7. Utang

1756 Words
Kantuk yang tadi sempat datang seketika lenyap. Kayra menatap pesan yang dikirim Wisteria dengan penuh kecurigaan. Jantungnya berdegup kencang dan saat jemarinya menekan tombol unduh itu, jarinya terasa sangat lemas. Setelah video selesai diunduh, Kayra memutar video itu. Terlihat seseorang menekan tombol bel yang ada di pagar rumah. Video yang semulanya diambil dari jarak jauh perlahan mendekat hingga sampai ke samping si pria yang menekan bel namun yang terlihat hanya bagian pinggang ke bawah. Tampaknya si perekam melakukan perekaman secara diam-diam. “Bapak cari Pak Handoko sama Bu Vina?” Suara perempuan yang bertanya terdengar diedit, Kayra jadi tidak tahu siapa pemilik suara yang asli. “Iya, apa mereka tidak ada di rumah?” “Bapak sebelumnya udah cari di toko mereka?” “Saya bahkan datang ke tokonya lebih dulu seperti apa yang dia inginkan. Tapi tokonya malah tutup! Mereka kira bisa mengelabui saya lagi apa?!” “Ah begitu. Saya sih tidak lihat kalau Pak Handoko dan Bu Vina keluar rumah.” “Mereka pasti diam di dalam rumah karena takut untuk keluar.” “Memangnya Bapak ini ada keperluan apa ya dengan Pak Handoko dan Bu Vina? Sepertinya sangat penting sekali sampai Bapak mencari ke rumah Beliau.” “Saya datang untuk menagih utang. Sekarang sudah jatuh tempo dan dia malah tidak mau membayarnya. Dia kira itu uang milik orangtuanya apa?!” “Eh… aduh, ternyata gitu ya. Nanti saya kasih tahu Pak Handoko atau Bu Vinanya deh kalau ada yang nyariin. Duluan ya Pak.” Video itu kemudian selesai sampai di sana. Genggaman Kayra pada ponselnya terlepas. Tatapan matanya tampak penuh ketidakpercayaan akan apa yang baru saja dia lihat dan dengar. Tangan Kayra bergetar saat dia akan mengambil ponselnya. Ketika ponsel sudah ada di tangan dan dia ingin menelepon papanya. Dia ingin meminta penjelasan terkait video yang dia dapatkan tadi. Video itu jelas berada di depan rumahnya, Kayra ingat dengan jelas bagaimana bentuk rumahnya karena tidak banyak yang berubah dari lingkungan rumahnya. “Kay, enggak tidur?” Suara pelan dan terdengar serak itu membuat Kayra yang hendak menelepon papanya itu tersentak dan kembali menjatuhkan ponselnya ke atas pangkuannya. “Ini mau tidur Jul.” “Oh ya udah cepet tidur.” Melihat Juli yang bangun dan hendak pergi, Kayra pun bertanya, “Mau ke mana?” “Ini kebelet, abis itu aku mau balik tidur. Capek.” Juli kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi. Kayra menunduk dan menatap ponselnya. Kayra meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidurnya. Dia kemudian berbaring di atas tempat tidur dan menunggu Juli kembali dan terlelap agar dia bisa bebas menelepon papanya itu. Menunggu Juli datang dan tertidur lagi malah membuat Kayra yang tertidur. Tertidur dalam keadaan lelah, apalagi Kayra sempat bermain di bawah hujan tadi. Itu benar-benar menguras tenaganya. Kayra baru bangun dari tidurnya saat alarm ponselnya berbunyi. Dia menatap langit-langit kamarnya dengan sendu. Kayra menoleh ke sampingnya dan tidak mendapati Juli di sana. Juli memang sangat sering pergi di pagi-pagi buta. Dengan langkah gontai Kayra bangun dari tidurnya dan pergi ke kamar mandi. Di pergi ke arah closet lalu duduk di sana dengan kepala yang disandarkan ke tembok. “Haaah….” Kayra menutup matanya. “Ini membebaniku,” lirihnya lagi. Beberapa menit lamanya Kayra duduk di sana hingga dia bangun dengan cepat. Berjalan menuju wastafel lalu membersihkan wajahnya secepat kilat. Sambil mengelap wajahnya yang basah Kayra lalu berkata, “Aku harus minta penjelasan.” Kayra kembali ke kamarnya yang sepi lalu mengambil ponselnya dan mencari kontak papanya. Dia terdiam untuk beberapa saat sebelum dia menekan tombol hijau itu. Panggilan tersambung dan hanya tersambung hingga panggilan itu mati karena tidak dijawab. Kayra berdecak, dia kembali menekan tombol hijau itu dan menunggu panggilan teleponnya diangkat. Dua kali nada sambung terdengar lalu panggilan itu akhirnya diangkat. “Maaf ya sayang, Papa baru bisa angkat teleponnya.” Mendengar suara papanya, Kayra sampai menahan napasnya. Jantung bahkan berdegup dengan kencang. “Papa sibuk?” tanya Kayra. Suaranya terdengar bergetar di awal yang membuatnya mengepalkan tangannya dengan kuat. “Tidak sayang. Memangnya ada apa? Bukannya kamu tadi siang juga sudah telepon ke rumah?” “Pa… aku mau Papa jujur ke aku,” lirih Kayra. Sepi sejenak sebelum akhirnya terdengar jawaban dari seberang telepon. “Memangnya kamu mau bilang apa? “Papa janji dulu sama aku,” tegas Kayra. Dia tidak ingin papanya malah menyembunyikan fakta tentang utang yang tengah mereka hadapi. “Iya, Papa janji buat jujur ke kamu.” Kayra merasa papanya tidak benar-benar ingin mengatakan itu. Hal ini membuat Kayra menjadi semakin takut dengan kenyataan. “Utang Papa di rentenir itu berapa?” Setelah mengatakan itu Kayra menutup mata dan menggigit bibir bagian dalamnya. Dia benar-benar takut setelah mengatakan itu. “U-utang? Kenapa kamu berpikir Papa punya utang sayang? Papa enggak mungkin punya utang.” Kayra melepaskan gigitannya. Dia mendadak kesal karena papanya yang malah berbohong. “Terus rentenir yang dateng ke toko Papa sama yang di rumah gimana?” Kayra meminta penjelasan. “Enggak mungkin ada rentenir sayang.” Kayra mendongak sambil menahan napasnya. Papanya benar-benar berniat menyembunyikan fakta tentang keluarga mereka yang tengah di kejar-kejar rentenir. Dengan cepat Kayra mengirimkan video yang Wisteria berikan padanya. “Kayra, kamu tidak apa-apa kan sayang?” “Papa lihat video yang aku kirim deh,” ucap Kayra cepat. Hingga dua menit lamanya terjadi keheningan setelah Kayra meminta papanya untuk melihat video yang dikirimnya itu. Tepat di menit ketiga, panggilan telepon itu akhirnya terputus begitu saja. Kayra berdecak kesal, dia juga sontak mendongak untuk menghalau air mata yang mendadak menumpuk karena panggilan yang diakhiri papanya begitu saja. Sebisa mungkin Kayra menahan tangisnya dan mencoba kembali menghubungi papanya. Tidak ada jawaban cukup lama hingga akhirnya panggilan telepon itu terangkat di saat Kayra ingin mematikan panggilan telepon itu dan berniat untuk menggantinya dengan menelepon mamanya. “Papa baru selesai nonton video yang kamu kirim.” Kayra bisa merasakan ada kepanikan di nada suara papanya itu. Kayra dengan suaranya yang pelan kemudian bertanya, “Terus menurut Papa gimana?” “Kamu enggak usah khawatir. Jadi jangan pikirin hal itu, oke?” Kayra tersenyum getir mendengar papanya yang akhirnya mengakui hal itu. Tapi, jawabannya malah menyuruhnya untuk jangan memikirkan hal itu? Ayolah, yang benar saja dia disuruh untuk tidak memikirkan hal yang benar-benar sangat penting seperti itu? “Utang Papa berapa memangnya sampai Papa enggak berani ketemu sama rentenirnya?” “Papakan sudah bilang kalau kamu enggak usah pikirin itu. Itu video lama dan Papa juga udah ketemu sama rentenirnya.” “Pa!” bentak Kayra kesal, “Itu video kemarin gimana bisa Papa bilang itu video lama dan Papa udah lunasin utang papa?” “Kayra….” Air mata yang Kayra tahan akhirnya keluar. Dia terisak saat mendengar suara papanya yang memanggilnya dengan lirih. “Papa sembunyiin ini biar kamu bisa fokus sekolah. Kamu enggak perlu mikirin keadaan rumah karena kamu tugasnya belajar.” Kayra mengambil napas panjang lalu berucap dengan suaranya yang bergetar, “Pa… aku minta Papa jujur. Aku enggak akan bisa tenang kuliah kalau Papa giniin aku!” “Kalau Papa ngasih tahu hal ini ke kamu, memangnya kamu bisa apa Kayra?!” “Ya aku bisa bantu Papa bayar utangnya! Aku enggak mau Papa sama Mama malah main kucing-kucingan sama rentenir. Papa kira enak hidup di kejer-kejer rentenir? Enggakkan?!” “Yang merasakannya itu Papa dan Mama, Kayra! Bukan kamu yang merasakannya dan jangan sampai kamu merasakannya. Masalah ini akan Papa selesaikan, jadi kamu jangan memikirkannya lagi!” “Aku enggak bisa enggak mikirin kalau Papa masih enggak mau ngasih tahu aku kejelasan berapa nominal utang dan cara Papa bakalan bayar utang itu. Aku bukan anak yang bisa masa bodoh dengan keadaan orangtuanya karena aku enggak mau jadi anak durhaka!” Napas Kayra terengah-engah setelah mengatakan itu. Dia kemudian menutup wajahnya yang sudah basah oleh air mata itu. “Tigaratus juta.” Mendengar apa yang dikatakan papanya, d**a bagian kiri Kayra rasanya seperti di remas dengan sangat kencang. Apa dia tidak salah dengar? Utang papanya tigaratus juta? “Buat apa uang sebanyak itu Pa?” tanya Kayra yang benar-benar tidak habis pikir dengan papanya. Dia tahu jika utang sebanyak ini tentu saja ulah papanya dan tidak ada sangkut paut dengan mamanya. “Papa kalah trading.” Satu kalimat pendek yang lagi-lagi membuat Kayra merasa kesakitan. Trading? Papanya main trading? Bagaimana bisa papanya mengenal hal-hal semacam itu. Papanya saja tidak berniat berjualan online, bagaimana bisa dia malah main trading! “Siapa yang ngajarin Papa main gituan? Kenapa Papa enggak tanya aku kalau mau main gituan? Papa enggak tahu resiko main trading itu banyakan ruginya?” Kayra benar-benar dibuat kesal mendengar alasan papanya mempunyai utang sebanyak itu karena trading. “Papa tahu Papa salah Kayra. Papa khilaf.” Ucapan papanya seperti sebuah template yang selalu digunakan oleh orang-orang saat tidak bisa menjawab pertanyaan tentang kesalahannya itu. “Aku benar-benar kecewa sama Papa. Gara-gara Papa hidup Mama sama aku sampai gini.” Kayra tertawa miris. “Papa akan menyelesaikan ini semua Kayra, kamu jangan khawatir.” “Mau nyelesein gimana? Memangnya dengan jual semua yang ada di toko bisa nutupin semuanya? Itu pasti bakalan lama Pa dan rentenir itu mau uangnya cepet balik. Dan jangan sampai Papa sama Mama kepikiran jual toko karena cuman itu satu-satunya penghasilan kita.” “Papa udah dapat pinjaman dan karena Papa bayar setengahnya, Papa bakalan minta waktu buat lunasin lagi.” Kayra sampai harus tepuk jidat mendengar cara yang akan dilakukan papanya untuk membayar utang. Gali lubang tutup lubang dan itu tidak akan pernah ada habisnya. “Pa….” “Papa tahu itu salah, tapi Papa pinjam ke bank jadi kamu tidak usah khawatir.” “Aku enggak akan khawatir kalau Papa enggak main trading lagi dan lebih baik Papa fokus sama usaha toko. Aku bakalan bantuin Papa buat toko online dan pemasarannya, aku juga bakalan kerja paruh waktu di sini.” Kayra sering mendengar temannya melakukan kerja paruh waktu, tapi dirinya tidak pernah berani untuk melakukan hal itu. Tapi, demi kedua orangtuanya dia akan melakukan hal ini. Bekerja sambil berkuliah, Kayra harap semuanya bisa berjalan dengan lancar. “Kayra, itu bukan tugas kamu untuk bekerja. Kamu tugasnya belajar agar bisa jadi sarjana.” “Pa, kalau enggak gitu, kita enggak akan cepet dapet duit. Di sini aku dapet dolar dan kalau di rupiahin itu lumayan buat bayar utang.” “Kayra….” “Udah dulu ya Pa, aku mau siap-siap buat kuliah.” Sambungan telepon itu Kayra matikan. Jejak-jejak air matanya dia hapus dengan kasar. “Aku butuh bantuan Daniel.” Kayra bangun dari atas tempat tidurnya, dia akan segera bersiap-siap untuk bertemu dengan Daniel.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD