11. Berusaha

2000 Words
“Kamu menerima cintanya?” Mia tertawa mendengar penuturan lawan berbicaranya di telepon. “Akhirnya setelah sekian lama kamu luluh juga dengan pernyataan cintanya,” lanjut Mia antusias. “Apa yang membuatmu jatuh cinta padanya?” tanya Mia penasaran. “Jatuh cinta karena cinta? Astaga, jawaban macam apa itu?” Calixto yang berada di dapur terdiam mendengar pembicaraan Mia yang terus berlanjut dan terdengar begitu jelas. Pembicaraan itu yang kemudian membuat Calixto sampai lupa tujuannya pergi ke dapur untuk apa karena tanpa sadar dia asik menguping. “Aku bisa membayangkan bagaimana romantisnya. Jadi iri….” “Ah… iya aku memang sudah menikah. Ta-tapikan ada perbedaannya. Kau tahu lah….” Mia tersentak kaget saat dia masuk ke dapur dan mendapati Calixto di sana. Mia tersenyum kaku, lalu berjalan ke kulkas dan mengambil air dingin. Begitu sudah mendapatkan air dingin itu, Mia segera pergi dari sana dan meninggalkan Calixto seorang diri. Calixto bangun dari duduknya dan pergi menuju ruang kerjanya. Di ruang kerjanya Calixto terdiam dengan menopang dahinya yang mendadak terasa berdenyut karena dia terlalu memaksakan dirinya dalam berpikir. Dia baru sebentar berpikir, tapi masalah yang dipikirannya ini ternyata lebih sulit dari materi yang pernah dipelajarinya Memangnya apa yang tengah dipikirkan seorang Calixto hingga membuatnya berpikir jika itu lebih sulit dibandingkan materi yang pernah dipelajarinya? Pria itu berpikir tentang cinta. Mendengar pembicaraan Mia dengan temannya itu, tampaknya yang mereka butuhkan dalam hubungan mereka adalah cinta. Tapi Calixto sendiri tidak tahu apa itu cinta. Jika orang mengatakan jika dia jatuh cinta pada belajar, maka semua rasa yang dia rasakan saat belajar itu tidak pernah dia rasakan saat bersama Mia. Perasaan ingin mengenalnya lebih hingga perasaan senang itu muncul tidak dia rasakan pada diri Mia. Lalu apa yang akan membuat cinta itu muncul? Calixto ingin tahu hal itu karena tidak menutup kemungkinan jika Mia merasakan hal yang sama dengannya. Jika sudah seperti itu, sulit untuk mereka memiliki seorang anak jika perasaan cinta itu saja tidak mereka miliki. Calixto suka saat dia harus belajar tentang suatu hal yang baru, tapi tidak dengan perasaan cinta antara manusia yang kompleks itu. Harus dari mana dia mulai belajar agar bisa membuat Mia juga merasakannya cinta itu? Jemari Calixto berada di atas keyboard. Dia tampak ragu untuk mengetik sebuah kalimat. Keraguannya itu akhirnya kalah hingga di mesin pencarian terlihat salah satu jurnal yang membahas tentang ‘Apa itu cinta, mengapa cinta itu penting’. Jika melihat ke pilihan kedua, di sana membahas tentang regulasi perasaan cinta romantis. Membaca judul yang kedua ternyata lebih menarik bagi Calixto. Dia pun tanpa ragu mengeluarkan uangnya untuk membaca jurnal itu. Tidak sampai di sana, Calixto membeli beberapa jurnal serupa juga. Terlebih jurnal yang membahas tentang pengalaman tentang cinta juga. Setelah membeli jurnal-jurnal itu. Dia kemudian mencetak jurnal itu dan membacanya. Untuk membaca satu jurnal, Calixto membutuhkan waktu yang cukup banyak. Dia merasa kepalanya berdenyut karena pembahasan tentang cinta ternyata suatu yang berat dan membuatnya ingin tidur. Karena merasa tidak kuat lagi, Calixto memutuskan untuk masuk ke kamar. Dia bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah tempat tidur untuk melihat apakah Mia ada di sana? Atau apakah Mia sudah tidur? Calixto malah langsung pergi ke kamar mandi dan membersihkan wajahnya sebelum tidur. Barulah saat dia akan naik ke atas tempat tidur dia melihat sosok Mia yang sudah tidur memunggunginya. Calixto pun melakukan hal yang sama. Merebahkan tubuhnya, lalu memiringkannya hingga membuat mereka berdua saling memunggungi. Hari ini sudah sangat berat bagi Calixto dan dia berharap besok akan jauh lebih baik. * * * “Kamu tidak tidur, Kay?” “Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan,” jawab Kayra tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari layar laptopnya. Seakan tersadar, Kayra pun menoleh ke arah Juli lalu berucap, “Apa suara keyboardku mengganggumu? Jika iya, aku akan menyelesaikannya di luar.” “Tidak, aku hanya bertanya.” “Ah, tapi kalau aku mengganggu, kamu bisa menegurku.” “Iya, santai aja kali Kay. Kek kita baru sekamar aja.” Juli mematikan lampu tidur yang ada di samping tempat tidurnya. “Tidur duluan ya, Kay,” pemitnya kemudian. “Iya, Jul.” Juli kemudian tidur meninggalkan Kayra yang masih setia dengan laptopnya. Papanya sudah mengirim foto barang-barang yang dia ambil di toko. Foto yang bisa dikatakan tidak begitu bagus-bagus sekali memang, tapi itu juga bisa dikatakan tidak buruk. Dan untung saja dia bisa mengedit foto hingga membuatnya terlihat jauh lebih baik. Kayra harus menyelesaikan ini malam ini agar dia bisa mulai melakukan promosi di media sosial. Daniel sudah mengajarinya cara agar dia bisa melakukan promosi yang cepat di berbagai media sosial. Kayra harap apa yang dilakukannya ini bisa membantu orangtuanya. Ponselnya yang menampilkan notifikasi pesan mengalihkan perhatian Kayra. Wisteria: Sekarang Papamu naik motor? Mobilnya ke mana? Pesan yang terbaca itu membuat Kayra sadar jika dia belum memblokir akun media sosial satu ini. Kayra dengan cepat mengambil ponselnya dan memblokir wisteria dari media sosialnya. Membiarkan orang-orang seperti wisteria hanya akan membuat harinya menjadi buruk. Setelah itu Kayra kembali fokus pada apa yang dia kerjakan. Setelah sepuluh menit berlalu, akhirnya dia pun selesai memasukkan semua barang di website itu dan hanya perlu melakukan promosi. Kayra meregangkan badannya dengan perasaan lega. Dia sudah selesai membuat toko onlinenya dan tadi siang juga dia sudah memasukkan lamaran kerja ke beberapa tempat yang memiliki upah yang cukup banyak dengan jam kerja yang sesuai dengan waktu senggangnya. Ponsel yang kembali menyala dan memunculkan notifikasi pesan membuat fokus Kayra langsung tertuju pada serangkaian kalimat yang terlihat. Mawar: Lo blokir gue? Rugi tau Kayra. Apalagi lo bisa aja dibohongi sama…. Kayra mengabaikan pesan itu dan memilih untuk mematikan notifikasi untuk pesan yang dikirim oleh akun mawar. Dia bisa saja langsung memblokirnya, tapi Kayra rasa itu akan sia-sia saja jika pada akhirnya orang itu akan membuat akun baru. Setelah itu Kayra memilih untuk tidur. Dia harus cukup tidur sekarang karena besok dia ada kelas yang harus dia hadiri. Pagi harinya seperti biasa, Kayra akan sarapan dengan Amanda. Karena mereka datang lebih cepat, mereka dapat menyantap menu sarapan di kafetaria kampus. “Episode tadi malam sangat seru, bukan? Aku bahkan sampai tidak percaya kalau….” “Jangan spoiler!” teriak Kayra cepat. Teriakan itu membuat Kayra menjadi bahan tatapan orang-orang yang merasa kaget dan terganggu karena teriakan Kayra. “Maaf, maaf, maaf,” ucap Kayra ke arah belakang dan samping-sampingnya dengan menahan malu. Barulah sesaat setelah itu dia menatap Amanda dan merengut. Pipi Kayra terlihat memerah karena malu. “Gara-gara kamu,” cicit Kayra. Amanda mengulurkan tangannya dan mencubit pipi merah Kayra. “Salah kamu sendiri sayang. Siapa suruh kamu teriak.” Kayra melepas tangan Amanda di pipinya. Tangan itu dielusnya sebelum dia meremasnya sambil mengatakan, “Ini itu karena kamu yang mau melakukan spoiler. Apa kamu tahu spoiler itu sangat dilarang?” “Aaaww!” Amanda menarik tangannya. “Ya aku mana tahu kamu belum menonton.” “Aku sibuk.” “Sibuk? Memangnya apa yang kamu sibukkan? Kitakan belum ada tugas.” “Tadi malam aku tengah mengisi toko online orangtuaku. Mungkin untuk satu minggu aku akan bantu memegangnya.” “Anak yang baik. Aku akan mentraktirmu es krim karena sudah menjadi anak yang baik.” Kayra memutar bola matanya bosan. “Mentraktir es krim di hari yang dingin. Kamu memang tidak berniat untuk melakukannya, bukan?” Cengiran yang Amanda perlihatkan sudah lebih cukup jawaban yang membenarkan ucapan Kayra. Kayra yang kesal mencomot salah satu buah yang ada di piring Amanda. “Hey itu buahku.” “Ini bayaran karena kamu jahat.” Notifikasi di ponsel Kayra seketika mengalihkan perhatian Kayra. Kayra buru-buru mengambilnya dan melotot lebar karena dia baru saja mendapatkan pesan untuk melakukan wawancara kerjanya. “Apa yang membuatmu sampai melotot seperti itu?” “Aku memiliki panggilan wawancara kerja paruh waktu.” “Kamu kerja paruh waktu? Kenapa?” “Kenapa? Apa itu salah?” Kayra rasa tidak ada yang salah dengan kerja paruh waktu. “Tidak, tapi kamu mengambil kerja paruh waktu di saat kamu sendiri mengatakan ingin fokus untuk belajar. Bukannya itu malah membuatmu semakin tidak memiliki waktu untuk belajar?” “Ini tidak akan mengambil waktuku dan aku juga mendapatkan uang.” “Apa kamu sekarang kekurangan uang?” Pertanyaan Amanda membuat Kayra menggeleng tegas. “Bukan. Tapi kau tahu, aku rasa akan lebih bagus jika aku menghabiskan waktu yang tersisa dengan bekerja dan mendapatkan uang daripada dengan ikut kegiatan klub.” Kayra tidak bisa menceritakan bagaimana keadaan rumahnya. Dia tidak ingin membuat orang-orang terdekatnya jadi kesusahan karena masalahnya. Lalu di saat Kayra tengah belajar di kelas, dua pesan panggilan kerja juga dia dapatkan. Sayangnya satu panggilan kerja itu memiliki jam yang sama dengan yang pertama yang membuat Kayra harus memilih salah satunya. “Kamu buru-buru memasukkan bukumu, memangnya kamu mau ke mana?” tanya Amanda penasaran. “Bukankah aku sudah mengatakan akan melakukan wawancara kerja?” “Berarti kamu akan melewatkan kelas?” Kayra mengangguk membenarkan. “Memangnya kamu melakukan wawancara kerja di mana?” “Di salah satu restoran tidak jauh dari sini.” Kayra berdiri lalu menepuk bahu Amanda. “Aku duluan ya.” Kayra juga pamit pada temannya yang lain dan setelah keluar dari pintu ruang kelas, dengan Kayra langsung berlari. Dia harus cepat karena dia tidak ingin terlambat di hari wawancara kerjanya. Karena jarak dari kampusnya dengan tempat wawancara kerjanya dekat, Kayra hanya perlu berjalan kaki sekitar sepuluh menit untuk tiba di sana. Begitu dia tiba di dekat dekat restoran tempatnya melakukan wawancara kerja. Kayra memperbaiki tampilannya agar terlihat lebih rapi. Kayra bersyukur karena setiap ke kampus dia selalu berpakaian rapi karena dia merasa tidak sedang sekolah jika dia memakai pakaian asal seperti teman-temannya yang lain. Untuk mengikuti wawancara kerja paruh waktu di restoran ini Kayra sampai melewatkan kelas dan juga satu wawancara di restoran yang jaraknya lebih jauh dari restoran ini dan gaji yang ditawarkan tidak begitu bagus. Kayra pun masuk ke ruang wawancara dan tatapan tajam dari HRD. Tatapan tajam itu membuat senyum Kayra seketika terasa kaku. Begitu duduk di depan HRD itu, Kayra merasa tekanan yang lebih besar lagi. “Kamu ternyata terlihat berbeda dengan di foto karena aslinya kamu terlihat lebih Asia ternyata.” “Maaf?” ucap Kayra refleks karena dia tidak mengerti kenapa HRD itu mengatakan hal demikian. “Baik, mari kita mulai wawancaranya.” Wawancara itu berjalan dengan cepat dan berat. Kayra bisa merasakan setengah hati yang diberikan oleh HRD itu saat mewawancarainya dan setelah wawancara singkat itu berakhir, HRD itu bahkan tidak menatapnya saat dia undur diri. Setelah berjalan cukup jauh dari restoran itu, Kayra terduduk dengan ekspresi tidak percayanya lalu tertawa miris. Ingin sekali Kayra mengumpat dirinya sendiri karena memilih restoran yang ternyata tidak suka dengan orang Asia itu. “Penyesalan selalu datang di akhir,” gumam Kayra lalu menyalakan ponselnya dan matanya langsung tertuju pada waktu yang ditunjukkan ponselnya. Kayra menepuk pipinya cukup keras lalu berucap, “Jangan sedih, masih ada tempat lain.” Tapi tampaknya Dewi Fortune tengah tidak berpihak pada Kayra karena ternyata convenience store tempatnya mendaftar langsung menolaknya karena perawakan Kayra yang terlihat lemah sehingga takutnya akan membahayakan Kayra jika ada berandalan pemabuk yang datang. Ada empat lamaran yang Kayra kirim kemarin dan yang keempat juga convenience store yang tidak menutup kemungkinan juga akan mengalami penolakan. Baru dua kali mengalami penolakan dan Kayra sudah merasa sesedih ini dan Kayra tidak mengerti kenapa bisa seperti ini karena ini sangat bukan dirinya sekali. Di perjalanan pulang dengan bus, Kayra membuka media sosialnya dan cukup banyak pesan yang masuk dan begitu melihatnya, semuanya dari Mawar. Kayra sudah berjanji untuk mengabaikan pesan itu, tapi kalimat yang terlihat di pesan itu membuatnya penasaran dan akhirnya membukanya. Mawar: Kayra gadis yang penuh mimpi… Mawar: Saking pengennya kuliah di luar negeri, orangtuanya sampai banting tulang. Mawar: Tapi belajar doang enggak bikin lo sukses. Mending lo di sana kerja bantuin orangtua lo. Gue baikkan ngasih saran kek gini. Mawar: 1,5 bulan lagi tenggat waktunya Kay, jadi semangat buat bantu kerja di sana ya. Jangan lupa, buat status kalau lo lagi kerja. Jangan pas belajar atau pas main doang lo buat statusnya. Perlihatkan dong kalau lo itu anak berbakti dengan cari duit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD