001
Saat matahari sudah mulai menampakkan diri, Atalarik menghentikan kegiatannya melatih Archie, memikirkan jika gadis itu perlu pergi ke sekolah.
"Ah benar, kakak juga harus siap siap ke sekolah kan? Kemaren kakak juga tidak masuk ke sekolah, Kenapa?" tanya gadis itu ingin tahu, sambil mengusap keringat di dahinya.
"Hhmm... Aku tidak kan pergi sekolah lagi" jawab kakak laki lakinya itu tak acuh, sambil berjalan pergi menuju Mension.
"Kenapa? Apakah kakak di keluarkan oleh pihak sekolah karena kakak ketahuan sering berkelahi?" tanya Archie polos, sambil terus mengikuti langkah Atalaric.
Mengingat bagaimana seringnya Atalaric membuat murid laki laki di sekolah nya bonyok bonyok.
"Tentu saja tidak, kamu tidak usah khawatir, belajar saja dengan baik, dan jangan biarkan siapapun menyakitimu lagi di sekolah mengerti?" ucap pemuda itu kini berbalik memperlihatkan sedikit rasa pedulinya.
"Iya, tapi kenapa kakak keluar dari sekolah?" ucap gadis itu sambil kembali mengikuti langkah Atalaric.
"Karena aku akan bekerja mulai sekarang" jawab nya masih terus berjalan maju.
"Bekerja? Apakah kakak berhenti sekolah karena sudah mendapatkan pekerjaan tetap?" tanya Archie terus menerus memenuhi rasa penasarannya.
"Ya bisa di bilang seperti itu"
"Tapi kak, kamu masih belum menjawab pertanyaan ku, kenapa kakak bisa masuk ke sekolah dan ke luar seenaknya? Bukankah itu perlu beberapa prosedur yang cukup membuat pusing?" ucap Archie.
Karena ingat apa yang di katakan oleh sahabatnya Sintia, jika ingin pindah ke sekolah mereka sekarang, Perlu melalui beberapa prosedur yang cukup sulit dengan biaya yang sangat mahal, karena sekolah mereka adalah sekolah elit dan sekolah terbaik di Jerman.
Apa lagi kakaknya Atalaric bukan murid pindahan biasa, karena sebenarnya dia tau jika kakaknya tidak pernah sekolah secara formal sebelumnya.
Ya walaupun dia tahu jika kakaknya sangat rajin belajar sendiri di ruang belajarnya, hingga tengah malam dan memiliki buku yang sangat banyak dalam berbagai macam bahasa asing.
"Hmm... ya, itu di bantu oleh beberapa orang teman" ucap Atalaric setelah memikirkan jawabannya beberapa detik.
"Hah? Aku tidak tahu jika Kakak memiliki seorang teman" ucap gadis itu mengerutkan dahi dan menatap kakaknya itu dengan tatapan yang menyelidik, karena dia belum pernah melihat dan mendengar jika kakaknya memilki seorang teman.
"Ya kira kira begitu lah"
Melihat Archie yang percaya begitu saja dengan apa yang dia katakan, membuat Atalaric merasa sedikit kasihan.
"Mungkin mereka bisa di hitung sebagai teman" Batin Atalaric, menghentikan langkahnya. Mengingat beberapa orang bawahannya yang sangat setia dan kompeten dalam melaksanakan setiap tugas yang dia berikan.
Seperti saat mengurus urusan administrasi dan prosedur Atalaric masuk ke sekolah Archie secara tiba tiba, bisa dilakukan oleh mereka hanya dalam waktu beberapa jam saja.
Tapi jika dilakukan sesuai dengan prosedur yang semestinya, mungkin memerlukan waktu satu minggu lebih, oleh wali murid biasa, hingga seorang siswa pindahan atau anak mereka yang akan pindah sekolah bisa masuk ke sekolah tersebut.
Mendengar jawaban dari kakaknya, Archie segera kembali kedalam Mension untuk bersiap berangkat ke sekolah.
Setelah selesai mandi dan mengenakan seragam sekolah Archie turun dari lantai dua untuk sarapan, perut nya sudah terasa sangat lapar, mungkin karena kegiatan nya pagi ini cukup menguras tenaga.
Saat Archie sampai di lantai satu di melihat ke arah meja makan dimana Atalaric telah duduk manis dengan menggunakan jas lengkap dengan nuansa formal menikmati sarapannya .
"Apakah kakak akan pergi bekerja seperti ini?"
tanya Archie dengan heran melihat penampilan Atalaric pagi ini.
Dia mengira jika kakaknya akan pergi bekerja seperti biasa, dengan baju lusuh kesayangan nya.
"Ya, apakah terlihat buruk?" tanya Atalaric sambil terus memasukkan sepotong roti kedalam mulutnya.
"Bukan begitu maksud ku...
Archie kembali terdiam melihat sikap Atalaric yang cuek seperti biasanya.
"Kakak, jangan coba coba membodohi ku, apakah kakak akan bekerja di perusahaan tuan Damian?" tanya Archie dengan serius.
"Sepertinya kamu sudah tahu"
Atalaric menjawab dengan sangat santai untuk menanggapi setiap perkataan adik perempuannya itu, sambil tetap terus melanjutkan sarapannya dengan tenang.
"Bagai mana tidak, dua hari yang lalu kakak tiba tiba di panggil untuk datang ke perusahaan tuan Damian saat pulang sekolah. Lalu keesok kan harinya, kakak tidak lagi datang ke sekolah seperti biasanya.
Dan hari ini kakak mengatakan tidak akan masuk sekolah lagi, siapa yang tidak bisa menghubungkan beberapa kejadian yang sudah sangat jelas seperti ini." ucap Archie tegas, dan terdengar sangat cerdas di telinga Atalaric.
"Ternyata sekarang kamu sudah cukup cerdas, tidak sia sia selama ini aku melatih mu untuk mencoba menganalisa setiap situasi sebelum berpendapat" ucapnya sengaja memuji Archie untuk mengubah topik pembicaraan.
"Kakak bahkan ini sudah sangat jelas dan tidak memerlukan analisa apapun" ucap Archie tidak terpengaruh.
"hmmmm" Atalaric hanya bergumam sambil mengangguk anggukan kepalanya dan terus makan dengan lahap.
Archie yang melihat kakaknya hanya mengangguk anggukan kepala, mulai duduk di kursinya dan ikut sarapan. Tampa bertanya lebih banyak lagi, karena memang perutnya sudah sangat lapar dan minta di isi dengan segera.
Mereka berdua melanjutkan menikmati sarapan mereka dengan tenang hingga selesai, dan berjalan beriringan keluar dari Mension.
Saat di depan pintu Archie lagi lagi di kejutkan pagi ini.
"Kakak, mobil siapa ini? Apakah ada seseorang yang datang?" Tanya Archie sambil melihat kiri dan kanan mencari keberadaan seseorang.
"Bukan, mulai sekarang aku akan memakai mobil ini mengantar mu pergi ke sekolah, dan tentu saja juga untuk pergi ke kantor!" jelas Atalaric singkat.
"Hah? Benarkah ? Jadi aku tidak perlu lagi berjalan kaki dan berlarian mengejar bus ke sekolah?" Ucap Archie sangat senang melihat mobil hitam mengkilap di depannya.
"Tapi kak, bagaimana kamu bisa mendapatkan ini?" ucapnya lagi mendapatkan kewarasannya. dan memandang kakaknya curiga.
"Ini hadiah, seperti kata mu, bukankah aku sekarang telah terkenal?" ucap Atalaric.
"Ah benar sekali, kenapa aku melupakan ini, jika kakak sekarang sudah terkenal dan di tawari bekerja oleh tuan Damian, kakak sangat hebat." ucap Archie dengan tulus memuji Atalaric dengan mata yang berbinar binar.
Melihat Archie memujinya dengan wajah seperti itu, Atalaric tidak bisa menjelaskan seperti apa perasaanya saat ini, yang jelas apapun yang di lakukannya saat ini adalah untuk melindungi Archie, tidak ada yang lain. Dan pujian dari gadis itu berhasil membuat nya merasa berguna, dan sudah berhasil melakukan suatu hal yang benar.
Walaupun banyak pujian dari pihak luar, tapi itu malah membuat Atalaric merasa muak akan pujian mereka, sangat berbeda jika Archie yang memberikan pujian itu..
"Ah, satu lagi, kedepanya jika bertemu tuan Damian, ingat untuk panggil dia ayah" ucap Atalaric sambil memencet hidung adiknya itu dengan gemas.