S E M B I L A N
Melissa masih disana. Terduduk lemas di salah satu kursi tunggu di depan ruang operasi. Menunggu dokter yang menangangi Nathan keluar dari ruangan itu. Mulut Melissa masih sama. Masih menyerukan doa-doa demi keselamatan Nathan.
Sampai dia mendengar suara pria itu lagi. Sebastian. Kini berdiri di depan Melissa. Mengulurkan satu botol air mineral untuk Melissa.
"Gue gak haus," ketus Melissa tanpa mendongak.
Sebastian menghela napas. Kini mengambil duduk di sebelah Melissa. Membuka tutup botol air mineral itu. Dan kembali mengulurkannya pada Melissa.
"Lo harus minum. Gak haus pun lo harus tetep minum. Gak ada aturannya orang boleh minum kalo udah haus." Melissa menoleh pada Sebastian. Menatapnya tajam.
"Ada. Di hidup gue ada aturannya. Diantaranya jangan ganggu orang yang lagi berdoa."
Melissa kini beringsut. Duduk menjauh dari Sebastian. Sebastian jelas tidak menyerah. Dia kini kembali mendekati Melissa. Lebih dari 2 jam Melissa tidak minum ataupun makan. Sebastian jelas saja takut jika Melissa dehidrasi.
"Pokoknya lo harus minum," seru Sebastian sambil menarik tubuh Melissa agar berdiri. "Lo mau minum sendiri dengan cara yang terhormat, atau dengan cara yang vulgar?" Sebastian bersiap meneguk air itu. Namun diraih oleh Melissa.
"Gue bisa minum sendiri," omel Melissa. Meneguk separuh isi botol air. Kemudian dengan kasar mendorong botol itu kembali pada Sebastian.
"Gue cuma gak mau kerepotan aja kalo harus ngurus 3 orang sakit," tutur Sebastian santai. Menutup kembali tutup botol air itu.
"Gak akan ada yang sakit kalo temen lo itu gak nabrak Nathan."
"Dia gak akan nabrak Nathan kalo aja tuh bocah denger suara klakson." Sebastian jelas tak mau kalah. Karena memang dia gak pernah kalah.
"Lagian lo berdua ngapain sih jam 2 pagi di jalanan sepi kayak gitu? Pacaran?" Sebastian mengerutkan kening. "Syuting film india?"
"Bukan urusan lo!!" hardik Melissa tajam.
"Ya emang bukan, tapi gara-gara syuting lo itu temen gue jadi nabrak Nathan. Dan keduanya sekarang sedang berperang melawan sesuatu yang mengerikan bernama maut." Sebastian tak kalah tajam menatap Melissa.
Melissa diam. Iya, sekarang baik Nathan maupun yang menabrak Nathan sedang berjuang melawan maut. Melissa kembali memeluk dirinya erat. Merutuki dirinya sendiri yang terlalu egois.
Terlalu takut akan kenangan masa lalunya. Hingga membuat seseorang terluka. Seseorang yang dengan sungguh-sungguh mengajak Melissa membangun masa depan bersama.
"Jangan nyalahin diri lo sendiri. Everything that happened, need to happen. Dan itu bukan salah kita. Tuhan tak pernah memberitahukan pada kita apa yang terjadi selanjutnya."
Kini Sebastian menyampirkan kemeja yang dipakainya pada tubuh Melissa.
Melissa menoleh. Kembali menatap tajam Sebastian.
"Jadi menurut lo ini salah Tuhan?"
"NO. Gue gak bilang gitu. Oh C'mon. Tuhan jelaslah satu-satunya yang paling sempurna di dunia dan akhirat. Jelas ini bukan salah Tuhan. Ini adalah salah satu dari rencana Tuhan. Untuk menunjukkan pada umatnya, apa sebenernya mau hati mereka. The heart wants what it wants," tutur Sebastian mantap.
Ya, dia pernah mendengar seseorang berujar demikian saat kematian Willow, adik perempuannya.
Melissa menghela napas. Menyandarkan kepalanya pada dinding di belakang punggungnya.
The heart wants what it wants? God, what the hell do you want, heart =? Melissa mengumpat dalam hati.
"Anyway, lo gak ada niatan buat ngabarin keluarga Nathan?" Sebastian mengingatkan.
AH SHITT. Melissa sungguh lupa untuk mengabari siapapun.
Buru-buru Melissa meraih ponselnya. Menekan nomor hp Lexa. Berniat menghubungi Lexa. Namun enggan.
Yakali ini malam pertama Lexa.
Julia Grass? Wanita paruh baya itu pernah memberikan nomor hpnya pada Melissa.
Ah.. terus Melissa bilang apa ke wanita baik hati itu? Anaknya kecelakaan karena keegoisan Melissa?
"Kalo memang menurut lo terasa berat mengatakan sebuah kejujuran, it's okay kalo lo mau bohong. Gue bukan cowok bermulut ember yang akan lemes," ujar Sebastian.
Bohong? Kepada wanita sebaik Julia? Oh C'mon Mel, lo pernah nyaris membunuh orang, bohong sedikit gak masalah kan?
Kemudian dengan pasti Melissa menekan icon telepon pada kontak Lexa. Iya lebih baik dia menghubungi Lexa. Masa bodo ini malam pertama.
--The Only Exception--
Rombongan keluarga panik itu datang satu jam setelah Melissa menelpon Lexa. Jangan ditanya bagaimana keadaan tiga orang yang seharusnya bisa tidur dengan nyenyak itu.
Julia yang ada di barisan terdepan, wajahnya sudah penuh air mata. Begitu juga Lexa. Meski Lexa tidak menangis meraung seperti Julia. Lexa merengkuh Julia. Tangannya mengusap pundak Julia. Menenangkan Julia.
Sementara Dylan. Dia dengan tatapan seperti saat Dylan menemui Melissa, mencari tau keberadaan Lexa saat Lexa menghilang dulu. Kayak zombie? Yak kurang lebih.
"Tantee.." suara Melissa bergetar. Tubuhnya bangkit. Mendekati Julia. Dan tanpa ada yang bisa menduga, jika gadis cantik itu merosot, bersimpuh di kaki Julia, "Maafin Melissa Tante. Ini salah Melissa. Tolong ampuni Melissa tante," Melissa berkata di sela tangisnya.
Jelas saja sikap Melissa ini membuat siapa saja yang berada di koridor itu menatap pada Melissa. Julia jelas saja langsung berlutut. Merengkuh Melissa. Meskipun air mata masih membanjiri pipinya. Julia dengan sayang menarik tubuh Melissa. Mengajak Melissa untuk berdiri.
"Hey, ini bukan salah kamu, Melissa. Bukan," ujar Julia. Memeluk tubuh Melissa. Seperti yang tadi dilakukan Lexa. Julia mengusap punggung Melissa,menenangkan Melissa.
Melissa melepas rengkuhan Julia. Giliran memeluk Lexa, sahabatnya yang ikut meneteskan air matanya.
"Gue bego Lexa, gue bego. Gue egois. Terlalu egois hingga Nathan menjadi seperti ini," Melissa meracau. "Gue gak pantes untuk hidup Lexa.”
“Ssstt... Mel, tenang,” ucap Lexa lembut.
“Gue udah ngecewain semuanya. Gue kehilangan Papa, kehilangan Lucas. Gue gak mau ngerasain kehilangan lagi."
"Sstt... Melissa, ini bukan salah lo. Okay?" Lexa melepas pelukan Melissa. Mengusap air mata di pipi Melissa. Juga membenarkan rambut Melissa yang berantakan, "Semua terjadi, memang karena harus terjadi. Bukan hanya untuk menguji kita. Tapi untuk meyakinkan kita. Bahwa badai gak berlangsung selamanya, Mel."
"Tapi gue...gue tadii--" Melissa kembali terisak. Bahkan Melissa kini lupa bagaimana wajah Nathan terakhir kali. Sebelum motor teman Sebastian menghantam Nathan.
"Gimana kata dokter?" Dylan menyela. Mendudukkan dirinya yang kelelahan di salah satu kursi tunggu.
"Dokter belum keluar dari ruang operasi. Operasinya masih berlangsung," sahut Sebastian. Membuat Dylan langsung saja menoleh ke arah sumber suara.
"Lo yang nyelakain adik gue?" tanya Dylan tajam.
"Bukan, salah satu temen balap gue. Dan dia sekarang juga sama seperti Nathan. Berperang melawan maut," tutur Sebastian. Ikut menatap tajam ke arah Dylan.
"Lo masih balapan? Gak puas lo bikin adik lo mati gara-gara lo ajak balapan? Lo sekarang mau bikin adik gue mati juga?" Dylan berujar dingin. Tanpa menatap Sebastian yang kini mengepalkan kedua tangan. Sebisa mungkin menahan amarahnya agar tidak meledak.
"Dylan." panggil Julia lemah. Kini ikut terduduk di samping Dylan, "Nathan akan baik-baik aja."
"Gue gak tau kalo yang ditabrak adalah adik lo, oke. Dan sekali lagi yang nabrak Nathan bukan gue, kalo lo mau nyalahin, salahin diri lo, kenapa sampe sekarang lo gak bisa jadi kakak yang becus. Gak bisa ngelindungi adiknya." Sebastian kini bangkit dari duduknya. Hendak melangkah menjauh.
"Gue emang gak bisa ngelindungi adik gue. Tapi gue gak pernah ngebunuh adik gue," desis Dylan marah.
"Gak pernah? Apa kabar Nathan waktu kelas 1 SMP lo pukulin sampe babak belur? Dia nyaris mati."
"Gu--"
"STOP!!" pekik Melissa. "Stop! Ini bukan salah kalian. Okay? Ini salah gue, jadi salahin aja gue, jangan saling menyalahkan sesuatu yang udah gak bisa diubah.”
“See? Gue masih ada disini. Gue yang salah, jadi kalo kalian mau menyalahkan, itu gue. Salahin gue," lanjutnya.
"Sstt.. Mel.." Lexa kembali menarik Melissa dalam rengkuhannya, "Kalian berdua, gak bisa kalian berdoa buat Nathan daripada saling menyalahkan masa lalu kalian?"
"Lexa bener. Yang Nathan butuhkan adalah doa. Bukan pertengkaran gak berguna kalian," Julia menengahi. Menatap satu persatu manusia di depannya. Dylan, Sebastian, Lexa dan Melissa.
Bersamaan itu, beberapa dokter keluar dari ruang operasi tempat Nathan di rawat. Langsung saja Julia dan Dylan berhamburan berdiri. Mendekati dokter itu.
"Keluarga pasien Nathan?" seru dokter itu.
"Kami, Dok. Saya Mamanya."
"Okey, mari ikut ke ruangan saya," titah dokter tua itu.
Julia dan Dylan langsung saja mengikuti dokter. Tak lupa Dylan merengkuh Lexa sejenak.
"He's gonna be fine," kata Dylan menanangkan istrinya.
"Mel, kita beli sesuatu untuk dimakan dulu yuk." ajak Lexa pada Melissa.
"Gue mau nemuin Nathan, Lexa."
"Tapi dokter belum ngijinin kit--" Terlambat. Melissa sudah meraih gagang pintu ruang itu. Memasukinya, "Argghh.." geram Lexa.
"Dia panik dari tadi," celetuk Sebastian. Lexa menoleh.
"I know. Kejadian ini pernah kami alami sebelumnya. Lebih buruk," Lexa berkata pelan.
"Me too."
"I'm sorry about your sister." Setelahnya Lexa melangkah. Menyusul Melissa tanpa menunggu jawaban Sebastian.
--The Only Exception--
Melissa terduduk di kursi sebelah brankar Nathan. Menatap pria tampan itu sendu. Melihat bagaimana keseluruhan tubuhnya dipenuhi alat kesehatan.
Ada beberapa selang yang membelenggu Nathan. Juga perban yang melingkar pada kepala Nathan.
Pria tampan itu masih memejamkan kedua matanya. Tertidur dengan damai.
Seolah melupakan penolakan kejam dari Melissa beberapa jam yang lalu. Tangis Melissa kembali pecah. Bukan menangis meraung. Tapi hanya terisak.
"Apa ini maksud kamu? Berjuang demi aku, dengan berdarah-darah beneran seperti ini? Emang kamu gak ada cara lain?" ucap Melissa disela isaknya. Pandangannya semakin buram tertutup air matanya.
Melissa meraih tangan Nathan. Menggenggamnya. Kemudian Melissa menyandarkan kepalanya pada tangan Nathan. Tangan yang masih sama hangatnya seperti saat Nathan mengusap tangan Melissa beberapa jam yang lalu.
Melissa menenggelamkan wajahnya pada telapak tangan Nathan. Menumpahkan tangisnya disana. Berharap isakkannya cukup keras untuk membuat Nathan bangun.
"Mel.." panggil Lexa. Ikut berlinang air matanya melihat Melissa.
"Gue gak mau merasakan kehilangan lagi, Lexa. Gue udah kehilangan Papa dan Lucas. Gue gak mau kembali merasakan sakit itu," kata Melissa masih membenamkan wajahnya pada tangan Nathan.
"Kita gak akan kehilangan Nathan oke. Kita pernah ngalamin ini sebelumnya saat Lucas meninggalkan kita. Dan Tuhan gak akan sejahat itu dengan mengambil Nathan juga, Mel."
Melissa. Percayalah. Tuhan gak akan mengambil apapun lagi dari hidup lo. Karena Tuhan itu baik, dan kini aku sedang berusaha membujuk Tuhan agar aku bisa kembali bersamamu. Kembali berjuang untuk memiliki kamu, Melissa Benoist.
Because,
There's a million reasons why I should give you up. But the heart wants what it wants.
So does my heart.
Hatiku sudah jelas tau kemana seharusnya pulang.
Hanya saja, aku belum bisa pulang sekarang. Ada sesuatu yang ingin aku saksikan saat kedua mataku terpejam.
Tentang bagaimana dan sejauh mana kamu akan berjuang untukku? Untuk bahagia kita.
--The Only Exception--