Delapan Belas

1047 Words
D E L A P A N B E L A S Melissa menutup pintu ruang perawatan Nathan setelah mengantarkan Julia yang pamit akan pulang. Ini masih jam 4 pagi. Setelah cukup lama berbincang dengan Julia tadi, Melissa kembali merasakan kantuk yang tadi menguap begitu melihat Julia. Melissa kembali berjalan mendekati ranjang Nathan. Melihat si tampan ini masih tertidur pulas. Dengan raut wajah yang lucu menurut Melissa. Melissa menghela napas. Kembali memikirkan perasaannya pada Nathan. Apa ini terlalu cepat? Untuk memulai kisah asmaranya? Untuk menerima Nathan menjadi pemeran utama dalam kisah asmara perdananya? Mungkin ini terlalu cepat. Tapi mengingat bagaimana perjuangan Nathan hingga sampai pada titik ini, rasanya Nathan sungguh layak untuk menjadi pemeran utama dalam kisah asmaranya. Iya, Nathan layak mendapatkannya. Lalu apa selanjutnya ? Apa yang harus mereka lakukan selanjutnya? Menjalani kisah mereka, mengikuti aliran arus cinta mereka? Atau langsung pada bagian menyusun masa depan berdua. Ya Tuhan, Melissa sungguh belum berpengalaman dalam hal seperti ini. Tapi Melissa juga sudah bukan gadis remaja yang memiliki banyak waktu untuk sekedar mengikuti arus asmaranya. Ya, mereka harus mulai menyusun masa depan. Menyusun bagaimana hubungan mereka ke depannya. Akan seperti apa dan memiliki tujuan yang jelas. "Mel," panggil Nathan, sukses membuyarkan lamunan Melissa. Melissa langsung saja menoleh. Melihat Nathan sudah terduduk di atas ranjangnya, "Kamu udah bangun?" "Udah," jawab Melissa. Kini mendudukkan diri pada tepi ranjang Nathan, "Tante Julia barusan pulang." Melissa mengulas senyum. "Jadi hanya kita berdua?" suara Nathan terdengar serak. "Ka..kamu mau minum?" Melissa langsung melompat menuruni ranjang. Berjalan mengambilkan Nathan minum. Nathan langsung saja meneguk air yang diberikan Melissa hingga habis. "Lagi ?" tanya Melissa meraih gelas di tangan Nathan. Nathan menggeleng. "Aku mau lagi, tapi bukan minum." Dahi Melissa berkerut, "Kamu mau makan? Aku ambilin." Melissa akan melangkah mengambilkan Nathan makanan namun dicegah oleh Nathan. Nathan menepuk sisi ranjangnya yang kosong. Menyuruh Melissa duduk di sana. Melissa menurut. Duduk di sebelah Nathan. "Aku mau..." Nathan menghela napas sejenak. Menarik wajah Melissa mendekat pada wajahnya. Menyatukan napas mereka, "Your lips on mine,” lanjut Nathan. Lalu dengan pasti menyatukan bibirnya pada bibir Melissa. Melissa sedikit terkejut dengan sikap Nathan. Namun tidak menolak. Membiarkan Nathan mencumbu lembut bibirnya. Bermain sebentar pada bibir Melissa. Iya hanya sebentar. Karena Nathan bukan Dylan. Karena Nathan tahu bagaimana bersikap. Terlebih ini tempat umum. Mekipun ini ruangan VVIP. Karena Nathan bisa mengendalikan dirinya. Karena Nathan pria baik-baik. OKE. Nathan melepas ciumannya. Mengusap pelan pipi Melissa. Pada bagian bekas luka goresan yang pernah dilakukan oleh Natalie. Nathan menyipitkan matanya. Memastikan garis di pipi Melissa itu goresan atau apa.. "Kenapa ini?" tanya Nathan. Masih mengusap pipi Melissa. "Kecelakaan." Jawab Melissa singkat. "Aku akan cerita semua kalo kamu udah sembuh, inget?" "Okey." Nathan mengangguk. Membawa kembali bibirnya pada bibir Melissa. Mencium bibir Melissa singkat. Kemudian berpindah pada bekas luka di pipi Melissa. Melissa kembali merasakan perasaan hangat itu. Ah juga detak jantungnya yang berpacu liar. "Happy Birthday!!" ucap Melissa lirih. Mengulas senyum pada pria tampan di depannya. Nathan sudah pasti langsung merekahkan senyumnya. Berhamburan memeluk Melissa erat. Seakan tidak pernah memeluk Melissa. "Thanks," kata Nathan tulus. Masih dengan memeluk Melissa. "Kamu adalah wanita pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku." "Really?" Melissa melepas pelukannya. Menatap Nathan menyelidik. "Seriously, selain Mama, kamu adalah wanita pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun. Aku bukan tipe pria yang suka mengumbar tanggal ulang tahun, Mel. Aku gak pernah memberitahukan hari ulang tahunku pada siapapun, termasuk temen-temenku." "Kenapa sesuatu mengatakan padaku, kalo kamu bohong ya?" Melissa terkekeh. "Aku memang punya banyak temen cewek di kampus dulu. Tapi mereka bukan tipe orang yang terlalu peduli pada ulang tahunku. Atau berapa umurku. So that's why I made a friend with them," Nathan menjelaskan "I like that kind of friends." Melissa mengeluarkan cengiran. "Dan... karena aku gak sempet kemana-mana untuk membeli kado. Jadi.." "Aku gak butuh kado, Mel," Nathan menyela. "I know, tapi kita tetap harus merayakan ulang tahun kamu, Nath." "Oh C'mon. Aku gak butuh pesta mewah di hotel bintang lima kayak bang Dylan Mel..Ak--" "Taraa!!" seru Melissa mengabaikan protes Nathan. Mengeluarkan ponselnya. Menyerahkannya pada Nathan. "Kita akan pergi liburan ke pantai segera setelah kamu sembuh," lanjut Melissa dengan binar di wajah cantiknya. Nathan mengamati gambar pantai di layar ponsel Melissa. Sebuah pantai yang tak jauh dari kota ini. Dengan pemandangan yang indah. Kemudian senyum itu muncul. Pada wajah tampan Nathan. "Aku udah sembuh," ucap Nathan juga dengan binar bahagia di wajahnya. "NATHAN!!" Melissa memekik, "Sembuh apanya? Kamu baru sadar dari koma beberapa jam yang lalu. Nath kam--" "Aku udah sembuh oke. Ini ulang tahun aku. Ulang tahun pertamaku di dampingi oleh kekasih tercinta. Dan menghabiskan hari dimana aku lahir di rumah sakit itu menyedihkan, Melissa." "Nath, aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Pantai itu--" "Cuma berjarak satu jam perjalanan dari rumah sakit, Mel. Jadi.." Nathan melepaskan selang infusnya. Melissa sampai harus menutup mata, ngeri. "Ayo kita berangkat sekarang." Nathan menyibakkan selimutnya. Menuruni ranjangnya. Melissa dilema sekarang. Dia ingin sekali memberikan kenangan istimewa di hari ulang tahun Nathan. Tapi dia juga takut jika nanti Nathan kenapa-kenapa. "Mel,." panggil Nathan yang kini sudah membuka baju pasiennya. Berganti dengan kaos polos abu-abu, yang mungkin itu adalah kaos kebesaran milik Lexa. Iya itu adalah kaos Lexa. Melissa hafal betul. Karena Melissa yang membelikan kaos itu 4 bulan lalu. Melissa langsung saja mengulas senyum. Ikut menuruni ranjang dan mengambil tasnya. "Okey, let's go!!" --The Only Exception-- Remember when I said, I had to make him happy? That’s what I’m trying to do now. Make him happy. Nathan dan Melissa berjalan tergesa meninggalkan rumah sakit. Mencari keberadaaan mobil uber yang di pesan Melissa untuk mengantar keduanya mengambil mobil Melissa yang masih terparkir di pinggir jalan. Setelahnya, Nathan dan Melissa memasuki mobil Melissa. Pergi ke pantai indah itu dengan mobil Melissa. Dan Nathan yang bersikeras menyetir. "Nath... Kalau nanti Mama kamu marah gimana?" Melissa kembali bersuara. "Mama gak akan marah. Ini masih pagi banget Mel, kalau kita satu jam sampai di sana, kita bisa menikmati indahnya Matahari terbit." Nathan masih terfokus pada jalanan kota yang masih lenggang, "Jangan takut, Mel. ‘Cause we're gonna make our love story starting today." "It's not a good idea. Obviously not a good idea," Melissa menggumam. "It's not. It's a great idea." Nathan mengulas senyum. Meraih tangannya. "From the handsome birthday boy," lanjut Nathan percaya diri. --The Only Exception--
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD