mendadak terjalin karena hujan seperti ini. Tidak ingin melihat adegan itu lebih lama, Calixto segera melangkah cepat untuk sampai ke parkiran.
Cuaca hari ini cukup dingin bagi Calixto. Rasa lapar yang tiba-tiba menghantui membuat Calixto teringat makanan yang sudah jarang dia makan. Calixto pun urung untuk langsung pulang. Dia lebih memilih untuk pergi menuju restoran Chueok. Sebuah restoran Korea yang tempatnya berlawanan arah dengan arah pulangnya.
Masih di jalan dalam kampus, Calixto melihat bagaimana para mahasiswa tampak berjalan di bawah payung dengan bermesraan. Ini sebenarnya bukan pemandangan yang asing, tapi entah kenapa sekarang terasa sangat mengganggu dan Calixto tidak mengerti kenapa sekarang dia peduli dengan hal ini. Ada apa dengan dirinya?
Hujan sedikit reda saat Calixto sampai di restoran Chueok. Begitu masuk ke dalam restoran, restoran itu tampak ramai. Orang-orang tampaknya datang ke restoran ini karena menyajikan menu penghangat tubuh di hari dingin seperti ini.
Di dalam restoran itu, hanya Calixto yang makan sendirian. Biasanya Calixto tidak pernah sadar akan hal ini, tapi hari ini dia malah sadar dan menjadi merasa aneh dengan kesendiriannya di restoran ini.
Tawa dan obrolan-obrolan yang terdengar terasa sangat mengganggu bagi Calixto. Dari obrolan seputar keluarga hingga obrolan sepasang kekasih yang begitu mesra yang duduk di depannya. Semua itu benar-benar mengganggu Calixto. Mungkin jika dia tahu hanya akan ada dirinya saja yang makan seorang diri di sini, Calixto tidak akan datang ke restoran ini.
Calixto mencoba untuk tidak mempedulikan obrolan-obrolan yang terdengar. Selagi menunggu makanan pesanannya, Calixto menghabiskan waktunya dengan rujukan-rujukan untuk penelitiannya.
Begitu makanan pesanannya datang, Calixto mencoba untuk menghabiskan makanannya dengan cepat. Dia ingin segera pulang saja karena keadaan sekelilingnya membuatnya tidak nyaman sama sekali.
“Sayang, bagaimana jika nanti kita ehm….”
“Pengamanku habis, kita harus membelinya lebih dulu.”
“Tidak perlu, sekarang hari aman.”
Kunyahan Calixto terhenti. Dia menatap makanan di depannya dengan tidak berselera. Apa pasangan di depannya tidak bisa membicarakan hal pribadi itu di tempat lain saja?