Waktu yang diberitahu orangtuanya tiga bulan dan orang asing itu mengatakan satu setengah bulan lagi. Mengingat semua ucapan orang itu benar, haruskah Kayra percaya dengan ucapannya?
Kayra menunduk dan menutup wajahnya. Dia bingung sekarang harus bagaimana menyelesaikan semua utang orangtuanya dengan waktu yang tersisa satu setengah bulan.
Bus yang ditumpangi Kayra berhenti di pemberhentian bus stop kampusnya. Dia turun di sana dan bergegas pergi ke kelas terakhir yang tidak bisa dia lewatkan.
“Hey, Kayra,” panggil seseorang yang membuat Kayra menoleh ke jalan dan mendapati Daniel.
Kayra berhenti berjalan dan Daniel pun menghentikan laju mobilnya. Kayra kemudian masuk ke dalam mobil Daniel dan duduk di samping Daniel.
“Kamu habis dari mana?” tanya Daniel.
“Ada hal yang harus kulakukan tadi. Kamu sendiri kenapa baru terlihat?” tanya Kayra untuk mengalihkan topik pembicaraan agar Daniel tidak mengorek informasi lebih jauh tentang apa yang dilakukannya. Saat ini dia tengah malas untuk menjelaskan.
“Ah begitu. Aku hanya ingin jalan-jalan dan tidak menyangka melihatmu.”
“Kamu tampaknya punya banyak waktu senggang ya.”
“Sangat senggang. Mau menemaniku?”
“Aku ada kelas, jadi tidak bisa menemanimu.”
“Sayang sekali.”
Tanpa terasa akhirnya mereka sampai di depan gedung fakultas Kayra. Kayra melepaskan sabut pengamannya dan berucap, “Terima kasih karena sudah mengantarku.”
“Sama-sama.”
“Aku pergi dulu.”
Kayra langsung pergi meninggalkan Daniel. Dia bahkan tidak menoleh sama sekali ke arah Daniel karena dia yang terburu-buru untuk masuk ke kelasnya. Sampai di kelasnya yang ada di lantai tiga, Kayra langsung menuju tempat di mana Amanda duduk.
“Sudah selesai?” tanya Amanda.
“Iya sudah.”
“Bagaimana?”
“Ya sudah tidak ada yang istimewa. Mereka akan menghubungiku jika aku diterima.” Kayra tersenyum lebar yang membuat matanya tampak menyipit.
Amanda menepuk bahu Kayra. “Apa pun hasilnya, kamu sudah melakukan yang terbaik.”
“Uuuu….” Kayra memeluk Amanda dengan sayang. “Sayangnya aku.”
Selama berada di kelas, Kayra mencoba untuk fokus walau di kepalanya sekarang penuh dengan cara agar bisa mendapatkan uang untuk membantu orangtuanya.
“Aku akan pergi karaoke dengan yang lainnya, kamu harus ikut karena aku akan mentraktirmu,” bisik Amanda.
Ingin sekali Kayra menolak, tapi bagaimana jika Amanda menjadi curiga padanya dan meminta penjelasan tentang apa yang sudah dia alami? Kayra tidak ingin hal itu terjadi dan dia akhirnya mengangguk dengan terpaksa.
Setelah dari kelas terakhir, Kayra ikut pergi bersama Amanda, Rebecca dan Pamela. Karena mereka baru selesai dari kelas terakhir mereka, mereka memutuskan untuk pergi makan terlebih dulu di salah satu restoran yang ada di mall.
Setelah mengisi tenaga mereka, mereka akhirnya pergi ke tempat karaoke yang juga ada di mall itu. Di dalam ruang karaoke, Rebecca dan Pamela bernyanyi dengan hebohnya dan Amanda memaksa Kayra untuk menari bersamanya. Semua kehebohan itu membuat Kayra hanyut dan untuk sejenak melupakan masalahnya.
Dan di jalan pulang yang sepi, yang hanya ada Kayra dan Amanda, Kayra kembali terpikirkan bagaimana cara agar dia bisa mendapatkan uang banyak dalam waktu cepat. Pekerjaan apa yang sekiranya mau menerimanya dan menghasilkan banyak uang dalam waktu cepat?
Kalimat pertanyaan itu terus-terusan berputar di kepala Kayra hingga saat dia tiba di asramanya, dia bertemu dengan Irene di tangga menuju lantai kamar mereka. Irene terlihat baru selesai belanja karena membawa kantung belanjaan yang cukup banyak. Terlebih satu dari kantung belanjaan itu berasal dari merek terkenal.
“Aku membelikanmu ini.” Irene menyodorkan kotak kue. “Kamu suka cheesecake kan.”
“Kamu mimpi apa sampai membelikanku ini?” Kayra menerima cheesecake itu.”
“Karena kamu sudah terlalu sering membagi makananmu untukku.”
“Terima kasih ya.”
“Ya sudah, selamat beristirahat Kayra.”
Irene kemudian lanjut berjalan menuju bilik kamarnya. Kayra menatap Irene lekat sebelum gadis itu menghilang dari pandangannya. Di dalam kamarnya, Kayra terlihat memandangi cheesecake pemberian Irene itu.
Cukup lama sebelum Kayra akhirnya mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu di mesin pencarian. Dari mesin pencarian itu muncul sebuah aplikasi yang bernama ‘Find Your Love’ sebuah aplikasi kencan yang digunakan Irene untuk mencari seorang sugar daddy.
Kayra mengunduh aplikasi itu dan dalam hitungan detik, aplikasi itu pun terinstall. Baru saja Kayra ingin registrasi di aplikasi itu, bunyi pintu yang terbuka membuat Kayra buru-buru menekan tombol home dari ponselnya.
“Kay, kamu udah pulang ternyata.”
“Iya, kamu habis dari mana emangnya?”
“Habis nyuci baju.”
Kayra mengambil cheesecakenya. “Aku ada cheesecake nih dikasih Irene. Kita makan bareng yuk,” ajaknya.
“Boleh.”
“Tunggu aku ambil sendok sama piring kecil dulu.”
Selesai menyantap cheesecake bersama Juli, Kayra memutuskan untuk belajar hingga waktu tidurnya datang. Sayangnya, dia tidak kunjung mengantuk karena kepalanya terus kepikiran cara cepat untuk mencari uang yang dilakukan oleh Irene.
Jika dia melakukan hal yang seperti Irene, itu tidak termasuk menjual diri karena dia tidak akan melakukan kontak fisik. Jika dia melakukannya, itu tentu tidak masalah bukan? Ya Kayra rasa itu memang tidak ada salahnya karena dia hanya akan menghiburnya saja. Selayaknya anak yang akan menghibur ayahnya, atau keponakan yang akan menghibur pamannya. Dan, dia juga akan melakukan ini sambilan dengan dirinya yang akan terus mencari pekerjaan paruh waktu. Mencari pekerjaan paruh waktu tetap menjadi yang utama.
Kayra pun akhirnya mendaftar di aplikasi kencan itu. Dia hanya menulis nama depannya dan menggunakan foto profil yang memperlihatkan sosoknya yang memakai topi di sebuah pantai. Wajah Kayra tidak terlihat di sana karena dia yang terlalu takut untuk dikenali oleh orang terdekatnya. Membayangkan dirinya dicerca oleh pertanyaan alasannya mendaftar di aplikasi itu membuat Kayra bergidik ngeri.
Karena ini aplikasi yang baru saja dia pasang, Kayra membutuhkan waktu untuk mengerti cara menggunakannya. Foto-foto pria yang ada di aplikasi ini terlihat menggoda. Terlebih saat melihat pria-pria itu dengan percaya dirinya memamerkan bentuk tubuhnya.
“Semuanya tampak seperti di novel-novel. Ini semua terasa palsu,” gumam Kayra saat tangannya terus menggeser foto-foto pria-pria muda itu.
“Ah, ternyata seperti ini caranya.”
*
*
*
Calixto melepas kacamata yang membingkai wajahnya, lalu memijat tulang hidungnya. Membaca jurnal tentang percintaan sangat terasa berat. Setelah membaca jurnal tentang pandangan orang-orang terkait hubungan cinta romantisme, mereka beranggapan jika cinta dapat dikontrol dan hubungan cinta jangka panjang didasari dengan komunikasi.
Calixto merasa tidak ada yang salah dari komunikasi yang dilakukannya dengan Mia walau komunikasi mereka tidak membahas hal yang romantis. Lalu untuk contoh cinta yang dapat dikontrol, Calixto belum menemukan suatu hal dari diri Mia yang membuatnya suka dan dia juga tidak tahu hal-hal seperti apa yang disukai Mia pada seorang pria agar dia bisa menyesuaikannya.
Apa ketidaktahuannya ini karena waktu kebersamaan mereka yang tidak begitu banyak sehingga membuatnya tidak tahu akan hal itu? Mereka memang berada di rumah yang sama, tapi mereka lebih sering berada di ruangan yang berbeda.
“Aku harus lebih sering berada di ruangan yang sama dengannya agar tahu jawabannya,” simpul Calixto.
Ponsel Calixto berbunyi dan sebuah pesan dari Mia muncul di sana.
Mia: Aku akan makan di luar bersama teman-temanku malam ini. Jadi aku akan pulang terlambat.
Pesan yang dikirim Mia membuat Calixto tidak bisa mulai meneliti tentang kesukaannya dan kebiasaan Mia. Mungkin dia harus melakukannya saat mereka ada di dalam kamar. Mereka berdua hanya akan berada di kamar saat mereka tidur dan saat mereka sudah ada di atas tempat tidur, mereka seakan berada di dunia yang berbeda. Tidak ada yang akan bergerak sedikit pun di atas tempat tidur hingga keesokan paginya.
Sayangnya rencana untuk Calixto untuk meneliti tentang kesukaannya dan Mia itu tidak terlaksana hingga dia tertidur karena Mia tidak kunjung pulang saat itu. Tapi saat bangun dari tidur, Calixto mendapati Mia ada di sana dan karena sudah terburu-buru untuk pergi ke kampus, Calixto tidak terpikirkan untuk melakukan rencananya. Dia mandi lalu bersiap-siap dan langsung berangkat ke kampus, tanpa mempedulikan sosok Mia.
Jika ada yang melihat tingkah Calixto ini, mungkin orang-orang akan berpikir jika Calixto tidak berniat untuk menimbulkan cinta pada diri mereka. Tapi masalah cinta memang seakan berada di urutan paling belakang yang ada pada diri Calixto.
Di parkiran kampus, Calixto bertemu dengan Maria dan James. Dua orang itu berencana untuk pergi ke kafetaria kampus dan Calixto yang ingat dia belum sarapan pun ikut bersama mereka.
“Menu kali ini sangat lezat ternyata,” ucap Maria.
“Ya, setidaknya kita cukup beruntung pagi ini,” balas James.
Mereka bertiga duduk di meja yang biasanya di duduki oleh dosen-dosen. Calixto hanya diam dan mulai menikmati makanannya.
Mata James yang tidak sengaja melihat pesan yang masuk ke ponsel Maria pun berucap, “Kamu memiliki kekasih baru lagi?” tanya James.
“Ya.”
“Ini sangat cepat. Bagaimana bisa kamu secepat itu move on?”
Jika sebelumnya pembicaraan masalah asmara membuat Calixto kesal dan pergi, kali ini dia mencoba untuk mendengarkannya. Entah kenapa dia menjadi tertarik mendengarnya.
“Karena dia pria yang menyenangkan. Selain itu dia juga tampan dan wangi.”
Kunyahan Calixto terhenti. Dia tahu jika cinta bisa dikontrol dengan melihat hal yang kita sukai dan tidak sukai pada target, tapi jika alasannya hanya itu, itu terlalu terdengar sangat sepele.
“Apa hanya karena itu? Kamu tidak mungkin secepat itu melupakan b*****h yang bahkan membuatmu ingin melakukan bunuh diri itu,” ucap James tanpa takut.
“Sebenarnya aku pernah hampir ingin bunuh diri dan dia menyelamatkanku.” Maria terkekeh. “Aku kira aku adalah gadis yang malang karena gagal dalam percintaan, tapi dia ternyata memiliki kisah yang lebih menyedihkan dan itu menamparku. Apa kamu tahu, dia malah bisa hidup seperti itu walau sudah ditinggalkan oleh mantan istrinya.”
“Jadi dia pria yang sudah pernah menikah?”
Maria mengangguk malu. “Belajar tentang cinta pada seorang yang lebih paham itu yang terbaik. Dan dalam waktu singkat dia mengajariku apa arti cinta yang sesungguhnya. Aku benar-benar tidak habis pikir kenapa mantan istrinya meninggalkan pria sebaik itu.”
Percakapan tentang Maria dengan kisah cintanya itu membuat Calixto memiliki rencana baru yaitu bertanya pada orang yang paham tentang cinta. Ini seperti dirinya yang akan menjadi seorang mahasiswa yang akan belajar tentang cinta pada seorang dosen. Dengan belajar pada ahlinya, tentu dia akan dapat mengerti dan bisa memperaktekkannya. Lalu siapa dosen yang akan mengajarinya itu?
Calixto berpikir keras tentang sosok yang akan mengajarinya. Pandangan matanya yang terangkat dan menatap ke arah Maria yang membuat Calixto menggeleng. Dia tidak bisa menyuruh Maria. Atau apa dia minta diajari oleh kekasih baru Maria? Ah, meminta seorang pria mengajari tentang cinta tentu akan sangat aneh karena dia membutuhkan persepsi dari seorang perempuan.