T U J U H B E L A S
"CUKUP KEIRA!!!" Mercell kembali membentak istrinya. Satu tangan Marcel nyaris saja melayang ke udara jika putra kecilnya tidak menahannya. Marcell kembali menoleh ke samping. Pada putra kecil kesayangannya. Lucas.
"Kalo karena Lucas gak mau jadi model seperti yang Mama inginkan, dan Mama menganggap Lucas anak durhaka. Oke, Lucas akan pergi Ma," kata Lucas pelan. Kembali meraih ransel maroon-nya yang tadi dia lempar ke sembarang arah saat dia buru-buru masuk ke dalam rumah karena mendengar orang tuanya bertengkar.
"GAK. Lucas, kamu akan tetap disini. Kita keluarga Lucas. Kamu anak papa dan mama." Marcell merengkuh putranya.
"Biarin dia pergi," desis Keira marah. "Kalau dia mau pergi, biarkan saja, Marcell. Dia lebih memilih meninggalkan mamanya daripada menuruti keinginan Mamanya," lanjut Keira.
Kini dia menatap Melissa, putri sulungnya yang sedari tadi diam. Dengan tangan gemetaran.
"Melissa saja sudah cukup. Aku gak butuh anak yang gak mau nurut sama orang tua."
"KEIRA!!" Kini Marcel melepas rengkuhannya pada Lucas. Berjalan mendekat dan mencengkeram lengan Keira marah.
"Papa," seru Melissa masih gemetaran. "Jangan sakiti Mama.." Kini tangis Melissa pecah begitu saja. Mercell baru akan merengkuh Melissa, namun Keira menepis tangan Marcell.
"Lucas anak kamu juga, Keira. Dia juga lahir dari rahim kamu. Kenapa kamu begitu memaksakan segala keinginan kamu sama dia?" Marcell menunjuk Lucas yang masih berdiri di belakangnya. Dengan ransel sudah di punggungnya.
"Dia memang anakku. Tapi sekarang udah bukan. Karena dia gak mau nurut sama aku, Marcell." Keira menatap marah pada Lucas.
"Okey," kata Lucas akhirnya. Mencoba menahan segala emosinya yang sedang berkecamuk di dadanya. "Terima kasih Mama udah melahirkan Lucas. Mama harus tau bahwa Mama tetaplah mama Lucas. Terserah Mama mau nganggep Lucas apa. Anak durhaka atau apapun karena Lucas lebih milih pertandingan basket daripada jadi model agensi Mama," kata Lucas. Menahan segara emosinya.
Lucas kemudian membalikkan badannya. Dengan mantap melangkah meninggalkan ruang keluarga di rumah mewahnya.
"Kamu keterlaluan, Keira," desis Marcell marah. Air matanya luruh. Menatap punggung putra bungsunya yang semakin menjauh, "Aku akan mencari pengacara dan mengurus perceraian kita," lanjut Marcell tanpa menatap Keira.
Menyembunyikan air matanya dari Keira. Marcell ikut melangkah. Menyusul Lucas.
Meninggalkan Keira yang marah. Juga Melissa yang kini terisak. Melihat bagaimana papa yang selalu tegar meskipun perusahaannya direnggut oleh teman baiknya. Namun hari ini, menangis karena wanita tercintanya secara tidak langsung tapi kejam, mengusir anaknya. Adik Melissa. Adik kandung Melissa.
Seorang pria muda berusia 13 tahun, yang dianggap durhaka oleh mamanya sendiri, hanya karena tidak mau menjadi model untuk agensi mamanya. Dan malah memilih pertandingan basket antar SMPnya.
Dan Melissa. Tidak bisa berbuat apapun untuk mencegah adiknya itu pergi. Untuk mencegah papanya menangis. Untuk mencegah perceraian kedua orang tuanya.
Tidak ada yang bisa Melissa lakukan.
Kecuali mencegah hatinya untuk berteman dengan cinta. Ya.. Melissa tidak akan berteman dengan cinta. Tidak akan pernah.
--The Only Exception--
Melissa merasakan pipinya dibelai lembut oleh seseorang. Lebih ke--ada seseorang yang dengan lembut menghapus air matanya.
Nathan. Masih berbaring di samping Melissa. Dengan satu tangan sebagai bantal Melissa. Melissa menoleh pada Nathan yang sudah lebih dulu menatapnya. Dengan pandangan sendu.
"Kalo memang kenangan itu terlalu buruk. Jangan dikenang. Tapi juga jangan dilupakan. Berdamailah sama kenangan itu," kata Nathan bijak.
Melissa mengangguk. Dia sudah menyelesaikan lagunya oh atau ceritanya dalam bentuk lagu. Lalu kenangan akan sore itu muncul begitu saja. Saat Melissa masih 14 tahun. Yah, hampir sepuluh tahun yang lalu.
Melissa untuk pertama kalinya melihat seorang pria menangis. Meninggalkan seseorang yang sangat dicintainya demi seseorang lain, buah cintanya.
Membangun kembali harapan akan keluarga yang utuh dan bahagia bersama putra bungsunya. Menyederhanakan arti bahagia itu. Meski tanpa keluarga yang utuh.
"Kamu boleh membagi segala kenangan kamu sama aku, Mel. Entah itu baik ataupun buruk," kata Nathan lagi.
Ah ya, Melissa belum menceritakan ini pada siapapun. Termasuk Lexa. Tapi Lexa sudah tau hal ini dari Lucas.
"Kamu gak keberatan?"
"Tentu aja aku gak keberatan Mel." Nathan mengulas senyum, "Dalam hal saling memiliki, kita juga harus saling berbagi. Saling melengkapi. Saling menyeimbangkan. Inget kata Lexa?" Melissa terdiam. Kemudian ikut tersenyum.
"Kamu sembuh dulu. Aku pasti akan cerita. Sekarang kamu tidur. Okey. Aku juga mau tidur." Melissa bergerak menuruni ranjang. Namun kembali tertahan oleh tangan Nathan yang menarik lengannya.
“Tidur sini aja, ya?" pinta Nathan.
"Tapi nanti kalo Mama kamu masuk gimana?"
"Biarin aja. Kita cuma tidur Mel." Nathan kembali menarik Melissa dalam rengkuhannya.
"Okey," Melissa berpasrah saja.
"Kamu mau tau satu hal?" tanya Nathan. Matanya sudah terpejam. Nathan bisa merasakan jika Melissa mengangguk. "Besok aku ulang tahun."
--The Only Exception--
Melissa terbangun karena haus melandanya. Dia masih berbaring di samping Nathan. Masih dengan satu tangan Nathan menjadi bantalnya.
Melissa beranjak duduk. Mengerjapkan matanya beberapa kali. Melirik jam di dinding. Masih pukul 11 malam. Melissa bergerak turun dari atas ranjang dengan pelan-pelan. Berhasil.
Namun saat Melissa hendak melangkah mengambil air di atas meja. Melissa terkejut melihat Julia terduduk di sofa. Dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"Tante!!" Melissa memekik pelan. "Ma..maafin Melissa Tante," kata Melissa merasa malu sekali. Dia menunduk. Mengurungkan niatnya mengambil air.
Julia masih tersenyum. Kini dia bangkit dari duduknya. Berjalan mendekat pada Melissa. Merengkuh Melissa dan terkekeh pelan.
"Gak apa Melissa. Gak usah merasa sungkan," kata Julia pelan. Menggiring Melissa untuk duduk di sofa bersamanya. "Sama seperti saat Tante pertama bertemu dengan Lexa, kamu udah Tante anggap seperti anak Tante sendiri." Kini Julia mengulurkan segelas air pada Melissa.
"Makasih Tante," ucap Melissa tulus. Menerima gelas berisi air yang sudah dia nantikan. Meneguknya pelan untuk membasahi kerongkongannya yang mengering. "Tante udah dari tadi ya?" Kini Melissa memberanikan diri menatap Julia. Julia mengangguk sekilas. Meraih gelas di tangan Melissa. Menaruhnya kembali di atas nakas.
"Kok tante gak bangunin Melissa aja sih?" Julia kembali tersenyum.
"Kamu butuh tidur Mel. Dan Nathan butuh kamu di sampingnya. Setelah penantian panjang kamu yang jelas mengikis waktu tidur kamu, kamu benar-benar butuh tidur nyaman, Melissa."
"Tapi Melissa kan jadi gak enak sama tant,." Jujur Melissa memang tidak enak.
"Tante juga pernah muda, Melissa. Kamu udah makan? Tadi tante beli makan malam buat kamu.”
“Kamu makan dulu ya?" Julia meraih kotak makan di atas nakas. Memberikannya pada Melissa.
"Makasih Tante." Melissa menerimanya.
"Tante yang berterima kasih sama kamu. Kamu udah mau membuka hati kamu untuk Nathan. Memberikan dia kesempatan untuk bersama kamu. Tante gak akan bilang kalo Nathan adalah pria yang baik, dia gak akan melukai kamu dan lainnya. Karena tante sendiri kurang tau, anak-anak tante seperti apa sebenernya. Tante bukan Mama yang baik. Yang mencurahkan 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu untuk keluarga tante." Julia menghela napas. Menyesal.
"Tapi Tante tau satu hal tentang anak-anak tante. Jika mereka sudah mengatakan akan berjuang, berjanji untuk terus bersama, maka mereka akan menepatinya," lanjut Julia sungguh-sungguh. "Dan jika mereka sudah merelakan. Maka mereka akan merelakan."
Melissa mengalihkan pandangannya pada Nathan yang masih tertidur pulas. Hatinya terenyuh mendengar penuturan Julia.
Ya Nathan memang begitu. Dylan juga begitu kan dulu?
"Tante, apa yang terjadi jika mereka merelakan?" Melissa menoleh pada Julia.
"Mereka akan berhenti. Mengubur dalam-dalam segala perasaan mereka. And they act like they never had that feeling. They'll forget about everything they feel to that person."
Satu yang jelas saat ini adalah Melissa tidak mau jika Nathan merelakannya.
Melissa tidak ingin Nathan mengubur perasaannya untuk Melissa. Melissa tidak mau Nathan melupakannya. Melissa tidak mau.
"Seperti Dylan dan Angelina," seru Julia lagi. Membuat dahi Melissa berkerut, tidak percaya. "Seperti Nathan dan Lexa," lanjutnya. Hati Melissa bagai mencelos begitu saja mendengar kalimat yang terakhir.
"Nathan dan Lexa?"
"Ya. Tante tau ini bagian dari masa lalu. Oh Nathan gak cerita soal ini ke Tante, tapi Tante tau. Dan Tante rasa, entah untuk alasan apa, kamu juga harus tau, Melissa. Nathan memang pernah memiliki perasaan pada Lexa. Namun Nathan merelakan Lexa karena Lexa sudah bahagia bersama mendiang adik kamu, Lucas. “
Julia menghela napas sejenak, “Dan kini Lexa sudah bahagia bersama Dylan."
Melissa menggigit bibir dalamnya. Saat hatinya merasakan itu. Perasaan baru yang belum pernah dia rasakan. Iya perasaan cemburu. Melissa cemburu.
Oh bukan cemburu pada Lexa. Tapi cemburu pada kebesaran hati Nathan. Cemburu bagaimana Nathan dengan besar hati merelakan orang yang dia sayangi agar bahagia bersama orang lain.
Cemburu bagaimana Nathan masih bisa sedemikian menyenangkan setelah apa yang dia lalui. Cemburu bagaimana Nathan masih mau berjuang demi cintanya pada Melissa setelah luka yang (entahlah, mungkin) dia dapatkan.
Sedang Melissa? Dia bahkan belum mendapatkan luka sekecilpun tentang cinta. Tapi dia sudah memutuskan untuk menutup hatinya. Menjauh sejauh mungkin dari cinta. Membiarkan Nathan berjuang sendiri. Hingga dia harus seperti sekarang ini.
"Kamu gak cemburu sama Lexa kan? Jangan ya?" Julia mengusap punggung Melissa.
Melissa menatap Julia bingung. Cemburu pada Lexa?
"Kamu dan Lexa sudah Tante anggap seperti anak Tante sendiri."
"Tentu Melissa gak cemburu Tante. Masa lalu bukanlah hal yang harus kita cemburui. Sebesar apapun cemburu yang kita miliki untuk seseorang di masa lalu, gak akan bisa mengubah masa lalu itu kan, Tant ?"
Julia mengulas senyum mendengar penjelasan Melissa. Kepala Julia terangguk.
"Dan seperti Tante yang udah menganggap Lexa anak Tante sendiri, Melissa pun udah menganggap Lexa adik Melissa sendiri. Dia bahkan bagian dari hidup Melissa, jadi untuk apa Melissa cemburu?" Melissa kembali berujar. Ikut mengulas senyum.
"Tante senang, anak-anak Tante mendapatkan pendamping hidup yang memiliki pemikiran dewasa. Tante minta sama kamu, jika suatu saat, entah itu kapan, dalam hubungan kamu dan Nathan. Kalian mendapati ada badai yang mulai mengusik kebahagiaan kalian, jangan pernah sembunyiin dari Tante, ya?” Julia melempar tatapan memohon pada Melissa.
“Tante sungguh tidak mau kalau kamu harus seperti Lexa, menahan lukanya sendiri dan tidak mau membagi bersama kami. Tante sungguh sedih melihat Lexa."
Melissa mengangguk. Mengerti maksud Julia.
Tiba-tiba saja perasaan kagum pada Julia mengisi hatinya. Menyejukkan seluruh ruang dan sudut terkecil di hatinya. Bahkan Mama Melissa tidak sedemikian baiknya pada Melissa.
Lalu, bagaimana kalau Melissa nantinya yang akan melukai Nathan?
Bagaimana jika kelak dirinya tidak bisa memberi Nathan kebahagian?
Gak, Mel. Lo pasti bisa membuat Nathan bahagia. Lo pasti bisa memberikan Nathan kebahagiaan. Berusahalah Mel. Karena Nathan juga selalu berusaha memberikan kebahagiaan pada lo.
--The Only Exception--