6.Something happen with Dilo

4666 Words
s**l! Kenapa jantungan gini gue? Dilo bisa merasakan detak jantungnya lebih cepat saat melihat mata Lupin. "Ehem." Suara batuk dari Danola membuat semuanya tersadar. Lupin buru-buru melepaskan tangan Dilo yang tadinya melingkar dipinggangnya. Cewek itu nampaknya malu. Kenny mendekat sambil bertolak pinggang. “Aaaaa, cemburu!” katanya terang-terangan. “Kalian keliatan serasi banget, huhuhu.” Kata Kenny dengan mulut cemberut. "Ngomong apa sih ...," kata Dilo sebal dan mengambil bola. “Pokoknya Dilo nggak boleh kayak gitu lagi, yayayaya!” kata Kenny sambil memeluk Dilo dari belakang. Tentu saja, pemandangan itu disaksikan Lupin dan yang lainnya. "Iyaa, iyaa," jawab Dilo gerah. Lupin melihat ke arahnya dengan tatapan aneh, membuat Dilo merasa diintimidasi. “Si Mak lampir itu ngapain sih mengumbar kemesraan di depan jomblo seperti kita?” Gita memggeram kesal. Alodia mendelik. “Pasti bikin baper  jomblo nista kayak Kagit gitu, ya?” tanya Alodia sambil tersenyum ala iblis. Sebelum Gita mengeluarkan jurus yang membelah bumi, Alodia buru-buru ngacir dan berlindung di belakang Danola. "k*****t! Awas lo cebol. Nggak perlu diperjelas gitu kan ya? ” “Istirahat dulu aja gimana?” kata Danola yang disambut meriah oleh Alodia. “Ayo kak! Ayo! Sini, Kak, sini! ”Alodia menarik tangan Danola ke bangku panjang. Bukan Cuma memegang tangan Danola, anak itu juga menyandarkan kepalanya di bahu Danola. Bikin Gita iri. “CEBOL lo disuruh pulang tuh sama nyokap lo!” kata Gita lalu duduk di sebelah Danola. "Siapa yang bilang?" “Itu tadi barusan adek lo si Acong lewat bilang nyuruh lo pulang sekarang. Iyakan, Pin? ”tanya Gita ke Lupin sambil mengedip-ngedip. “Oh, iyaa tuh! Alodia disuruh pulang. " “Ah, apa ada yang nggak beres.” Gumam Alodia sambil melihat-lihat rumah yang ada diseberang jalan. “EMANG! Katanya kucing lo mati kecebur! ”kata Gita horor. “HAH ??? SERIUS KAGIT? ”pekik Alodia kaget. “Makanya pulang dulu, liat benar apa nggak!” Kata Gita lagi. "AAAAAAAA, nggak mungkiiiiin!" teriak Alodia sambil ngacir menuju Rumah. “Wkwkwkwk, rasain tuh dikerjain wkwwk!” Kata Gita sambil megangin perutnya. “Ya ampun lo Git, ekstrim amat candaannya,” kata Danola lalu meneguk minuman kalengnya. Keringatnya yang berjatuhan di lehernya membuat Gita menahan nafas. Seksiiih ~ "Mau, Pin?" Danola menyodorkan sisa minumannya pada Lupin. "Iya," sahut Lupin dan mengambil alih minuman kaleng dari tangan Danola. Lupin minum bekas dari kaleng yang baru diminum Danola? Itukan ada bekas bibir Danola! Kenapa nggak gue aja ??? Lupin, ah s**l, dia nggak bisa menahan diri. Gita sengaja berdiri dan pura-pura menabrak Lupin. CLENG. Minuman kaleng itu jatuh sedetik sebelum Lupin meminumnya. "Yah jatoh! Aduh, sori sori, Pin, gue nggak sengaja. Kaki gue kesemutan tadi. ”Kata Gita sambil memegangi kaki kanannya. "Emang setan lo Git, guekan haus!" "Ini minum punya gue aja." Gita menyodorkan minuman kaleng miliknya. "Oke. Terima kasih."  Yess, berhasil hikikikiki   ★★★ "Siapa, ya?" tanya seorang cewekanduk ikal sebahu pada Dilo setelah pintu terbuka. Dilo celingukan lalu tersenyum kikuk. "Dilo ...," jawab Dilo lalu celingukan lagi. Matanya membahas area yang dikunjunginya. Utama ke rumah Lupin akan menimbulkan banyak tanya dari Danola juga Kenny. “Oh, Dilo yang baru dari Jerman itu, ya? Masih Ingat Kak Yona, kan? Ini kak Yona loh! Kok baru keliatan? ” tanya cewek sambil tersenyum manis. Yona Kinayla, kakak kandung Lupin yang super modis. Cerdas, Ramah dan anak gaul. Yona dokter muda di salah satu rumah sakit di Jakarta. Masih pengen merdeka, jadi merid belum jalur buat dilewatinya. "Ehm, Dilo boleh masuk dulu nggak, kak?" Tanya Dilo lalu buru-buru masuk ke rumah minimalis itu. “Ekh? Apa deh gue ngomong dikacangin, ” gumam Yona lalu ikutan masuk. “Ini beneren kamu, Di? Eh, kok baru nongol sih? ”Sapa seseorang dari Arah dapur. "Tumben gitu mau main kesini?" Tanya cowok sambil membawa minuman kaleng ke Dilo. Dilo mengingatnya dengan senyum kikuk. Reyhan Adipati Karim. Abang kandung Lupin juga dan anak-anak yang disetujui dikeluarga Adipati. Dokter juga di RS yang sama dengan Yona. Humoris dan tipe cowok setia. Rey juga jadi incaran pada Ibu-ibu komplek untuk dibuat menantu. Wow ~ “Baru ada waktu aja, bang. Om tante mana, bang? ”Tanya Dilo lalu meneguk minumannya. “Mereka lagi di Bandung. Liat nenek katanya lagi sakit. Masih kuliah, kan? " “Masih tapi lagi ngurus buat pindahan kesini. Bang Rey, belum merid? ”Tanya Dilo. “Haahhaah merid?” Yona nyambung dari ruang tengah. “Bang Rey itu nggak pernah suka sama cewek, Di. Sukanya sama cowok! WKwkkwkw. " “s****n, Yon. Guekan nungguin Fellis. Cinta pertama gue ... ”kata Rey sambil merapikan kacamatanya. “Felis yang suka sedikit itu? Yaelah bang, lupain udah. ” “Eit nggak bisa. Yang namanya cinta pertama itu harus diperjuangin. Kalo kita suka, kenapa nggak? Usaha dong sampe dapet, ya kan, Di? ”Kata Rey sambil ngedipin mata ke Dilo. "Itu bukan cinta pertama kaliiiii, tapi cinta monyet wkwkkwkw." “s****n lo. Sombong amat yang punya pacar! ” “Iiiyaaa doooong. Capek jadi jomblo terhina kayak abang wkwkwkkw. ” "k*****t! Cowok kayak kambing dikasih rambut aja bangga wwkkwkwkw! ” Mau nggak mau, Dilo ikut tertawa. Dia melirik Yona yang mendelik sebal lalu melempar Rey dengan bantal. “Abang kok gitu sih sama calon adek iparnya? Cinta itu nggak liat fisik bang! Tapi, liat dompet wkkwkwkw! ” “Tuhkan, Di. Yona emang beda sama Abang sama Lupin. Kalo kita, cinta sama orang tulus. Tanpa ada maksud dibelakangnya. Nggak matre kayak si Yona! ” "Hahaha, cowok yang disukai cewek matre, adalah cowok yang nggak PEDE dengan percakapannya wkwkkwkw!" "Tuhkan? Tapi emang ada benernya sih, ”kata Rey manggut-manggut. Bikin Yona geli dan lagi-lagi minimpuk abangnya yang ganteng itu dengan bantal. "Oh, iya. Lupin mana, ya? Kok nggak keliatan? ”Tanya Dilo celingukan. “Yaaa dikamarnyaa laaaah. Dari duluuuu banget sampe sekarang, dia nggak akan keluar kamar kalo nggak penting banget. ”Sambung Yona. “Iya tuh Lupin, aneh juga tuh anak. Datangin aja ke kamarnya. Nyantai aja, anggap rumah sendiri. Abang keluar dulu, oke? ”Rey beranjak dan keluar rumah. "Kenapa? Ada perlu ya sama Lupin? ”Tanya Yona sambil memicingkan matanya sedikit. "A ... hm ...," “Yaelah jadi grogi gitu. Yaudah datangin aja ke kamarnya. Nyantai… Danola aja sering kok masuk kamar Lupin…, ” "Oh, Danolakan pacarnya, kak ...," “Uhukk, uhuukk, Hah? Sejak kapan pun si Lupin pacaran ama si Danola? Haaah? ”Tanya Yona kaget. “???” Dilo tampak bingung ke Yona yang juga mengedip bingung. “Mereka itu sahabat! Lagian, Lupin kayaknya nggak suka gitu sama cowok. Aduh, Bg Rey juga gitu, nggak doyan pacaran! Wah, dua sodara gue kejiwaannya terganggu! ”Kata Yona lebay.  "Dilo ... bisakah permisi ke kamarnya, kan kak? Bentar kok nggak lama ... ”kata Dilo hati-hati.  “Yaudah pergi aja kaliii.” Kata Yona lalu menghempaskan pilihan sofa depan tipi.   ★★★ Tok.Tok.Tok "Siapa?" ... "Siapa?" Nggak ada suara. Siapa sih? "Kak Yona apa?" Tanya gue lagi. Masih ada tepar di atas tempat tidur sambil dengerin lagu galau. Nggak dijawab ih! "Bang Rey?" Tok.tok.tok “Siapaaaa?” Tanya gue dengan nada tinggi. Ih, gue tuh paling malas digangguin saat-saat galau kayak gini. Asli. Krieeek. Dug.dug.dug "Aduh!" Gue meringis saat sesuatu mengetuk-ngetuk jidat gue sebanyak tiga kali. "Ekh?" Orang itu kaget. Gue mendongak dan EEEEKH ??? DILOOOO ??? “Liat-liat dong kalo mau ngetok pintu!” Kata gue sebal. Dilo terkekeh. Lucu? Dia mendorong pintu kamar gue dan langsung melompat ke tempat tidur gue! HEI, APA SAJA? "Gue nggak sengaja," jawabnya cuek. “LO NGAPAIN MASUK KAMAR GUE HAH? NGGAK SOPAN BANGET SIH? ”Pekik gue. Cuma ada 3 cowok yang pernah masuk ke kamar gue. 1. Ayah 2. Bg Rey 3. Danola Danola? Dia masuk lewat balkon, bukan pintu rumah! Dan itu baru ... oke saking seringnya gue lupa udah berapa kali dia masuk ke kamar gue Ngapain? Cuma ngobrol sampe ngantuk udah gitu aja. Satu lagi, keluarga gue kenal sama Danola yang baik hati, jadi mereka nggak pernah takut kalo gue dekat-dekat sama Danola. Malahan, aku tidak pernah mendengar kalo suatu hari nanti, mereka setuju dengan gue merid sama Danola oh, tolong… Dan cowok ini? YANG SONGONGNYA MINTA AMPUN KOK BISA SIH ADA DI KAMAR GUEEEE? SIAPA YANG BERANI-BERANINYA NYURUH DIA KESINI? PASTI KAK YONA SAMA BANG REEEY !! Awas kalian! “Nggak usah teriak-teriak napa sih? Harus ya? ”Tanya Dilo lalu duduk. Dapatkan Dilo dari atas sampe bawah. s****n, kok keren banget sih cowok ini? “Ngapain sih lo masuk ke kamar gue?” Tanya gue galak. "Gue mau ngambil ini." Dilo mengambil boneka kelinci yang duduk manis dari bantal tidur gue. Boneka yang DULU dia terima kasih ke gue. Boneka yang dulu mempermalukan gue tapi sebaliknya jadi saksi bisu gue. Dia motivasi terbesar dalam hidup gue selama 10 tahun ini. Dia mengubah segalanya. Dan hari ini, Dilo mau ngambil boneka ini dari gue? Kenapa rasanya nggak rela ya? Kikuk “Dasar boneng, gendut, jelek, bau lagi!” …… Gue tersentak dan melihat Danola yang udah ngakak lebar sambil megangin perutnya. s****n! Ngapain coba dia putar rekaman suara itu. Hiks. “Wkwkwkwkw… lo masih sering dengerin ini, ya? ' tanyanya sambil ngangkat sebelah alisnya. “Nggak! Sakit kuping gue kalo dengar suara lo direkaman itu! ”Kata gue jutek lalu berdiri di ambang pintu sambil bertolak pinggang. “Udahkan? Sekarang, PU-LANG! ”Kata gue penuh puas pada kata terakhir. Dilo terkekeh lalu berdiri tegak, “Jangan nangis gitu dong. Ntar minta boneka yang baru aja sama Danola…, ”kata Dilo lalu tersenyum JATAT. “OH, PASTINYA! DANOLAKAN COWOK GUEEE! ”Kata gue menggebu-gebu. Dilo terkekeh lagi lalu beranjak menuju pintu. Mampus, gue kerjain deh! Liat aja! Pas dia jalan, gue halangin gabung sama kaki gue. Tapi .... BRAK. EEEEEEH --- mengundang tiba-tiba menarik tangan gue sampe gue jatuh diatasnya. Hah? Apa-apaan ini? ... "Le ... pas ...," kata gue manahanapas karna jarak gue dan Dilo dekat banget. Gila, itu bibir apa stoberi merah amat. Dilo mengedip sok lucu. Gue bisa rasain dipindahkan melingkar dipinggang gue dengan mesumnya. "Mau ngerjain gue?" “Ngerjain apa! Makanya jalan tuh pake mata dong! ”Kata gue galak. "Danola udah pernah nyium lo?" Tanya Dilo yang langsung bikin puncak kepala gue berasap. PERTANYAAN MACAM APA ITU ???! “Lepasin gueee!” Kata gue sebal lalu buru-buru bangun. Dilo membuang muka kesal lalu berdiri menghadap gue. s**l, dia ini kenapa sih? Dia berdiri tepat didepan wajah gue sekarang. Matanya melihat gue lekat-lekat.  "Danola belum pernah nyium, lo ya?" Ulangnya lagi nggak sopan. “NGOMONG APA SIH? KELUAR NGGAK! ”Bentak gue kesal. Dilo terkekeh. Ntah apa yang lucu! “Jadi, Danola belum pernah nyium lo? Wwkkwkw. " “KELUAR!” Pekik gue nggak sabaran. "Pin? Lupin? ”Gue mendengar suara Danola sambil ngetuk-ngetuk jendela kamar gue. Aduh, apa kata Danola dan kalo tau Dilo masuk ke kamar gue! Pasti dia bakalan panjang lebar! Sementara dia tau gue lagi sebal-sebalnya sama Dilo sekarang. "Ke ... luar!" Bisik gue sambil nunjuk-nunjuk pintu. “Nggak mau ahhh… jawab dulu pertanyaan gue,” kata Dilo lalu kembali duduk di tempat tidur gue. Aarrrrrrrrrr, tolong tolong buang anak ini kelaut. "Jawab apa?" Tanya gue lagi setengah berbisik. Danola masih mengetuk-ngetuk jendela dan kayaknya dia sudah menginstal teriakan gue tadi. "Danola udah pernah nyium lo?" Tanya Dilo masih nggak sopan. Apa sih maksudnya !!! “Gue nggak pernah ciuman jadi lo udah taujawab!” Kata gue galak. Dilo tertawa lagi. Kali ini dia benar-benar keluar dari kamar. Legaaaaa. “Hoi!” Panggilnya tiba-tiba nongol lagi. “APA LAG_” BUKKH! p****t boneka kelinci yang baru mendarat didepan muka gue. “Pulang, kalo udah nggak butuh,” kata Dilo lalu pergi sebelum gue ngeluarin jurus mengguncang bumi. "Pin? Ngapain sih teriak-teriak? ”Tanya Danola masih ngetuk-ngetuk jendela. Gue buru-buru membuka jendela, diseberang sana, Danola tersenyum manis kayak biasanya. "Sori, tadi ... ada ... kecoak!" “Oh, tumben jendelanya ditutup?” Tanya Danola. Dan malam itu, gue dan dia kembali cerita panjang lebar kayak malam-malam sebelumnya. Sejak Dilo pulang, gue udah jarang buka jendela kamar gue. Laki-laki aja liat mukanya yang nyebelin itu. Kenapa dia nggak pindah ke kamar bawah aja sih ya? Kalo ada Danola hidup gue kan tentram, damai, sentosa. Tapi, senang juga tuh si Dilo! Gue jadi kepikiran. Ngapain dia nanya-nanya Danola pernah nyium gue apa nggak? Ekh, gue nggak pernah ciuman. Tapi, kenapa dia nanya gitu sih? Nyebelin banget deh. Kalo udah apa belum, harus ya dia tanya? "Pin? Jadi maunya apa? Nonton atau makan doang? ”Tanya Danola setelah gue terbengong lama. "Ciuman," jawab gue keceplosan! Danola mengedip bingung. Sementara gue mangap mengutuki kebodohan gue! "Ciuman?" Tanya Danola heran. “Hoaaams, gue ngantuk nih, selamat tidur Danolaaaa! Sampai jumpa… ”kata gue malu lalu buru-buru ditutup jendela. Aaaaaaaaaaarh ... ini gara-gara Dilo setan! ★★★ "Dari mana?" Tanya Kenny terus mengekori Dilo yang nampak cuek. “Hmmmm?” Dilo mengangkat bahu sambil mendinginkan bola yang ditangannya. “Dari mana? Orang nanya dijawab! " "..." "Dari rumah Lupin, kan?" "...." “Dilo jawab aku dong! Kamu tega ya cuekin aku saat kayak gini? ”Kenny merebut bola dari tangan Dilo dan menendangnya jauh ke semak-semak. "Apa sih, Ken?" “Besok kita jalan-jalan. Aku nggak mau tau! ”Kata Kenny ngambek lalu berlari kecil menuju rumah yang ada dideretan berbicara. Rumah Gita. ★★★ “Nyebeliiiin deeeeh iiiiiiiih!” Kata Kenny berisik sambil mondar-mandir di depan Gita yang lagi kesulitan tidur. Dari tadi cewek bertubuh tinggi langsing itu kelihatan gelisah. Bikin Gita sebal. Ini udah nyaris tengah malam, tapi Kenny nggak juga berhenti berisik. “Woi, lo ngapain sih?” Semprot Gita habis kesabaran. "Aku lagi galau ... galau ... galau!" Balas Kenny lalu duduk. "Ngerti juga lo bahasa galau?" "Iya, Aku tau dari Alodia. Katanya kalo kamu itu tetangga yang rentan galau. Aku tanya ama dia galau itu apaan? Dia cerita deh. Eh, enak banget rasanya galau! Nyesek! " Sialan si cebol. "Nyesek?" "Iya, Alodia juga yang ngasih tahu kamu suka nyesek setiap liat Danola!" “Ekh? Bilang apa lagi dia? Emang syaiton tuh anak, mencemarkan nama baik gue aja! ” “Aaaaaaa… nggak enak banget rasanya!” Kata Kenny dengan muka cemberut. “Lo galau kenapa sih? Emangnya cowok songong itu kenapa? ” “Nggak ada!” Jawab Kenny lalu tepar sambil memeluk gulingnya. Gita menatap sebal. Kalo boleh, mau mencicipi dia mencabut rambut cewek bule didepannya ini sampe ke akar-akarnya. Tadi berisik, pas ditanyai malah malah nggak jawab. “Aku nggak mau merebut kamu dari aku!” Batin Kenny sambil mencium mainan kalung berbentuk D yang dipakainya.  ★★★ Krieeek "Ehem ...," Baru juga mau menyambut pagi yang cerah, wajah itu udah nongol bikin mood pagi ini mendung. Dilo, cowok itu berdiri di depan jendelanya dengan rambut basah dan t*******g d**a. Eh, lumayanlah cuci mata. “Awas ya kalo lagi lo masuk kamar gue lagi!” Kata gue sebelum dia ngomong. Dilo mengacak-ngacak rambutnya yang hitam pekat. Lalu tersenyum manis. "Dasar ... cewek belekan wkkwkwkw," katanya lalu ngakak lebar. Sialan! "Biarinlah! Namanya juga baru bangun tidur! ”Kata gue berusaha Pede. “Ughh! Biasa aja dong, nyampe sini baunya, "kata Dilo sambil mengibas-ngibaskan agar segera dihadapan gue. Gue nggak pernah tau gimana bisa berurusan dengan Dilo. Dari dulu sampe sekarang, dia selalu berhasil bikin gue minder. "HAH! HAH! HAAAAAAH! ”Kata gue tepat diambil. "Hemm?" Wajah Dilo tiba-tiba udah ada di depan wajah gue. Dekat banget. "Sekarang berjuang?" Tanyanya. Ya ampun nafasnya wangi banget. Rambutnya juga. Badannya apalagi. Gue nggak mungkin mau dilo dengan cara kayak gini. Nafas gue bisa bikin Dilo mimisan atau nggak kejang-kejang. “Nggak berani, kan?” Kata Dilo lalu terkekeh. Gue buang muka lalu pergi ke kamar mandi. Kenapa sih ... setiap kali berhadapan dengan Dilo, jantung gue pasti pembohong banget. Gue nggak bisa nafas dengan normal. Gue selalu takut menatap takut. Sedikit sentuhan sedikit aja bisa bikin gue lemas. Dapatkan nggak apa artinya… Apa gue masih suka sama dia? Gue berada di antara garis cinta dan benci ... Mungkin gue masih cinta ... karna ... Dilo cinta pertama gue ... Mungkin gue benci ... karna tahu ... Dilo udah punya Kenny. Gue rasa… udah sebentar gue lanjutkan. Butuh seseorang untuk mengubur masa lalu itu. Gue butuh orang yang bisa bikin gue nggak lagi ingat-ingat Dilo. Gue butuh orang yang bisa mengubah sudut pandang gue tentang cinta ini. Gue butuh orang yang mau mengenalkan gue dengan cinta yang baru. Siapapun, tolong gue ... ★★★ “Kak Danolaaaaaaa? Mau kemanaaaaaa? ”Teriak Alodia yang berdiri dipinggir pagar. "Mau ke pantai nih Alodia ..." jawab Danola sambil mengacak-ngacak rambutnya yang basah. “Waaaaaah, sama siapa kaaaak?” Teriak Alodia lompat kegirangan. “Danolaaaaaaaaa aku reaaaaady!” Teriak Gita datang lengkap dengan sepatu kets warna hijau tosca, baju kaos lengkap dan celana jins gantung. Juga tas sandang warna hitam. Alodia mangap lebar saat melihat Gita. Cewek tomboy itu juga menaikkan alisnya penuh bergantian ke arah Alodia. "Aaaaaaaaaa ... ikuuuuuuut!" Teriak Alodia sambil mengguncang-guncang pagar. “EH CEBOL! Sana deh, lo kan mau sekolah! ” "Huuhuhu, mau ikut mau ikut mauuuu ikuuuuut!" Teriak Alodia masih sambil mengguncang-guncang pagar.  “Alodiakan mau sekolah. Kapan-kapan aja, ya? ”Kata Danola memberi pengertian.  “Nggak mau! Alodia mau ikut! ”  Alodia nggak mungkin ngebiarin kak Danola pergi sama cewek jadi-jadian! Apalagi sekarang anak mak lampir!  "Hei, udah pada siap, ya?" Kenny berlari kecil sambil melepaskan kacamatanya yang bulat gede.  “Huwaaaaaaaa! Alodiaa mau ikuuuutt! Tungguin pokoknya! ”Kata Alodia lalu ngacir menuju Rumah. Sampenya di rumah, dia mengendap-endap masuk ke kamar. Mengganti baju dan semuanya lalu kembali turun. Alodia selamat lega karna aksinya nggak ketahuan. Dia tau banget, Mamanya pasti bakalan marah besar kalo tau dia bolos. Alodia berlari keluar rumah dan tiba-tiba aja meminta dilempar sesuatu. "ADUH!" Alodia celingukan dan mendapati sendal jepit milik Mamanya tergeletak di bawah didukung.  “Kamu mau kemana ha?” Tanya Mamanya sambil memegang gagang sapu.  “Aaaaaaaaaaa… .kaaaaabuuuur!” Teriak Alodia lalu lari menyebrang. Di belakang, Mamanya berteriak heboh dan memaki saking kesalnya. ★★★ Kenapa Danola melihat-lihat jalan-jalan ke pantai itu Kenny? Kenapa gue baru tau sekarang? Seandainya dari awal dia bilang Kenny yang ngajak, gue pasti akan nolak!  "Udah, Pin?" Tanya Danola ke gue yang baru aja keluar dari rumah. Diluar gue bisa liat ada Gita, Kenny, Dilo dan Alodia? Aih, tuh anak emang nekat! Pasti bolos deh dia.  “Yuk!” Ajak Danola sambil menarik tangan gue. Grrrrrr. ???? Gue menoleh ke belakang karna perasaan gue nggak enak. Ternyata bener, Alodia menggeram dengan tatapan horor. Bikin gue ngeri. Ah, pasti gara-gara Danola bawain tas gue deh. Serem alodia juga. "Hai?" Sapa Kenny ke gue. Kenny duduk disebelah gue. Wanginya ... sama kayak Dilo. Keliman. Mereka pake parfum yang sama. Yayaya… manis sekali! “ Hati-hati, Pangeran !” Kata Kenny sambil menepuk-nepuk pundak Dilo yang duduk dibangku supir. Sementara Danola duduk di sebelahnya. Alodia dan Gita duduk di bangku belakang sambil adu panco. “Kalian berdua, jangan berisik ya!” Kata Kenny lalu menoleh ke belakang. “Wah taruhan, taruhan! Gita pasti menang deh! ”Katanya sumringah melihat Alodia dan Gita yang lagi adu panco. Tadi katanya jangan berisik, eh dianya ikutan berisik.   ★★★ "YUHUUUUUUUUUUUU!" Gita dan Alodia melompat senang setelah sampai di Pulau Tidung. Setelah naik speedboat kurang lebih 1 jam. Akhirnya mereka sampai juga dipantai ini. Kenny nggak kalah heboh. Dia melewati lebar-lebar dan sekali-kali meloncat melewati jembatan panjang atau yang sering disebut jembatan cinta yang dipindahkan antara pulang tidung kecil dan pulau tidung besar. “Woaaaaaaah, keren, keren, kereeeeen!” Teriak Alodia lalu duduk dipinggir jembatan dan menggoyang-goyangkan pengambilan. “Kaaaagit nyebur yoooook!” Teriaknya pada Gita yang nggak merespons. Malahan Gita udah ngacir menaiki jembatan cinta.  "Ah, s**l!" Umpat Gita saat melihat pemandangan diambil. Danola dan Lupin jalan bergandengan tangan! ★★★ "Pin ...," panggil Danola saat gue mulai menyusuri jembatan kecil. Iya, jembatan cinta. Konon katanya, kalau ada diumumkan kekasih yang jalan disini sambil bergandengan tangan, maka akan langgeng sampe hari tua. Wah, manisnyaa ... Gue tiba-tiba teringat Dilo. Dia ada di depan gue, sama pacarnya. Dan mereka lagi memegang tangan. Haaaah, pasangan yang begitu romantis. "Pin?" Ehk, baru sadar kalo ternyata dari tadi Danola manggilin. “Eh, aduh, sori!” Kata gue sambil membalik. “Sana yuk?” Ajak Danola lalu meraih tangan gue dan menggenggamnya. Ah, ini pertama kali Danola pegang tangan gue kayak gini! Kenapa gue, deg-degan TT “Eh liat itu ikannya lucu deh!” Kata Danola menunjuk ikan-ikan yang ada disisi jembatan.  “Eh, eh beneren nggak sih?” Sambung Kenny dan otomatis membuat genggaman gue dan Danola lepas. "Bener apanya, Ken?" Tanya Danola bingung. Gue melirik Dilo yang bersandar di pinggir jembatan sambil melipat tangan di d**a. Matanya melihat gue nggak minat. Hah, aneh!  “Ituuu, katanya kalo dibuka kekasih yang jalan di jembatan cinta, akan langgeng sampe tua? Bener nggak sih? ”Tanya Kenny antusias.  “Hem… ntar kalo gue sama Lupin tetap bersama sampe tua, artinya bener heee,” jawab Dilo yang membuat gue terkekeh lalu meninju lengannya perlahan.  “Iiiiiih, manisssnyaaaaa! Dilo ayo dong kita kayak mereka! Tadi mereka mesra banget loh! ”Kata Kenny mengedip lucu ke arah Dilo.  "Sini, biar gue benamin lo," kata Dilo lalu menarik tangan Kenny. "Aaaaaaaaaaa ... Dilo masa jahat tega benamin pacar sendiri!" Protes Kenny manja.  "Aneh!" Kata gue kembali melihat ikan-ikan yang sesekali muncul ke permukaan. Lucunya.  "Aneh apanya, Pin?" Tanya Danola.  “Dilo itu loh, kenapa jutek amat sih? Gue pikir, dia juteknya sama gue doang. Ternyata ama Kenny juga ... "  "Oh, hahaha ... tapi mereka hebat." Kata Danola sambil tersenyum penuh arti.  "Hebat? Maksudnya? "  “Ih Lupin kepo! Sana yuk? Ntar kalo agak sakit kita balik kesini liat sunset… ”kata Danola dan lagi menggenggam tangan gue. Danainya Danola ini pacar gue, mungkin gue bakalan senang ada di sini. Tidak perlu melihat Dilo dan Kenny. Ah, Danola? Gue sama Danola? WKwkkwkw. Boleh juga! Danolakan cakep. ★★★ Langit mulai tampak kemerah-merahan. Diufuk barat, Matahari tenggelam penuh pesona. Membuat sekumpulan orang-orang yang ada di atas jembatan cinta tertegun lama mengagumi keindahan itu. Dilo melirik Lupin dengan ujung mata. Dia mengutuk diri karna selalu gagal menahan pandangannya ke cewek itu. Saat cewek itu tidak lagi didepan pandang, maka dia akan sibuk mencari dan bertanya. Dan saat mereka ada di tempat yang sama, dia merasa senang yang dia sendiri ragu untuk menerimainya. "Waaaahh kereeen bangeeet!" Teriak Alodia sambil melompat girang. Gita yang disebelahnya menutup kuping karna terlepas dengan suara cempreng anak itu.  “Suatu hari nanti, Alodia mau membawa orang yang Alodia sayang kesini! Terus, antara tenangnya ombak, antara lelapnya para penghuni laut, dan bintang-bintang bermunculan, kami akan berciuman membuat penghuni langit cemburu…, ”kata Alodia puitis. Membuat Gita mangap-mangap. Sementara Lupin dan yang lain hanya terkekeh kecil.  “Dasar anak kecil pikiran m***m!” Kata Gita sambil mencekik leher Alodia.  "Uhuk ... uhukk! Kagit s**l sih? ”Sembur Alodia galak sambil melepaskan jari-jari Gita dari lehernya. Bukan sakit, tapi geli!  “Bahasa lo yang berciuman itu menjijikkan tau nggak?” Kata Gita sebal.  “Oooooh, wkkwkwkw! Alodia lupa! Kagit kan nggak pernah ciuman ya? WKwkkw! ”Kata Alodia puas karna berhasil meledek saingannya itu. Gita makin mangap dan kali ini dia bisa merasakan mukanya panas karna malu. "Baik! Pembicaraan selesai! ”Kata Gita pasrah. Dia mau bilang apa? Melakukan pembelaan diri sendiri, dia memang belum pernah ciuman? Atau mengarang cerita kalo dia udah pernah ciuman? Sementara itu, Alodia dan yang lain tau kalo dia belum pernah punya pacar! “Wkwkwk, ciuman itu tanda cinta. Dari seorang ciuman, cinta bisa lahir. Dan kalo hati kita harus bergetar saat dicium seseorang, itu artinya ... ada sesuatu yang terjadi di hati kita. Cinta mungkin…, ”kata Alodia sambil tersenyum manis. ★★★ “Ciuman itu tanda cinta. Dari seorang ciuman, cinta bisa lahir. Dan kalo hati kita harus bergetar saat dicium seseorang, itu artinya ... ada sesuatu yang terjadi di hati kita. Cinta mungkin ... " Gue tertegun mendengar ucapan Alodia. Diufuk barat, matahari sudah menghilang. Berganti dengan hari yang mulai gelap. Air laut tampak tenang dan orang-orang mulai berpulang ke dermaga. Ciuman? Ih, gimana sih rasanya? Mungkin, gue akan tau rasanya… nanti. Ya, mungkin nanti jika gue jatuh cinta. Atau… kenapa gue jadi m***m begini sih? "Pin, ke penginapan, yuk?" Ajak Danola menyadarkan gue dari lamunan. Gue tersentak dan melihat sekeliling. Sepi. Tinggal gue dan Danola. "Gue masih pengen di sini ...," kata gue sambil melihat ke langit. Bintang-bintang mulai bermunculan. Cantiknya. "Tapikan ini udah gelap, Pin ...," kata Danola. Dari nadanya gue tau dia diterima. “Gelap apanya. Tuh ada lampu, disepanjang jembatan ada lampu! ”Kata gue menunjuk tiang lampu yang berjejer dipinggiran jembatan. “Yaudah gue tinggal bentar, ya? Jangan kemana-mana. Dapatkan makanan ntar kesini sekalian ambil handphone tadi ketinggalan ..., ”kata Danola diambil setiap kata yang diucapkannya. “Iyaaa iyaaaaa! Gue nggak akan kemana-mana! ”Kata gue lalu turun dari jembatan cinta. Gue duduk bersila dipinggir jembatan sementara Danola berlari menuju penginapan yang jauh dari dermaga. "Hei ... ikan lucu di sini sini di sini!" Sangat romantis. Mungkin jika gue jadi ikan, melihat cahaya dari dalam udara pasti kelihatan indah dan romantis. Masih melihat ikan-ikan kecil yang hilang-hilang timbul dari bawah sana. Sampe akhirnya, ada bayangan yang didapat dari arah jembatan. Itu Pasti Danola ... "Cepat a--" Gue nggak melanjutkan ucapan gue saat tau bayangan siapa itu. Dilo dan Kenny? Mereka keliatan mesra. Ingin rasanya beralih pandangan dari mereka tapi ntah kenapa rasanya sulit. Ntah kenapa sekarang gue malah mengapa setiap gerakan Dilo. Hati gue sakit saat memegang memegang wajah Kenny. Ah, bicara apa sih gue ini? Gue nggak mau menyaksikan kemesraan mereka! Lebih baik pergi dari sini! Lewat di depan mereka dan pura-pura nggak lihat! Mungkin itu ide yang bagus kali, ya? Aku baru aja berdiri dan berniat untuk segera pergi tapi diatas sana ... Dilo dan Kenny ..., berciuman? Apa ini? Kenapa merasa begitu sibuk? Apa ini? Kenapa rasanya sakit banget! Dilo dan Kenny ciuman? Dilo mencium Kenny duluan, gue liat itu tapi kenapa gue nggak terima? Gue nggak terima! Ada pertimbangan besar dari hati gue! Gue… cemburu? Sial! Kenapa gue malah nangis sih? Kenapa gue harus nangisin hal bodoh kayak gini sih? Kenapa gue harus nangis tau Dilo ciuman ama Kenny? Mereka pacaran! Iya, gue tau itu tapi kenapa… DUG . Gue mengumpat karna menabrak kayu jembatan yang sedikit menonjol. Gue menarik nafas dalam dan kembali berjalan tapi tiba-tiba kaki gue menginjak bagian papan yang bolong dan gue oleng ke samping. BYURRRR !!! “Toh…, hmmpppp!” Gue jatuh ke laut! Sialan, gue nggak bisa berenang! Gue suka terseret arus. Gue nggak bisa. Pemandangan gue mulai kabur. Lebih baik dan lebih baik ada sesuatu yang menarik semakin jauh ... semakin dalam ... Tapi ... Hei ... cahaya itu ... benar-benar indah. Dari bawah sini, sinar lampu tampak begitu indah. Semakin lama semakin samar. Disaat mendapatkan fokus pada cahaya lampu yang mulai menjauh, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh dari atas sana. Sesuatu itu bergerak cepat. Apa itu orang? Siapapun ... tolong gue ... Kenapa disaat seperti ini gue teringat ... Danola? Danola ... tolong gue ... pekik gue dalam hati. Danola dimana? Biasanya dia selalu ada buat gue! Dia bilang dia nggak akan lama! Danola tolong gue! Danola lo tau gue nggak bisa berenang! Plis Danola datang sekarang juga! Sekarang! Dapatkan nggak tau lagi apa yang terjadi setelah itu. Dapatkan hanya sesuatu yang menarik ke atas. Saat itu merasakan sebuah kehangatan. Rasanya hangat dan menggetarkan. Ada sesuatu yang membuat lebih baik. Gue nggak tau apa itu ... tapi baru itu gue merasakannya ... “Pin, sadar, Pin! Lupin ini gue Danola! ”Suara itu… Suara itu suara Danola. Gue membuka mata Lambat dan samar-samar gue mendapati wajah Danola yang terlihat panik. Dapatkan saat ini dan ada digendongan Danola. Dia menggendong gue seperti menggendong bayi aja. Lucunya. “Danola?” Kata gue pelan-pelan tanpa suara. Dia mengangguk dan tersenyum manis. "Maaf, Pin harusnya tadi gue nggak ninggalin lo sendiri pasti lo_" “Danolaaaaaaa! Nyebeeliiin! ”Kata gue dan mencubit pipinya geram. Danola udah menyelamatkan gue. Dia selalu datang disaat gue butuh! Dia selalu tepat waktu! Disaat apapun dia selalu ada! Setiap mata terbuka, Danola selalu ada. Tuhan… buat jatuh cinta dengan orang ini… ★★★ Sebelumnya .... "Sampe kapan saja sih kita harus kayak gini?" Kenny lagi-lagi mengekori Dilo yang dari tadi mendiamkannya. Cowok itu selalu hanya kesal. Kalau bukan karna sesuatu, dia nggak akan mau ke Indonesia. Tapi, cowok ini malah suka membutuhkan nggak. Grrrr. "Dilo! Aku ngomong nih! ”Kata Kenny lalu menghadang jalan Dilo. Cowok itu menatap sebal. “Udah sana balik ke Jerman!” Kata Dilo masa bodo. “Aku nggak mau pulang sendirian! Kamu tahu berapa lama aku menunggu ini semua? Tujuh tahun! ”Kata Kenny sambil bertolak pinggang. “Udahlah lupain aja. Semua udah Terlambat ... " “Belum Terlambat. Aku yakin cewek itu masih suka sama kamu! Aku juga yakin kalo Danola juga masih ... suka sama aku ..., "kata Kenny pelan pada akhir ucapannya. "Hah," Dilo terkekeh. "Ken, berhenti patahi hati lo sendiri ... rencana kita ... batal!" Kata Dilo lalu berbalik. “Dilo dengerin aku dulu! Nggak bisa gini dong! Aduh! "Kenny berhenti berjalan karna ada sesuatu yang masuk kematanya. "Dilo, bantu aku!" Katanya sambil meringis memegang pedih digantung. "Kenapa sih?" Tanya Dilo galak. Kenny mengedip-ngedipkan mata kirinya yang merah dan berair. "Huhhuhu ... ada yang masuk ke mataku! Tolongiiin! ”Katanya manja. “Sumpah lo teman paling nyebelin! Nggak di Jerman, nggak di Indonesia! ”Kata Dilo kesal yang lalu memegang kepala Kenny. “Uuuh ,,, kamu juga nyebelin! Untung kamu bukan pacar aku! Makanya aku lebih suka Danola karna dia lembut banget sama cewek! Nggak kayak kamu! ” "Diam atau aku tinggal?" Ancam Dilo galak. “Huhuh… embus yang kiri!” Kata Kenny nggak sabar. Dilo mendekatkan bibirnya tepat dimata Kenny yang sebelah kiri dan menghembusnya. Kenny mengerjap-ngerjap. "Masiiiih ..." kata Kenny lagi. Dilo menahan rasa kesalnya dan lagi menghebus mata Kenny. BYUURRR! Tiba-tiba suara seperti benda jatuh membuat pasangan tersentak. Dilo mendongakkan terbang ke bawah jembatan dan… ASTAGA ... ITUKAN? "Itu ... Lupin, kan? OH MAMY, dia te-tenggelam !! ”pekik Kenny panik. “Panggil Danola, Ken! Cepat! ”Kata Dilo galak pada Kenny yang kelihatan panik. “Iya tapi_” BYURRR! Belum pernah dia keluar kata-katanya, Dilo sudah melompat lebih dulu ke dalam udara. Dilo menajamkan penglihatannya. Sinar bulan sedikit membantunya untuk menemukan Lupin. Dilo mengulurkan menarik untuk menarik tangan Lupin. Setelah berhasil meraihnya, Dilo memeluk Lupin lalu berhasil ke permukaan. Sampainya di atas jembatan, Lupin masih belum sadarkan diri. “Hei, cewek cengeng! Cewek manja! SADAR NGGAK? ”Kata Dilo galak. Dilo melihat sekeliling. s**l, nggak ada orang lain di sini. Dilo dikeluarkan perut Lupin berkali-kali sampai mulutnya dikeluarkan udara. “Cewek cengeng bangun!” Kata Dilo mulai panik. Dilo tertegun sebentar lagi. Dia mengusap wajah Lupin yang tampak pucat. “Maaf…,” kata Dilo lalu menyentuh bibir Lupin dengan bibirnya. Memberinya nafas buatan. "Uhuk ... uhukk!" Lupin terbatuk-batuk. Saat itu juga Danola datang diikuti Kenny, Gita dan Alodia. “Siapa yang tenggelam, kak? Siapa?” Pekik Alodia sambil membawa jaring ikan. “Lupin, lo nggak apa-apa?” tanya Gita panik. “Kayaknya dia belum sadar. Bawa dia, Dan ..., ” kata Dilo dan ntah kenapa rasanya dia mengatakan itu berat. "Terima kasih ...," kata Danola lalu mengangkat tubuh Lupin dan meraih menuju penginapan. Dilo terduduk lemas setelah Danola pergi membawa Lupin dalam gendongannya. “Dalam diampun aku tahu kamu juga suka sama Lupin,” kata Kenny setelah Gita dan Alodia berlarian sebelum Danola. “Masih mau melanjutkan rencana kita?” Tanya Kenny. Dilo nggak jawab. “ Baiklah , tunggu aku menunggu!” Kata Kenny lalu pergi. Dilo masih diam. Memandangai air laut yang tenang di bawah sinar bulan. "Hal yang dari dulu gue takutkan ... jatuh cinta sama cowok yang lain ... ★★★
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD