10. Tertarik

1850 Words
Kayra memandangi layar laptopnya, mencari setiap lowongan pekerjaan yang sekiranya bisa dengan cepat menghasilkan uang. Beberapa lowongan pekerjaan yang memiliki jam kerja yang tidak bertabrakan dengan jadwal kuliahnya sudah masuk ke daftar list yang dia buat. Sadar jika semua sudah gelap membuat Kayra bergegas mematikan laptopnya dan keluar dari perpustakaan. Tidak jauh dari perpustakaan, Kayra duduk dan menyalakan ponselnya. Dia kemudian menelepon papanya. Dua kali melakukan panggilan telepon dan tetap tidak diangkat membuat Kayra menghela napas berat. Lagi-lagi papanya terkesan menghindar, padahal dia sudah membuatkannya toko online dan dia akan ikut serta melakukan promosi sebisanya agar toko papanya dikenal. Kembali Kayra menelepon papanya untuk ketiga kali dan diangkat. “Papa sedang apa?” tanya Kayra cepat. “Papa tadi sibuk sayang, maaf baru bisa angkat teleponnya.” “Aku kira Papa mau kabur dari aku.” “Kayra, jangan berpikir seperti itu.” “Aku enggak mau Papa nanggung ini sendiri. Makanya aku gini. Papa ingatkan kalau aku bilang mau buatin papa toko online?” “Ya, Papa ingat.” “Kalau gitu Papa foto-foto baju di toko. Terus nanti aku bantu masukin ke toko onlinenya. Setelah semuanya selesai baru aku bakalan ajarin Papa sama karyawan di toko cara ngoprasiinnya.” “Kamu pasti sangat kesusahan karena masalah ini.” “Aku akan baik-baik saja selama aku bisa membantu kalian. Aku malah merasa sangat sedih jika hanya diam saja di sini.” Apa yang diucapkan papanya dengan suara yang lirih itu membuat Kayra mendongakkan kepalanya. Matanya mendadak memanas dan dia tidak ingin menangis saat ini. “Tapi kamu sudah tidak perlu khawatir lagi sayang. Papa sudah memberikan mobil Papa dan sisanya akan Papa bayar secepatnya.” Kayra miris mendengar mobil yang papa dan mamanya selalu gunakan mau tidak mau harus mereka berikan pada rentenir karena tidak mampu untuk membayar utang yang disebabkan oleh papanya itu. “Terus tenggat waktu sisa pembayaran utangnya kapan?” “Papa diberi waktu tiga bulan lagi. Itu sudah lebih dari cukup, apalagi kita akan berjualan online juga.” Waktu tiga bulan, Kayra yakin jika itu waktu yang bisa dibilang sangat cepat. Jika penjualan mereka baik hingga dapat membayar utang itu, utang itu sudah pasti dibayar dengan modal berjualan mereka. Dan jika itu terjadi, Kayra yakin jika keluarganya akan kesusahan lagi untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Tapi itu memang lebih baik daripada memiliki utang di rentenir. “Ya sudah, Papa pokoknya ingat tentang rencana kita. Jangan sampai Papa tidak mengirimkan foto itu.” “Iya. Di sana sudah malam kan? Jangan lupa makan malam dan istirahat.” “Papa dan Mama juga. Kalian harus jaga kesehatan agar bisa menemuiku nanti.” “Iya sayang. Sudah dulu ya, Papa masih ada urusan.” “Iya, Pa.” Panggilan telepon itu akhirnya terputus. Kayra menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Dia mendongak menatap langit yang gelap. Banyak hal yang dikorbankan kedua orangtuanya agar dia bisa bersekolah keluar negeri seperti ini. Kayra tidak akan membuat orangtuanya kecewa dan akan menunjukkan jika dia bisa berprestasi hingga bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus. Setelah cukup lama duduk diam, Kayra memutuskan untuk beranjak pergi. Dia akan makan malam dengan menyantap mie instant berkuah malam ini. Mungkin dengan itu perasaannya akan jauh lebih baik. Begitu sampai di asrama, Kayra langsung pergi ke dapur yang ada di lantai asramanya. Dia kemudian membuat mie instant kuah yang kemudian ditambahkannya dengan s**u. “Aromanya sangat lezat. Apa yang kamu buat Kay?” Ucapan itu membuat Kayra menoleh ke belakang dan mendapati Irene, salah satu anak di asramanya yang berasal dari Thailand. “Aku membuat mie instant. Apa kamu mau?” “Boleh.” Kayra pun membagi mie miliknya untuk diberikannya pada Irene. “Makan di depan balkon yuk. Kalau di balkon langsung terlalu dingin soalnya,” saran Irene. “Boleh.” Irene berjalan lebih dulu dan Kayra sadar jika penampilan Irene terlihat sangat rapi. Dia kira Irene datang ke sini setelah dari kamarnya, tampaknya dia juga baru pulang sama sepertinya. Mereka kemudian duduk dan mulai menyantap mie instant buatan Kayra. Irene terlihat sangat menikmati mie instant buatan Kayra yang tiada duanya. “Enak banget aku suka. Mie instant buatan kamu emang enggak ada duanya. Sering-sering buatin buat aku ya.” “Untuk nanti aku akan membuka usaha mie instant di sini,” canda Kayra. “Aku setuju itu, kamu harus melakukannya. Aku akan menjadi pelanggan tetapmu.” “Sepertinya kamu memiliki banyak uang hingga mau membeli masakanku.” Kayra ingat hari-hari di mana Irene akan mengeluh karena uang bulanannya habis. Irene memang tipikal gadis yang suka mengeluh tapi caranya mengeluh itu membuatnya terlihat sangat lucu. “Aku punya sumber dana yang bagus sekarang.” “Kamu kerja?” “Apa kerja paruh waktu bisa membuatmu membeli ini?” Irene memperlihatkan tas miliknya. Sebuah tas keluaran merek terkenal yang harganya paling murah puluhan juta dan paling mahal bisa sampai bermiliaran. “Aku tidak tahu.” “Aku memiliki sugar daddy.” “Uhuk-uhuk!” Kayra buru-buru meraih air minumnya dan menenggaknya dengan cepat. “Apa aku tidak salah dengar?” tanya Kayra memastikan. “Tidak. Aku benar-benar memiliki sugar daddy.” Kayra baru menyadari jika Irene memang tipe orang yang mengungkapkan semua halnya dengan blak-blakan. “Ba-bagaimana rasanya memiliki sugar daddy?” tanya Kayra penasaran. Dia tentu tidak memiliki hak untuk bertanya kenapa Irene mau menjadi seorang sugar baby, apalagi sampai menceramahinya. Mereka tidak dalam hubungan sedekat itu untuk saling menceramahi. “Menyenangkan. Dia sangat baik, berbeda dengan sugar daddy yang kudapatkan sebelumnya.” “Sebelumnya kamu juga sudah pernah memiliki sugar daddy?” Mata Kayra bahkan sampai melotot lebar karena dia benar-benar tidak percaya Irene sampai melakukan itu. “Iya, tapi aku kabur setelah mendapatkan uangnya.” “Kenapa?” “Karena dia mau tidur denganku. Membayangkan diriku tidur dengannya membuatku bergidik ngeri. Usianya memang masih 30 tahunan, tapi dia tidak seperti seleraku.” Kepala Kayra rasanya sedikit bekerja lambat mendengar ucapan Irene ini. “Kamu tidak mau tidur dengannya?” ulang Kayra mencoba memastikan. “Ya.” “Bukankah sugar baby itu harus mau mengikuti keinginan si sugar daddy? Terutama dalam hal itu, kan?” Kayra menekankan kalimat itu. “Harusnya, tapi aku membuat peraturanku sendiri dengan tidak tidur dengan mereka. Menjalin hubungan layaknya seperti sepasang kekasih hingga bisa menghibur kehidupan mereka yang datar. Dan menghibur kehidupan tidak hanya dengan tidur bukan?” Kayra setuju dengan hal itu, tapi apa ada orang di negara yang bebas ini mau menjadi seorang sugar daddy tanpa melakukan hubungan badan? “Tapi seorang sugar daddy mana yang mau menghabiskan banyak uang tanpa melakukan itu?” kembali Kayra bertanya dengan perasaan tertarik yang lebih besar. “Sugar daddyku yang sekarang. Dia seorang pekerja kantoran yang sibuk dan tidak memiliki waktu untuk menjalin hubungan. Tapi ada kalanya di saat dia sepi dia membutuhkan seseorang yang bisa dia ajak untuk berbicara dan melakukan hal-hal menyenangkan. Dan karena aku bisa membuat harinya lebih berwarna. Lalu dia dengan rutin memberikanku uang dan barang.” Irene mengangkat tasnya lagi. “Ini baru dibelikan dia.” “Bagaimana bisa kamu menemukannya? Bukankah itu terlalu sulit untuk ditemukan?” “Awalnya mungkin iya. Tapi setelah memperhatikan profil di aplikasi kencan itu, mereka cenderung akan menulis ingin memiliki hubungan jangka pendek dan aku juga mengatakan apa tujuanku.” “Ah, jadi itu alasan kamu mendownload aplikasi kencan itu?” Kayra ingat saat Irene bercerita jika dia frustrasi melihat pria-pria di aplikasi kencan itu. Irene tersenyum lebar dan mengangguk membenarkan. “Aku kira kamu mendownloadnya karena ingin mencari pacar.” “Mencari pacar yang seusia kita hanya akan buang-buang waktu, Kayra. Mereka hanya memiliki cinta, tidak dengan uang.” Irene menyuap mienya dengan cepat dan setelah menelannya dia kembali berucap, “Dan anak perantau seperti kita membutuhkan banyak uang untuk bertahan di negara yang berat ini.” “Ah ya, kamu benar.” Kayra tersenyum canggung lalu melanjutkan menyantap mie instant miliknya itu. * * * “Mama benar-benar berharap kamu memiliki keluarga kecil yang penuh cinta di dalamnya. Mama ingin melihat itu sebelum Mama pergi dari dunia ini.” Ucapan mamanya membuat Calixto kepikiran, sampai-sampai dia bahkan seperti diteror oleh ucapan mamanya itu. Dia kira dia akan selesai dengan hanya menikah, tapi ternyata tidak sampai di sana. “Kamu akan pulang sekarang?” tanya Charles. Calixto menggangguk membenarkan. Ini sudah cukup pagi dan rencananya dia akan langsung pergi ke kampus. “Jika ada waktu, aku akan datang melihat kalian lagi.” “Hari ini Mamamu akan pulang, jadi jangan terlalu khawatir.” “Iya. Katakan pada Mama jika aku tidak bisa menunggunya bangun.” “Tidak masalah, pergilah.” “Baik.” Calixto kemudian pergi dari rumah sakit dan berkendara menuju kampusnya. Sebenarnya dia masih memiliki cukup banyak waktu jika ingin pulang, tapi berhubung dia selalu membawa baju lebih membuatnya tidak perlu untuk susah-susah pulang ke rumah. Lalu untuk sarapan sendiri, karena kemarin dia tidak memiliki waktu makan yang benar, rencananya dia akan sarapan di restoran Chueok. Ini kali pertamanya sarapan di sana. Untuk sesaat rasa lapar membuat Calixto melupakan keinginan mamanya itu. Dia terlalu fokus berkendara agar bisa sampai di restoran Chueok dengan cepat. Begitu sampai di restoran itu, hanya ada Calixto sendiri di sana. Setelah selesai memesan menu sarapannya, Calixto memandangi layar televisi yang ada di restoran itu. Acara yang ditayangkan tidak jauh dari drama-drama Korea. Kring~ Pintu terbuka dan pasangan lansia masuk ke dalamnya. Pasangan lansia itu membawa seorang anak yang menurut pandangan Calixto berusia lima tahun. Merasa dirinya yang sudah tidak sopan karena terlalu memperhatikan, Calixto memutuskan untuk fokus pada ponselnya untuk membaca buku. “Saat makan acar, ekspresi Areum selalu menggemaskan.” “Dia mirip dengan Papanya.” “Aleum tidak milip Papa. Aleum milip Mama!” Percakapan itu membuat Calixto mengangkat pandangannya lalu curi-curi pandang untuk melihat sosok gadis kecil dengan nenek dan kakeknya itu. Gadis kecil yang bernama Areum itu terlihat sangat periang dan berbicara dengan polosnya yang membuat kakek dan neneknya tertawa. Tanpa sadar salah satu sudut bibir Calixto terangkat dan hal itu kemudian dibuyarkan dengan pesanannya yang datang. Setelah itu, tidak ada lagi senyum samar yang muncul di sudut bibir Calixto walau dia masih tetap memperhatikan bagaimana interaksi cucu dengan kakek dan neneknya itu. Tapi ada yang beda dari ekspresi Calixto saat itu, dia terlihat menjadi lebih serius, seakan dia tengah meneliti tentang keluarga tersebut. Ekspresi serius itu hanya terlihat di restoran itu, setelah keluar dari restoran itu, Calixto seakan kembali ke dunianya dan kembali sibuk dengan rutinitas mengajarnya. Baru di saat jam pulangnya dan Calixto masih berada di ruangannya, dia kembali teringat tentang hal yang ada di restoran itu. Apa yang dilihatnya di restoran tadi membuatnya teringat tentang keinginan mamanya yang ingin melihatnya memiliki seorang anak. Mamanya pasti sangat mendambakan keinginan untuk menjadi seorang nenek. Tapi membuat seorang anak dengan situasi yang dia miliki sekarang, itu jelas tidak bisa dia lakukan. Dia dan Mia tidak memiliki hubungan yang bagus, tapi jika mengingat mama dan papanya yang sudah cukup tua, Calixto bisa saja melakukan hal yang bahkan tidak dia sukai. Jika perasaannya akan dia kesampingkan, lalu bagaimana dengan Mia? Perempuan itu mengatakan tidak ingin memiliki anak. Lalu, bagaimana cara agar dia bisa mengabulkan keinginan mamanya itu sedangkan Mia tidak ingin memilikinya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD