Empat Belas

1328 Words
E M P A T B E L A S “Thanks, Kak Angel,” kata Melissa setelah meneguk habis satu gelas air putih yang diberikan Angel. Angel mengangguk. Menatap Melissa khawatir, “Biar kak Angel obati luka kamu, ya?” tawar Angel. Melissa hanya mengangguk. Membiarkan Angel mulai membersihkan luka di leher dan pipi Melissa. Melissa diam. Masih menatap Natalie yang kini pingsan. Dengan Leo yang mulai mengikat kedua tangan Natalie. Dia sungguh beruntung, Angel dan Leo tadi bersikeras menunggunya. Juga menyelamatkan nyawanya beberapa menit yang lalu dari terkaman Natalie. Sementara Angel berusaha sepelan mungkin mengobati luka Melissa. Matanya tak henti menatap Melissa dan luka Melissa bergantian. Angel tahu, Melissa pasti sangat syok. Bahkan terguncang dengan apa yang dilakukan Natalie. “Lebih baik?” kata Angel setelah selesai mengobati luka Melissa. Melissa mengangguk. --The Only Exception-- Melissa mengurai rengkuhan Lexa. Memandang Lexa dengan tatapan menenangkan. "Gue udah gak apa, Lexa. Untung aja kak Angel dan kak Leo datang di saat yang tepat." "Gak tepat, kalo tepat, kamu gak akan dapet luka itu," sela Angel. "Maafkan kami, ya?" "Ini bukan salah kalian, Kak. Aku berterima kasih banget sama kalian berdua. Pantes aja Lexa dulu selalu membanggakan kalian, menyebut kalian manusia dengan hati malaikat." Melissa mengurai senyum. "Trus Lexa menyebut gue sebagai apa?" seru sebuah suara di ambang pintu. Dylan. Lexa langsung saja berdiri, berhamburan memeluk Dylan. Dylan jelas saja langsung membalas pelukan Lexa. Menggiring istrinya itu untuk memasuki ruangan. "Hai bro," sapa Leo menepuk bahu Dylan. "Gimana meetingnya?" "Lancar, as always." Dylan mengambil duduk di sofa. "Mama dimana?" "Mama lagi bicara sama dokter," jawab Lexa. "Ada masalah?" "Gak ada. Dokter menyarankan untuk melakukan beberapa tindakan operasi pada Nathan. Bagian tangan," Lexa kembali menjawab. Kini ikut duduk di sebelah Dylan. "Kenapa sama tangan Nathan?" Melissa bertanya. Ah iya. Melissa gak tau dong. "He's gonna be fine, Mel," seru Julia di ambang pintu. Dengan senyum menanangkan. --The Only Exception-- Setelah nyaris menjadi santapan Natalie sore itu, Julia memaksa Melissa untuk tinggal di rumahnya. Melissa jelas saja menolak. Namun bukan hanya Julia, Lexa pun ikut memaksa Melissa. Akhirnya Melissa menuruti permintaan Julia dan Lexa untuk tinggal di rumah Julia. Lagian Melissa hanya akan di rumah itu untuk mandi dan bersiap mengajar. Dia tetap menghabiskan sisa harinya dengan menunggui Nathan. Berdoa agar pria tampan itu segera bangun. Seperti siang ini, sepulang dari kampus. Melissa memasuki ruang perawatan Nathan. Entah ini untuk yang keberapa. Jelasnya ini sudah hari ke 29 sejak Nathan memejamkan mata dan tak kunjung bangun. Di dalam ruangan ada Lexa yang kini tertidur dalam dekapan Dylan. Sementara sang suami tampan sedang mengamati layar ponselnya. Kemudian menoleh pada pintu yang terbuka dan ditutup oleh Melissa. "Hai.." sapa Melissa pelan. Dylan hanya mengangguk. "Kenapa Lexa?" "Dia abis muntah," kata Dylan lirih. Langsung saja membuat Melissa memasang tampang panik. "Muntah kenapa? Salah makan?" Melissa mengambil duduk di tempat biasa. Di kursi sebelah ranjang Nathan. Dan langsung menggenggam tangan Nathan. "Dia bahkan gak mau makan sejak tadi. Nungguin lo. Katanya dia nitip makanan kesukaannya sama lo." "NITIP?" pekik Melissa pelan. Langsung saja mencari keberadaan ponselnya di dalam tas. Melihat beberapa pesan masuk di sana. Benar aja. Ada pesan dari Lexa. Mel, beliin gue siomay depan kampus ya. Melissa menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian mengeluarkan cengiran. Untuk pertama kalinya Dylan melihat cengiran itu. "Gue gak buka hp dari tadi. Soalnya di kampus ada acara. Jadi.." "Lo gak beliin dia siomay nya?" "Iya... apa gue beliin sekarang?" Melissa buru-buru memasukkan kembali ponselnya. "Eh gak usah, biar gue nitip Angel sama Leo aja. Mereka mau kesini." "Okey.." Melissa kembali membalikkan badannya. Menghadap Nathan yang masih betah memejamkan mata. "Dia pasti bangun kok, Mel. Papanya Lexa, 2 tahun memejamkan mata, akhirnya bangun. Sehat dan kembali bisa membangun kehidupannya lagi," seru Dylan pelan. "Apa gue bisa kayak Lexa?" gumam Melissa. Masih menggenggam tangan Nathan. "Gue tanya sama lo, gimana sebenernya perasaan lo pada Nathan?" Dylan kembali bertanya. Melissa langsung membalikkan badan. Menatap Dylan dengan bingung. "Sorry, kalo misal perasaan lo ke dia, cuma sekedar rasa kasihan atau merasa bersalah. Mending lo coba buka hati lo buat pria lain. Agar saat dia bangun, lo gak bimbang,” lanjut Dylan.“Lo udah punya tujuan pasti.” Melissa masih diam. Mendengarkan. “Tapi kalo perasaan lo lebih dari itu. Mungkin lo udah mulai memiliki perasaan hangat itu di hati lo. Perasaan seperti cinta. Then, help him. Guide him walk through the dark." "You think I can?" "Sure. Because, somehow he's still there. Dia masih hidup. Mungkin doa-doa dari lo menjadi penerang di dalam kegelapannya. Dan bisa aja, ungkapan perasaan lo bisa jadi petunjuk jalan buat Nathan pulang." Melissa diam. Bisakah seperti itu? Gue ngungkapin isi hati gue sama Nathan dan Nathan akan pulan ? "Gue, Lexa, Mama... Kami gak cukup pantas untuk menjadi alasan Nathan bangun." Bersamaan dengan Dylan yang mengakhiri ucapannya. Pintu ruangan Nathan kembali terbuka. Leo dan Angel yang datang. Dengan kresek di tangan Angel. "Gue curiga, jangan-jangan Lexa hamil," seru Leo lumayan keras. Dan langsung saja membuat Lexa, yang namanya barusan disebut bangun. Ah, tapi ternyata bukan karena Leo alasan Lexa bangun. Karena aroma siomay yang dibawa Angel. "Hmm... aroma yang gue rindukan setengah mati," gumam Lexa. Berjalan mendekati bukan Angel. Tapi keresek yang dibawa Angel, "Thank you kak Angel." Cup.. Lexa mengecup pipi Angel. "Kamu bangun bukannya doa dulu, malah langsung nyium istri orang," gerutu Leo. "Dylan.." panggil Lexa manja, mengabaikan protes Leo. "Apaa?" Dylan berkata lembut. "Kamu yang makan ya?" kata Lexa mengambil piring di rak. Menuangkan siomay porsi jumbo itu pada piring. "Whaatt " Dylan langsung saja bangkit. Mendekati Lexa, "Kan kamu yang pingin." "Iya emang aku yang pingin, tapi kan aku gak bilang aku lagi pingin makan siomay. Aku bilangnya tadi pingin siomay depan kampus gitu. Dan kamu yang makan," kata Lexa tanpa dosa. Menyuapkan siomay pada Dylan. Melissa, Leo dan Angel langsung tertawa. "Fix, Lexa kayaknya hamil deh, Dylan." Angel langsung saja mengambil duduk di sofa. "Anak gue bakalan punya temen deh." Leo mengelus perut Angel. "Moga aja lo beneran hamil ya Lexa," ujar Melissa tulus. "Gue belum telat kok." Lexa masih menyuapi Dylan. "Kak Angel dulu juga belum telat, trus test dan hamil." "Taruh siomay-nya. Ayo kita periksa." Dylan menarik tangan Lexa. "Le, meetingnya lo handle ya. Gue meriksain nyonya gue dulu." Dylan lantas menggandeng Lexa keluar ruangan. --The Only Exception-- Melissa kini sendiri di ruang rawat Nathan. Angel dan Leo sudah pulang sepuluh menit yang lalu. Sementara Dylan dan Lexa belum kembali dari periksa. "Kamu kapan bangun sih Nath? Masak iya aku harus nunggu sampai 2 tahun kayak Lexa nunggu Papanya? Kalo aku keburu tua dan gak cantik lagi gimana?" kata Melissa. Pelan namun terdengar jelas karena ruangan yang hening. "By the way, tadi di kampus ada acara musik. Dan ada satu mahasiswa, Greyson, dia nyanyi sebuah lagu. Kamu mau denger lagunya?" Melissa mengambil ponsel dan headshetnya di dalam tas. Memakaikan satu headshetnya pada telinga Nathan. Dan satunya pada telinga Melissa. Bibir mungil Melissa mulai bersenandung. Mengikuti suara dan irama pada musik yang sedang dia mainkan. My heart beats a little bit slower. These nights are a little bit colder. Now that you’re gone. My skies seem a little bit darker. Sweet dreams come a little bit harder. I hate when you’re gone. Take me away to where you are. I wanna be holding your hand in the sand by the tire swing. Feels so far away when you cry, ‘cause home is in your eyes. Bangun Nath..Karena rumahku ada di mata kamu. Aku seperti terlonta-lonta karena selama ini tak melihat rumahku. Aku tak tau kemana harus pulang karena selama ini kamu menutup mata. Jangan seperti ini terus. Nath. Aku mulai takut. Aku mulai takut jika Tuhan di atas sana menyiapkan orang yang lebih baik dariku saat kamu bangun nanti. Melissa terisak. Menundukkan kepalanya. Bahkan saat lagu itu sudah berakhir, Melissa masih menangis disana. Di telapak tangan Nathan. "I love you, Nathan Grass. I love you so much," ujar Melissa lirih di sela tangisnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD