bc

Kakak Tiriku Bukan Kakak Tiriku

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
family
HE
love after marriage
age gap
fated
friends to lovers
arrogant
kickass heroine
single mother
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
kicking
bold
campus
city
office/work place
childhood crush
secrets
love at the first sight
addiction
professor
like
intro-logo
Blurb

Manisha Pinayung Mega hanya ingin dua hal dalam hidupnya. Lulus tepat waktu. Dan terbebas dari dosen pembimbingnya yang dijuluki mahasiswa Fakultas Hukum sebagai “Dosen Dajal”. Sayangnya, Senna Praba Yudhistira, S.H., M.H., C.L.A., justru membuat hidupnya semakin menyedihkan dengan revisi demi revisi yang tak ada habisnya. Namun, belum sempat ia mengutuk nasibnya lebih jauh, dunia kembali mempermainkannya. Ibunya yang telah menjadi janda selama bertahun-tahun memutuskan menikah lagi. Dan calon suaminya… Adalah ayah dari dosen pembimbingnya sendiri. Dalam semalam, pria yang membuatnya menangis karena skripsi berubah status menjadi saudara tirinya. Lucunya, Senna sama sekali tidak berniat menjaga jarak. Sebaliknya, pria berusia tiga puluh dua tahun itu justru semakin terang-terangan menggodanya. Karena ada satu rahasia yang tidak diketahui Manisha. Senna telah menginginkannya jauh sebelum kedua orang tua mereka menikah. Dan ketika ia mengetahui bahwa dirinya hanyalah anak angkat keluarga Yudhistira, satu-satunya batas yang tersisa di antara mereka pun perlahan menghilang. Masalahnya, bagaimana mungkin Manisha bisa jatuh cinta pada pria yang setiap revisinya membuatnya ingin menangis? Dan bagaimana jika “Dosen Dajal” itu ternyata tidak pernah berniat melepaskannya?

chap-preview
Free preview
Bab 1 Calon Suami Ibuku adalah Ayah Dosen Dajal Itu
Bab 1 Calon Suami Ibuku adalah Ayah Dosen Dajal Itu "Saudari Manisha Pinayung Mega." Suara dingin itu langsung membuat bulu kuduk Manisha meremang. "Jelaskan kepada saya, apa yang sebenarnya sedang Anda tulis? Skripsi atau surat cinta?" Brak! Map biru di tangan gadis berusia dua puluh satu tahun itu nyaris terlepas. Ia menatap pria di hadapannya dengan mata berkaca-kaca. Senna Praba Yudhistira, S.H., M.H., C.L.A. Dosen termuda Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang. Ketua Laboratorium Hukum Perdata. Pengacara terkenal. Komisaris Praba Group. Dan... Makhluk paling ditakuti seluruh mahasiswa fakultasnya. Julukan "Dosen Dajal Fakultas Hukum" yang diberikan para mahasiswa ternyata memang bukan fitnah atau kabar burung biasa. Tatapan pria berusia tiga puluh dua tahun itu menyapu lembar demi lembar skripsinya dengan wajah datar. "Metode penelitian Anda kacau." Coret. "Kalimat ini tidak efektif." Coret. "Referensinya tahun berapa ini? Tahun penjajahan?" Coret. "Kesimpulan Anda terlalu dangkal." Coret. Hingga corrtan itu terus terjadi di lembaran-lembaran berikutnya. Manisha hanya mampu menganga melihat skripsi setebal seratus halaman yang kini berubah menjadi lautan tinta merah. Salivanya seakan menjadi es batu yang sangat sulit untuk dia telan. Rasanya, ia ingin pingsan saja. "Saya sudah revisi lima kali, Pak." "Baru lima kali, kan?" "Pak, teman-teman saya sudah mulai seminar hasilnya." "Selamat untuk mereka." ucapnya datar tanpa mengalihkan pandangnya dari kertas di depannya. Manisha mengepalkan tangan. "Pak, saya juga ingin lulus loh, Pak." "Lalu?" "Ya jangan kejam-kejam kalau ngoreksi punya saya!" Pria itu mengangkat kepalanya perlahan. Wajah tampannya benar-benar keterlaluan. Tuhan sepertinya terlalu baik saat menciptakan lelaki satu ini. Namun mulutnya... benar-benar iblis. "Tidak usah menangis. Kalau menangis bisa membuat skripsi Anda selesai, saya akan belikan tisu satu kardus." celetuknya yang membuat Manisha melotot. "Saya serius loh, Pak!" "Saya juga serius." "Pak Senna!" "Saudari Manisha." "Pak Dosen Dajal!" Sunyi. Sungguh suasana mendadak hening. Keheningan itu berlangsung cukup lama bagi Manisha yang baru saja menyadari jika dirinya gila. Dia baru saja mengumpati dosen pembimbingnya secara langsung. Dua detik. Tiga detik. Manisha masih membeku di tempatnya. Matanya membulat. Begitu juga dengan debaran jantungnya yang nyaris berhenti. Astaga. Ia bisa melihat mahasiswa lain yang sedang mengantre bimbingan ikut mematung tak percaya. Mampus. Mampus. Manisha merasa nyawanya seakan dicabut dari raganya. Namun anehnya, dosennya, Senna Praba Yudhistira tidak marah. Pria itu justru menyandarkan tubuhnya pada kursi. Tatapan hitamnya memandang Manisha dengan tenang. "Kalau saya dajal, lalu Anda apa?" Manisha menggigit bibir. Bibirnya asal saja bunyi. "Korban." Beberapa mahasiswa yang mendengar hampir tersedak menahan tawa. Dan untuk pertama kalinya sejak mengenal pria itu, sudut bibir Senna terangkat tipis. Senyum? Dia tersenyum? Membuat seluruh isi ruangan terdiam. Karena selama ini, tak ada seorang pun yang pernah melihat dosennya itu tersenyum. "Keluar." ucap pria itu mendadak dengan ekspresinya yang kembali datar. "Hah?" Manisha mengerjab. "Keluar dari ruangan saya." Sedetik kemudian Manisha membelalak. "Pak, jangan putus bimbingan saya!" "Siapa bilang?" "Lah terus, Pak?" "Pergilah makan." "Hah?" "Sudah jam dua siang." Manisha menatap jam dinding. Dan benar saja. Ia bahkan belum makan sejak pagi. "Tapi revisinya?" "Bawa pulang." "Kok dibawa pulang, Pak?" mendadak otak Manisha nge-lag. "Kerjakan." Manisha menganga. Dosen ini benar-benar tidak punya prikemanusiaan, seenaknya sendiri dengan kata-katanya yang lurus saja seperti jalan tol. "Kenapa masih diam di sana? Mau saya tambah revisinya sampai bab tujuh?" ancam Senna, menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan yang kembali mengeras. "Eh? Enggak, Pak! Enggak! Saya permisi!" Dengan gerakan secepat kilat, Manisha menyambar tumpukan kertas seratus halaman yang sudah ternoda tinta merah itu, memasukkannya asal-asalan ke dalam tas toto (tote bag) kanvasnya, lalu berbalik dan setengah berlari keluar dari ruangan ber-AC tersebut. Begitu pintu jati kokoh itu tertutup di belakangnya, Manisha langsung bersandar ke dinding koridor Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Ia membuang napas berat yang sejak tadi tertahan di dadanya. Kakinya terasa lemas seperti jeli. Di koridor, mahasiswa lain yang sejak tadi mengantre bimbingan langsung menatapnya dengan pandangan antara takjub dan kasihan. "Gila, Sha... Kamu satu-satunya orang yang berani ngatain Pak Senna 'Dosen Dajal' di depan mukanya langsung dan masih keluar dalam keadaan hidup tanpa kurang satu apapun," bisik salah satu teman seangkatannya dengan mata membelalak. "Aku reflek! Udah ah, aku mau cari makan dulu sebelum mati beneran karena asam lambungku yang kumat." gerutu Manisha, berjalan cepat meninggalkan area gedung dekanat dengan langkah menghentak kesal. --- Manisha buru-buru menggeser layar ponselnya, menempelkan benda pipih itu ke telinga setelah menelan suapan terakhir tahu campur di mangkuknya. "Halo, assalamualaikum, Ma?" sapa Manisha, berusaha meredam sisa-sisa suaranya yang sempat serak akibat ketegangan di ruang dosen tadi. "Waalaikumussalam, Nduk. Kamu masih di kampus?" suara lembut Sekar, mamanya, terdengar begitu renyah dan penuh energi dari seberang telepon. "Jangan lupa ya, malam ini jam tujuh tepat. Kamu langsung datang ke restoran hotel yang ada di kawasan Ijen. Dresscode-nya rapi ya, Nduk." "Iya, Ma, Manisha ingat kok. Tapi tumben banget pakai makan malam formal begini? Ada acara apa toh?" Mendengar pertanyaan putrinya, Sekar terdengar terkekeh kecil, menyembunyikan nada gugup sekaligus bahagia yang membuncah. "Ada kejutan penting yang mau Mama bicarakan sama kamu. Nanti kamu juga bakal ketemu seseorang. Sudah ya, Mama mau lanjut ngecek adonan roti di dapur dulu. Jangan telat, Nduk!" Tut. Sambungan telepon terputus sepihak, meninggalkan Manisha yang melongo menatap layar ponselnya yang sudah sepenuhnya berganti layar. "Kenapa, Sha? Mama kamu?" tanya Rafi sambil menyedot es teh manisnya sampai berbunyi sret. Pria bertubuh jangkung itu adalah sahabat Manisha dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang kebetulan sedang menumpang nongkrong di kantin fakultas Hukum. "Iya. Tumben banget Mama ngajak makan malam di tempat formal di Ijen. Katanya ada kejutan," jawab Manisha, tangannya mengaduk es jeruk yang tinggal setengah. Astrit, sahabatnya yang satu lagi—si anak Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang sedari tadi sibuk memoles lip balm—langsung menegakkan tubuhnya. Matanya berbinar jenaka. "Wah, jangan-jangan... Tante Sekar mau ngenalin calon papa baru buat kamu, Sha? Kan toko roti Mega Bakery lagi maju-majunya, siapa tahu ada pengusaha kaya yang kecantol sama pesona Mama kamu!" "Ngaco kamu, Trit!" Manisha melempar gumpalan tisu bekas ke arah Astrit yang langsung ditepis gadis itu sambil tertawa. "Tapi... ya kalau benar juga enggak apa-apa sih. Mama udah menjanda sejak aku kelas 6 SD. Selama ini Mama cuma fokus ngurusin aku sama toko roti. Kalau Mama dapat pendamping yang baik dan bisa bikin Mama bahagia, aku pasti dukung seratus persen." "Nah, bener!" timpal Rafi mendukung. "Tapi yang paling penting sekarang, kamu harus bertahan hidup dulu dari amukan Pak Senna biar bisa datang ke makan malam itu dalam keadaan sehat walafiat." Mendengar nama keramat itu disebut, selera makan Manisha mendadak hilang tak berbekas. Ia melirik tas kanvasnya yang mengembung, berisi tumpukan draf skripsi seratus halaman yang kini lebih mirip seperti kertas untuk bungkus belanjaan saking banyaknya coretan tinta merah. "Sialan kamu, Raf. Jangan sebut nama Dajal itu lagi, asam lambung aku bisa kumat dua kali lipat!" umpat Manisha sambil meratapi nasibnya yang malang. ---

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
741.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.7M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
974.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
356.4K
bc

Not just, the Beta

read
347.0K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook