8. Terus Berkicau

1798 Words
“Sepagi ini kamu mengajakku untuk bertemu di tempat seperti ini?” Daniel mengeratkan jaket yang dia kenakan. Dia memiringkan kepalanya lalu tersenyum menggoda ke arah Kayra, “Apa kamu merindukanku?” tanyanya. Kayra melempar tatapan jijiknya mendengar ucapan Daniel. “Jangan membuat tubuhku tiba-tiba merinding ketakutan dengan kata-katamu ya!” Daniel tertawa mendengar makian dari Kayra. “Lalu apa yang membuatmu memanggilku sepagi ini? Jadwal kuliahku bahkan tidak sepagi ini.” “Bantu aku membuat membuat tampilan toko online untuk Papaku menarik dan aku butuh bantuanmu juga agar toko online Papaku banyak pengunjungnya. Kamu bisakan?” Kedua tangan Kayra terkepal di depan dadanya sambil menatap Daniel dengan tatapan memohon. Hanya Daniel yang bisa membantunya seperti ini. Dia bukan seorang yang pandai dalam bisnis dan untuk hal semacam ini, Daniel adalah ahlinya. “Hey, aku mana mengerti bahasa yang digunakan toko online Papamu.” “Ada aku sebagai penerjemah. Lalu untuk bahan promosi, kamu tahukan itu sangat mahal, sedangkan kamu mengerti cara melakukan promosi dan… ya aku benar-benar berharap kamu mau membantuku. Aku mohon bantu aku dan aku akan mentraktirmu sebagai bayaran.” Setelah mengatakan itu Kayra tersenyum malu-malu. Daniel menghela napas, dia menjatuhkan kepalanya di atas meja taman yang memisahkan dia dan Kayra. Kayra yang melihat reaksi Daniel yang tampak enggan seketika sedih. “Belikan aku sarapan, lalu nanti aku akan membantumu.” Brak! Meja di depan digebrak Kayra dengan penuh semangat yang membuat Daniel seketika mengangkat kepalanya dan menatap Kayra dengan tatapan horor. “Benarkah itu?” tanya Kayra tidak percaya. Dia berdiri dari duduknya dan tangannya memberi kode pada Daniel untuk menunggunya. “Tunggu aku di sini, oke?” Tanpa mendengar jawaban dari Daniel, Kayra langsung pergi berlari untuk membelikan Daniel sarapan di tempat yang dekat dengan taman tempat mereka bertemu ini. Di jam sepagi ini, Kayra menemukan cafe yang terkenal akan muffinnya. Dia pun masuk ke dalamnya dan membelikan Daniel beberapa muffin. Untung saja Daniel suka muffin, jadi Daniel bisa sarapan. Lalu tidak ketinggalan segelas kopi juga Kayra belikan. Setelah mendapatkan itu, Kayra bergegas kembali menemui Daniel. “Kamu kembali hanya dalam sepuluh menit, ini benar-benar sebuah rekor,” puji Daniel. Kayra meletakkan belanjaannya di atas meja di dekat Daniel. Satu kopi dan beberapa muffin hangat dengan aroma yang menggugah selera. Daniel yang melihat belanjaan Kayra menaikkan sebelah alisnya. “Kopi untukmu mana?” tanya pria itu. “Ini semua untukmu.” Penjelasan Kayra semakin membuat Daniel bertambah tidak habis pikir. Dia menggeleng tegas. “Tidak mungkin hanya aku yang sarapan, sedangkan kamu tidak.” “Ya memang hanya kamu.” Jangankan sarapan, untuk melakukan belajar di kelas nanti saja Kayra merasa tidak punya tenaga. Kepalanya masih pusing memikirkan apa yang harus dia kerjakan untuk mendapatkan uang yang banyak. “Sarapan itu sangat penting, Kayra.” Satu muffin tersodor ke mulut Kayra. “Buka mulutmu.” Kayra menjauhkan kepalanya dan menutup mulutnya. “Aku sedang tidak berselera, jadi kamu saja yang makan,” tolaknya. Daniel berdecak tidak suka. “Ikut makan denganku atau aku tidak akan membantumu.” Ancaman Daniel sukses membuat Kayra menatap Daniel kesal. Dia mengambil muffin di tangan Daniel itu dan menggigitnya dengan potongan yang besar. Sambil menepuk-nepuk kepala Kayra, Daniel berucap, “Bagus, bagus, ini baru anak Papa.” Kayra mencibir tanpa kata-kata yang membuat Daniel tertawa. “Kamu mau aku mengerjakannya kapan?” Kopi itu Daniel seruput. Rasa kopi yang tidak terlalu manis itu membuat Daniel menutup matanya. Kopi di pagi hari memang tidak pernah salah. “Kapan kamu senggang?” Ini di awal perkuliahan dan Kayra rasa Daniel masih memiliki banyak waktu senggang. “Kapan pun aku senggang.” Kopi itu Daniel sodorkan pada Kayra. “Tidak minum?” tanyanya. Mata Kayra turun ke arah gelas kopi yang masih ada di tangan Daniel. Hanya ada satu tempat untuk menyeruput kopi itu dan itu sudah terkena mulut dari Daniel. Begitu matanya kembali menatap Daniel, Daniel tampaknya sadar. “Ah, kamu tidak suka dengan bekas mulut seseorang.” Daniel menarik kembali kopi itu dan membuka tutup kopi itu. “Minum dari arah lain.” Tutup gelas kopi yang dibuka itu membuat Kayra tersenyum kecil. Daniel selalu saja memiliki cara untuk memaksanya. “Baik-baik, aku akan meminumnya.” Makan muffin memang membuat Kayra merasa serak dan ingin minum. Hanya dua kali tegukan dan Kayra menyodorkannya lagi pada Daniel. “Bagaimana jika kita kerjakan sekarang? Aku sudah membawa laptopku dan pagi ini aku senggang.” “Di mana kita akan mengerjakannya? Tidak mungkin di tempat yang dingin ini bukan?” “Apa menurutmu di sini dingin?” Daniel mengangkat tangannya untuk merasakan angin yang berhembus yang sebenarnya tidak ada dan dengan ekspresinya yang terlihat serius dia mengangguk. “Ini tidak baik untuk orang yang berasal dari Asia Tenggara,” ejek Daniel sambil tertawa. Ejekan yang sudah bosan Kayra dengar ini membuat Kayra tanpa ampun memukul bahu Daniel. “Dasar menyebalkan! Harusnya aku sadar kamu akan mengatakan ini!” “Hahaha… ampun, aku menyerah.” Untuk terakhir kalinya Kayra memukul bahu Daniel. “Awas saja kamu mengejekku lagi. Ayo pergi, kita ke perpustakaan.” “Aku ingin menghabiskan ini dulu.” Kayra memutar matanya bosan dan duduk kembali ke tempatnya semula. “Ya, lanjutkan makanmu.” Selagi Daniel menghabiskan muffin dan kopinya, Kayra memutuskan untuk mencari pekerjaan paruh waktu yang jadwalnya tidak bertabrakan dengan jadwal kuliahnya. Untung saja semua jadwal kuliahnya sudah keluar, jadi dia bisa dengan bebas menyesuaikannya. “Apa yang kamu perhatikan sampai alismu seperti akan menyatu?” tanya Daniel yang tidak pernah melepaskan pandangannya dari Kayra. “Aku hanya melihat-lihat sosial media.” “Oh ya?” Kayra mengangguk membenarkan, tangannya dengan cepat mengganti website untuk mencari kerja paruh waktu dengan sosial media miliknya. “Lihat,” tunjuknya mencoba meyakinkan Daniel. “Ada pesan yang masuk,” ucap Daniel. Kayra melihat ponselnya dan benar ada pesan yang masuk, dan itu dari Wisteria. Ekspresi Kayra seketika berubah tidak suka. Wisteria: Lo baik-baik ajakan, Kayra? :) Chat gue cuman dibaca doang, kan enggak lucu. Pagi, siang, sore, malam, Wisteria masih saja menganggunya seperti ini, Kayra benar-benar tidak habis pikir. Ada manusia seperti Wisteria tidak memiliki kehidupan hingga menganggunya terus menerus? “Siapa?” tanya Daniel penasaran. “Dia menawarkan jasa pembelian followers.” “Dia tahu siapa yang memang membutuhkan banyak followers,” ejek Daniel. “Kamu ini benar-benar tahu cara untuk mengejek seseorang.” Kayra bangun dari duduknya. Dia menarik Daniel untuk mengikuti langkahnya. “Daripada kamu terus mengatakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya itu, lebih baik kita pergi mencari tempat yang tertutup.” Sambil menarik tangan Daniel, Kayra menahan emosinya karena membaca pesan dari Wisteria. Orang yang sudah pasti tetangganya itu apa tidak bisa diam sedikit pun? Jika dia tahu siapa orang dibalik nama Wisteria itu, ingin rasanya dia memberikan perhitungan agar tidak mengurusi hidup orang lain lagi. * * * “Euhm… euhm….” Suara yang terdengar sayup-sayup itu membuat langkah kaki dari Calixto terhenti. Pandangan matanya menyipit dan mencoba mencari sumber suara dan saat matanya bergulir ke sisi kanan. Dia mendapati seseorang yang bersandar di sisi tembok lorong toilet yang terletak di pojok. Toilet ini berada di area laboratorium saat pagi sangat sepi dan ini membuat mereka bisa berbuat hal seperti ini. Calixto bersandar ke sisi tembok yang dekat dengan tembok toilet. Dia menunggu kegiatan itu berakhir dan selama menunggu, Calixto benar-benar tampak seperti patung. Dia tidak terpengaruh dengan erangan pelan yang tentu menggugah nafsu seseorang jika mendengarnya. “Bersihkan itu.” Suara pelan itu membuat Calixto mengeluarkan tangannya dari kantung mantelnya. Kegiatan b******u itu sudah usai dan tidak lama setelah itu dua orang itu muncul dan hendak melewati Calixto. Dua sejoli itu terlihat kaget melihat sosok Calixto yang berdiri di sana. Mereka mencoba melewati Calixto seakan tidak tahu apa-apa, tapi langkah itu seketika terhenti saat Calixto membuka suaranya. “Kalian hendak pergi ke mana?” Calixto melangkah menyusul dua sejoli itu dan berhenti tepat di depan dua sejoli itu. Ponsel yang ada di saku mantelnya segera dia keluarkan. “Perlihatkan kartu mahasiswa kalian” “Tunggu, apakah ini perlu?” tanya si pria. “Ya tentu saja. Apa kalian tidak sadar kesalahan kalian apa?” Mata Calixto menyipit tajam. Perasaan tidak bersalah yang dirasakan oleh anak-anak muda di depannya ini membuat dia kesal. “Sudah, jangan melawannya,” bisik si gadis. “Kami melakukannya di saat sepi.” Bukannya mengikuti kata kekasihnya, pria itu malah melawan Calixto. Mata biru itu memandangi Calixto dengan tidak kalah tajamnya. “Jika sepi, tidak mungkin ada saya di sana.” “Bapak saja yang tidak punya pekerjaan dan diam menunggu seseorang yang tengah berciuman.” “Apa kamu tidak tahu jika dilarang melakukan hal seperti itu di area kampus? Jika kamu ingin melakukannya, lakukan di rumahmu itu!” bentak Calixto kesal. “Bapak seperti tidak pernah sangat ingin berciuman saja. Atau jangan-jangan Bapak memang tidak pernah melakukannya?” Ucapan itu sukses membuat Calixto menipiskan bibirnya. Matanya menatap mahasiswa di depannya ini dengan semakin tajam. “Cepat katakan atau kamu akan mendapatkan masalah yang lebih dari ini,” desis Calixto. “Baiklah-baiklah.” Akhirnya dua sejoli itu mau tidak mau memperlihatkan kartu mahasiswa mereka yang diminta oleh Calixto. Calixto memfoto kartu mahasiswa itu yang niatnya akan dia kirimkan ke bagian pendisiplinan mahasiswa. Mahasiswa yang melakukan hal-hal seksual di area kampus adalah mahasiswa yang paling menyebalkan bagi Calixto. “Jangan pernah berpikir untuk melakukan hal seperti itu lagi, apalagi di sini,” pesan Calixto. Sambil berlalu, si pria berbisik ke kekasihnya itu, “Dosen satu itu memang terkenal kolot. Aku yakin jika dia tidak pernah berkencan atau bahkan dia sebenarnya tidak normal.” Bisikan itu sangat jelas yang memang ditunjukkan untuk mencibir Calixto. Calixto memijit keningnya. Rasanya mendadak berdenyut karena ucapan mahasiswa tadi. Dan hanya karena dia melakukan peneguran ini, dia sampai dikatakan tidak normal? Yang benar saja. Tertarik pada seorang pria saja terdengar sangat menjijikan baginya, apalagi sampai benar-benar melakukan hal seperti itu. “Benar-benar menyebalkan,” keluh Calixto. Dia berharap harinya ini tidak rusak hanya karena satu hal seperti itu. Harapan tampaknya hanya tinggal harapan karena Calixto mendengar beberapa bisikan saat tengah berjalan. Tidak hanya sekali dua kali dia mendengarnya. Setiap dia berjalan, pasti ada saja yang berbisik tentang dirinya. Hanya beberapa mahasiswa yang berbisik, tapi itu terasa mengganggunya karena itu terdengar jelas di telinganya. “Dia dosen yang diceritakan itu.” “Tidakkah dia terlihat seperti patung es?” “Apa dia tidak pernah berciuman?” “Apa dia tidak merasa hidupnya akan hampa tanpa mencintai seseorang?” Langkah Calixto terhenti yang membuat bisikan itu terhenti. Calixto melirik ke sekelilingnya dengan tatapan malasnya. Barulah setelah itu dia kembali melanjutkan langkahnya. “Apa dia tidak bisa tersenyum? Dia menyia-nyiakan wajah tampannya untuk terus terlihat suram.” “Tampan tapi tidak normal.” “Maksudmu?” “Ya dia kan tidak tertarik pada manusia, dia hanya tertarik dengan tumbuhan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD