Tangan berurat itu mengetik dengan begitu cepatnya. Saat kacamata yang digunakan sedikit melorot, tangan itu dengan cepat menaikkannya lagi dan dia kembali mengetik dengan penuh emosi.
Saat tangan itu berpindah dari keyboard ke sebuah pena, dia menulis dengan cepat dan rapi. Hanya beberapa baris kalimat sebelum dia melempar pena yang dipegangnya hingga membentur tembok.
Di hempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Dia mengusap wajahnya dengan gusar.
“Haaaah… itu terasa mengganggu,” keluh Calixto.
Tanpa dia inginkan, kalimat-kalimat gunjingan yang tertuju padanya itu terus-terusan berputar di kepalanya.
Tertarik dengan tumbuhan, apa yang salah dengan hal itu? Tumbuhan sangat menarik saat diteliti bukan?
Apa yang dipikirkan Calixto ternyata sangat jauh berbeda dari maksud gunjingan yang dia dapatkan. Mahasiswa yang tengah bergunjing itu tengah menyindir Calixto yang tidak pernah merasakan cinta atau ketertarikan dengan hal yang berbau romantisme dengan manusia yang satu spesies dengannya. Bukan malah perasaan tertarik pada sesuatu benda yang tidak satu spesies denganmu. Perasaan yang seperti itu tentu berbeda dengan tertarik dalam hal romantisme. Jadi apa yang dipikirkan Calixto tentu salah dan jika Calixto berani mengatakan hal demikian, dia bisa saja benar-benar dianggap tidak normal.
Kekelutan Calixto ternyata tidak sampai di sana. Dia merasa jika harinya benar-benar rusak hanya karena ucapan para mahasiswa yang tidak tahu peraturan itu. Entah bagaimana, matanya dan telinganya menjadi sangat sensitif hari ini.
Di mana-mana Calixto melihat orang-orang bemesraan. Bahkan sekarang saat dia hendak pulang, di depannya ada dua sejoli yang saling bergandengan tangan dan sesekali kepala si perempuan bersandar di lengan si pria. Tidak sampai di sana, tidak sedikit juga yang berpelukan dan melakukan banyak skinship lainnya.
Calixto ingin berteriak, tapi dia tidak bisa. Calixto baru terbebas dari semua yang memuakkan itu saat dia melihat mobilnya yang terparkir. Membayangkan dirinya akan segera tiba di rumah terasa bagai angin segar.
Baru saja Calixto memundurkan mobilnya, dia merasakan mobilnya terasa lebih berat dan terdengar suara gemuruh. Calixto seketika menghentikan laju mobilnya dan segera keluar untuk memastikan.
Punggung tangan Calixto berada tepat di depan bibirnya. Dia menahan dirinya untuk tidak mengumpat. Tangannya bahkan terkepal sangat kuat karena menahan amarah.
Ban kanan depan mobilnya kempes. Saat melihat itu, Calixto yakin jika ini adalah ulah dari anak yang ditegurnya. Terlebih dia adalah tipe yang selalu memastikan mobilnya dalam keadaan yang baik saat akan digunakan.
Calixto mengambil ban cadangan dan peralatan untuk menggantinya. Lengan kemejanya dia gulung dan mulai mengganti ban mobilnya yang kempes tadi. Setelah selesai mengganti ban mobilnya, Calixto memutuskan untuk beristirahat sejenak di dalam mobilnya.
Air mineral yang selalu dibawanya dia tenggak isinya hingga habis. Selagi beristirahat, Calixto mencoba untuk melihat email yang masuk.
Brak!
Bunyi keras akibat benda jatuh di mobilnya membuat Calixto terkejut bahkan sampai menjatuhkan iPadnya. Terlihat ada bola yang memantul di depan sana. Calixto menipiskan bibirnya, dia benar-benar kesal sekarang.
Seorang gadis mengambil bola itu dengan cepat-cepat. Bukannya langsung pergi dari sana, gadis itu malah berkaca pada kaca spion mobil Calixto. Calixto yang melihat kejadian itu hanya bisa melotot. Dia ingin membuka pintu mobilnya dan memarahinya, tapi dia tahu jika gadis itu hanya akan jadi pelampiasan rasa kesalnya.
“Amanda, cepat! Aku tidak ingin terlambat untuk makan malam!”
“Iya cerewet!”
Teriakan itu membuat Calixto bergidik ngeri. Tidak hanya merusak mobilnya saja, tapi mereka juga merusak gendang telinganya. Sebuah panggilan telepon dari papanya mengalihkan perhatian Calixto.
“Halo, Pa?”
“Mamamu baru saja jatuh dari kamar mandi dan tangannya patah.”
Napas Calixto tertahan saat dia mendengar ucapan papanya. Tangannya terangkat dan memegang kemudi dengan erat. “Sekarang kalian di mana?” tanya Calixto.
“Kami ada di Johns Hospital, tidak jauh dari rumah.”
“Aku akan datang ke sana.”
“Datang saja besok. Kamu dan Mia pasti baru pulang bekerja.”
“Aku akan sangat sibuk besok. Jadi aku akan datang sekarang,” putus Calixto tanpa bisa diganggu gugat.
Calixto langsung memasang sabuk pengaman dan langsung tancap gas untuk melihat keadaan mamanya. Mamanya sudah berusia 60 tahun dan di usia seperti ini, mengalami patah tulang adalah hal yang sangat menyakitkan dan kesembuhannya akan jauh lebih lama. Membayangkan mamanya akan terus kesakitan dan kesusahan karena tangannya patah membuat Calixto tidak tega.
Calixto berkendara secepat yang dia bisa. Hujan bahkan turun di tengah-tengah perjalanan Calixto saat itu dan hal itu membuat Calixto benar-benar memusatkan konsentrasinya pada jalan raya. Saking seriusnya, dia bahkan tidak sadar jika ada telepon dari Mia.
Langit sudah gelap saat Calixto tiba di rumah sakit dan hujan pun sudah cukup reda. Calixto yang akan menelepon papanya melihat panggilan masuk dari Mia dan dia mengabaikan itu.
“Halo Pa, aku sudah ada di parkiran rumah sakit. Di mana kamar rawat inapnya?”
“Kamar 322.”
“Aku akan langsung masuk.”
Panggilan telepon Calixto matikan. Karena tidak membawa payung, Calixto pun langsung menerobos masuk ke dalam rumah sakit yang membuat bagian bahu dan kepalanya basah.
Karena tidak tahu letak pasti kamar 322, Calixto pun bertanya pada salah satu perawat yang ditemuinya. Setelah mendapatkan letak pastinya, Calixto dengan langkah lebarnya bergegas pergi ke arah yang diberitahu perawat tadi.
Tiba di depan kamar rawat inap mamanya, Calixto mengatur napasnya yang sedikit memburu. Setelah dirasa lebih baik, dia pun membuka pintu kamar itu dan masuk ke dalamnya.
“Kamu tidak memakai payung?” tanya Charles yang baru saja akan masuk ke dalam toilet yang letaknya di dekat pintu masuk.
“Iya, aku tidak tahu hari ini akan hujan.”
Sadar Calixto yang langsung menutup pintu membuat Charles pun bertanya, “Di mana Mia?”
“Dia tidak ikut.”
Calixto melewati papanya dan di atas ranjang pasien, mamanya menatap Calixto dengan tatapan menelisiknya karena mendapati Calixto datang seorang diri.
“Untuk ke sini kamukan melewati rumahmu. Kenapa tidak berhenti dan membawa Mia juga?”
“Apa Mama tega membiarkannya kelelahan karena harus pergi ke sini?” Calixto menarik kursi di samping ranjang dan duduk di sana.
Pertanyaan Calixto sukses membungkam kedua orangtuanya itu. Jemari Calixto menyentuh tangan mamanya yang di gips.
“Bagaimana bisa Mama sampai seperti ini?” tanya Calixto.
“Saat terpeleset, Mama refleks menahan tubuh Mama dan jadi seperti ini.”
“Lain kali Mama harusnya lebih berhati-hati saat di kamar mandi, lalu….”
Ponselnya yang bergetar membuat Calixto menghentikan ucapannya dan mengambil ponselnya yang ada di saku mantelnya. Di layar ponselnya itu terlihat nama Mia di sana dan itu juga dilihat oleh Hana.
“Aku angkat telepon dulu.”
Calixto keluar dari kamar dan Hana memberi kode pada suaminya yang baru saja keluar dari toilet untuk itu mengikuti Calixto. Charles hendak membuka pintu saat suara Calixto terdengar cukup jelas dari balik pintu.
“Maaf karena aku baru mengangkat teleponmu. Aku saat ini berada di rumah sakit.”
“Bukan aku yang sakit, tapi Mamaku. Dia patah tulang dan aku akan menemaninya malam ini.”
Calixto terlihat mengangguk-angguk lalu berucap, “Tidak usah, kamu tidak perlu ke sini. Kamu diam saja di rumah.”
Apa yang Charles dengar tampaknya sudah lebih dari cukup. Dia pun bergegas menghampiri Hana.
“Bagaimana?” tanya Hana yang penasaran.
Suara pintu yang terbuka menahan ucapan Charles yang akan keluar. Dia kemudian menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Calixto, Mama lapar. Bisa kamu belikan Mama makan?”
“Mama belum makan sama sekali sampai sekarang?”
“Mama tidak suka makanan rumah sakit.”
“Ya sudah kalau begitu, tunggu sebentar.”
Begitu Calixto keluar dari kamar, Hana pun menodong suaminya dengan pertanyaan.
“Apa yang kamu dengar?”
“Tampaknya anak itu tidak memiliki hubungan yang bagus dengan Mia. Dia bahkan tidak mengangkat telepon dari Mia, tidak memberitahu tentang hal ini, dan membuat menantu kita itu menunggu.”
“Apa kamu serius?!”
“Ya. Bukankah sudah kukatakan jika perjodohan itu lebih baik jangan dilakukan? Sekarang kamu bisa melihatnya sendiri jika dia bahkan tidak mengajak dan mengabari istrinya itu.”
Hana menggeleng, dia tidak suka jika perjodohan yang dia lakukan dianggap sebagai suatu kesalahan.
“Jika aku tidak menjodohkannya, mau sampai kapan anak kita akan melajang? Dan Calixto pun setuju dengan hal itu.”
“Lalu sekarang bagaimana?” tanya Charles.
“Aku akan tetap pada rencanaku.”
“Hubungan mereka saja tidak dalam kondisi yang baik, Hana.” Charles mengingatkan.
“Ini bisa menjadi hal yang akan mendekatkan mereka, apalagi Mia tampaknya sudah mencurahkan perasaannya pada Calixto. Kita hanya perlu menyadarkan anak kita yang aneh akan siapa sebenarnya dia sekarang!”
“Memangnya anakmu itu sekarang siapa?”
“Seorang suami yang harus menjadi seorang ayah. Dia tidak mungkin tidak tahu cara berreproduksi, apalagi dia seorang dosen biologi.”
“Bisa saja dia sebenarnya….”
“Tidak-tidak, itu tidak mungkin!” Hana tidak bisa membayangkan anak satu-satunya itu malah memiliki orientasi seksual yang menyimpang.
“Aku hanya ingin berpesan padamu untuk jangan terlalu menekannya untuk memiliki seorang anak,” pesan Charles.
“Ya, aku tahu batasannya.”
Beberapa puluh menit berlalu, Calixto akhirnya datang membawa makan malam untuk Hana. Hana memberi kode pada Charles agar Charles meninggalkannya berdua saja dengan Calixto.
“Aku akan pergi keluar untuk menghirup udara segar.”
Karena tangan kanan mamanya yang di gips, Calixto yang bertugas untuk menyuapi mamanya makan.
“Mama harus lebih hati-hati sekarang, apalagi Mama sudah cukup tua. Jangan melakukan hal-hal yang membahayakan.”
“Kamu mengatakan hal itu, tapi kamu sebenarnya tidak peduli dengan Mama yang bahkan saat ini bisa mati kapan saja.”
“Kenapa Mama mengatakan hal seperti itu? Aku jelas sangat peduli pada Mama.”
“Tentang permintaan Mama yang waktu itu. Bukankah kamu berencana untuk menundanya?”
Gerak tangan Calixto yang hendak menyuapi mamanya tertahan.
“Jika hubunganmu dengan Mia baik-baik saja, seharusnya kamu tidak perlu menundanya. Bahkan pekerjaan kalian itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menundanya.”
“Ma.…”
“Permintaan Mama tidaklah sulit, terlebih bukan kamu yang akan hamil.”
Ingin sekali Calixto mengatakan, karena bukan dia yang akan hamil, makanya semuanya akan menjadi lebih sulit.
Hana menyentuh tangan Calixto. “Mama benar-benar berharap kamu memiliki keluarga kecil yang penuh cinta di dalamnya. Mama ingin melihat itu sebelum Mama pergi dari dunia ini.”