Tiga Belas

1349 Words
T I G A B E L A S "Tapi itu gak mungkin kan?" Sebastian tersenyum getir. "Karena Tuhan juga maha adil. Jadi Tuhan gak mungkin mempersiapkan satu orang buat dua." "Sorry," lirih Melissa. Menundukkan kepalanya, "Sorry karena hati gue udah terlanjur memilih rumah." "Gue tau. Dan jelas gue bukan rumah yang lo impikan, kan Mel?" "Tapi tolong lo jangan benci sama gue ya?" kata Melissa memberanikan diri menatap Sebastian yang kini sedang terkekeh. "Gue gak akan benci sama lo. Seperti wajah gue yang selalu ngingetin lo, sama seseorang di masa lalu lo. Wajah lo juga selalu ngingetin gue sama seseorang di masa lalu gue." Tangan Sebastian terulur memegang kedua bahu Melissa. Melissa menatap heran Sebastian. "Gue denger pembicaraan lo dan Mama lo waktu itu di kolam." Sebastian seakan mengerti ekspresi terkejut Melissa. "Wajah lo ngingetin gue sama seseorang yang selalu gue sayang, Mel,” kata Sebastian lagi. "Cinta pertama lo?" "Cinta pertama gue? Apa gue terlihat kayak cowok yang punya bakat gagal move on?" Sebastian terkekeh pelan. Menarik kedua tangannya dari bahu Melissa. "Terus?" "Wajah lo ngingetin gue sama Willow Smith. Adik perempuan gue. Adik manis yang selalu gue sayang." Sebastian kembali mendongak, "Yaudah, kalo gitu gue duluan ya. Gue gak marah sama lo, Mel. Gue gak akan marah, benci, atau bahkan mencelakai lo." “Thanks.” Melissa mengulas senyum tipis. “Lo jaga diri baik-baik ya? Oh ya, hati-hati sama Natalie. Dia masihlah wanita ular kayak dulu. Dia.. semoga dia gak akan melukai lo, karena wajah lo yang mirip sama Willow.” “Maksud lo?” “Gue denger dari temen gue, yang juga temen Natalie. Bahwa setelah kematian Willow, Natalie mulai mencari teman berkencan yang memiliki wajah yang mirip Willow.” DEG. APA-APAAN INI? “Lo tau kan, kebanyakan kaum pecinta sesama jenis seperti apa? Jika mereka gak mendapatkan apa yang mereka mau, maka mereka akan melenyapkannya. Agar gak ada yang memiliki apa yang mereka mau. Dan gue udah tau pasti kalau Natalie tertarik sama lo,” tutur Sebastian. Sukses membuat Melissa bergidik ngeri. “Gue akan baik-baik aja kok. Don’t worry,” kata Melissa mengulas senyum menenangkan. “Sorry, udah ganggu waktu lo hari ini.” Sebastian mulai beranjak dari duduknya, “Semoga Nathan lekas bangun dari koma, dan melihat betapa lo sangat menyayanginya.” Melissa mengangguk singkat. Ikut beranjak dari kursi. Mengulurkan tangannya pada Sebastian. “Lo jaga diri baik-baik ya?” “I will.” Sebastian menjabat tangan Melissa, “See you in the funny papers.” “There’s no funny papers, Sebastian.” Melissa melepas jabatan tangannya. “I know.” --The Only Exception-- Flashback ~ Few weeks ago. “Iya, gue lagi jenguk Nathan. What? Jadi Max, pacarnya Sebastian meninggal?” seru Natalie tidak percaya. Namun senyum tipis itu jelas menghiasi wajah cantiknya, “Iya, gue tau. Setelah ngebunuh adiknya, Sebastian ngebunuh Max? Poor Willow punya kakak pembunuh kayak Sebastian.” Natalie lalu memutuskan sambungan telponnya. Memasukkan benda tipis itu pada clutch-nya. Saat berbalik. Dia mendapati Melissa yang berjalan ke arahnya. “Hai, lo Melissa kan?” tanya Natalie. Mengulurkan satu tangannya pada Melissa. Melissa ragu sejenak. Ini kan gadis pirang itu. Dia menjenguk Nathan lagi? Batin Melissa kembali merasakan percikan api cemburu. “Hai,” kata Melissa akhirnya, membalas jabatan tangan Natalaie. “Lo siapa?” “Gue Natalie. Natalie Hoult. Temen Nathan sejak kita masih kecil.” Natalie melepas jabatan tangannya. Mengulas senyum cantik pada Melissa. Melissa membalas senyum Natalie dengan susah payah. Ah jadi gadis ini sudah tau Nathan dari dulu? “Nice to meet you,” kata Melissa mencoba ramah. “Nice to meet you, too Melissa. Gue duluan ya.” Natalie pamit. Tanpa menunggu jawaban Melissa, dia melangkah. --The Only Exception-- Melissa masih memikirkan perkataan Sebastian tentang Natalie pagi tadi. Benar-benar membuatnya dihantui rasa takut. Membayangkan jika dia harus bersanding dengan Natalie. Atau harus dilenyapkan oleh Natalie. Melissa mengacak rambutnya frustasi. Menatap deretan mobil di sebuah bengkel mobil. Pandangannya kembali terfokus pada ban mobilnya yang kempes dan masih belum disentuh oleh montir, karena bengkel sedang ramai. “Melissa?” seru sebuah suara merdu. Juga tangan yang menepuk bahunya pelan. Membuat Melissa mendongak. Angelina. Mengulas senyum lega saat orang yang dia panggil memang benar Melissa. “Kak Angel? Kok, kak Angel disini?” “Nganter Mas Leo servis mobil Mama. Kamu?” “Ban mobilku kempes,” kata Melissa mengeluarkan cengiran. “Padahal Melissa harus ambil modul di rumah.” “Mau kami antar?” kini Leo yang bersuara. “Ya, kita antar aja, yuk?” entah itu ajakan atau paksaan. Tapi Angel sudah menarik lengan Melissa. Menggiring Melissa menuju mobil Leo. --The Only Exception-- “Kita tunggu aja kali ya, gak apa kan, Angel?” kata Leo pada Angel saat mobilnya berhenti di depan rumah Melissa. “Gak usah Kak. Nanti Melissa bisa naik taksi,” tolak Melissa. Mulai menuruni mobil Leo. “Kita tunggu Melissa. Ambil modul doang kan?” Melissa mengangguk. Menuruti saja apa mau Angel. Dia sekarang mulai melangkah memasuki rumahnya. Langsung berjalan menuju kamarnya, mengambil modul yang dia maksud. Got you!! Melissa mengulas senyum puas setelah menemukan modul itu. Lalu Melissa menutup kembali pintu kamarnya. Menguncinya. Namun saat Melissa membalikkan badan. Seseorang mendorong tubuh Melissa. Memojokkan tubuh Melissa pada dinding. "Natalie?" tanya Melissa heran. Sedangkan Natalie tersenyum picik. Mencengkeram kerah kemeja Melissa. “Hallo, Melissa. Kita ketemu lagi,” kata Natalie datar, namun terdengar mengerikan di telinga Melissa. “Lepasin gue!!” Melissa berseru. Memberontak. “Gue akan lepasin lo. Dengan penawaran. Lo ninggalin Nathan dan jadi milik gue. Atau lo ninggalin dunia ini,” desis Natalie dengan senyum menyeringai. “Lepasin gue b******k!!” Melissa mendorong tubuh Natalie kuat hingga Natalie tersungkur. Buru-buru Melissa melangkah menjauh. Namun tangan Natalie dengan cekatan menarik kaki kiri Melissa. Hingga membuat Melissa ikut tersungkur di lantai. Dengan cepat Natalie bangkit. Kini duduk di atas kaki Melissa. Satu tangannya mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. NO. Itu pisau. Melissa membelalak. Kembali meronta sekuat tenaga. “Ternyata bener kata Nathan. Lo emang keras kepala dan berhati beku. But it’s okay. I like the frozen heart who has pretty face like yours.” Natalie mengerahkan benda tajam itu pada pipi Melissa, “Be mine, Melissa.” “IN YOUR f*****g DREAM!! Sampai matipun gue gak akan mau berurusan sama lo!!” tantang Melissa. Api amarah langsung tersulut dalam diri Natalie. Dia benci penolakan. Sungguh. “Kalau gitu lo harus mati. Nathan gak boleh memiliki apa yang gak bisa gue miliki!!” “Ya, lebih baik gue mati daripada berurusan sama wanita ular kayak lo!!” desis Melissa. Natalie menyipitkan matanya. Benar-benar sudah erbakar emosi. "Trust me, after you die. I wont stop. I'll make people you know and love die too." Natalie menyeringai jahat. Membuat Melissa kembali teringat pada Nathan. Nath..gak bisakah kamu bangun dan menolongku saat ini? Tanpa sadar air mata Melissa luruh. Mengalir begitu saja. Melissa memejamkan matanya saat Natalie dengan marah menggoreskan luka pada pipi kanan Melissa. Perih. Itu yang dirasakan Melissa. Terlebih kini pisau itu berada tepat pada leher Melissa. Natalie menekan pisau itu pada leher Melissa. Dan Melissa merasakan itu. Ada sesuatu yang mulai mengalir. Darah. Nath..kalo memang hari ini akhirku. Aku harap kamu mendengar setiap kata maaf yang selalu terselip dalam doa-doaku untukmu selama kamu memejamkan mata. Aku harap, jika kamu bangun nanti, Tuhan akan dengan baik hati memberimu pasangan yang tidak akan membiarkanmu berjuang berdarah-darah seperti yang harus kamu lakukan demi aku. Aku harap, jika kamu bangun nanti, Tuhan akan membuatmu lupa akanku. Akan luka yang senantiasa kuberikan padamu. Akan segala kebekuan yang selalu menepis hangatmu. Jika kamu bangun nanti, aku harap hanya akan ada bahagia di sisa waktumu. Akan ada wanita yang senantiasa menyambut hangatmu, tanpa ada kebekuan lagi. Nath, jika kamu bangun nanti, jangan pernah kembali mengingatku. Jangan pernah mengingat Melissa Benoist. Aku mencintaimu, Nathan Grass. Tapi kamu tidak perlu mengetahuinya jika kamu bangun nanti. "Cry, Melissa Cry. Nobody's gonna help you," ucap Natalie dingin. Terkesan mengejek. "WE WILL!!" Seru sebuah suara perempuan. Natalie menoleh. Bersamaan dengan itu, ada tinju melayang cukup keras pada wajah Natalie. Dan langsung saja Natalie tersungkur. --The Only Exception--
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD